Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 52 Kenan Datang Ke Apartement


__ADS_3

Mereka bertiga sedang asik mengobrol-ngobrol hingga di kejutkan dengan bel apartement yang berbunyi berkali-kali membuat Kinanti mencibir.


Ting-tong!


Ting-tong!


Ting-tong!


Ting-tong!


"Itu yang nekan bel penagih hutang apa? Bisa-bisa dia seperti rentenir!"


Kinanti berbicara sambil turun dari pangkuan suaminya saat bel tidak henti-hentinya berbunyi. Kinanti langsung pergi ke arah pintu dengan raut wajah kesal, lebih kesal lagi saat membuka pintu yang menampilkan sosok Ayah mertuanya.


"Di mana putra saya? Saya ingin berbicara dengannya."


"Kenapa keluarga anda itu senang sekali mengusik hidup orang?! Tadi istri anda yang datang ke apartment mencari anda dengan memaki ibu mertua saya dan suami saya, dan sekarang anda, apa hidup kalian hanya untuk mengusik hidup orang?!"


Kinanti bertanya dengan raut wajah marah, ia tidak mengerti kenapa orang tua Aska begitu gila, dan ia bersyukur karena tidak menikah dengan Aska yang mungkin akan ketularan sama gilanya dengan mereka.


"Apa kamu bilang tadi istri saya kemari?"


"Iya istri anda kemari dan menghina ibu mertua saya jallang, lalu menghina suami saya anak dari wanita jallang! Apa anda tidak becus untuk mendidik istri anda hingga mulut istri anda itu seperti sampah yang tidak bisa di daur ulang?!!"


Kinanti tidak peduli walau pun di hadapannya itu Ayah mertuanya, ia sangat emosi karena mereka terus saja berdatangan seperti penagih hutang.


Kenan tidak menyangka kalau istrinya sangat berani untuk mendatangi ke apartement putra ke duanya, ia semakin marah saat tau istrinya selalu saja melakukan semena-mena.


"Jaga bicara kamu Kinanti! Saya masih Ayah mertua kamu!"


"Ayah mertua?"

__ADS_1


Kinanti bertanya sambil tersenyum mengejek pada Kenan.


"Jangan lupa kalau saya itu gagal menikah dengan putra anda, putra anda hanya Aska'kan? Bukan'kah dulu anda mengatakan tidak menginginkan Mas Ali? Lalu untuk apa anda datang dan minta di akui sebagai seorang Ayah? Apa anda selama ini memberikan kasih sayang pada Mas Ali hingga anda mau di akui sebagai Ayah dari Mas Ali? Tentu saja jawabannya tidak, bahkan anda membiyayai kebutuhannya pun memakai uang milik Bundanya!"


Anisa yang mendengar suara kegaduhan, ia langsung mendekati mereka untuk melihat siapa yang datang.


"Siapa Jamila?!"


Anisa bertanya sambil terus berjalan ke arah menantunya.


"Om Kenan Bunda!"


Anisa menghentikan langkah kakinya saat mendengar jawaban dari menantunya, ia langsung melihat ke arah mantan suaminya yang sedang menatap ke arahnya.


"Anisa!"


Walau pun mantan istrinya memakai cadar, tapi ia masih hapal suara mantan istrinya yang tidak pernah ia lupakan dalam ingatannya.


"Ada apa anda datang ke apartement putra saya?"


Pertanyaan dari Anisa membuat Kenan merasa kalau ia seperti orang asing di hadapan Anisa, wanita yang sangat ia cintai, tapi telat menyadari.


"Apa kabar Anisa? Kamu semakin tambah solehah saja."


Kenan bertanya dengan raut wajah bahagia saat melihat mantan istrinya ternyata baik-baik saja, apa lagi selama 15 tahun ia tidak pernah di pertemukan dengan mantan istrinya, tapi kini ia di pertemukan dengan mantan istrinya.


"Alhamdulilah saya baik, bahkan bisa di katakan sangat baik, ada apa anda kemari?"


Anisa bertanya untuk ke dua kalinya karena tadi mantan suaminya tidak menjawab pertanyaannya.


"Aku kesini ingin bertemu dengan putraku, aku ingin minta maaf Nis, tolong biarkan aku tetap menjadi Ayahnya. Aku tau kamu bisa menasehati putramu dengan baik."

