
Setelah telpon bersama Ayahnya Ali hanya diam membisu, ia masih di tempat yang sama, sama sekali tidak merubah posisi.
Hatinya juga masih sama, masih sangat terluka, tadi masalah istrinya dan sekarang masalah Ayahnya, ia tidak mengerti dengan sikap Ayahnya dan istrinya.
Bukan'kah dulu Ayahnya tidak menginginkannya, tapi sekarang Ali merasa Ayahnya sudah seperti penagih hutang karena selalu saja menghubunginya.
Sedangkan sikap istrinya ia tidak paham kenapa istrinya masih saja menganggapnya sebagai anak kecil, bukan'kah saat itu mengatakan akan belajar saling mencintai, tapi Ali merasa istrinya masih saja tidak ingin belajar untuk mencintainya.
Ali tidak tau apa pernikahannya bisa di pertahankan, atau pernikahanya akan kandas seperti jejak Bundanya, walau pun ia ingin menikah cukup sekali, tapi ternyata pernikahan itu tidak mudah seperti dalam bayangannya.
"Saya tidak tau harus berbicara dan harus bersikap bagai mana lagi untuk membuktikan kalau saya pantas menjadi suaminya dan saya bukan anak kecil." batin Ali
Kinanti yang melihat suaminya hanya diam dan masih bersandar di meja makan membuat ia hanya bisa menghela napas berat dengan mata yang sudah berkabut karena akan menangis.
Kinanti tidak menyangka kalau ucapanya mampu melukai hati terdalam suaminya, ia langsung melangkah ke arah suaminya, lalu langsung memeluk suaminya dengan sangat erat, dan tangisannya langsung pecah setelah memeluk suaminya.
"Maafkan Jamila Mas. Hiks... Hiks... Jamila tau kalau Jamila salah sudah mengatai Mas anak kecil. Hiks... Hiks..."
Ali menghela napas berat, pasti setelah perdebatan istrinya akan menangis, ia langsung membalas pelukan dari istrinya dan mencoba meredamkan amarahnya, tapi nyatanya ia tidak bisa untuk meredamkan amarahnya.
Selama 1 bulan Ali selalu sabar menghadapi sifat kanak-kanakan istrinya, tapi kali ini ia tidak bisa sabar karena istrinya sudah melukai hatinya sangat dalam.
__ADS_1
"Apa kamu tidak bisa menghargai saya sebagai suamimu Jamila? Apa kamu tidak bisa belajar untuk mencintai saya? Apa saya tidak bisa menggerakan hatimu walau pun hanya sedikit saja?"
Tidak ada suara bentakan dari pertanyaan suaminya, tapi mampu membuat Kinanti semakin menangis saat mendengar suaminya mengatakan kata saya.
Sudah lama sekali Kinanti tidak mendengar kata saya dari mulut suaminya saat suaminya berbicara dengannya, membuat ia tau kalau suaminya sangat marah padanya.
Apa lagi Kinanti belum pernah melihat suaminya marah, baru kali ini ia melihat suaminya sangat marah.
"Maafkan Jamila Mas, tapi kalau Mas tanya Jamila cinta atau tidak, jawabannya iya Mas, Jamila sangat mencintai Mas dan bisa jadi Jamila itu mencintai Mas dari awal pernikahan kita. Setiap kali Mas mengatakan tentang Ning Alisah, hati Jamila selalu tidak menentu, saat Mas pergi ke pesantren, hati Jamila sangat tidak tenang. Jamila yakin kalau Ning Alisah akan meminta menjadi istri ke dua dari Mas, dan Jamila takut kalau Mas menerimanya."
Kinanti menghentikan pembicaraannya untuk mengatur napasnya, karena ia berbicara masih terus menangis.
"Saat Mas pulang dengan wajah lelah dan menceritakan Ning Alisah, Jamila merasa bersalah karena Jamila telah menerima Mas menjadi suami Jamila, karena saat itu Jamila belum mengenal kepribadian Mas, tapi di hati Jamila yang paling dalam, Jamila juga tidak ingin kehilangan Mas. Hiks... Hiks...!"
"Mas harus tau, Jamila sangat bersyukur bisa di nikahi Mas. Mas bukan hanya selalu berpikir dewasa, tapi Mas juga mampu membimbing Jamila ke ya Rabbnya, dan Jamila selalu bersyukur tentang itu. Jamila juga selalu berdo'a di setiap sujud Jamila pada ya Rabbnya agar kita selu bisa bersama-sama mau pun di dunia atau di akhirat kelak, tapi satu hal yang membuat Jamila tidak bisa mengungkapkan perasaan Jamila, Jamila sangat gengsi."
