
Sudah satu minggu di mana Morgan banyak bertanya pada Aska, satu minggu juga Anisa masih belum sadarkan diri, dan dokter juga mengatakan tidak tau pasti kapan Anisa akan sadar.
Selama satu minggu ini Aska juga selalu di samping Anisa, bahkan ia tidak meninggalkan Anisa selain untuk sholat ke masjid terdekat dari rumah sakit tersebut.
Sedangkan Ali, mengambil alih untuk sementara perusahaan Bundanya selama Bundanya masih kom'a, ia hanya berkunjung saat malam hari ke rumah sakit hingga pagi hari.
Di rumah sakit itu hanya ada Kinanti, Aska dan Isabel setiap harinya, sedangkan Morgan sendiri terpaksa mengambil alih kembali Alfero Isabel Grup untuk sementara waktu.
"Kinanti, kamu bisa istirahat bersama Ibu, jangan terus saja berjaga, Anisa biar saya yang menjaganya."
Aska sangat kasihan melihat ke dua wanita yang menatap dengan mata sayu, apa lagi ia tau mereka selama beberapa hari ini tidak tidur, karena Anisa selalu mendadak keadaannya kritis dan terkadang setabil.
Selama satu minggu Anisa tidak ada perubahkan sama sekali, sekedar menggerakan tangannya saja tidak.
"Saya tidak apa-apa nak, lebih baik kamu yang istirahat, apa lagi luka kepala kamu juga belum sembuh total."
Sudah dua hari Isabel memanggil Aska dengan panggilan nak Aska, tidak ada kata-kata kasar juga selama dua hari ini, karena ia melihat kalau Aska memang sungguh-sungguh dengan putrinya, terlihat jelas dari tatapan Aska olehnya, dan terkadang ia juga melihat mata Aska memerah setiap ia tinggal mandi dan sebagainya.
Isabel yakin kalau Aska diam-diam menangis setiap kali tidak ada ia, jadi untuk itu Isabel tidak pernah lagi menatap Aska dengan tatapan sinis atau berkata kasar, bahkan ia melihat Aska merasa iba.
Walau pun hati Isabel sendiri tidak baik-baik saja, tapi ia bisa melihat hati Aska juga begitu hancur.
"Saya tidak apa-apa bu, lagi pula hanya luka ringan saja."
Setelah mengatakan itu Aska langsung duduk di samping Anisa lagi, ia sudah siap menceritakan kisah perjalanan para nabi di buku yang ia pegang.
Selama tiga hari ini Aska selalu menceritakan kisah itu, ia berharap Anisa bisa mendengar semua yang ia ceritakan, ia berharap kalau Anisa tau, ia tidak pernah meninggalkannya kalau tidak memiliki kepentingan lain.
Kinanti yang mendengar Aska bercerita untuk ibu mertuanya, ia tersenyum meringis, ia tau kalau hati Aska tidak baik-baik saja, senyuman yang Aska tampilkan saat berbicara hanya senyuman palsu.
Apa lagi Kinanti sangat mengenal Aska, tentu saja ia tau kalau Aska sedang membohongi semua orang lewat senyumannya, tapi hati Aska begitu hancur.
"Bunda, Jamila harap Bunda bisa menghargai Kak Aska, Jamila lihat Kak Aska memang sangat tulus mencintai Bunda." batin Kinanti
__ADS_1
Kinanti juga sudah dua hari ini memanggil Aska dengan panggilan Kakak, kalau dulu ia merasa aneh saat suaminya menyuruh ia memanggil Aska dengan panggilan Kakak, tapi kali ini ia sendiri yang memanggil Aska dengan panggilan Kakak tanpa di suruh.
Isabel terus menatap Aska sambil tersenyum saat melihat Aska yang sedang membacakan perjalanan cinta Siti Khadijah dan nabi Muhammad SAW.
Bukan hanya itu Isabel juga sering mendengar Aska mengaji di samping putrinya, ia sangat senang saat melihat Aska begitu perhatian pada putrinya, ia senang karena Aska memang benar-benar mencintai putrinya.
Namun hingga sampai saat ini Isabel dan suaminya belum mendapatkan jawaban yang jelas saat memiliki hubungan apa putrinya dan Aska, tapi yang ia yakini kalau ke duanya memang saling mencintai, itu lah yang ada dalam pikirannya hingga sampai sekarang.
"Nak Aska, ibu dan Jamila pergi untuk sholat asyar dulu."
