Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 28 Ciuman


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang bersama Ali, mereka berempat akhirnya minta maaf juga pada istrinya, tapi walau pun begitu mereka masih tetap di pecat oleh Ali.


Bahkan Pak Samsul saja berpikir kalau Ali terlalu berlebihan pada istrinya, jelas-jelas istrinya baik-baik saja, tapi Ali langsung memecat mereka, seolah-olah orang lain itu tidak berhak menyentuh istrinya walau pun hanya seujung kuku.


Pak Samsul sampai mengatakan jangan terlalu berlebihan menyayangi istri, menyayangi boleh, tapi bukan berarti langsung memecat mereka semua karena memiliki urusan dengan istrimu.


Namun Ali tidak peduli dengan ucapan dari Pak Samsul, yang jelas ia tidak suka kalau ada orang yang mencoba menyakiti istrinya.


Sekarang Ali bersama istrinya sudah di dalam mobil, ia terus memeluk istrinya karna yang menyetir mobil Riana.


"Mas, Jamila sebenarnya bingung siapa yang merencanakan semua itu, dan siapa lelaki itu, Jamila tersiksa dengan gosip itu."


"Mas juga tidak tau Jamila, tapi Mas sudah menyuruh orang untuk menyelidiki tentang itu, kamu yang sabar, mungkin ini ujian dan jodoh."


"Maksud Mas jodoh?"


Kinanti bertanya sambil mendongkakan kepalanya.


"Foto itu adalah ujian untuk Jamila hingga Jamila gagal menikah dengan Kak Aska, lalu Jamila menikah dengan Mas, yang di maksud dengan jodohmu itu Mas."


"Lalu Mas bisa memecat mereka berempat bagai mana caranya?"


Dari tadi Kinanti memang ingin menanyakan tentang itu, tapi ia tidak berani untuk bertanya pada suaminya hingga sekarang ia baru memberanikan diri untuk bertanya.


"Mas bilang tentang kejadian itu pada Pak Samsul, jadi Pak Samsul langsung memecat mereka."


Dalam hidup Ali dulu berbohong itu masih bisa di hitung jari, tapi sekarang ia terus saja berbohong pada istrinya.


"Kenapa Pak Samsul langsung setuju Mas? Jelas-jelas mereka sedang terikat kontrak di Cinta Dalam Perjodohan."


"Mas sudan bilang kalau Pak Samsul sahabat dari Bunda, tentu saja Pak Samsul langsung setuju."

__ADS_1


"Iya juga."


Kinanti sama sekali tidak curiga walau pun suaminya terus saja berbohong. Mereka sampai Apartement, Riana langsung berpamitn mau pulang karena pekerjaannya memang sudah selsai. Sedangkan Ali dan istrinya langsung mandi di kamar mandi yang berbeda.


Ali mandi di kamar mandi tengah, sedangkan istrinya mandi di kamar mandi kamarnya. Sekarang mereka berdua sedang duduk di sofa, dengan Ali yang langsung membuka laptopnya karena memiliki meeting lewat laptop dengan klien yang akan bekerja sama dengan Alfero Grup untuk bagian periklanan.


Kinanti yang melihat wajah serius dari suaminya membuat ia tersenyum lebar, semakin hari rasa mengagumi suaminya semakin bertambah, walau pun ia tidak tau suaminya sedang mengobrolkan apa karena memakai bahasa inggris, sedangkan ia sendiri bisa bahasa inggris hanya sedikit-sedikit, jadi ia tidak tau apa yang di obrolkan oleh suaminya.


Ali selsai membahas pekerjaan, ia langsung melihat ke arah istrinya sambil mengelus kepala istrinya. Kinanti langsung tersenyum saat tau suaminya sudah selesai, ia langsung mengalungkan ke dua tangannya.


Saat di tatap dengan intim oleh istrinya, Ali langsung mengecup bibir istrinya sekilas, tapi reaksi strinya memejamkan mata, membuat ia mencium istrinya lagi.


Ali langsung menggigit pelan bibir bawah istrinya membuat istrinya membuka mulutnya masih sambil memejamkan mata.


Ali yang sudah mendapatkan ijin dari istrinya karena mulut istrinya sudah terbuka lebar, lidahnya langsung menjelajahi rongga mulut istrinya.


Kinanti yang merasakan lidah suaminya, ia juga marasakan lidah suaminya yang sangat lembut membuat ia ingin sekali ikut bermain dalam situasi panas itu, tapi ia takut kalau suaminya menuduh ia sudah melakukan hubungan badan kalau ia lihai dalam permainannya.


