Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 65 Berkunjung ke rumah mertua


__ADS_3

Sore harinya sesuai yang di janjikan Ali pada istrinya kalau pulang dari kantor mengajak istrinya berkunjung pada orang tua istrinya.


Apa lagi Ali dan istrinya sudah lama sekali tidak berkunjung ke sana. Ali seperti biasanya membeli banyak makanan terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah mertuanya.


Sekarang Ali dan istrinya sedang duduk bersama ke dua mertuanya sambil mengobrol-ngobrol ringan.


"Bagai mana toko Ayah?"


Ali bertanya sekedar basa-basi, sebenarnya ia sudah tau kalau penjualan toko bunga mertuanya menurun semenjak istrinya dan Kakaknya gagal menikah, bukan Ali lancang, tapi ia hanya ingin kehidupan ke dua mertuanya baik-baik saja.


"Alhamdulilah, toko Ayah baik-baik saja nak."


Ali tersenyum lebar saat mendengar jawaban dari Ayah mertuanya yang sedang menutupi masalah toko darinya.


"Ayah, lebih baik toko di jual saja, sekarang Ayah tidak perlu bekerja lagi."


"Kalau di jual biyaya untuk Kinar tidak ada nak, belum lagi kebutuhan sehari-hari."


"Nanti biar Ali yang membiyayai Kinar Ayah, Kinar itu sudah tanggung jawab Ali juga."


Rangga menghela napas lega, ia tidak menyangka kalau akan memiliki menantu yang sangat baik seperti Ali, bukan hanya bisa membimbing putrinya menjadi lebih baik lagi, tapi juga Ali sudah menganggap putri ke duanya sebagai adiknya sendiri.


Menurut Rangga tidak heran kalau putri ke duanya dulu jatuh cinta dalam pandangan pertama pada Ali karena ia sudah tau kalau Ali adalah orang yang menolong putri ke duanya saat putri ke duanya akan di lecehkan.


"Tidak perlu nak, kamu sudah bertanggung jawab pada putri Ayah saja Ayah sudah sangat senang, apa lagi melihat penampilan putri Ayah yang sudah berubah, Ayah lebih senang lagi, pasti nak Ali sangat sulit untuk mengajari putri Ayah, karena jujur saja Ayah sendiri tidak sanggup untuk mendidik putri Ayah."


"Alhamdulilah sebenarnya Jamila wanita yang penurut Ayah, walau pun sering mambuat emosi, tapi Ali masih sangat sanggup untuk mengatasinya."


"Bagai mana Jamila tidak menurut kalau Mas selalu mengancam Jamila?"


Ali menghela napas berat saat mendengar pertanyaan dari istrinya.


"Di ancam demi kebaikan kita apa salahnya Jamila."


Ke dua orang tua Kinanti saling pandang saat mendengar ucapan dari anak dan menantunya, mereka berdua juga saling pandang ke anak dan menantunya, mereka tidak tau ancaman apa yang di berikan menantunya hingga putrinya menjadi wanita penurut. Ali tau kalau ke dua mertuanya itu menatap dengan tatapan bertanya.


"Jangan salah paham Ayah, Bunda, Ali hanya mengancam di batas wajar."


Ali beebicara sambil tersenyum malu, ia tidak mungkin jujur kalau ia mengancam istrinya agar tidak melakukan hubungan badan.


Rangga dan istrinya hanya diam, ia masih belum mendapatkan jawaban apa ancaman menantunya untuk putrinya.


"Itu Ayah Bunda, Mas Ali mengancam kalau tidak patuh nanti tidak di kasih jatah making love."

__ADS_1


Kinanti berbicara jujur sambil tersenyum malu, tapi kalau ia tidak menjelaskannya ia takut ke dua orang tuanya berpikir macam-macam tentang suaminya.


Setelah mendengar jawaban dari putrinya sontak membuat Rangga dan istrinya tertawa terpingkal-pingkal, mereka merasa lucu saat tau ancaman dari menantunya.


Sedangkan wajah Ali sudah memerah karena malu, ia tidak habis pikir kalau istrinya akan jujur pada ke dua orang tuanya.


"Mangkannya jadi orang jangan mesum Kin, jadi di ancam suami."


"Ih Bunda, bagai mana tidak mesum kalau making love itu nikmat, buktinya Bunda dan Ayah juga sudah dapat dua buntut, itu artinya enak."


Marina hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir kenapa ucapan putrinya sangat prontal, sedangkan menantunya begitu sangat malu, terlihat jelas wajahnya memerah.


