Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 96 Menganggap anak kandung


__ADS_3

Pakta itu sangat melukai hati Aska, ia merasa sepertinya semua masalah itu senang sekali berdatangan denganya.


Namun rasa kecewa itu juga bercampur rasa bahagia, itu artinya ia bisa berjuang untuk mendapatkan Anisa, tapi ia takut Anisa membencinya karena keegoisaannya hingga membuat Anisa masuk ke dalam rumah sakit.


"Kamu bilang kecelakaan?! Kecelakaan seperti apa sampai kamu bisa hamil anak dari Rian Lusi?!"


"Saat itu Rian mabuk berat Mas, aku yang menjemput Rian dari bar karena Rian di tinggalkan menikah oleh kekasihnya, lalu setelah sampai apartement Rian, Rian memaksaku dan tenagaku tidak sekuat itu hingga terjadilah seperti itu."


Sebelem melanjutkan pembicaraan Lusi menghela napas pelan dengan perasaan takut.


"Pagi harinya Rian sadar dan Rian akan bertanggung jawab, Rian takut kalau aku hamil. Namun aku meyakinkan diri kalau aku tidak mungkin hamil, apa lagi aku menikah dengan Mas sudah 3 bulan lamanya, tapi aku belum hamil juga, jadi tidak mungkin kalau melakukan sekali bisa hamil. Lagi pula aku sangat mencintai Mas, aku tidak bisa kehilangan Mas, jadi aku minta pada Rian agar kejadian semalam itu anggap saja tidak terjadi apa-apa."


Aska menghela napas kasar saat mendengar cerita dari Mamanya.


"Tolong maafkan aku Mas."


Lusi minta maaf sambil memegang tangan kanan suaminya dengan ke dua tangannya.


"Kamu bilang minta maaf? Apa dengan memaafkanmu kamu bisa membuat memutar waktu kembali? Lusi kamu bahkan melakukan itu tanpa bersalah sedikit pun pada Mas, di mana letak hati nurani kamu?!!"


Aska hanya diam, biasanya saat Papanya membentak Mamanya ia sangat tidak terima, tapi sekarang ia membenarkan ucapan Papanya, Mamanya memang pantas di bentak.


Aska juga berpikir ia juga akan melakukan hal yang sama jika istrinya melakukan itu, walau pun Aska tau kalau Mamanya di lecehkan, tapi Mamanya menutupi semua pakta itu hingga 30 tahun silam, dan kalau saja Anisa tidak kecelakaan mungkin Mamanya tidak akan pernah membuka pakta itu.


"Kenapa kamu berbohong selama ini Lusi? Kalau saja Aska tidak mendonorkan darahnya untuk Anisa, mungkin pakta itu tidak akan pernah terungkap!"


Kenan berbicara sambil menghempaskan tangan istrinya, ia sangat kecewa, kalau saja istrinya jujur dari awal, ia tidak akan sekecewa seperti sekarang.

__ADS_1


"Maafkan aku Mas, aku memang sangat salah, tapi aku sungguh tidak tau kalau Aska bukan darah daging Mas."


"Kamu itu seperti pelacur yang tidak tau Ayah kandung dari anakmu sendiri!!"


Lusi menghapus air matanya dengan sangat kasar, tapi air matanya tetap mengalir deras, ia berpikir apa ini sebuah karma, karena telah memanfaatkan wanita baik seperti Anisa, dan lelaki baik seperti suaminya.


Suaminya yang selalu menuruti ia selama ini hingga menuruti ia untuk menikah lagi dengan Anisa, bahkan suaminya juga hingga melepaskan Anisa karena ulahnya.


"Aska tidak tau apa yang ada di pikiran Mama, tapi jujur saja Aska kecewa sama Mama, Mama tega membohongi Papa, Mama tega mempitnah Bunda, Mama tega membiarkan Ali tidak mendapatkan kasih sayang, Aska merasa sangat menyesal telah lahir dari rahim Mama, wanita yang sangat kejam dari semua wanita yang Aska kenal!!"


Saat mendengar ucapan dari putranya membuat Lusi menangis tersedu-sedu, ia merasakan sakit saat ke dua orang yang sangat berarti di hidupnya, tapi memakinya.


