
Setelah perdebatan kemarin pagi tadi, Aska tidak berheti tersenyum saat Morgan mengatakan tergantung siapnya kamu saja, dan itu membuat senyumannya semakin lebar saat ia melakukan sholat istikaharah, ia memimpikan Anisa, itu artinya Anisa memang jodohnya.
Aska juga sudah menceritakan tentang mimpinya pada Morgan, membuat Morgan semakin yakin kalau Aska memang jodoh untuk putrinya.
Sekarang Aska sedang berada di toko gaun muslimah pengantin, ia tersenyum lebar saat melihat gaun berwarna putih.
"Mas, mau milih gaun pengantin?"
Kasir yang bernama Lulu bertanya sambil tersenyum lebar pada Aska.
"Iya mba, saya ingin melihat gaun yang itu."
Aska menujuk gaun muslimah yang tergantung di sana.
"Oh iya sebentar Mas."
Lulu langsung mengambil gaun itu lalu langsung memberikannya pada Aska.
"Ini Mas."
Aska menganggukan kepalanya lalu langsung memutar-mutar gaun itu sambil menghayal Anisa yang sedang memakai gaun itu sambil memutarkan badanya membuat Aska tersenyum lebar.
"Apa Mas Aska itu gila iya semenjak gagal menikah dengan Kinanti? Masa iya senyum-senyum sendiri." batin Lulu
Lulu merasa sangat aneh saat melihat senyuman dari Aska, ia heran kenapa Aska tersenyum sendiri dan menganggap kalau Aska menjadi gila.
"Saya mau mengambil gaun yang ini dan hijabnya saya ingin warna yang sama, tapi panjangnya hingga sampai mata tangan iya mba."
Aska berbicara sambil menyerahkan gaun muslimah yang ia pegang tadi.
"Baik Mas."
Lulu langsung mengambil gaun muslimah yang di serahkan Aska, ia langsung membungkus rapih gaun muslimah itu, lalu langsung mengambil dua hijab instan dengan panjang hingga sampai semata tangan.
"Mas, mau yang ini atau yang ini?"
Lulu bertanya sambil memegang ke dua hijab di ke dua tangannya.
"Saya mau yang itu saja, itu sangat polos dan saya suka yang itu."
Aska menjawab ucapan Lulu sambil menujuk hijab yang ada di tangan kanan Lulu.
"Baik Mas."
Lulu langsung melipat hijabnya, lalu meletakannya di meja kasir.
"Total semuanya 17 juta Mas."
"Oh iya."
Aska langsung menyerahkan kartu ATMnya pada Lulu, setelah selsai pembayaran, sekarang Aska memutuskan untuk membeli cincin pernikahan.
__ADS_1
Walau pun Aska belum mengatakan pada Morgan kapan ia akan menikahi Anisa, tapi ia lebih dulu menyiapkan segalanya agar ia langsung menikah saja.
"Permisi mba, saya ingin melihat cincin pernikahan keluaran terbaru."
"Oh iya sebentar Mas."
Pelayan itu langsung mengambil empat cincin pernikahan dengan model yang berbeda-beda.
"Ini Mas cincinnya."
Aska mengambil cincin yang memiliki permata putih di cincin wanitanya, sedang cincin lelakinya polos, ia lebih menyukai polos.
"Mba, saya mau yang ini saja."
"Baik Mas sebentar."
Pelayan itu langsung membungkus cincin yang di minta oleh Aska.
"Totalnya 60 juta Mas."
Pelayan itu berbicara sambil meletakan cincin yang sudah di bungkusnya di meja.
Aska hanya menganggukan kepalanya sambil meletakan kartu ATMnya di meja kasir. Pelayan itu langsung mengambil kartu ATM yang di serahkan Aska.
"Ini Mas sudah selsai."
Kasir itu memngembalikan kartu ATM Aska sambil tersenyum. Aska langsung mengambil kartu ATM dan cincin itu lalu langsung pergi.
Pelayan itu mengumpat setelah Aska pergi lantaran Aska yang tidak bayak bicara.
Setelah itu Aska membeli kemeja putih polos untuk menyamakan dengan gaun pengantin Anisa.
Setelah selsai ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit lagi. Sepanjang perjalanan ke arah rumah sakit Aska selalu tersenyum.
Aska sangat senang karena ia bisa menikahi Anisa, dan masalah rumah tangganya, ia pikirkan nanti setelah Anisa sudah sadar.
