
Saat polisi datang banyak yang terkejut karena tidak ada yang tau kalau Ali memanggil polisi, hanya Rania dan Ayunda yang tau tentang ke datangan polisi.
"Gila, itu polisi mau ngapain kemari?"
"Mana aku tau, tidak mungkin kalau ada artis kita yang memakai narkoba atau sebagainya."
"Iya bisa saja ada, kita itu tidak ada yang tau, apa lagi kalian juga tau kalau artis dari Alfero Grup itu bukan seratus dua ratus orang, bahkan hampir seribu orang."
"Mungkin bukan masalah narkoba, tapi masah artis yang kumpul kebo, bisa saja polisi itu datang untuk menangkap artis yang suka kumpul kebo, yang jelas kebanyakan artis menjual diri dari pada memberikan tubuhnya secara geratis, yang terpenting mereka bisa terkenal."
"Ada benarnya juga ucapanmu itu."
Masih banyak lagi obrolan-obrolan lainnya dari para artis yang kepo saat melihat dua polisi datang ke Alfero Grup.
Banyak juga yang mengikuti ke dua polisi, mereka sangat penasaran kemana perginya ke dua polisi itu hingga ke dua polisi itu berhenti di depan ruangan Pak Samsul.
Sebelum ke dua polisi itu mengetuk pintu, Pak Samsul lebih dulu membuka pintu, di sana juga tidak hanya ada Pak Samsul, tapi ada Ali dan istrinya.
"Selamat siang Pak Samsul, Pak Ali dan bu Kinanti."
Salah satu dari polisi itu menyapa mereka."
"Iya siang juga Pak polisi."
Ali dan Pak Samsul menjawab serempak, sedangkan istrinya hanya menganggukan kepala.
"Saya sudah menerima laporan Pak Ali semalam."
"Iya, mari orangnya ada di ruang tunggu Lisa."
"Baik Pak Ali."
Ke dua polisi itu mengikuti arah Ali dan istrinya, sedangkan Pak Samsul masuk lagi ke dalam ruangannya.
__ADS_1
Para artis yang di lewati Ali bengong seketika saat nama yang di panggil Ali adalah Lisa.
"Jadi yang mau di tangkap itu Lisa?"
"Memang Lisa itu cocok di penjara."
"Betul banget."
Masih banyak pembicaraan lainnya dari para artis. Ali bersama istrinya dan ke dua polisi itu sampai di ruangan Lisa yang sedang memainkan ponselnya dengan wajah tegang, karena ucapan Patan tadi yang mengatakan kalau Ali sudah melapor ke polisi membuat pikirannya tidak tenang.
Lisa tidak percaya kalau hidupnya bukan hanya berakhir menjadi Gadis miskin, tapi ia juga harus masuk ke dalam penjara karena masalah yang ia buat, kalau saja ia tau lelaki yang menggantikan Aska adalah Ali, lelaki yang memiliki kedudukan, ia tidak akan menggagalkan rencana pernikahan itu hingga membuat diri sendiri menderita.
Sedangkan untuk Kinanti hanya di hina sementara saja, membuat ia sangat menyesal, apa lagi orang-orang memandangnya sangat rendah dari pada saat orang-orang memandang Kinanti.
Saat masalah yang menimpa Kinanti, tidak ada orang yang berani membuang sampah pada wajah Kinanti, tapi sekarang saat Lisa yang memiliki masalah, orang-orang terang-terangan membulinya.
"Bu Lisa, anda kami tahan atas pencemaran nama baik."
Salah satu polisi itu berbicara pada Lisa.
Lisa bertanya dengan mata berkaca-kaca, bahkan ia tidak menggubris ucapan dari salah datu polisi itu.
"Ingat kita itu dulu sahabat, bahkan dari masa sekolah kita bersahabat, tapi kamu tega ingin membuat aku masuk dalam penjara, di Mana hati nurani kamu Kinanti?!"
"Kamu bilang kita pernah menjadi sahabat? Aku menyesal karena pernah menganggapmu sebagai sahabat, sedangkan kamu hanya menganggap aku sebagai sainganmu, kamu tidak pernah menganggapku benar-benar menjadi sahabatmu, kalau kamu pernah menganggap aku sebagai sahabatmu, mungkin kamu akan memikirkan dua kali sebelum kamu menjebakku, lalu di mana hati nurani kamu hingga kamu ingi menghancurkan karirku dan menggagalkan pernikahanku?"
