Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 57 Kelakuan Kinanti


__ADS_3

Ali masih diam, ia masih tidak mengeluarkan suara untuk beberapa saat saat mendengar ocehan panjang dari Kakaknya, ada juga rasa tidak percaya saat Kakaknya datang untuk minta maaf.


"Tadi kamu bilang apa?"


Walau pun Kakanya sudah memanggilkan diri sendiri dengan panggilan Kaka, Ali masih tetap memanggil Kakaknya kamu.


"Kakak minta maaf, Kaka tau kalau selama ini Kakak sangat salah padamu dek."


"Saya tidak suka di panggil adek, saya lebih suka di panggil Ali."


"Iya Ali, kamu mau memaafkan Kakak dan menganggapku sebagai Kakamu?"


Ali tersenyum tipis sekilas pada Kakaknya, ia memang tidak pernah membenci Kakaknya, walau pun dulu Kakaknya memperlakukannya kurang baik, ia hanya benci pada Ayahnya sendiri.


"Ali akan memaafkan Kakak, tapi dengan syarat, jangan meminta Ali untuk memaafkan Ayah juga, Ali belum bisa berdamai dengan masa lalu Ali."


Menurut Ali Kakaknya berhak mendapatkan permintaan maaf darinya karena Kakaknya memang tidak tau apa-apa tentang permasalahan orang tuanya.


Namun untuk Ayahnya, ia sampai sekarang masih selalu menghindari Ayahnya karena luka hatinya memang masih membekas di hatinya.


Aska tersenyum lebar saat mendengar adiknya dengan mudah memaafkannya, tidak heran menurut ia kalau Kinanti mudah mencintai adiknya yang memang berhati lembut.


"Kakak, boleh peluk Kamu?"


Ali hanya menganggukan kepalanya yang langsung di peluk oleh Aska. Mereka berdua merasa bahagia saat merasakan pelukan sebagai Kakak beradik, begitu pun dengan Anisa, ia juga tersenyum lebar di balik cadarnya saat melihat mereka akur.


Namun Anisa juga tidak habis pikir kalau Lusi itu sangat jahat, hanya karena ingin hartanya Lusi menyuruh suaminya sendiri untuk menikahinya, dan menurut ia suaminya juga lelaki bodoh, hanya demi untuk sebuah harta suaminya mau menikahi wanita yang tidak di cintai selama 8 tahun lamanya.


Merka langsung melepaskan pelukannya, lalu Ali langsung menyuruh duduk pada Kakaknya.


"Silahkan duduk Kak."


Aska mengangguk pelan sambil tersenyum lebar menatap adiknya, ia tidak menyangka kalau adiknya mau memanggil ia dengan panggilan Kakak.


"Oh iya, kata Kakak mau minta maaf pada Bunda, ini Bunda Ali."


Ali berbicara sambil memegang lengan Bundanya. Aska tidak menyangka kalau wanita bercadar di depannya itu Bunda dari Ali, tidak heran suaranya sangat akrab di indra pendengarannya walau pun memakai cadar.

__ADS_1


Aska langsung berjalan ke arah mereka, ia langsung bersimpuh di kaki Anisa.


"Saya minta maaf Tante, saya tidak tau permasalahan Tante dan orang tua saya yang sebenarnya hingga saya membenci Ali dan Tante, ke dua orang yang tidak memiliki salah dalam rumah tangga orang tua saya. Saya juga minta maaf atas nama Mama, karena Mama telah melukai hati Tante, wanita yang sangat baik menurut saya."


"Bangun nak, bukan'kah Ali sudah mengatakan jangan berlutut di depan siapa pun selain ibumu, maaf Bunda tidak bisa membangunkanmu, karena kamu tidak memiliki hubungan darah dengan Bunda, tapi Bunda minta, Kamu memanggil saya dengan panggilan Bunda, kita saling memaafkan, tentu karena manusia memang tempatnya salah, tapi kalau kamu meminta Bunda untuk memaafkan ibumu, rasanya sulit di trima untuk Bunda, apa lagi yang minta maaf bukan orang yang membuat salah."


Anisa menghela napas pelan, ia memang tidak bisa memaafkan semudah itu, apa lagi Lusi sudah menyakiti hatinya berkeping-keping tentu saja sulit untuk ia maafkan, tapi ia ingat kalau Allah saja maha pemaaf, jadi ia akan berusa memaafkan walau pun sulut.


"Iya Bunda, terima kasih sudah memaafkan saya."


