Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 31 Ali VS Aska


__ADS_3

Hari ini Ali bersama istrinya sudah syuting kembali. Ada beberapa adegan yang menjengkelkan untuk beberapa pasang mata saat melihat Ali dan istrinya yang terlihat mesra.


Apa lagi para kaum hawa, mereka semua baper saat melihat adegan mesra Ali bersama istrinya, walau hanya cium bibir sekilas dan pelukan, tapi tetep saja banyak wanita yang iri.


Bahkan hampir semua lupa kalau Ali dan Kinanti memang sudah sah menjadi suami istri. Terutama Lisa, ia semakin membenci Kinanti karena tadi pagi saat ikut gabung bersama mereka, ia curi-curi pandang pada Ali dan mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Ali secara terang-terangan di depan Kinanti, tapi nyatanya Ali bukan tipe lelaki yang mudah di rayu karena Ali tidak mempedulikannya.


Bahkan Lisa menggoda Ali lagi dengan menjatuhkan sendok makannya di depan Ali, lalu ia mengambil sendok itu dengan berjongkok untuk memperlihatkan belahan dadanya di sela-sela kemeja yang memang sengaja sudah ia buka dua kancing, tapi lagi-lagi Ali seperti pura-pura tidak tau, Ali hanya sibuk bercanda bersama istrinya yang membuat ia jengkel.


Ali dan istrinya sekarang sudah selsai syuting, mereka berdua langsung duduk di tempat istirahat, ke duanya selalu menampilkan senyuman, terutama Kinanti yang tersenyum bahagia saat tau mantan sahabatnya sedang menggoda suaminya, tapi suaminya terlalu acuh dan tidak peduli.


Andai saja bukan di lokasi syuting, Kinanti sudah menjambak-jambak rambut Lisa karena berani telah menggoda suaminya. Tiba-tiba saja ponsel Kinanti bergetar.


Dret... Dret...


"Kinanti Aska telpon."


Riana langsung menyerahkan ponsel Kinanti pada Kinanti yang langsung di ambil oleh Ali saat mendengar nama Aska yang telpon.


Ali langsung melihat ke mata istrinya yang hanya di jawab dengan gelengan kepala oleh istrinya, dan seolah-olah istrinya tau kalau ia meminta jawaban pada istrinya.


Ali langsung mengangkat panggilan dari Kakaknya tanpa berbicara lebih dulu, ia juga melodspeker panggilan telpon itu agar ia dan istrinya bisa mendengar apa yang ingin di katakan oleh Kakaknya.


"Aku tau Kin kalau kamu masih mencintaiku, buktinya kamu masih mau mengangkat telpon dariku, segera bercerai dengan adikku yang miskin dan tidak berguna, karena aku akan menikahimu. Aku sangat mencintaimu, kamu juga pasti masih mencintaiku'kan?"


"Kamu harus sadar kalau kamu sekarang hanya sebatas Kakak iparnya, dan kamu harus ingat adik miskin dan tidak bergunamu ini adalah suami dari mantanmu! Apa kamu tidak tau malu mau mengambil wanita yang sudah kamu buang layaknya sampah?! Bahkan kamu mempermalukan Kinanti bukan hanya di depan tetangga, tapi juga di depan wartawan! Jadi lebih baik simpan saja rasa cintamu dan jangan pernah berharap kalau kamu bisa menikahi istri saya!"

__ADS_1


"Cuih! Jangan berharap kalau aku akan mengakui kamu sebagai adiku, karena Bundamu hanya pelakor! Kata pepatah mengatakan buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, Bundamu sebagai pelakor, dan kamu juga sebagai pembinor! Percuma menjadi ketua dewan santri kalau kelakuanmu itu seperti Bundamu yang suka merebut pasangan orang!"


Ali langsung mengepalkan tangannya sambil menghela napas kasar saat mendengar Kakaknya mengatai Bundanya sebagai pelakor, kalau saja Kakaknya sedang ada di depan mata, mungkin ia sudah melayangkan banyak pukulan pada mulut Kakaknya yang sedang berbicara asal.


