Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 20 Jamila


__ADS_3

Tentu saja Ali sanggup memberikan istrinya 150 juta perhari, ia memiliki Alfero Grup dan 60 unit apartement Alfero, belum lagi uang hasil pekerjaannya yang sebagai pengacara, tentu saja ia lebih dari sanggup.


Kinanti masih diam membisu saat mendengar jawaban dari suaminya, tapi hatinya semakin penasaraan pada kekayaan suaminya, bukan ia matrealistis, hanya saja saat mendengar jawaban dari suaminya itu membuat ia penasaraan, sekaya apa suaminya.


Apa lagi Kinanti ingat kalau Wijaya Grup di dirikan atas bantuan Anisa, belum lagi Kesuma Grup milik Anisa, membuat ia yakin kalau kekayaan Anisa itu sangat banyak, tapi balik lagi pada penampilan suaminya yang hanya menggunakan baju seharga 300 ribuan saja.


"Memangnya pendapatan kamu sebagai pengacara berapa? Lalu kenapa kamu 2 hari yang lalu mengajak beli sayur di pasar?"


"Saya hanya ingin tau kalau kamu pemilih makanan atau tidak, tapi ternyata kamu tidak pilih-pilih makanan, saya suka dengan ucapanmu yang mengatakan kalau kamu makan apa saja, saya pikir seorang model seperti kamu akan pilih-pilih makanan."


Ali memang sedang mencoba istrinya dan ingin tau tentang istrinya.


"Orang tuaku bukan dari kalangan orang kaya Ali, jadi aku sudah terbiasa makan-makanan dari pasar."


"Iya bagus kalau begitu saya suka, jadi mau kamu bagai mana Kin? Mau bekerja apa akan tetap di rumah?"


"Apa Lisa juga di terima di Alfero Grup?"


"Iya jelas Lisa di terima di Alfero Grup, Lisa juga akan ikut berperan di Cinta Dalam Perjodohan, tapi sebagai peran pembantu. Jika kamu tidak ingin ikut, peran utama di berikan pada Kalisa, pasti kamu juga sudah tau Kalisa?"


"Pemeran utama lelakinya siapa?"


"Reyhan Alfero."


"Wow, Reyhan?"


Mata Kinanti berbinar layaknya menemukan berlian, ia memang sangat mepans pada Reyhan Alfero, apa lagi tau kalau Ayah dari Reyhan seorang komandan membuat menampilkan kesan sangat luar biasa.


"Kamu kenapa jadi senang sekali saat mendengar nama Reyhan Alfero?"


"Aku cuma ngepans bukan berarti cinta sama Reyhan, tapi kalau Reyhannya mau sama aku, aku iya mau-mau saja."


"Itu namanya cinta kalau kamu mau-mau saja sama Reyhan, Kinanti."


"Orang gila juga mungkin mau kali sama Reyhan, secara Reyhan ponakan dari Alfero Grup."


"Kalau Reyhan ponakan dari Alfero Grup memangnya kenapa?"


"Pasti uangnya banyak!"


Kinanti menjawab ucapan suaminya sambil cengengesan. Sedangkan Ali hanya menggeleng-gelengkan kepala saat mendengar jawaban dari istrinya, tidak tau'kah kalau pemilik sah Alfero Grup suaminya sendiri.


"Jadi istri saya ini suka uang?"

__ADS_1


Ali bertanya sambil tersenyum lebar, hampir saja ia cemburu pada adik sepupunya sendiri yang lebih tua 5 tahun darinya.


"Ya-iya lah Ali semua orang pasti suka uang, tapi aku lebih suka kamu."


Ucapan tapi aku lebih suka kamu itu sangat pelan sekali, kalau Ali tidak melihat gerakan mulut istrinya, ia tidak akan tau istrinya berbicara apa.


"Kamu tadi bilang apa?"


Sebenarnya Ali tau ucapan istrinya, tapi ia ingin mendengar lebih jelas ucapan dari istrinya.


"Tadi kata aku juga bilang semua orang juga suka uang."


"Bukan itu, tapi ucapan yang terakhir?"


"Aku tidak bilang apa-apa."


Kinanti langsung menyembunyikan wajahnya di dada suaminya, ia sangat malu kalau sampai ucapannya di dengar suaminya. Apa lagi Kinanti selalu mengejek suaminya kalau suaminya anak kecil.


"Yakin tidak bilang apa-apa?"


"Iya."


