Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 92 Anisa kecelakaan


__ADS_3

Anisa berangkat lebih pagi ke kantor, bahkan ia tidak sempat berpamitan pada anak dan menantunya, karena ia harus menyelsaikan semuanya dengan Aska.


Walau pun Anisa belum memiliki hubungan bersama Aska, tapi ia harus mengatakan hal itu agar Aska tidak terlalu mengharapkannya.


Tok-tok.


"Masuk!!"


Anisa berteriak saat mendengar pintunya di ketuk, ia yakin kalau itu adalah Aska.


"Assalamualaikum."


Aska mengucap salam sambil tersenyum lebar.


"Wa'alakumsalam, nak Aska silahkan duduk."


"Iya Bunda."


Aska langsung duduk di sofa bersebrangan dengan Anisa.


"Bunda ada apa chat Aska suruh datang ke ruangan Bunda?"


"Begini nak, Bunda ingin berbicara tentang perasaan kamu, apa kamu bekerja di sini memiliki motif lain selain ingin belajar mandiri?"


Pertanyaan itu sontak saja membuat Aska terkejut, ia tidak menyangka kalau Anisa tau ia datang ke kantor Anisa karena memiliki motif lain, yaitu ingin mengejar cinta Anisa.


"Berarti benar kalau kamu datang kemari karena memiliki motif lain?"


"Iya Bunda, tolong maafkan Aska, Aska memang bekerja di sini memiliki motif lain, itu karena Aska."


Belum sempat Aska melanjutkan ucapannya, Anisa lebih dulu memotong ucapannya.


"Itu karena kamu mencintai Bunda?"


Anisa bertanya sambil menundukan kepalanya. Untuk ke dua kalinya Aska sangat terkejut saat mendengar pertanyaan dari Anisa, ia tidak menyangka kalau gerak-geriknya mudah di baca oleh Anisa.


"Iya Bunda, maafkan Aska. Aska memang mencintai Bunda dalam pandangan pertama."


"Bunda harap kamu bisa menghapus perasaanmu perlahan, karena kamu mencintai wanita yang salah."


"Maksud Bunda apa? Apa karena Aska belum memiliki pekerjaan tetap?"


"Bukan seperti itu nak, karena."


Belum sempat Anisa menyelsaikan pembicaraannya, Aska sudah memotong ucapannya.

__ADS_1


"Karena Aska lelaki yang jauh dari agama begitu maksud Bunda? Kalau memang seperti itu, Aska akan berusaha Bunda, Aska akan berubah menjadi lebih baik lagi, jadi tolong beri Aska kesempatan untuk mendapatkan hati Bunda."


"Bukan seperti itu juga nak, tapi karena kamu adalah anak kandung dari Kenan."


"Apa karena Papa pernah menyakiti Bunda? Itu kenapa Bunda juga membenci Aska?"


Aska bertanya dengan mata memerah dan raut wajah kecewa.


"Bukan, karena Bunda pernah di nikahi Kenan, dan kamu anak kandungnya, dalam agama kita haram nak, kalau kamu menikahi Bunda."


Aska menghela napas berat saat mendengar jawaban dari Anisa, ia sangat kecewa saat mendengar ucapan dari Anisa, ia pikir ia bisa berjuang untuk mendapatkan hati Anisa, tapi ternyata ia memang tidak bisa menikahi Anisa.


"Jadi kalau Aska menikahi Bunda, itu haram?"


"Iya nak, Bunda harap kamu bisa paham dengan hal ini, lagi pula kalau pun kamu tidak memiliki hubungan darah dengan Kenan, Bunda tidak akan mau bersamamu. Bukan karena kamu jauh dari agama, atau kamu tidak memiliki pekerjaan, tapi karena kamu itu hanya pantas menjadi putra Bunda."


Anisa menghela napas sesaat, sebelum ia melanjutkan pembicaraan lagi.


"Kamu masih sangat muda nak Aska, jadi cari wanita yang sekiranya seumuran dengan kamu, bukan mau menikahi wanita paru baya seperti Bunda."


Kejujuran Anisa mampu melukai hati terdalam Aska, ia tersenyum getir saat mendengar kejujuran dari Anisa dengan mata yang sangat memerah, ia tidak menyangka kalau harapan untuk bersama Anisa memang hanya lah harapan kosong.


"Bunda, seandainya Aska bisa meminta di lahirkan kembali, Aska hanya ingin menikahi Bunda, Aska mencintai Bunda, tapi kejujuran Bunda melukai hati terdalam Aska, kalau Aska di lahirkan kembali bukan anak dari Papa dan Bunda masih tidak mau, pilihan satu-satunya Aska hanya ingin meninggal saja."


