Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 41 Saling mengungkapkan


__ADS_3

Pagi harinya Ali bangun lebih dulu seperti biasanya, tapi satu yang berbeda, senyumannya tidak pernah pudar di bibir tipisnya karena semalam istrinya mengatakan kalau ia suami yang baik, tidak perlu mencontoh siapa pun, dan menyuruhnya untuk menjadi diri sendiri.


Sedangkan Kinanti, ia masih rebahan di atas ranjang, matanya terus menatap suaminya yang sedang fokus di laptopnya.


"Mas Ali kapan iya mengajak aku making love? Apa aku duluan iya yang mengajak Mas Ali making love?" batin Kinanti


Pagi-pagi otak Kinanti sudah mesum karena saat hampir subuh, ia tidak sengajak menyenggol milik suaminya membuat ia berpikir mesum.


Bahkan Kinanti sengaja memegang milik suaminya sambil masih memejamkan mata untuk berpura-pura tidur, ukuran milik suaminya membuat ia menelan ludah berkali-kali karena besar dan berotot.


Apa lagi usia Kinanti juga sudah tidak muda lagi, ia bukan ingin merasakan surga dunia, tapi ia juga ingin segera memiliki momongan dari suaminya.


Keinginan Kinanti bukan tanpa alasan, karena takut kalau suatu saat suaminya berpaling pada wanita lain, dulu ia selalu berpikir positif pada Aska, tapi semenjak di nikahi oleh Ali, ia selalu memiliki ketakutan tersendiri.


Kinanti tau arti dari ketakutan itu, ia yakin kalau cintanya lebih besar pada suaminya dari pada cintanya pada Aska dulu. Apa lagi suaminya mengatakan cintai Allah terlebih dahulu baru mencintai saya, dengan arti mencintai saya karena Allah akan lebih indah dan lama, sedangkan mencintai tanpa Allah tidak lama akan hilang, itu lah yang ada dalam pikirannya.


Kinanti langsung berjalan ke arah sofa, ia langsung duduk di samping suaminya yang masih sibuk pada laptopnya.


"Mas, Jamila hari ini tidak mau syuting."


Ali langsung melihat ke arah istrinya sambil tersenyum.


"Iya sudah tidak apa-apa Jamila."


Kinanti tanpa tau malu langsung duduk di pangkuan suaminya, lalu langsung mencium pipi kanan dan pipi kiri suaminya, setelah itu langsung mencium bibir suaminya sekilas.


"Morning kiss Mas, walau pun bau jigong! Hahaha...!"


Ali merangkul punggung istrinya, tangan kanannya merapihkan rambut istrinya yang berantakan.


"Sama sekali tidak, Jamila sangat harum."


Ali memuji istrinya bukan hanya dari mulut, ia memuji istrinya dari hati, aroma harum tubuh istrinya sama sekali tidak berubah, dan wajah cantik istrinya juga tidak berubah, hanya saja mata istrinya sedikit memerah menandakan ciri khas bangun tidur.

__ADS_1


"Jangan gombal Mas, nanti Jamila terbang ke awan karena mendapat gombalan dari Mas."


"Mas tidak gombal Jamila, itu pakta."


Ali langsung mengecup bibir istrinya, lalu menggigit pelan bibir bawah istrinya.


"Ih Mas jorok! Jamila belum mandi, bahkan sikat gigi saja belum."


"Bukan jorok, tapi romantis."


Ali menjawab ucapan dari istrinya sambil tersenyum lebar karena mengingat kejadian sebelum subuh, saat istrinya menggenggam miliknya, entah di sengaja atau tidak ia juga tidak tau, tapi yang jelas menurutnya sangat lucu.


"Ma-Mas."


Kinanti memanggil suaminya dengan terbata-bata sambil menelan ludahnya dengan kasar, ia ingin menanyakan kapan Mas akan melakukan making love, tapi ia tidak berani karena malu.


"Apa yang ingin Jamila bicarakan?"


Ali menatap serius mata istrinya, ia tau kalau istrinya ingin berbicara serius, tapi ragu-ragu.


Kinanti menghentikan pembicaraannya lagi, entah harus bagai mana caranya mengajak suaminya untuk making love.


"Mas merasa ada yang kurang tidak dalam kehidupan kita?"


Kinanti mencoba memberikan kode pada suaminya karena ia sangat malu untuk mengajak suaminya making love.


"Apa yang kurang?"


Ali bertanya dengan raut wajah bingung karena ia tidak mengerti dengan pertanyaan dari istrinya.


