
Kinanti yang melihat suaminya pergi membawa motor, tangisannya semakin kencang sambil terduduk di parkiran gedung apartement karena tadi ia terus saja mengejar suaminya, tapi nyatanya ia tidak bisa menghentikan langkah kaki suaminya.
Kinanti tidak tau ucapan mana yang membuat suaminya kecewa, ia sudah sangat jujur kalau ia tidak mengungkapkan cintanya karena gengsi, tapi entah kenapa suaminya bahkan lebih marah dari pada ucapan ia sebelumnya.
"Sampai kapan pun Jamila akan tetap mempertahankan rumah tangga Jamila Mas. Jamila sangat mencintai Mas. Maafkan Jamila karena lagi-lagi Jamila tidak bisa menjadi istri yang baik, tidak bisa menjadi istri yang Mas inginkan." batin Kinanti
Kinanti sama sekali tidak malu saat banyak orang yang sedang berlalu-lalang di sana, ia masih menangis sambil terduduk, ia juga tidak peduli dengan tatapan-tatapan aneh dari banyak orang yang berlalu-lalang.
Bi Yanti dan Yuli yang baru saja pulang berbelanja sayuran, dan lauk lainnya, mereka sangat terkejut saat melihat Kinanti menangis. Bi Yanti langsung memberikan belanjaannya pada putrinya, ia langsung membantu Kinanti untuk berdiri.
"Non, tidak apa-apa?"
Sebenarnya bi Yanti ingin bertanya kenapa Non menangis di sini? Apa non bertengkar dengan Den Ali, tapi ia merasa pertanyaan itu kurang sopan karena ia hanya lah asisten rumah tangga.
"Saya tidak apa-apa bi."
Kinanti akhirnya masuk lagi ke apartement, ia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya, tapi ternyata suaminya meletakan ponselnya di meja makan membuat ia menghela napas berat, ia tidak bisa berpikir tenang seperti yang di minta suaminya.
Kinanti langsung menangis tersedu-sedu di kamar dengan merengkuh ke dua lututnya, rasa takut itu menghantunya, ia tau suaminya memiliki iman, tapi suaminya tetap manusia biasa, bagai mana kalau sesuatu terjadi pada suaminya karena suaminya membawa motor dengan keadaan marah.
Kinanti merasa menyesal karena ia tadi tidak mengejar suaminya menggunakan mobil atau naik taksi, seharusnya ia mengikuti kemana suaminya pergi.
Kinanti langsung mengangkat kepalanya, ia langsung mengambil ponsel suaminya di meja sampingnya yang sudah ia ambil dari meja makan tadi.
Kinanti mencoba membuka kunci ponsel suaminya untuk mencari kontak keluarga suaminya, ia ingin bertanya apa suaminya ada di sana, tapi nyatanya ia tidak bisa membuka kunci ponsel dari suaminya.
Kinanti langsung memasukan tanggal lahir suaminya, tapi salah, ia memasukan lagi tanggal lahir ia juga tetap salah, ia memasukan tanggal pernikahanhanya, masih sama saja salah, seketika tangisan ia semakin pecah, entah angka apa yang beruntung untuk menjadi kata sandi suaminya.
Kinanti juga merasa sangat kecewa karena kata sandi ponsel suamimya itu bukan tanggal sepesial dengannya. Namun rasa kuatirnya semakin besar.
"Mas Ali, kalau sampai Mas kenapa-kenapa, ini semua salah Jamila, Jamila tidak akan pernah memaafkan diri Jamila." batin Kinanti
...****************...
Sedangkan Ali melajukan motornya untuk pergi ke rumah Kakeknya, ia ingin menenangkan diri sebentar dan menata hatinya yang sangat hancur karena ucapan dari istrinya.
Ali langsung memarkirkan motornya di pekarangan rumah Kakeknya, ia berkali-kali menghela napas sebelum masuk ke dalam rumah Kekenya.
__ADS_1
"Assalamualaikum!"
Ali mengucap salam sambil memasuki rumah Kakeknya.
"Wa'alaikumsalam!"
Isabel mengerutkan keningnya saat melihat yang datang hanya cucunya seorang diri. Ali langsung mencium tangan Neneknya setelah itu langsung masuk ke dalam life untuk ke kamarnya.
"Eh tunggu kamu kenapa nak?!"
Isabel mengejar Cucunya, tapi nihil karena life itu sudah langsung tertutup, ia yakin kalau Cucunya itu tidak baik-baik saja, tidak biasanya Cucunya berlaku kurang sopan.