Kinanti menghela napas sesaat sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
"Apa lagi saat awal-awal pernikahan kita, Jamila selalu membangkang pada Mas, sekali Jamila minta maaf Mas. Mas boleh marah sepuas Mas, tapi jangan mendiamkan Jamila. Orang yang paling Jamila takuti saat marah adalah Mas selain ke dua orang tua Jamila. Jamila selalu takut saat melihat Mas marah, dan hati Jamila sangat sakit saat melihat Mas marah."
Air mata Ali lolos begitu saja saat mendengar penjelasan panjang dari istrinya, ia tidak menyangka kalau selama ini ternyata istrinya membalas cintanya.
__ADS_1
Namun satu kata yang Ali tidak suka dari ungkapan istrinya yaitu kata gengsi, kata gengsi yang membuat rumah tangganya terus saja memiliki masalah dan gara-gara kata gengsi ia merasa kalau selama ini ia tidak pernah di anggap suami oleh istrinya.
Ali beristighfar berkali-kali di dalam hatinya, ia berusaha agar tidak terbawa emosi, tapi nyatanya tetap saja susah untuk menerima semua kenyataan yang terucap dari mulut istrinya.
"Kenapa Jamila egois hanya karena kita berbeda usia jadi Jamila gengsi? Atau jangan-jangan selama ini Jamila malu karena memiliki suami seperti Mas yang masih terlalu muda? Apa Jamila ingin Mas menyamakan tanggal lahir kita agar tidak malu? Jamila tau kalau Mas selalu ingin menjadi yang terbaik untuk Jamila, lalu Mas juga berusa menjadi imam yang baik walau pun Mas tau kalau Mas bukan lelaki yang kamu harapkan, tapi Mas selalu berharap kalau suatu saat Jamila bisa menerima Mas sebagai suamimu seutuhnya. Namun nyatanya sampai saat ini Mas masih belum bisa menjadi suamimu seutuhnya karena kamu memiliki rasa gengsi."
Ali melepaskan pelukan dari istrinya, ia mengusap air matanya sendiri, rasa kecewanya semakin bertambah terhadap istrinya.
"Mas tidak akan memaksamu untuk bertahan di rumah tangga kita kalau rasa gengsimu lebih besar dari pada rasa cinta pada Mas, lebih baik Jamila pikirkan mau di bawa kemana pernikahan kita, Mas yakin Jamila bisa menyikapi semuanya, apa pun keputusan Jamila, Mas akan berusaha menerima semuanya."
Ali berbicara sambil mengusap air mata istrinya, dadanya terasa sesak, ia berhasil menikahi wanita yang ia janjikan akan di nikahi, ia juga berhasil mendapatkan cintanya, tapi ia tetap gagal untuk menjadi suaminya seutuhnya, ia tidak menyangka kalau perbedaan usia itu membuat rumah tangganya selalu tidak memiliki kemajuan.
Ali memang masih menginginkan rumah tangganya di pertahankan, tapi jika hanya sepihak, hanya ia saja, ia tidak akan bisa mempertahankannya, apa lagi ia tidak pernah memiliki pengalaman apa pun dalam percintaan, ia hanya bisa berusaha menjadi suami yang baik.
Namun usahanya hingga sekarang tidak membuahkan hasil, rasa sabarnya sudah menipis, awalnya ia senang saat istrinya juga mencintainya, tapi cinta istrinya memiliki gengsi.
"Tenangkan dirimu Jamila."
Setelah mengatakan itu Ali langsung melangkah lebar, ia langsung mengambil kunci motornya, lalu langsung pergi dari apartement, ia tidak peduli dengan istrinya yang terus saja memanggilnya.
Cukup kali ini saja Ali berpikir ogois, karena hampir 1 bulan ia mengalah dan berusaha sabar, ia berharap rumah tangganya berujung manis, tapi nyatanya rumah tangganya semakin hancur.
__ADS_1
Apa lagi Ali juga takut kalau tidak pergi dari apartement, ia takut tidak bisa mengontrol emosinya, ia takut kata-kata kasar keluar dari mulutnya, karena manusia sering khilaf.