Ali ingin sekali tertawa saat melihat tingkah istrinya yang sedang malu-malu, tapi ia juga tidak menyangka kalau istrinya tidak sedih sama sekali setelah menikah.


Ali pikir istrinya akan sedih berminggu-minggu karena istrinya menjalin hubungan bersama Kakanya hingga 9 tahun lamanya, tapi istrinya tidak sedih sama sekali membuat ia bernapas lega, itu artinya namanya akan mudah memasuki hati istrinya.


Namun di sisi lain saat istrinya bersikap kanak-kanakan selalu mampu membuat Ali beristghfar dan harus memiliki ekstra sabar, walau pun usia istrinya itu lebih tua darinya, tapi istrinya selalu saja menampilkan kesan cengeng di depannya.


"Jadi mau kamu bagai mana Jamila, mau bekerja atau tidak? Tapi saya berharap kamu mau bekerja bukan karena ingin membalas dendam pada Lisa."


"Hah?"


Kinanti langsung mendongkakan kepalanya saat mendengar nama Jamila dari mulut suaminya.


"Saya bukan ingin jawaban hah."


"Itu tadi kamu bilang apa?"


"Jamila, itu nama panggilan barumu dariku."


"Jangan bilang kalau kamu ngepans pada Jamilah Alfero, adik dari Reyhan Alfero."


"Itu namanya Jamilah bukan Jamila."

__ADS_1


"Terus bedanya apa? Aku tidak mau samain nama panggilanku dengan orang lain."


Setelah mengatakan itu Kinanti langsung turun dari pangkuan suaminya, ia sangat kesal dengan nama panggilan baru dari suaminya.


Ali langsung berdiri, ia langsung memeluk istrinya dari belakang dengan kepala yang ia letakan di leher istrinya.


"Mulai deh marah lagi."


"Aku tidak suka dengan panggilan baru darimu."


"Kamu tau artinya Jamila apa?"


"Tidak tau."


"Jamila itu artinya cantik, saya tidak bermaksud untuk menyamakan nama panggilan kamu dengan orang lain, kamu sangat cantik dan harta berharga saya."


Kinanti langsung tersenyum lebar saat mendengar arti dari nama panggilan Jamila.


"Kamu tau kalau aku tidak bisa bahasa arab, kenapa kamu pakai bahasa arab?"


"Saya tidak suka memanggil kamu dengan panggilan sayang, bagi saya panggilan sayang itu sudah sangat lumrah dan sering terdengar di telinga saya."


Kinanti langsung membalikan tubuhnya, ia langsung menatap mata suaminya.


"Baik kalau begitu aku juga akan memanggilmu dengan panggilan Mas."


Saat mendengar ucapan dari istrinya Ali langsung tersenyum lebar.


"Terima kasih Jamila, awal pertemuan kita memang kurang baik, tapi semoga akhir kisah cinta kita berujung baik. Sebenarnya Mas tidak setuju kalau kamu terjun ke dunia peran, tapi apa pun yang kamu inginkan Mas akan mencoba mewujudkan impianmu, asalkan kamu hanya bermain peran bersama Mas. Mas akan mencari judul film yang lebih ke islam."


"Terima kasih karena mau menjadi suami dari Jamila, dan mau mendukung impian Jamila. Jamila sangat senang walau pun awal menikah berpikir ingin berpisah, tapi setelah melihat kepribadian Mas, jujur saja Jamila tidak ingin berpisah bersama Mas. Seperti yang Mas katakan kalau kita harus saling belajar mencintai."


Ali masih tersenyum lebar, ia langsung mengecup kening istrinya cukup lama.


"Ayo ke kamar, Mas belum mandi."


"Iya Mas."


Ali dan istrinya langsung pergi ke kamar. Sedangkan bi Yanti dan Yuli hanya tersenyum saat mendengar percakan mereka.


"Ibu tidak menyangka kalau den Ali tumbuh menjadi lelaki ta'at agama dan mampu membimbing istrinya."


"Iya bu melihatnya juga adem, tapi menurut Yuli sepertinya Non Kinanti itu sangat mencintai den Ali, mudah sekali marah dan cemburu, tadi siang saja Non Kinanti mondar-mandir tidak jelas saat suaminya pergi ke pesantren, seperti suaminya masuk ke dalam rumah sakit saja."

__ADS_1


"Sutt, jangan ngomong begitu, namanya juga sedang jatuh cinta jadi iya wajar-wajar saja."


"Iya, tapi kesannya itu sangat lucu bu."


__ADS_2