"Mas!!!!"
Isabel berteriak sambil berlari ke arah suaminya yang sedang membaca koran di ruangan televisi.
"Ada apa Hanny?"
Morgan memang selalu memanggil Hanny, walau pun usianya dan usia istrinya tidak lagi muda, tapi mereka sangat romantis.
Morgan menghela napas berat, ia langsung berjalan ke arah life untuk melihat Cucunya, ia juga penasaran permasalahan apa yang membuat Cucunya lari dari permasalahan. Setelah di depan kamar Cucunya Morgan langsung mengetuk pintu kamar Cucunya.
Tok-tok.
"Cucu bandel! Kakek dan Nenek masuk iya?!"
Tidak ada jawaban dari dalam kamar Cucunya membuat Morgan mengetuk pintu untuk yang ke dua kalinya.
Tok-tok.
"Kakek masuk iya?!"
Lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam kamar membuat Isebel langsung membuka pintu kamar karena ia merasa sangat kuatir, ia tidak bisa menunggu jawaban dari dalam kamar.
Isabel dan suaminya masuk ke dalam kamar Cucunya, ternyata Cucunya memang tidak ada di ranjang atau sofa, Cucunya berada di balkon sambil membuka foto masa kecilnya bersama Azizah yang mereka tau nama Gadis itu. Membuat Morgan dan istrinya saling pandang dan menghela napas berat.
"Mas, apa Ali menyesal menikahi Kinanti? Kenapa Ali membuka foto lamanya bersama Azizah lagi?"
__ADS_1
"Mas juga tidak tau Hanny."
Ali sama sekali tidak menyadari kalau Kakek dan Neneknya masuk ke dalam kamar, ia hanya menatap fotonya bersama istrinya saat kecil sambil menghela napas berat.
"Ali tidak tau harus berusaha seperti apa lagi Kak Izah, Ali benar-benar lelah dengan sikap Kaka yang selalu kanak-kanakan, dulu Kaka yang selalu bersikap dewasa, tapi kenapa sekarang Kaka menjadi wanita egois?"
Ali berbicara sambil membuka lembar demi lembar fotonya bersama istrinya dulu, dan ingatanya terlempar ke masa lalu, bahkan ia memanggil diri sendiri Ali seperti dulu bersama istrinya.
"Nak kamu kenapa?"
Isebel bertanya sambil mendekati Cucunya, ia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan dari Cucunya tadi, tapi ia merasa sedih saat melihat Cucunya yang terlihat murung.
Ali langsung melihat ke sumber suara, ia melihat Kakek dan Neneknya yang berjalan mendekatinya membuat ia menghela napas pelan.
"Kamu kenapa nak?"
Isebel bertanya untuk ke dua kalinya saat ia sudah duduk di samping Cucinya bersama suaminya.
"Ali tidak kenapa-kenapa Nek."
"Katakan ada masalah apa dengan Kinanti? Kalau kamu hanya diam, kamu tidak akan mendapatkan solusi nak."
Pada akhirnya Ali menceritakan semua kejadian bersama istrinya tadi, ia tidak bisa memendamnya sendiri, terlebih ia juga belum berpengalaman dengan permasalahan rumah tangga, ia ingin menemukan titik terang untuk menyelsaikan semua permasalahanya bersama istrinya.
Setelah Ali selsai bercerita Kakek dan Neneknya terus menasehati Ali, agar ia memiliki kesabaran yang super extra.
Ali hanya mendengarkan sambil sesekali menganggukan kepala saat Kakek dan Neneknya menasehatinya hingga selsai.
"Jadi intinya Jamila itu Kak Izah?"
"Iya Nek, dia Kak Izah, wanita yang ingin Ali nikahi saat kecil, dan Ali tidak menyangka kalau akhirnya Ali bisa menikahi Kak Izah."
"Dasar cucu bandel! Kecil-kecil sudah memikirkan menikah!"
Ali hanya menanggapinya dengan seyuman, ia juga tidak tau kenapa saat berusia 7 tahun sudah memikirkan menikah, dan ingin menikahi wanita yang sudah menganggap ia adiknya sendiri.
Sedangkan Isabel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar jawaban jujur dari Cucunya, tapi ia bersyukur karena saat kecil Cucunya masih mau menikah, setidaknya perceraian ke dua orang tuanya itu tidak menjadi trauma untuk Cucunya.
__ADS_1