Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 13 Jalur Damai


__ADS_3

Riana terus saja tersenyum saat mendengar tutur kata Ali begitu lembut pada Kinanti, tidak heran kalau Kinanti tidak mengabari ia semenjak gagal menikah dengan Aska, biasanya saat ada masalah dengan Aska, ia adalah tempat curhat Kinanti selain Lisa.


"Jangan kira masalah kamu selsai setelah minta maaf pada suami kamu! Lisa ingin menuntut kamu ke jalur hukum!"


Suara Arga membuat Ali melihat ke arah Arga sambil tersenyum lebar, ia sudah tau kalau perusahaan Wijaya Grup berdiri karena di berikan dana oleh Bundanya, ia sudah tau Mana Arga adalah sahabat dari Bundanya.


"Iya termasuk saya yang akan menuntut Lisa ke jalur hukum, jadi kita seimbang!"


Lisa tidak percaya kalau Ali tau tentang masalanya bersama Kinanti, jelas-jelas Kinanti belum menjelaskan apa-apa dari tadi.


Mereka hanya diam saat mendengar suara tegas dari Ali, mereka tidak mendengar suara lembut dari Ali tadi, membuat siapa saja takut pada Ali, begitu pun dengan Arga, Arga juga langsung menundukan pandangannya untuk beberapa saat.


Arga merasa aneh dengan Ali yang hanya lelaki kecil, tapi suaranya sangat tegas dan tidak takut sedikit pun.


"Jadi bagai mana Lisa?! Apa kamu mau menuntut istri saya?! Saya juga akan menuntut kamu, bahkan suara kamu sudah saya kirim ke kantor polisi!"


Kinanti mengerutkan keningnya tidak percaya saat mendengar pertanyaan dari suaminya.


"Kamu serius Ali?"


Ali tidak menjawab pertanyaan dari istrinya, ia langsung mengambil ponselnya di saku celananya, lalu langsung memutar percakapan istrinya bersama Lisa, jelas yang memncing emosi duluan adalah Lisa.


Semua yang ada di sana sangat terkejut saat mendengar Lisa menghina Kinanti habis-habisan, terkecuali Riana dan Lia, mereka memang tau kejadiannya dari awal jadi tidak terkejut.


Ali mematikan rekaman suara walau pun belum selsai, setidaknya cukup untuk bukti kalau yang memulai duluan adalah Lisa.


"Jadi bagai mana Lisa, apa kita tetap lanjut ke jalur hukum?!"


Seorang wanita paru baya itu datang ke kerumunan sambil tersenyum lebar, ia adalah Surti Mama dari Arga.


"Ini ada apa rame-rame Ar?"


"Kinanti dan Lisa bertengkar Ma."


"Kenapa Kinanti masih ada di sini? Bukan'kah sudah di pecat? Bikin malu Wijay Grup saja!"


"Tutup mulut anda!"


Ali membentak surti masih sambil menundukan pandangannya. Surti mengalihkan pandangannya pada Ali, awalnya ia akan memarahi lelaki yang sudah membentaknya, tapi saat melihat lelaki yang membentaknya ia tidak berani.

__ADS_1


"Nak Ali."


Surti tersenyum canggung, walau pun ia pernah bertemu langsung dengan Ali saat usia Ali 7 tahun, saat Anisa baru bercerai dengan Kenan, tapi ia sangat mengenal Ali, karena ia diam-diam selalu memantau Ali.


Semenjak Anisa hilang seperti di telan bumi, Surti selalu melihat Ali dari kejuhan dan ia juga menyuruh orang untuk memantau Ali dan menjga Ali secara diam-diam karena ia ingin tau bagai mana kemjuan Ali putra dari sahabatnya.


"Mama mengenal Ali?"


Arga bertanya dengan perasaan terkejut saat Mamanya mengenal Ali.


"Bundanya Ali adalah orang yang telah membantu mendirikan Wijaya Grup, bahkan Anisa memberikan uang cuma-cuma pada Mama."


Semua orang yang ada di sana tercengang saat mendengar jawaban dari Surti, tapi tidak dengan Ali, ia terlihat tidak peduli. Arga sangat malu saat tau kalau Bunda dari Ali memberikan uang cuma-cuma.


"Lanjutkan ke jalur hukum atau tidak?!"


Ali bertanya sekali lagi pada Lisa karena ia belum mendengar jawaaban dari Lisa.