"Iya bu."
Aska berbicara sambil melihat ke arah Isabel sambil tersenyum lebar.
"Ayo Jamila, kita sholat dulu."
"Iya Nek. Kak Aska, tinggal dulu, ingat jangan pegang-pegang, kalian itu bukan makhrom!"
Aska menjawab ucapan Kinanti sambil tersenyum lebar dan mengangguk, ia juga memanggil Kinanti dengan panggilan Jamila ikut kuarga adiknya yang memanggil Kinanti dengan panggilan Jamila.
Apa lagi sekarang adik iparnya sudah mau memanggil ia dengan panggilan Kakak.
Setelah ke pergian Isabel dan Kinanti, Aska langsung menyudahi ceritanya, ia menatap lekat wajah Anisa yang semakin hari semakin pucat, apa lagi selama satu minggu ini Anisa belum pernah sadar sama sekali.
"Bunda, cepat sadar, kenapa Bunda lama sekali sadarnya? Aska kangen suara Bunda, kangen senyuman Bunda."
Tidak terasa air mata yang dari pagi Aska tahan akhirnya menetes juga, ia memang sangat merindukan Anisa, terlebih suara Anisa yang selalu membuat ia terngiang-ngiang.
"Bunda, apa Bunda bisa mendengar cerita dari Aska? Atau Bunda sama sekali tidak bisa mendengar cerita dari Aska?"
Aska langsung mengusap air matanya yang berjatuhan dari tadi, ia juga menghela napas berat saat melihat Anisa hanya diam dan tidak merespon ucapan darinya.
Aska juga tidak tau berapa lama Anisa akan terus saja seperti itu.
__ADS_1
Aska sudah sekitar 30 menit ngobrol dengan Anisa yang sama sekali tidak mendapat respon dari Anisa.
Aska tidak pantang menyerah, ia selalu mengungkapkan kata cinta pada Anisa. Tiba-tiba saja Isabel dan Kinanti sudah selsai sholat.
Aska langsung menghapus air matanya saat suara pintu ruang rawat Anisa terbuka dari luar, ia sudah tau pasti Isabel dan Kinanti yang datang.
"Nak, kalau mau sholat sudah."
Isabel berbicara pada Aska sambil tersenyum lebar, apa lagi saat melihat Aska yang mengeluarkan air mata, ia sudah hapal kalau di tinnggal pergi, Aska pasti menangis.
"Iya bu, kalau begitu Aska kuar dulu."
"Iya nak."
Aska langsung pergi ke luar dari ruangan Anisa untuk menunaikan ibadah sholat asyar.
Setelah Aska pergi Isabel langsung duduk di bangku tempat Aska duduk tadi, ia mengamati wajah putrinya dan menggenggam tangan putrinya.
"Anisa, tolong segera sadar nak, jangan membuat Bunda semakin cemas karena kamu nak, apa kamu tidak kasihan membuat orang-orang selalu saja nghuatirkan kamu nak?"
Isabel bertanya sambil mengusap-usap tangan putrinya yang sama sekali tidak merespon, entah sampai kapan putrinya hanya berbaring dan tidak merspon ucapannya.
"Kenapa kamu selalu menderita nak? Dulu kamu menderita karena Kenan, dan sekarang kamu menderita karena Aska, apa kamu mencintai Aska, hingg kamu rela berkorban untuknya Aska?"
Isabel menghapus air matanya yang dari tadi berjatuhan.
"Anisa, cepat sadar nak, kamu harus tau kalau Aska sangat mencintai kamu, Aska tidak pernah meninggalkan kamu kalau bukan hal-hal yang penting, kamu pasti senang'kan melihat lelaki yang kamu cintai selalu menemanimu, untuk itu kamu segera sadar agar kamu bisa melihat dengan mata kepala sendiri kalau Aska sangat mencintakmu."
Lagi-lagi Isabel salah paham, ia selalu berpikir kalau putrinya juga sangat mencintai Aska, bukan hanya Aska yang mencintai putrinya.
Kinanti mengelus punggung Isabel saat melihat Isabel menangis sambil mencium tangan Anisa, ia bisa melihat dengan jelas kalau hati Isabel memang sangat rapuh.
Walau pun Kinanti tau kalau Isabel selalu berusa untuk menjadi tegar, tapi Isabel tetap seorang ibu yang merasakan hancur hatinya.
__ADS_1