
Kinanti sedang sibuk membereskan barang-barang untuk ia buang dari Aska. Sedangkan suaminya masih sibuk mengobrol-ngobrol bersama ke dua orang tuanya karena tadi Ayahnya baru saja datang.
Kinanti memang sudah menganggap Aska sebagai Kakak iparnya, ia juga tidak tau kenapa semudah itu melupakan Aska, apa lagi hubungan ia dan Aska sudah 9 tahun, tapi semenjak menikah dengan Ali, ia tidak memiliki rasa sedih, bahkan sekedar kecewa saja tidak ada.
Mungkin karena kepribadian suaminya dan Aska yang bertolak belakang itu kenapa ia mudah melupakan Aska dan menggantikannya dengan suaminya.
Kinanti juga tidak mengerti kenapa ia sangat mudah mencintai suaminya yang baru saja ia kenal. Sekitar 40 menit Kinanti baru selsai membereskan barang-barang dari Aska, lalu ia langsung mendorong 5 dus ke luar kamarnya.
Ali yang akan masuk ke kamar ia sangat terkejut saat istrinya sedang mendorong 5 dus di depan kamar.
"Itu mau di bawa kemana?"
"Mau di buang Mas ini barang-barang sampah."
Ali langsung melihat barang-barang yang ada di dalam dus, yang isinya tas, baju, sepatu, sedangkan foto-foto sudah di gunting kecil-kecil.
"Kenapa tidak di berikan ke asisten rumah tangga saja Jamila? Itu masih bagus-bagus."
"Tidak mau, uangnya juga hasil mencuri dari Bundanya Mas."
Ali menghela napas berat, ia tau kemana arah pembicaraan istrinya.
"Jadi ini dari Kak Aska?"
"Jangan sebut lelaki tidak berguna lagi!"
Setelah mengatakan itu Kinanti langsung mendorong dus-dusnya lagi yang langsung di tahan oleh suaminya.
"Biar Mas saja yang buang."
"Iya Mas, terima kasih."
"Sama-sama Jamila."
Ali langsung mengangkat dua dus untuk ia buang keluar. Kinanti langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia memang sangat lelah setelah membereskan barang-barang yang cukup banyak.
Setelah sekitar 4 menit Ali selsai mengangkat 5 dus barang-barang tadi lalu ia langsung merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
"Mas, memang kita mulai syuting kapan? Ko Mas sudah menyuruh Jamila menghapal naskahnya sekarang?"
"Masih 1 minggu lagi, tapi ini untuk pertama kali Jamila memasuki dunia peran, jadi Mas meminta pada Pak Samsul untuk mengirim naskah itu kemarin sore, Mas tidak ingin Jamila salah naskah atau lupa karena Mas tidak mau sampai Jamila malu."
Kinanti langsung memeluk erat suaminya saat mendengar jawaban dari suaminya.
"Terima kasih Mas sudah mengerti tentang Jamila."
__ADS_1
"Jamila istri Mas, tentu saja Mas harus mengerti tentang perasaan Jamila. Mas tidak mau kalau Jamila nanti di bentak oleh pemain yang sudah senior dan mengatakan kalau kamu artis baru tidak pantas menjadi pemeran utama, jadi Mas minta buktikan pada mereka kalau Jamila bisa dan pantas menjadi pemeran utama."
"Apa Jamila capek?"
"Iya Mas Jamila sangat capek, habis sampah meresahkan itu sangat banyak."
"Tapi selama ini Jamila terus saja menyimpan sampah meresahkan itu, bahkan Jamila sama sekali tidak terganggu."
Kinanti langsung mendongkakan kepalanya untuk menatap mata suaminya sambil memukul dada suaminya.
"Mas mengejek Jamila? Dasar menyebalkan!"
Ali langsung memegang tangan kanan istrinya yang memukuli dadanya, lalu ia mengecup kening istrinya cukup lama.
"Mas memang sangat menyebalkan, tapi itu karena Jamila."
Tiba-tiba saja ponsel Ali yang ada di meja bergetar.
Dret... Dret...
Ali langsung mengambil ponselnya masih sambil berbaring, ia menghela napas berat saat melihat nama Ning Alisah, ia langsung meletakan kembali ponselnya tanpa mengangkat atau merijek.
"Siapa yang menelpon Mas?"
Kinanti langsung menghela napas berat saat mendengar Ning Alisah, membuat ia berpikir negatif tentang suaminya.