"Ali adalah seorng pengacara, Ali berkuliah mengambil jurusan hukum, jadi kamu hati-hati kalau memiliki masalah dengan Ali, walau pun Ali tinggal di pesantren, tapi bukan berarti Ali adalah orang biasa."


Surti mencoba mengingatkan Lisa, agar Lisa tidak mencari masalah dengan Ali, terlebih ia tau kalau kekayaan yang di tinggalkan Anisa sangat lah banyak, belum lagi kebanyakan ada pengacara yang bisa di beli, tentu saja Lisa yang hanya sebagai model papan atas itu tidak ada apa-apanya bagi Ali.


"Mama jangan ngada-ngada, bagai mana bisa lelaki kecil seperti Ali bisa menjadi pengacara?"


"Ali hanya berkuliah 3 tahun, karena kepintarannya Ali langsung menyandang status sarjana."


Kinanti menatap wajah suaminya tidak percaya saat mendengar penjelasan dari Surti, lagi-lagi ia kagum saat tau pakta mengejutkan dari suaminya. Ali mengelus kepala istrinya yang terus saja menatapnya sambil tersenyum lebar.


Lisa hanya diam membisu, nyali ia menciut dan rasa benci terhadap Kinanti semakin besar saat lagi-lagi Kinanti selalu mendapatkan keberuntungan.


Seakan-akan kehidupan Kinanti itu hanya ada kehidupan bahagia, tidak seperti ia yang memiliki kehidupan penuh dengan kesedihan.


Ali langsung menarik istrinya dalam rangkulannya, ia masih setia menunggu jawaban dari Lisa. Tiba-tiba saja ponsel Ali bergetar.


Dret.... Dret...


Ali langsung mengangkat panggilan telpon dari Omnya, selaku komandan dari kepolisian yang bernama Allan Putra Alfero, adik dari Anisa Putri Alfero. Anisa sengaja tidak menggunakan nama Alfero di belakang namnya karena ia tidak mau orang menghormati ia karena kedudukan orang tuanya.


"Assalamualikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, ada apa Om?"


"Itu rekaman yang kamu kirim mau di proses sekarang dan membuat laporan penngkapan?"


"Untuk saat ini jangan dulu Om, aku masih belum mendengar jawaban dari Lisa, jadi tidak tau mau di lanjut atau kita ke jalur damai."


"Baik kalau begitu Om tunggu kabar dari kamu."


"Iya terima kasih Om."


"Sama-sama. AssalamualIkum."


"Wa'alaikumsalam."


Setelah memutuskan sambungan telponnya Ali langsung bertanya lagi pada Lisa.


"Bagai mana Lisa, saya tidak ingin membuang-buang waktu berharga saya hanya untuk menunggu jawaban dari kamu!"


Lisa menelan ludahnya dengan sangat kasar, ternyata Ali bukan orang yang suka berbohong, rekaman itu memang sudah ada di dalam kantor polisi membuat ia memilih untuk ke jalur damai, ia tidak mau kalau karirnya hancur berantakan hanya karena masalah ini, tapi ia juga tidak akan tinggal diam, ia akan menghancurkan rumah tangga mereka dan kalau bisa ia ingin menggantikan posisi Kinanti bersama Ali.


Walau pun niat awal ingin memiliki Aska dan membuat hancur Kinanti, tapi sekarang ia lebih tertarik pada Ali dari pada Aska.


"Ali, bagai mana kalau kita ke jalur damai saja?"


Lisa bertanya sambil menunduk takut.


"Baik kalau begitu sekarang kamu minta maaf pada istri saya!"


"Iya. Kinanti, aku minta maaf karena telah menghina kamu."


"Kenapa di maafkan Ali? Aku tidak mau memaafkan Lisa, aku sakit hati karena Lisa sudah menghina aku habis-habisan, bahkan Lisa juga mengatai aku jallang!"


Kinanti berbicara sambil menujuk ke arah Lisa yang menurut ia tidak pantas untuk di maafkan.


Ali yang tau istrinya sedang emosi, ia langsung menarik istrinya dalam pelukannya, lalu langsung membacakan do'a untuk istrinya, setelsai ia meniup ubun-ubun istrinya, lalu langsung mengecup kening istrinya.


"Kontrol emosimu Kinanti, Allah hanya menyukai orang-orang yang sabar, kamu harus ingat itu."


Kinanti hanya menganggukan kepalanya pelan saat mendengar ucapan dari suaminya dengan tangan masih memeluk erat suaminya.

__ADS_1


__ADS_2