"Bunda saya bukan pelakor, tapi Ayahmu yang tidak becus untuk mencari pekerjaan hingga merayu Bunda saya, seharusnya kamu malu punya Ayah yang tidak becus bertanggung jawab karena tidak bisa mencari pekerjaan. Ayahmu datang dengan iming-iming cinta pada Bunda agar bisa mendapatkan uang untuk menafkahi ibumu dan kamu yang bodoh itu! Kalau tidak bodoh harusnya kalian tanya dari mana Ayahmu mendapatkan uang banyak."


"Sialan! Dasar brengsek! Papaku itu Papa yang baik dan bertanggung jawab!!!"


Aska berteriak marah saat adiknya menjelek-jelekan Papanya.


"Iya Ayahmu memang sangat baik dan bertanggung jawab, tapi miris sekali hasil nipu!"


"Bukan Papahku yang salah, tapi Bundamu yang mau telentang demi untuk mendapatkan kepuasan dari Papaku hingga memberikan hartanya. Cuih dasar murahan!"


Ali langsung beristighfar di dalam hatinya untuk menenangkan diri saat lagi-lagi Kakanya merendahkan harga diri dari Bundanya.


Kinanti yang mendengarkan perdebatakan Kakak beradik di ujung telpon, ia hanya menghela napas berat.


Apa lagi awalnya hanya permasalahan tentangnya, tapi Kinanti tidak menyangka jika obrolan mereka berdua akan menjalar ke percakapan dewasa karena saling membenci.


"Ali brengsek!"


"Hina saja sepuas kamu, karena aku tau kalau kamu bisanya hanya bergantung pada orang tuamu, seperti Ayahmu yang hanya bisa bergantung di kekayaan Bunda saya, dasar benalu!"


Riana yang mendengar perdebatan Ali dan Aska di balik telpon ia hanya tersenyum meringis, karena di saat seperti ini ia tidak melihat Ali yang lemah lembut, melainkan ia melihat sosok Ali yang sangat berbeda.

__ADS_1


Ali berbicara seenaknya seolah-olah lupa dengan larangan agama, hingga Ali juga ikut memaki pada Aska.


"Kamu mau mencari mati iya Ali bodoh?! Sekali lagi kamu mengatakan kata-kata buruk untuk Papa, akan aku pastikan kalau hidupmu itu menjadi sengsara dan menyedihkan!"


Ali tertawa terbahak-bahak saat mendengar ancaman dari Kakanya.


"Itu pakta, tapi kamu tidak mengakui kalau itu pakta, miris sekali kamu Aska Kesuma!"


"Di mana kamu brengsek?! Akan aku buat wajahmu babak belur!"


"Di lokasi syuting, kalau kamu mau kemari tinggal kemari, kalau punya nyali dan tidak tau malu seperti Ayahmu!"


"Ingat kalau lelaki tua yang terus kamu hina itu Papa kamu juga bodoh! Darah Papa itu mengalir di tubuhmu, tapi kamu sombong sekali kalau berbicara, seakan-akan lupa kalau kamu juga putra Papa. Ciuh! Dadar putra tidak waras!"


Sudah dua kali Ali tertawa saat mendengar hinaan dari Kakanya.


"Putra Kenan Kesuma itu hanya satu, yaitu Aska Kesuma jadi jangan lupakan itu. Saya sama sekali tidak memiliki Ayah, semenjak Kenan memberikan penghianatan pada Bunda, semenjak itu juga Kenan bukan Ayah saya lagi. Bagi saya Kenan tidak pantas di anggap seorang Ayah, karena Kenan hanya menyayangi kalian."


Ali menghela napas berat, ia tau kalau ucapannya dari tadi itu sangat berdosa, tapi di dalam hatinya ia memang sudah tidak mengakui Kenan sebagai Ayahnya, bagi ia percuma kalau ia mengakui Kenan sebagai Ayah karena Ayahnya tidak pernah menyayanginya.


Apa lagi karena Ayahnya Bundanya pergi entah kemana hingga Ali sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa dan sudah memiliki istri, tapi hingga sekarang ia masih belum bisa menemukan Bundanya.


"Iya seharusnya aku ingat kalau Papa hanya memiliki satu putra yaitu aku, sedangkan kamu hanya benalu di kehidipan Papa!"


"Mau kamu bilang saya benalu atau pun tidak berguna dan termasuk miskin saya sama sekali tidak peduli! Assalanualaikum!"

__ADS_1


Ali langsung memutuskan sambungan telponnya sepihak tanpa mau mendengar jawaban dari kakanya lagi.


__ADS_2