Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 35 Membuka Identitas


__ADS_3

Dari semenjak Kenan dan Aska pergi Kinanti masih fokus menatap wajah suaminya yang masih terus fokus pada laptopnya.


Bahkan saat makan saja Kinanti masih menatap bingung pada suaminya, ia ingin sekali bertanya tentang suaminya itu putra dari Kenan, atau putra dari Morgan, atau dua-duanya ikut bercocok tanam hingga menghasilkan Ali menjadi campuran.


Walau pun Kinanti ingin bertanya pada suaminya, tapi ia tidak berani untuk bertanya pada suaminya. Bahkan Kinanti tadi tidak senang saat mendapat pujian dari suaminya karena masakan pertamanya, ia masih saja memikirkan tentang suaminya.


"Jamila, kamu kenapa terus memperhatikan Mas?"


Ali bertanya dengan mata yang masih fokus pada laptopnya, tapi ia tau kalau istrinya terus saja memperhatikan wajahnya.


Belum sempat Kinanti menjawab pertanyaan dari suaminya, tiba-tiba saja ponsel suaminya bergetar.


Dret... Dret...


Ali langsung mengambil ponselnya tanpa melihat siapa yang menelpon, ia mengangkat telpon itu dengan mata yang masih fokus pada laptopnya.


"Sebenarnya apa yang Mas Ali kerjakan di dalam laptop? Kenapa matanya fokus sekali menatap laptop. Bukan'kah Mas Ali sudah berhenti menjadi pengacara?" batin Kinanti


Kinanti selalu penasaran pada suaminya, walau pun suaminya sudah tidak menjadi pengacara, tapi suaminya selalu saja sibuk.


Entah apa yang sedang suaminya kerjakan, Kinanti tidak tau dan juga tidak mengerti setiap kali di meja selalu ada setumpuk berkas yang menunggu suaminya.


"Cucu Bandel...!! Kapan kamu mau memperkenalkan istrimu pada Kakek?!"


Ali menyeringis saat mendengar Kakeknya langsung mengomelinya tanpa mengucapkan salam lebih dulu.


"Assalamualaikum, di awali dengan salam Kek, bukan di awali dengan omelan."


"Wa'alaikumsalam. Bagai mana Kakek tidak mengomel kalau kamu sudah membuat Kakek darah tinggi! Pernikahan kamu itu sudah hampir sebulan, tapi kamu tidak berniat mengenalkan wanita itu pada Kakek?!"


"Jadi Kakek dan Nenek setuju kalau Ali menikahi Kinanti?"


Ali memang takut kalau Kakek dan Neneknya tidak setuju kalau ia menikahi Kinanti, bahkan ia juga di omeli habis-habisan oleh Omnya karena menikahi wanita karir yang selalu berpakaian ketat.

__ADS_1


Keluarga Alfero memang tidak tau banyak tentang agama selain Anisa dan Ali, tapi mereka lebih mementingkan penampilan dari pada babat bebet bobot, yang jelas akhlak itu nomer satu di keluarga Alfero.


"Mau bilang tidak setuju kamu sudah menikahinya. Dasar bandel!!"


"Maafkan Ali Kek. Kakek juga tau situasinya, tapi terima kasih sudah merestui pernikahan Ali bersama Kinanti, minggu depan kalau tidak ada halangan, Ali akan memperkenalkan Kinanti pada Kakek dan Nenek."


"Iya bagus lebih cepat lebih baik, termasuk segera mengurus Alfero Isabel Grup."


Ali melebarkan matanya untuk beberapa saat, saat mendengar Kakeknya menyuruh ia untuk segera mengurus Alfero Isabel Grup.


"Bukan'kah perjanjiannya setelah usia Ali 25 tahun Kek? Kenapa Kakek menyuruh Ali mengurus sekarang? Kenapa banyak sekali yang harus Ali urus Kek? Sungguh ini tidak adil untuk Ali dan Reyhan. Reyhan sangat bebas, sedangkan Ali harus mengurus Apartemet Alfero, dan Alfero Grup, dan sekarang bertambah lagi? Ali bukan robot Kek."


Kinanti mengerutkan keningnya tidak mengerti saat mendengar suaminya mengurus apartement Alfero, Alfero Grup dan bertambah lagi, mungkin mengurus apartement yang di tempati suaminya sekarang, itu yang ada dalam pikirannya, dan masalah Alfero Grup mungkin karena suaminya bekerja menjadi pemeran di Alfero Grup, itu lah yang ada dalam pikirannya.