"Kenapa Mas selalu saja tidak peka?"


Kinanti tidak mengerti kenapa suaminya selalu saja tidak peka.

__ADS_1


"Maafkan Mas Jamila, tolong berbicara pada intinya saja, Mas benar-benar tidak paham."


Otak Ali memang sedang tidak bisa berpikir untuk hal lain, pekerjaannya semakin menumpuk dan pagi-pagi sudah di buat jengkel oleh Ayahnya, semakin hari Ayahnya semakin gila terus mengusik ketenangannya.


"Kenapa Mas menjadi minta maaf?"


Kinanti semakin kesal pada suaminya, ia ingin sekali memaki suaminya anak kecil, tapi sebisa mungkin ia untuk tidak memaki suaminya, kemarin saja suaminya marah karena perkara anak kecil.


Ali menghela napas berat, ia tau kalau istrinya sangat kesal padanya, tapi ia juga memang sedang tidak bisa berpikir, ia minta maaf agar tidak bertengkar lagi.


"Maaf."


Untuk ke dua kalinya Ali minta maaf pada istrinya. Kinanti langsung turun dari pangkuan suaminya, ia berdiri tidak jauh dari suaminya sekitar 2 langkah.


"Apa Mas berpikir kalau pernikahan kita ini hanya di atas kertas?! Mas tidak pernah menjamah tubuhku selain menciumku. Mas juga tidak pernah meminta making love, atau Mas belum siap melakukan making love? Itu kenapa Mas selalu berpura-pura bodoh, dan di saat Jamila terangsang oleh permainan Mas, Mas menghentikan permainannya, atau di hati Mas ada wanita lain? Atau Mas jijik pada tubuh Jamila? Atau Mas menikahi Jamila hanya ingin membalas dendam pada keluarga Aska untuk itu Mas menikahi Jamila?"


Sebenarnya Kinanti tidak bermaksud mengatakan itu, tapi entah kenapa mulutnya mengatakan itu.


Ali langsung ikut berdiri saat mendengar pertanyaan panjang dari istrinya, ia tidak mengerti kenapa istrinya menduhnya, bukan'kah saat malam pertama istrinya belum siap, jadi ia tidak berani meminta.


Ali ingin istrinya duluan yang menawarkan diri, tapi ia juga merasa bersalah, harusnya saat istrinya mengatakan belum siap, ia mengatakan kalau sudah siap bilang pada saya.


Namun kata itu tidak terpikir oleh Ali saat itu, ia hanya berpikir kalau ke duanya saling mencintai terlebih dahulu. Bahkan Ali selalu mandi air dingin saat miliknya berdiri untuk menidurkan miliknya, ia tidak ingin istrinya kecewa, tapi ternyata pemikiran itu salah di mata istrinya.


"Maafkan Mas karena tidak peka dengan keinginanmu, tapi kalau Jamila mengatakan Mas belum siap itu salah. Apa lagi belum siap karena wanita lain, itu sangat salah lagi. Mas hanya ingin Jamila memberikan hakmu dengan ikhlas, Mas tidak ingin melakukan Jima dengan paksaan. Apa lagi seorang istri yang menawarkan diri pada suami pahalanya sangat besar, mau di pakai atau tidak Jamila tetap mendapatkan pahala."


Ali mencoba berbicara dengan lembut seperti biasanya, walau pun di sini yang paling salah adalah istrinya. Kinanti menghela napas berat saat mendengarkan jawaban dari istrinya, lagi-lagi suaminya selalu mementingkan tentang agama dan lagi-lagi membuat hatinya tersentuh.


"Jamila tau kalau Mas selalu mandi malam-malam? Milik Mas selalu berdiri hingga Mas selalu mandi air dingin malam-malam untuk menidurkan milik Mas, bukan hanya karena akan sholat tahajud saja, selama ini Mas selalu tersiksa karena hal itu. Walau pun Jamila hanya menganggap Mas anak kecil, tapi Mas juga lelaki normal, milik Mas selalu bangun secara tiba-tiba saat bersentuhan denganmu."


Ali menghela napas kasar saat bahasa kotor keluar dari mulutnya, lalu ia juga langsung beristighfar, walau pun mengatakannya dengan wanita yang sudah menjadi makhromnya, tapi ini untuk pertama kalinya ia membahas miliknya di depan orang lain.


"Maafkan Jamila, Mas."

__ADS_1


Pada akhirnya Kinanti merasa sangat bersalah pada suaminya.


__ADS_2