Setelah mengatakan itu Aska langsung keluar dari ruangan Anisa dengan langkah kaki lebar.


Anisa berteriak sambil mengejar Aska, perasaan ia sangat tidak enak saat mendengar ucapan dari Aska, ia takut ada sesuatu dengan Aska.


"Tunggu nak!!"


Anisa berteriak untuk ke dua kalinya saat Aska tidak menghentikan langkah kakinya, ia terus saja berjalan mengejar Aska masih sambil berteriak memanggil Aska.


Anisa juga tidak peduli dengan para karyawan yang menatapnya dengan tatapan aneh dan terkejut karena ia memanggil nak pada Aska.


Aska masih tidak mempedulikan panggilan dari Anisa hingga setetes air matanya jatuh, ia belum pernah merasa sekecewa ini dalam hal percintaannya.


"Cinta tidak terbalas itu ternyata sangat menyakitkan." batin Aska


"Bunda tidak bermaksud berbicara seperti itu nak, turun dari mobil!!"


Anisa berteriak sambil menepuk pintu mobil Aska, rasa kuatirnya semakin bertambah.


"Ini ada apa Bu Anisa?"


Aulia yang baru turun dari mobil menatap bingung saat melihat Anisa yang mencoba meneriaki Aska.

__ADS_1


Aska langsung menacap gasnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak peduli dengan Anisa yang memanggilnya, apa lagi ucapan Anisa yang tidak ingin bersamanya terngiang di telinganya.


Anisa sangat panik saat melihat Aska melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Saya pinjam mobil kamu Aulia, kunci mobil saya di ruangan saya."


Anisa berbicara sambil mengambil kunci yang masih di pegang Aulia, bahkan ia langsung melajukan mobilnya sebelum mendengar ucapan hari Aulia.


Anisa langaung mengejar Aska dengan kecepatan tinggi, sebenarnya ia bisa saja menyelip mobil Aska karena dulu saat remaja Anisa adalah seorang pembalap, dan kemampuan itu hingga sekarang masih ada.


Namun Anisa hanya mengikuti kemana arah mobil Aska.


"Ya Allah, jangan biarkan Aska terjadi sesuatu, hamba mohon ya Allah."


Setetes demi setetes air mata Anisa jatuh, ia sudah mulai sedikit panik saat Aska berkali-kali menyelip mobil di depannya, sedangkan ia hanya ikut menyelip agar tidak kehilangan jejak Aska.


Namun di depan berlawanan Anisa melihat mobil teruk yang ugal-ugalan dan itu mampu membuat Anisa menyelip mobil Aska, ia tidak ingin Aska yang terluka.


"Ya Allah, hamba pasrah dengan apa pun yang terjadi pada hamba, tapi jangan biarkan Aska terluka. Innalillahi!"


Sekian detik setelah Anisa mengucapkan kata innalillahi, mobil Anisa langsung bertabrakan dengan truk.


Bruk....!!


"Bunda!!"


Aska berteriak sambil mengerem mendadak, bahkan ia sampai menabrak mobil belakang Anisa.


Anisa bahkan terpental ke luar dari kaca mobil yang sudah berlumur darah akibat pecahan kaca.


Aska langsung turun dari mobil dengan tergesah-gesah, ia langsung mendekati orang yang sudah lebih dulu berkerumun ke Anisa.


Aska lansung memeluk Anisa yang sudah lemas dan terluka parah, bahkan baju gamis putihnya sudah tidak terlihat putih, karena banyak darah yang keluar dari luka tubuhnya dan kepalanya.


"Kenapa Bunda lakuin ini?! Kenapa tidak biarkan Aska yang terluka saja?!"


Aska bertanya dengan air mata yang mengalir deras ke kening Anisa yang dalam dekapannya. Aska langsung menatap wajah Anisa karena cadarnya memang sudah terlepas.


"Bunda senang kamu tidak apa-apa nak."


Walau pun merasa sakit, Anisa masih menujukan senyuman terbaiknya untuk Aska, dan ia bernapas lega bisa menyelamatkan Aska, kalau sampai Aska yang terluka, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Setelah mengatakan itu Anisa langsung tidak sadarkan diri.


"Bunda bangun! Bunda harus kuat!"


"Mas, ibunya di bawa ke rumah sakit bukan di tangisin, yang ada nanti nyawanya tidak akan tertolong."

__ADS_1


Salah satu yang menyaksikan adegan itu menyuruh Aska untuk membawa Anisa ke rumah sakit.


__ADS_2