Kinanti tidak mau kalau Aska menidurinya belum memiliki status pernikahan, tapi Aska dan adiknya sangat berbeda.


Suaminya tidak pernah mencium Kinanti dengan lebih intim, kalau pun mencium suaminya hanya mencium sekilas tidak seperti sekarang.


Namun lama-lama Kinanti juga membalas ciuman suaminya sambil meremas baju milik suaminya. Nafas Kinanti sudah memburu karena suaminya mencium ia sambil mengangkat ia dalam pangkuan suaminya. Setelah itu Ali juga meraba-raba dada istrinya masih sambil berciuman.


"Akhmmm..."


Suara lenguhan Kinanti tertahan karena mulutnya masih di bekap oleh bibir suaminya yang menurut ia sangat halus, ia merasakan sensasi yang sangat nikmat dari permainan suaminya.


Ali langsung menghentikan ciumannya, ia langsung beralih mencium leher istrinya hingga memberikan tanda kepemilikan di leher istrinya.


"Ahhh... Mas."

__ADS_1


Kinanti yang merasa nikmat dengan permainan suaminya, tangan kanannya meremas punggung suaminya masih sambil terpejam.


Kinanti pikir anak kecil seperti suaminya yang selalu tinggal di pesantren tidak akan bisa memuaskannya, tapi ternyata suaminya itu pintar bermain walau pun tinggal di pesantren.


Ali yang sadar dengan kegiatannya lebih intim, ia menghentikan kegiatannya, walau pun istrinya tidak menolak, ia takut istrinya menyesal lalu marah, apa lagi pernikahan ia dan istrinya baru saja 10 hari lamanya. Ali menghari kegiatannya di tutup dengan mencium kening cukup lama sambil beristighfar.


"Maaf Mas kebablasan, Mas tidak bermaksud untuk memaksa Jamila, tapi ini adalah ciuman pertama Mas. Jamila jangan berpikir Mas sering melakukannya karena masalah tadi, Mas bukan lelaki seperti itu, hanya Jamila wanita satu-satunya yang pernah Mas cium."


Tiba-tiba saja air mata Kinanti langsung menetes, bukan sedih karena ucapan suaminya dan bukan juga sedih karena gagal melakukan yang lebih intim, tapi sedih karena suaminya melakukan ciuman untuk pertama kali.


Sedangkan Kinanti sendiri sudah sering melakukan ciuman seperti itu bersama Aska, membuat ia berpikir ia tidak pantas bersama suaminya yang hanya memberikan ciumannya hanya untuk istrinya.


Ali yang melihat air mata istrinya mengalir deras, ia langsung menghapus air mata istrinya.


"Maafkan Mas Jamila, Mas tidak bermaksud melakukan yang lebih Intim."


Setelah mengatakan itu Ali langsung memeluk istrinya sangat erat dan mengecup kening istrinya berkali-kali, ia merasa sangat bersalah, apa lagi saat istrinya tidak merspon permintaan maaf darinya, rasa bersalah itu semakin besar.


"Kalau Jamila belum siap bilang sama Mas, bukan hanya diam dan menikmati permainan dari Mas dengan terpsksa. Mas tidak ingin memaksamu, Mas tau mungkin Jamila ingin mengenal Mas lebih dekat lagi, tapi tolong jangan pernah berpikir ingin berpisah dengan Mas setelah kejadian ini."


Ali berbicara dengan rasa menyesal, sebenarnya tadi gairahnya sudah meningkat saat mendengar lenguhan dari istrinya, tapi ia ingat ucapan istrinya saat awal menikah kalau istrinya belum siap melakukan kewajibannya.


Awalnya Ali ingin menunggu istrinya untuk menawarkan diri, tapi nyatanya ia tidak bisa menahan diri, bagai mana pun juga ia lelaki normal.


Tidak mungkin Ali tidak tergoda dengan tubuh istrinya yang memang sudah halal untuknya.


Kinanti masih tidak menjawab, ia meresapi setiap kata yang suaminya ucapkan, lagi-lagi ia merasa paling beruntung karena bisa di nikahi oleh Ali, lelaki yang menjaga sentuhanya dari wanita lain, sedangkan kepribadian ia sendiri sangat jauh dari kata itu.


"Ana Uhibbuka Fillah."


Ali ngatakan kata cintanya tepat di telinga istrinya.

__ADS_1


__ADS_2