"Jangan kapok iya nak Ali, memang mulut putri Bunda itu malu-maluin."


Ali hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum, lalu ia memutuskan untuk membahas tentang topik tadi yang sempat tertunda.


"Gini Yah, jadi toko Ayah jual saja, Ali tidak mau Ayah dan Bunda banyak pikiran karena masalah Jamila, dan insya Allah Ali sangat sanggup untuk menghidupi kita semua, karena Ayah dan Bunda sudah Ali anggap sebagai orang tua Ali sendiri."


"Tidak perlu nak, nanti Ayah ngerepotkan kamu."


"Sama sekali tidak Ayah."


Ke dua orang tua Kinanti penasaran apa pekerjaan menantunya selain menjadi artis, kenapa menantunya kekeh ingin menanggung kehidupannya.


"Suamimu punya perusahaan sendiri?"


Marina bertanya dengan raut wajah tidak percaya saat mendengar ucapan dari putrinya kalau menantunya memiliki perusahaan.


"Iya Bunda, Alfero Grup perusahaan Mas Ali, dan apartement Alfero juga milik Mas Ali."


Rangga dan istrinya tidak percaya kalau menantunya memiliki perusahaan sebesar itu dan apartement juga.


"Jadi kamu putra dari Anisa Putri Alfero?"


"Iya Bunda."


Menurut ke dua orang tua Kinanti tidak heran kenapa anak dan menantunya mudah masuk ke dunia peran, tapi ia juga tidak menyangka kalau menantunya itu adalah cucu dari Morgan Abraham.


"Apa keluargamu sudah tau tentang pernikahan ini nak Ali?"


"Sudah Bunda, Ali sudah pernah mengajak Jamila ke rumah Kakek dan Jamila juga sudah bertemu dengan Bunda, bahkan Bunda juga sekarang tinggal bersama kami, hanya saja Bunda sedang ada perjalanan bisnis ke luar kota."


Tiba-tiba saja ponsel Ali bergetar.

__ADS_1


Dret... Dret...


Ali langsung merogoh saku celananya, ia mengerutkan keningnya saat melihat nama yang menelponnya Lusi, lalu ia langsung mengangkat telponnya.


"Di mana putraku bodoh?! Saya yakin kalau putraku itu datang ke apartement kamu!"


"Kamu itu ibu macam apa yang selalu saja tidak tau putranya pergi ke mana? Kemarin-kemarin kamu mencari suamimu dan sekarang kamu mencari putramu, kenapa tidak mencari tau saja dulu, lagi pula kamu tidak memiliki kerjaan."


"Sombong sekali kamu!"


"Assalamualaikum!"


"Dasar anak tiri kurang ajar!"


Ali menghela napas berat saat ibu tirinya tidak menjawab salamnya.


"Wa'alaikumsalam."


Setelah mengatakan itu Ali langsung memutuskan sambungannya sepihak.


"Tante Lusi iya Mas?"


Kinanti bertanya sambil tersenyum, walau pun tidak bertanya pun ia sudah tau kalau Lusi yang menelpon suaminya.


"Iya, Tante mencari Aska."


"Gila itu orang, anaknya pergi tidak tau, lalu mencari ke Mas."


"Mas tidak mengerti kenapa Tante Lusi selalu saja mengaitkannya dengan Mas, saat itu suaminya pergi entah kemana datang ke apartement, dan sekarang anaknya pergi juga mencari Mas, iya walau pun sekarang Kak Aska ada bersama Bunda, tapi Tante Lusi itu selalu saja mengusik kehidupan Mas."


"Iya sudah Mas lanjukan pembicaraan sama Ayah dan Bunda, Jamila mau masak dulu."


"Iya Jamila."


Ali menjawab ucapan dari istrinya sambil tersenyum lebar.


"Sejak kapan putri Bunda bisa masak?"


Mirna bertanya dengan wajah tidak percaya saat tau putrinya bisa masak. Begitu pun dengan Rangga, ia tidak menyangka kalau putrinya sudah banyak berubah.


"Sejak menikah dengan Mas Ali, habis Kin malu Bun sama Mas Ali yang sangat pinter masak, jadi Kin belajar masak iya walau pun masakannya belum seenak rasa masakan Mas Ali, tapi lumayan lah masih bisa di nikmati."


"Asalakan kamu mau belajar, Bunda yakin kamu bisa seperti suamimu."

__ADS_1


"Iya Bunda."


__ADS_2