Kinanti bertanya dengan wajah sedih, ia tidak menyangka kalau persahabatannya yang sudah terjalin lama akan berakhir saling menyakiti.
Di ruangan itu bukan hanya para artis dan polisi, tapi ada wartawan juga yang sudah di suruh Pak Samsul agar berita itu semakin memanas, walau pun Ali tidak menyuruh Pak Samsul untuk menghadirkan wartawan, tapi Pak Samsul sangat benci dengan kelakuan Lisa yang sudah mempitnah Kinanti dengan sangat keterlaluan.
Bahkan Lisa bukannya minta maaf, tapi Lisa semakin berani pada Kinanti hingga membuat Pak Samsul marah.
"Kamu nanya sama Kinanti di mana hati nuraninya lalu situ di mana hati nuraninya saat kamu mau menjebaknya?"
__ADS_1
Rania bertanya dengan tatapan tidak suka pada Lisa, ia sangat marah saat mendengar pertanyaan Lisa dan seolah-olah kalau Kinanti yang paling jahat.
"Bener banget, dasar muka tebal!!"
Mereka semua menjawab ucapan Rania dengan serempak. Di saat semua orang membenci Lisa, tapi berbeda dengan Kalisa yang semakin membenci Kinanti, tidak heran kenapa Ali sangat membela Kinanti, karena ternyata Kinanti memang benar apa kata Ali, kalau Kinanti masih suci, membuatnya sangat tidak mungkin untuk memiliki Ali.
Bahkan Ali selalu berdiri paling depan setiap Kinanti memiliki masalah, Ali selalu ada untuk Kinanti saat Kinanti di bully, Ali juga bisa marah saat melihat Kinanti di hina, Kinanti sudah menang banyak menurut Kalisa.
"Sial, semakin tidak mungkin saja aku memiliki Ali, apa lagi ternyata Kinanti hanya di pitnah." batin Kalisa
Reyhan yang baru datang beberapa menit ia melihat wajah Kalisa sambil tersenyum, ia tau kalau Kalisa sangat kesal pada Kinanti, bukan kesal pada Lisa, karena ia tau kalau Kalisa masih saja berharap pada Kakak Sepupunya.
"Jangan terlalu berharap, karena kamu akan sakit hati sendiri, apa lagi berharap dengan lelaki beristri, bahkan lelaki yang belum beristri, tapi tidak mencintai kamu saja kamu sangat tidak boleh, karena kamu nanti akan sakit hati dan kecewa."
Reyhan berbicara tepat di telinga Kalisa, ia berharap kalau Kalisa itu sadar diri kalau Kalisa tidak akan bisa mendapatkan Kakak sepupunya, apa lagi ia tidak mau kalau Kalisa berbuat nekad untuk menyakiti Kinanti, bagai mana pun juga ia tau kalau cinta itu buta, bahkan cinta bisa mengambil kesadaran sesaorang untuk menyakiti wanita yang di cintai lelaki yang di cintai Kalisa.
"Sudah Pak polisi cepat tangkap Lisa, wanita tidak berguna!"
Rania memang sudah bosan saat melihat wajah memelas Lisa yang membuat Kinanti seperti merasa iba, ia bisa melihat tatapan Kinanti yang begitu kecewa, ia yakin hatinya sangat terluka saat persahabatan yang sudah terjalin lama, tapi berakhir saling menyakiti.
"Betul itu Pak, tangkap saja sekarang dari pada terus saja memasang wajah polos!"
Ayunda berbicara sambil menatap ke arah Lisa, rasanya ia ingin sekali mencincang Lisa saat Lisa menjadi wanita yang tidak tau malu.
"Lisa, saya harap kamu bisa memperbaiki perbuatanmu dan menyesali semua perbuatanmu."
Setelah mengatakan itu Kinanti menghela napas berat. Sedangkan Lisa hanya diam sambil menatap tajam ke arah Kinanti, ia tidak menyangka kalau Ali lelaki yang selalu menyuruh untuk saling memaafkan itu tega membawanya ke jalur hukum.
"Sudah tangkap saja Pak."
"Baik bu Kinanti."
"Mari bu Lisa."
__ADS_1
"Aku tidak mau!"
Salah satu polisi itu langsung memborgol tangan Lisa saat Lisa membrontak, awalnya polisi itu tidak akan memborgolnya karena bukan kasus pencurian, tapi karena Lisa menolak dengan terpaksa polisi itu memborgolnya.