__ADS_1


"Ali hanya putra saya kalau anda lupa, bahkan saat itu bukan'kah anda tidak ingin mengakuinnya? Putra anda hanya Aska, anda tidak mungkin pikun karena paktor usia'kan?"


Anisa bertanya dengan pandangan mata yang menunduk, sekarang Kenan bukan lagi makhromnya, akan sangat berdosa kalau ia saling pandang karena akan zina mata.


Pertanyaan mantan istrinya membuat Kenan menghela napas berat, ia tau kalau ucapannya di masa lalu memang tidak bisa di maafkan, tapi sekarang ia ingin menjadi Ayah yang baik untuk putra ke duanya.


"Ali juga putraku Nis, darah dagingku, bagai mana bisa kamu mengubah nama Ayahnya menjadi Morgan?"


"Bukan'kah itu keinginan anda sendiri? Anda yang tidak menginginkan putra saya, saya sadar kalau saya memang bukan wanita yang anda cintai, tapi saat itu juga anda mengatakan tidak pernah menyayangi putra saya. Saya sudah memberikan anda perusahaan, agar anda tidak lagi menipu wanita lain dengan embel-embel cinta, cukup saya yang pernah menjadi korban oleh anda, jadi nikmati saja kehidupanmu sekarang."


Anisa menghela napas berat saat ingatannya mengingat masa lalu yang sudah berusaha ia lupakan, walau pun ia sudah ikhlas dengan kejadian itu, tapi ia hanya manusia biasa yang masih merasakan sakit di hatinya.


"Jadi biarkan saya berbahagia dengan putra dan menantu saya tanpa kehadiran orang asing lagi di kehidupan kami, kami baru saja merasakan bahagia karena bisa berkumpul lagi."


Kenan menghela napas berat saat mendengar ucapan dari Anisa yang menganggapnya orang asing.


"Aku tau kalau kesalahanku tidak bisa di maafkan, tapi aku juga tau satu hal kalau kamu masih mencintaiku, mari kita kembali lagi seperti semula tanpa campur tangan dari Lusi, cukup dulu Lusi yang mengatur segalanya dari menikahimu hingga menyetujui permintaan cerai darimu. Maafkan aku Nis, karena aku menjadi lelaki yang tidak meniliki pendirian, tapi kali ini aku ingin memperbaiki segalanya. Aku ingin mulai lagi kisah kita tanpa campur tangan dari siapa pun, agar kita hidup menjadi keluarga bahagia."


Anisa yang mendengar penjelasan dari mantan suaminya membuat ia tersenyum samar di balik cadarnya, tapi senyuman itu adalah senyuman luka, setelah sekian lama akhirnya pakta itu terbesit juga dari mulut mantan suaminya kalau mantan suaminya memang tidak pernah terbesit sedikit pun untuk bersamanya.


Anisa merasa menjadi orang bodoh, karena nyatanya pernikahan itu terjadi karena Lusi, andai ia tidak ingat adanya Allah, ia ingin sekali membalas rasa sakit pada orang-orang yang telah menyakitinya berkeping-keping, tapi ia masih ingat adanya Allah dan percaya kalau Allah akan membalas ganjaran hambanya masing-masing.


"Kalau anda merasa saya belum move-on anda salah, karena saya bukan lagi wanita remaja yang gila cinta, apa lagi saya sudah terbiasa sendiri, saya tidak mau membuat iman saya goyah lagi karena kehadiran orang lain."


Sekarang Anisa memang terus mendalami agamanya, agar hatinya tidak ternoda lagi karena hal percintaan, ia memang tidak trauma dalam pernikahan, ia anggap pernikahan yang sudah gagal di masa lalu itu sebagai pelajaran, tapi ia ingin di nikahi oleh lelaki yang memiliki iman.


Itu kenapa Anisa memasukan putranya ke pesantren, ia ingin putranya memiliki iman yang kuat agar bisa melawan sifat egois dalam hati manusia.


Kenan menghela napas berat, ia memang tidak pantas mendapatkan kesempatan ke dua dari mantan istrinya, tapi ia sangat mencintai mantan istrinya.


"Tolong beri aku kesempatan sekali ini saja Nis."

__ADS_1


"Tidak ada kesempatan ke dua dalam kamus saya."


__ADS_2