"Reyhan akan meneruskan Abraham Grup setelah Reyhan menikah, otak Reyhan tidak seperti otak kamu Ali, kalau Reyhan yang mengurus Alfero Isabel Grup, yang ada perusahaan yang selalu menduduki peringkat dua di Asia itu akan menduduki peringkat paling akhir. Apa lagi dari kecil kamu sudah mengurus semuanya, jadi Kakek percaya kalau kamu bisa mengurus semuanya."


Ali mengusap wajahnya dengan kasar, ia belum siap untuk memegang semuanya sendiri.


"Baiklah Kek, Ali tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengan Kakek."


"Itu jawaban yang Kakek suka cucu bandel!"


Setelah mengatakan itu Morgan tertawa, ia sangat puas dengan jawaban dari cucunya. Ali mendengus kesal saat mendengar tawa dari Kakeknya sambil beristighfar, Kakeknya selalu saja membuat darah naik.


"Tunggu dulu, kamu tadi bilang tidak memiliki tenaga? Ini masih jam 9 Ali, kamu sudah menggempur Kinanti?"


"Astagfrullah Kakek! Sudah tua juga masih saja berpikir mesum!"


Ali berbicara sambil menggeleng-gelengkan kepala, seolah-olah ia sedang berbicara langsung di hadapan Kakeknya.


"Kalau tidak mesum tidak akan ada cucu bandel seperti kamu Ali! Buktinya kamu saja sudah kebelat nikah, itu artinya kamu juga mesum!"


"Iya sudah terserah Kakek, kerjaan Ali masih banyak, jadi Ali tutup dulu telponnya."

__ADS_1


"Baiklah, tepati janjimu minggu depan datang ke rumah. Assalamualaikum."


"Iya Kek. Wa'alaikumsalam."


Setelah sambungan telponnya terputus Ali langsung meletakan ponselnya ke meja sambil mengusap wajahnya dengan kasar, lalu langsung melihat ke arah istrinya yang masih setia menatapnya.


"Jamila kemari."


Kinanti langsung menganggukan kepalanya, ia langsung berjalan ke arah suaminya karena tadi ia sedang duduk di atas ranjang.


Ali langsung menuntun istrinya untuk duduk di pangkuannya, ia menatap lekat mata istrinya sambil menghela napas pelan.


Sebenarnya Ali belum siap membuka identitas pada istrinya, tapi kalau tidak membuka identitasnya sekarang, ia takut kalau istrinya nanti membencinya.


Apa lagi Ali juga paling benci dengan kebohongan, ia tidak mau nanti istrinya membencinya karena kebohongan yang ia buat.


Kinanti merasakan keningnya di cium cukup lama oleh suaminya membuat detak jantungnya berdetak lebih cepat, hembusan napas hangat suaminya mampu membuatnya bergairah, ia ingin sekali melahap bibir lembut suaminya yang terasa seperti bayi.


Namun Kinanti mencoba mengontrol gairahnya, ia tidak boleh melakukan itu sekarang, apa lagi sekarang suaminya seperti mau berbicara serius. Setelah mencium kening istrinya cukup lama, Ali langsung menatap lekat mata istrinya lagi.


"Kalau Mas berbohong, Jamila akan marah tidak?"


"Maksud Mas berbohong tentang apa? Apa ini tentang nama Ayah di KTP Mas?"


Kinanti memang tidak tau kalau nama Ayah di data suaminya adalah Morgan, apa lagi ke dua surat nikahnya di pegang oleh suaminya.


Bahkan nama lengkap suaminya saja ia tidak tau karena saat ijab kabul nama ujung suaminya di sebut begitu pelan oleh pak penghulu.


"Bukan masalah itu, kalau masalah nama Ayah Bunda dan Kakek sepakat menggantinya karena Kakek sangat membenci Ayah, tapi ini masalah identitas Mas."


Ali menghela napas berat setelah mengatakan itu, tangan kirinya langsung meraih dompetnya yang ada di meja, ia langsung mengambil KTP untuk di serahkan pada istrinya.


"Mas hanya berharap Jamila tidak akan marah atas kebohongan yang mas buat, Jamila bisa melihat nama lengkap Mas di KTP ini."

__ADS_1


Lagi-lagi Ali menghela napas berat, untuk menyebut nama Alfero saja ia tidak bisa, ia sudah terlalu nyaman pada istrinya jadi ia takut istrinya marah.


Kinanti langsung mengambil KTP yang di serahkan oleh suaminya, ia langsung melihat nama suaminya di sana dengan nama lengkap Ali Alfero, lalu nama Bundanya Anisa Putri Alfero dan nama Ayahnya Morgan Abraham.


__ADS_2