
Lagi-lagi Aska merasa seperti di introgasi, apa lagi yang mengintrogasinya tidak tanggung-tanggung oleh seorang pemilik perusahaan Alfero Isabel Grup yang nama perusahaannya sudah terkenal di berbagai manca negara.
Aska juga merasa sangat takut saat lama-lama di introgasi oleh Morgan, apa lagi sekarang ke dua orang tuanya sudah lebih dulu memutuskan untuk pulang, yang bukan anggota keluarga hanya tinggal ia sendiri.
"Kamu bisa mengaji?"
Morgan bertanya untuk sekian kalinya setelah ia melontarkan banyak pertanyaan pada Aska.
"Bisa Pak kalau hanya sekedar mengaji, tapi jujur saja kalau harus seperti Ali, saya tidak bisa, tapi kalau hanya sekedar mengaji saya bisa."
Sebenarnya Aska tidak.ingin mengakui kalau ia bisa mengaji, apa lagi ia takut di suruh mengaji oleh ke dua orang tua Anisa, tapi ia tidak mau kalau nanti ke dua orang tua Anisa tidak setuju.
"Kamu hapal surat apa? Saya ingin mendengar suara kamu mengaji."
Morgan ingin tau lelaki pilihan putrinya itu seperti apa, karena ia pikir Aska adalah lelaki pilihan dari putrinya, mengingat putrinya yang rela berkorban untuk lelaki muda yang duduk di sampingnya.
Morgan yakin kalau Aska di tempatkan di daftar orang sepesal oleh putrinya dan bisa jadi putrinya sangat mencintai Aska, mengingat putrinya sangat menjaga Aska.
"Surat Ar-Rahman Pak."
"Iya sudah bacakan surat itu."
Aska langsung menganggukan kepalanya, ia langsung membaca surat Ar-Rahman sesuai yang di suruh oleh Morgan, lagi pula Aska memang sangat hapal dengan surat Ar-Rahman, mau panjang pendek bacaannya, ia sangat tau.
Kinanti tersenyum lebar saat mendengar Aska membacakan surat Ar-Rahman, ia tidak menyangka kalau Aska juga bisa mengaji, mengingat Aska yang memiliki pergaulan bebas dengan teman-temannya.
__ADS_1
Ali juga ikut tersenyum saat mendengar suara dari mengaji Kakaknya, ia akui kalau suara Kakaknya memang sangat bagus, ia baru tau kalau Kakaknya bisa mengaji dengan semua bacaan yang sangat pas, Kakanya seperti sudah hapal dengan panjang pendek bacaannya.
Morgan tersenyum lebar dan ia akui kalau Aska memang cocok dengan putrinya, saat tau Aska juga bisa mengaji, walau pun ia tau kalau Aska hanya pantas menjadi adik dari putrinya, tapi bagi ia berbeda umur dengan putrinya tidak masalah, yang terpenting mereka berdua sama-sama saling mencintai dan ia akan tetap merestui hubungan putrinya, tidak peduli lelaki seperti apa yang di pilih oleh putrinya.
Asalkan menurut Morgan lelaki itu tidak main tangan pada putrinya, kalau masalah memiliki pekerjaan atau tidak baginya tidak masalah karena putrinya juga memang sudah memiliki perusahaan sendiri, yang terpenting mereka saling mencintai dan Aska memperlakukan putrinya dengan baik itu sudah cukup baginya.
Aska selasai mengaji, ia tersenyum canggung pada Morgan dan merasa gorogi, ia takut ada yang tidak pas dengan bacaan yang di bacakan olehnya.
Aska juga tidak mengerti kenapa Morgan menyuruhnya mengaji dan seolah-olah Morgan seperti sedang mencocokan dengan Anisa yang sangat ta'at dalam agama.
Namun Aska juga berharap seperti itu, ia berharap Morgan mau menerima ia untuk mendapatkan cinta dari Anisa, setidaknya kalau sudah mendapat terstu dari ke dua orang tua Anisa, ia mudah untuk mendapatkan hati Anisa karena bisa leluasan melakukan apa pun selama itu tidak melanggar aturan agama.
"Bagus, semua bacaannya juga pas, iya'kan Hanny?"