Aska langsung berdiri sambil tersenyum lebar, ia bersyukur karena tidak pergi ke Club malam terlebih dahulu, mungkin kalau pergi hatinya masih merasa kacau, sedangkan sekarang hatinya merasa nyaman.


"Nak, kalau tidak keberatan lebih baik nak Aska menginap saja di sini, ini sudah larut malam."


"Memang boleh Bunda?"


"Tentu saja boleh."


Kinanti terus saja berjalan menuruni tangga untuk mencari suaminya karena saat ia bangun dari tidurnya tadi, suaminya sudah tidak ada di mamar.


"Mas."


Menurut Aska Kinanti sangat cantik saat melihat wajah polos Kinanti, tapi ia mencoba mengontrol hatinya yang ingin memiliki Kinanti lagi, ia sedang mendapatkan banyak masalah, bahkan permasalahan itu baru saja selsai satu, masih banyak lagi permasalahan yang belum ia selsaikan.


Kinanti langsung duduk di pangkuan suaminya dengan ke dua tangan yang ia lingkarkan di leher suaminya, lalu kepalanya langsung bersandar di dada bidang milik suaminya.


"Mas, Jamila masih ngantuk, kenapa Mas tinggalin Jamila begitu saja di kamar?"


"Maafkan Mas Jamila."


Ali langsung mengecup kening istrinya sambil melihat mata istrinya yang masih memejamkan mata, ia tersenyum saat melihat wajah polos dari istrinya.


"Jamila bukan mau mendengar kata Maaf dari Mas, Jamila mau ini."


Kinanti berbicara dengan tangan kiri yang langsung meraba-raba milik suaminya, ia memang tadi tidak menyadari ada Aska dan ibu mertuanya karena rasa ngantuknya sangat besar, tapi ia juga tidak bisa tidur tanpa suaminya walau pun memejamkan mata, ia tetap ingin tau kemana suaminya pergi karena ia tidak mendengar suara mengaji dari suaminya.


Ali langsung menggenggam tangan istrinya yang sedang meraba-raba miliknya sambil tersenyum meringis, ia sangat malu saat melihat kelakuan istrinya yang tidak tau tempat, apa lagi sekarang ada Bunda dan Kakanya.

__ADS_1


Anisa langsung menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar saat melihat tingah lucu dari menantunya.


Berbeda dengan Aska, ia sangat terkejut saat melihat Kinanti memegang milik adiknya, ia yakin kalau mereka memang sudah melakukan malam pertama saat melihat Kinanti tanpa malu memegang milik suaminya.


"Astagfrullah Jamila, tangan Jamila nakal sekali."


Ali tidak habis pikir saat ia langsung menggenggam tangan istrinya, tapi istrinya langsung melepaskan genggaman tangannya dan langsung menggengam miliknya lagi.


"Ih Mas habis ini itu bikin Jamila nikmat tau."


Ali langaung meramas rambutnya, ia harus segera menggendong istrinya ke kamar, sebelum ucapan-ucapan prontal dari mulut istrinya ke luar lagi.


" Kak Aska, Ali tinggal dulu, Bunda tolong tujukan kamar untuk Kak Aska, Ali akan ke kamar."


"Iya Ali."


"Iya nak."


Anisa sudah ingin tertawa saat melihat kelakuan menantunya, tapi ia tahan karena melihat wajah merah dari putranya.


Ali langsung mengangkat tubuh istrinya berjalan menaiki tangga, ia tidak habis pikir dengan kelakuan istrinya yang sangat memalukan.


Ali memang sangat hapal kalau istrinya itu meminta nambah, setiap kali melakukan hubungan suami istri, istrinya selalu saja meminta nambah.


Setelah kepergian Ali dan istrinya Aska menghela napas pelan dan sangat pelan, ia tidak mau kalau Anisa mendengar hembusan napasnya karena rasa cemburu.


Anisa sebenarnya tau kalau Aska sangat cemburu saat melihat kemesraan putra dan menantunya, tapi ia tidak mau di ambil pusing, karena di pernikahan itu bukan putranya yang salah, melainkan Aska yang salah, jadi ia pura-pura tidak menyadari saja kalau Aska sedang cemburu.


"Mari nak Aska, Bunda antar ke kamarmu."


"Iya Bunda."


Aska langsung berjalan mengikuti Anisa ke arah kamar yang akan di tempatinya.


"Ini kamarnya nak."


"Iya terima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama."


__ADS_2