"Mama jangan menangis, yang harusnya sedih dan terluka itu Papa, Papa yang sudah menjadi lelaki bodoh karena Mama selama ini, Mama selalu saja ingin di mengerti oleh Papa, tapi Mama sendiri tidak pernah mengerti perasaan Papa, Mama jahat dan egois, Aska bukan hanya kecewa, tapi Aska juga benci sama Mama!!"


Kenan langsung menepuk punggung putranya, walau pun Aska bukan putra kandungnya, ia akan tetap menganggap Aska sebagai putra kandungnya.


"Jangan berbicara dengan nada tinggi, dan jangan berpikir tentang masalah ini nak, kamu harus banyak istirahat, ingat kata dokter kamu jangan terlalu banyak pikiran, apa lagi kamu juga baru mendonorkan darahmu untuk Bunda."


"Kenapa Papa masih perhatian pada Aska? Jelas-jelas Papa bukan Papa kandung Aska, seharunya Papa benci pada Aska, karena Aska adalah anak hasil dari lelaki lain."


Kenan langsung memegang ke dua bahu putranya sambil tersenyum kecil.


"Kamu akan tetap menjadi putra Papa, Papa akan selalu menganggap kamu sebagai putra kandung Papa. Aska, Papa hanya punya kamu dan Ali, Papa harap kamu juga tetap menganggap Papa sebagai Papa kandungmu, Papa harap kamu tidak berpikir untuk mengatakannya pada Rian kalau kamu anak kandungnya, cukup rahasia ini kita simpan saja nak, Papa tidak mau kehilangan kamu."


Aska langsung memeluk Papanya, setetes demi setetes air matanya jatuh, ia sangat terharu dengan jawaban dari Papanya yang tidak mau kehilangannya.


"Aska juga tidak ingin kehilangan lelaki yang baik seperti Papa, walau pun Papa bukan Papa kandung Aska, tapi selama ini Papa sudah membesarkan Aska dengan kasih sayang yang tiada tara, dan Aska hanya akan memiliki satu Papa sampai kapan pun, yaitu Papa Kenan."

__ADS_1


Kenan menganggukan kepalanya sambil membalas pelukan dari putranya, walau pun hatinya sangat terluka, tapi bagai mana pun juga ia tetap menganggap Aska sebagai putra kandungnya.


Lusi yang melihat itu ia sangat bahagia, seandainya ia dari awal jujur, mungkin anak dan suaminya tidak akan menyalahkan ia dan membencinya.


Setelah beberapa saat Aska melepaskan pelukannya dari Papanya, lalu ia menatap mata Papanya.


"Itu artinya Aska bisa menikahi Bunda, karena Bunda bilang kalau Aska anak kandung Papa, Aska tidak boleh menikahi Bunda, tapi sayang Bunda mengatakan kalau pun Aska tidak memiliki hubungan darah sama Papa, Bunda tetap tidak ingin menikah dengan Aska."


Aska tanpa sadar curhat tentang perasaannya pada ke dua orang tuanya.


"Pa, hati Aska belum pernah merasakan hancur seperti Bunda menolak Aska, tapi Aska sadar kalau kehancuran terbesar hati Aska saat melihat wanita yang Aska cintai dalam keadaan kritis, dan parahnya Bunda terluka karena menolong Aska."


Kenan menghela napas berat, sepertinya ia memang harus melepaskan cintanya untuk Anisa, melihat putranya yang sangat mencintai Anisa.


"Kalau kamu cinta dengan Bunda, buktikan nak, jangan hanya sebuah ucapan, tapi buktikan kalau ucapanmu benar pada Bunda."


"Aska harus membuktikan bagai mana Pa?"


"Belajar menyukai yang Bunda sukai, belajar dewasa di depan Bunda, agar Bunda kagum denganmu, Papa percaya kalau seiringnya waktu Bunda akan membalas cintamu."


"Apa Papa benar-benar akan merelakan Bunda untuk Aska?"


"Tentu saja Papa akan merelakannya untuk kamu nak, asalkan jangan pernah sakiti Bunda, Selama ini kamu juga tau kalau Bunda sudah banyak menderita."


"Iya Pa Aska tau, terima kasih banyak karena Papa mau merelakan Bunda dan memberikan saran untuk Aska."


"Sama-sama, ingat semangat berjuang, Papa percaya kalau kamu pasti bisa mendapatkan cintanya."

__ADS_1


"Iya Pa."


Aska langsung tersenyum lebar, ia tidak menyangka kalau Papanya akan merelakan Anisa untuk bersamanya.


__ADS_2