Morgan memuji Aska dengan mengacungkan dua jempolnya dan minta pendapat pada istrinya.
Bukan Isabel tidak suka pada Aska, tapi ia takut kalau suatu saat Aska menyakiti hati putrinya seperti Kenan dulu, apa lagi Aska di besarkan oleh Kenan walau pun Aska bukan anak kandung dari Kenan, tapi Aska di besarkan oleh Kenan.
Isabel yakin kalau sifat Aska pasti tidak jauh dari Kenan, terutama Aska adalah anak kandung Lusi, wanita yang tega telah menyakiti hati putrinya berkeping-keping.
Lusi tega menyuruh Kenan untuk mendekati putrinya hanya untuk harta yang di miliki oleh putrinya, Lusi juga yang membuat Ali tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya.
Masih banyak lagi ketakutan-ketakutan yang lain oleh Isabel pada Aska, bagai mana pun juga ia ingin putrinya di nikahi oleh lelaki yang memiliki iman, ia tidak mau putrinya di nikahi lelaki yang salah lagi seperti dulu.
Menurut Isabel seharusnya putrinya mencari lelaki yang ta'at dalam agama, jangan cinta pada lelaki yang sangat minim tentang agama.
__ADS_1
"Hanny, kenapa kamu berbicara seperti itu? Mas percaya kalau Aska adalah lelaki yang baik untuk putri kita."
"Mas jangan asal menyimpulkan saja, karena yang terlihat baik belum tentu lelaki baik Mas, aku tidak mau kalau putri kita salah memilih suami lagi, cukup dulu putri kita salah memilih suami, dan sekarang aku tidak mau kalau putri kita asal memilih suami. Apa lagi dulu Kenan juga pernah memanfaatkan putri kita, aku tidak mau kalau Aska juga memanfaatkan putri kita lagi."
Menurut Isabel kesalahan itu cukup satu kali saja, bahkan perkara rumah tangga dulu saja membuat putrinya menderita tiada habisnya, dan ia tidak mau kalau putrinya nanti membuat semakin menderita lagi.
Ada rasa kecewa di hati Aska, tapi ada juga rasa haru saat tau kalau orang tua Anisa tidak memilih-milih mau lelaki seperti apa, dan ia juga tau kalau Isabel hanya ingin yang terbaik untuk putrinya, itu kenapa Isabel menujukan sikap tidak sukanya.
Sedangkan Ali dan istrinya dari tadi hanya diam, ia hanya mendengarkan perdebatan mereka saja.
Ali tau kalau Neneknya ingin yang terbaik untuk Bundanya, tapi ucapan Neneknya ia yakin kalau telah melukai hati Kakaknya.
Seharusnya Neneknya membicarakannya di belakang Kakaknya, bukan di depan Kakaknya, apa lagi selama ini Kakaknya sudah mendapatkan banyak masalah.
Masalah pakta Kakaknya bukan anak kandung dari Ayahnya saja Ali yakin Kakanya sangat terpukul, tapi sekarang Kakaknya sudah di hadapkan lagi dengan masalah baru.
Apa lagi masalah ini yakin lebih berat menurut Ali, dan itu mebuat Ali merasa sangat kasihan pada Kakaknya.
"Hanny, setiap orang memiliki sifat yang berbeda-beda dan jarang yang sama, Mas percaya kalau Aska lelaki yang baik, jadi jangan pernah berpikir buruk terlebih dahulu, ingat Allah itu tidak suka pada hambanya yang suka seudzon, jadi berpikir baik lah sebelum hal buruk terjadi, kita boleh berpikir buruk, tapi jangan berlebihan."
Walau pun Morgan seorang mualaf, tapi bukan berarti ia tidak bisa memberikan nasehat yang baik pada istrinya yang memiliki agama islam dari keceli, ia tetap menasehati istrinya jika istrinya salah langkah, karena ia tidak mau kalau istrinya membuat dosa yang di sengaja.
Apa lagi Morgan tau kalau istrinya membuat dosa, ia tidak bisa mengayomi istrinya, ia yang akan mendapat dosa lebih besar karena ia adalah kepala keluarga.
"Iya Mas aku tau, maafkan aku."
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa Hanny."