"Kenapa Ning Alisah masih menelpon Mas? Bukan'kah Mas sudah menolaknya, atau jangan-jangan Mas diam-diam menerima Ning Alisah di belakang Jamila, buktinya Ning Alisah menelpon Mas?"
Bahkan saat telpon itu mati, Ning Alisah terus menelpon suaminya.
Dret... Dret... Dret... Dret....
"Jangan seudzon Jamila."
Kinanti langsung duduk yang langsung di ikuti suaminya juga ikut duduk.
"Bagai mana Jamila tidak seudzon kalau Ning Alisah terus saja menelpon Mas?"
Ali menghela napas berat sambil mengambil ponselnya lalu langsung menyerahkannya pada istrinya.
"Jamila yang mengangkat telpon dari Ning Alisah."
Ali berbicara sambil memberikan ponselnya pada istrinya yang bergetar lagi hingga ke tiga kalinya, ia tidak mau kalau istrinya sampai salah paham.
Kinanti langsung mengambil ponsel yang di serahkan oleh suaminya, ia langsung mengangkat telpon dari Ning Alisah sambil melodspeker telponya.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, ada apa iya?"
Suara Kinanti membuat si penelpon hanya diam tanpa kata.
"Kenapa diam saja? Kamu ada apa sampai-sampai terus saja menghubungi suami saya?"
"Apa Kang Ali ada?"
Ali yang mendengar suara itu bukan Ning Alisah, melainkan Ning Sarah, ia langsung mengambil ponsel yang di pegang istrinya.
"Ada apa Ning Sarah?"
Kinanti sangat terkejut saat suaminya langsung mengambil ponsel dari tangannya, lebih terkejut lagi saat suaminya hapal dengan suara si penelpon.
"Akang bisa datang ke pesantren? Alisah sakit Kang."
Kinanti langsung menatap mata suaminya saat mendengar ucapan dari si penelpon, kalau suaminya tidak memiliki hubungan dengan Ning Alisah, untuk apa juga Ning Sarah menyuruh suaminya datang ke pesantren.
"Saya tidak bisa Ning, kalau Ning Alisah sakit bawa ke dokter bukan menghubungi saya. Ning Sarah salah jalur kalau menghubungi saya, saya bekerja sebagai pengacara bukan sebagai dokter."
"Saya sangat tau, tapi apa Akang tidak menjenguk Alisah?"
"Saya tidak bisa, saya tidak mau istri saya salah paham, saya tidak mau karena perkara menjenguk rumah tangga saya di ambang kehancuran."
"Kenapa Akang begitu memebela wanita yang tidak Akang kenal dan jauh dari kata agama dari pada wanita yang selalu mendo'akan Akang? Akang tidak pernah berpikir bagai mana sakitnya hati Alisah? Hati dan pisik Alisah harus sakit karena Akang, tapi kenapa Akang menanggapi semuanya dengan santai?"
"Saya tidak membela siapa pun, tapi yang saya tau Kinanti adalah istri saya sekang. Apa lagi saya dan Ning Alisah tidak memiliki ikatan apa pun, akan jadi pitnah di kalangan pesantren kalau saya datang untuk menjenguk Ning Alisah. Mereka semua akan mengatakan pada saya kalau saya lelaki brengsek dan lelaki mencari kesempatan dalam kesempitan, jadi saya minta maaf karena tidak bisa datang ke pesantren. Semoga Ning Alisah segera lekas sembuh, kalau tidak ada yang ingin di bicarakan lagi saya tutup telponnya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah sambungan terputus Ali langsung meletakan kembali ponselnya di atas meja, lalu ia langsung melihat wajah istrinya yang sudah memerah. Ali yakin kalau istrinya marah karena istrinya di banding-bandingkan dengan Ning Alisah oleh Ning Sarah.
"Jamila, sekarang sudah jelas'kan kalau Mas tidak memiliki hubungan bersama Ning Alisah?"
"Iya sangat jelas Mas, tapi apa mulut Ning Sarah itu tidak di didik dengan baik sampai-sampai membanding-bandingkan Jamila dan Ning Alisah? Apa Ning Alisah pantas di bilang ta'at agama di saat Ning Alisah selalu mengharap suami orang? Bukan'kah itu lebih rendah dari Jamila?"
"Sudah jangan berbicara tentang itu Jamila, Mas sama sekali tidak peduli tentang mereka."
"Iya Mas."
__ADS_1