Lagi pula Aska percaya kalau Anisa pasti akan menerima pernikahanya karena Anisa sangat ta'at agama, ia yakin Anisa bisa menerimanya, apa lagi dalam mimpinya adalah Anisa.
Aska sudah sampai di rumah sakit, ia langsung mengucap salam sambil memasuki ke ruang rawat Anisa.
"Assalmualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Aska langsung menyalami Isabel sambil tersenyum lebar.
"Jamila sudah pulang Bu?"
"Iya nak, Jamila sudah pulang tadi pagi, kamu habis dari mana? Tidak biasanya menghilang."
"Oh maaf tadi saya habis beli cincin pernikahan bu, saya mau pamit pada Ibu, tapi ibu sedang tidur jadi tidak enak."
__ADS_1
"Kamu jangan panggil saya ibu lagi, panggil saja Bunda seperti Anisa."
"Iya Bu-Bunda."
Aska menjawab ucapan dari Isabel sambil tersenyum canggung.
"Kamu tidak mau di pikir-pikir lagi nak? Kamu serius ingin menikahi Anisa dalam waktu dekat ini?"
"Kalau saya ngikut apa kata Bunda saja, kalau Bunda mengijinkan sekarang-sekarang, tentu saya akan menikahi sekarang. Aska ingin menikahi Anisa dengan perasaan Bunda dan Bapak yang ikhlas, karena kebahagian rumah tangga kami adalah do'a dari orang tua."
"Bunda sangat ikhlas, kamu juga memanggil suami Bunda dengan panggilan Ayah, jangan memanggil dengan panggilan bapak."
"Iya Bunda."
Lagi-lagi Aska tersenyum, tidak bisa ia pungkiri kalau ia memang sangat bahagia saat ke dua orang tua Anisa sudah sangat setuju dengan pernikahannya.
"Maaf Bunda, saya tidak bisa membelikan gaun yang mewah, jujur saja saya tidak memiliki banyak uang."
Aska memang tidak berniat untuk meminta pada ke dua orang tuanya, ia ingin membeli semuanya uang hasil ia sendiri, walau pun tidak besar, tapi hasil membantu menjualkan mobil teman-temannya saat masa kualiah lumayan cukup untuk membeli kebutuhan sekarang, karena dulu ia selalu memakai uang orang tuanya.
"Tidak masalah nak, apa lah arti sebuah gaun? Bunda saja dulu tidak membeli gaun yang mewah, Bunda meminta pada suami Bunda beli gaun yang seharga 800 ribu saja, karena menurut Bunda gaun itu tidak berarti, yang paling berarti adalah keseriusan lelakinya dan memiliki tekad untuk membahagiakan Bunda, itu yang terpenting nak."
Isabel memang tidak meminta yang mahal saat suaminya akan menikahinya, ia cukup meminta gaun muslimah seharga 800 ribu saja, bagi ia gaun pengantin itu tidak ada artinya.
Bagi Isabel keseriusan seorang lelaki yang siap akan membimbingnya dan menjaganya itu yang terpenting, untuk itu ia tidak pernah melarang ke dua anaknya memilih pendamping dengan siapa pun.
Bukan hanya Anisa, tapi Allan pun Isabel tidak pernah melarang mau dengan siapa Allan, yang jelas wanita yang akan menjadi istrinya siap di bimbing oleh Allan.
Aska tersenyum lebar saat mendengar jawaban dari Isabel, ia baru tau kalau ke dua orang tua Anisa yang sudah terkenal di Asia karena perusahaan ke duanya, ternyata sama sekali tidak sombong.
Ke dua orang tua Anisa juga tidak melarang anak-anaknya mau menikah dengan siapa saja, asalakan ke duanya sama-sama serius.
"Terima kasih Bunda."
Isabel hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum lebar.
"Bunda, apa besok saya boleh menikahi Anisa?"
"Kamu memang tidak akan berpikir lagi?"
"Mau saya berpikir seribu kali pun keputusan saya tetap sama Bunda, saya hanya ingin menikahi Anisa, saya ingin menjaga Anisa dengan baik Bunda."
"Iya sudah, kalah begitu, lalu ke dua orang tuamu?"
"Mereka pasti sangat setuju Bunda."
"Iya sudah kalau mereka setuju."
"Benaran boleh menikahi Anisa besok Bunda?"
Aska bertanya ke dua kalinya dengan raut wajah tidak percaya.
__ADS_1
"Iya nak."