
Setelah perdebatan bersama Aska, kini Kinanti sudah ada di mobil bersama Riana dan Yuli untuk membeli beberapa baju sesuai seperti yang di minta oleh suaminya, tapi ia tidak akan beli gamis untuk saat ini, ia belum siap untuk memakai gamis.
Bahkan sekedar baju panjang saja Kinanti tidak betah, tapi entah kenapa ia tidak bisa menolak saat suaminya meminta ia memakai pakaian tertutup.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit mereka sampai di mall, Kinanti langsung menggandeng tangan Riana sedangan Yuli hanya mengikuti dari belakang hingga mereka sampai di toko baju.
"Riana, Yuli kalau ada baju yang kalian suka ambil saja."
Yuli hanya menjawab dengan anggukan kepala, tapi ia tidak berani mengambil apa pun, ia hanya asisten rumah tangga.
"Gila kamu Kin, baru di pecat 2 hari sudah mau teraktir orang, emangnya kamu sanggup bayar?"
"Itu yang di bilang suamiku, aku suruh belanja sepuasnya yang penting aku beli celana panjang, baju panjang dan hijab."
"Memangnya suami bocilmu sekaya apa sampai menyurun kamu belanja sepuasnya? Tapi tadi mobilnya juga memang tidak tanggung-tanggung."
"Aku tidak tau sekaya apa Mas Ali, tapi kata Mas Ali bilang kalau sekedar mambiyayaiku sangat sanggup."
"Cie sekarang manggilnya Mas, lalu apa kabar dengan Mas mantanmu, mau di panggil apa dia?"
"Kaka ipar."
Tawa Riana pecah saat mendengar jawaban dari Kinanti sambil memilih-milih kemeja panjang. Kinanti juga sudah memilih banyak pakaian, dari kemeja buatan luar negri hingga dalam negri, dan celana jeans panjang yang memiliki kancing 4 kancing 5 kancing 6, termasuk jeas resleting tinggi hingga pusar, belum lagi beli celana kulot korea berbagai versi dan warna.
Hijab juga Kinanti beli yang instant dua lubang yang sangat lebar dan segi tiga instan, walau pun ia sendiri tidak tau bagai mana caranya menakai hijab, tapi ia tetap membelinya karena suaminya bisa memakaikan ia hijab.
"Kamu mau jualan apa Kin, beli sebanyak itu?!"
"Baju-baju yang ada di apartement mau aku keluarin, Mas Ali melarang aku untuk memakai pakaian pendek."
"Susah kalau di nikahi anak santri banyak aturan!"
"Tapi entah kenapa aku selalu tidak bisa menolak setiap di suruh Mas Ali, sikap keras kepalaku mendadak hilang kalau di depan Mas Ali."
"Sudah bucin kali! Siapa yang mau menolak pesona Ali, kalau ada yang menolak berarti orang bodoh!"
Itu adalah ucapan Kinanti tadi pagi pada Aska, ternyata Riana juga mengucapkan hal yang sama.
"Yul, kamu tidak ada yang mau di pilih?"
Kinanti bertanya dengan perasaan bingung karena hanya diam menunggu ia dan Riana, sedangkan Riana sendiri sudah mengambil 3 stel baju.
"Tidak Non."
__ADS_1
"Jangan malu Yul, kalau ini, ini, dan ini kamu mau'kan?"
Kinanti berbicara sambil memegang tiga kemeja yang menurut ia cocok di tubuh Yuli, bagai mana pun juga ia pernah menjadi model, tentu saja ia bisa mengira-ngira cocok atau tidak yang di pakai Yuli.
"Tidak usah Non."
"Saya tidak akan memotong gajih kamu, ini di suruh Mas Ali."
"Iya kalau begitu saya mau Non."
Kinanti langsung mengambil 3 kemeja dan 3 jeans panjang. Setelah selsai Kinanti langsung membawa barang-barang itu ke kasir, lalu langsung menyerahkan kartu kredit black card yang di berikan oleh suaminya.
Kasir itu langsung membalikan kartu kredit black card pada Kinanti sambil tersenyum saat mengetui nama pemilik kartu kredit balck card itu Ali Alfero, itu artinya suami dari Kinanti memang bukan orang biasa.
"Sudah selsai."
"Iya, terima kasih."
"Sama-sama."
Mereka bertiga langsung membawa barang-barang itu yang memang sangat banyak, tapi ia tidak sengaja berpapasan dengan Lisa dan Raya.
"Wow mantan model berkeliaran tanpa tau malu!"
Awalnya Kinanti tidak ingin mencari ribut, tapi ternyata tidak sesuai harapan karena Lisa langsung berbicara sambil berteriak, Lisa ingin terus mencari masalah padanya.
Setelah mengatakan itu Raya tertawa terbahak-bahak, ia mengejek Kinanti karena 2 hari yang lalu Kinanti menangis dalam pelukan suaminya. Mereka bertiga menghentikan langkahanya sambil langsung melihat ke arah Lisa dan Raya.
"Kamu tidak bosan-bosan iya cari perkara?! Bilang saja kalau kalian iri sama saya karena mendapatkan suami muda!"
Kinanti masih menggunakan kata saya seperti pertemuan terakhir bersama Lisa.
"Iya elah ngapain aku ngiri sama kamu? Kamu sekarang bukan model lagi, oh iya kamu harus tau kalau aku di terima di Alfero Grup dan katanya aku langsung ikut syuting di Cinta Dalam Perjodohan!"
Lisa berbicara dengan wajah sombong dan ejekan pada Kinanti. Namun bukan sedih dan marah yang Lisa dapatkan dari wajah Kinanti, melainkan tawa Kinanti yang menggema hingga orang-orang yang berlalu-lalang ikut melihat ke arah Kinanti.
"Jadi peran pembantu saja sombong! Bahkan yang akan menjadi pemeran utamanya aku dan suamiku kalau aku mau!"
Lisa dan Raya tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan dari Kinanti yang sangat lucu.
"Jadi model saja sudah di pecat, so-soan mau menjadi pemeran utama! Memang tidak tau malu, gagal nikah sama Aska jadi geser otaknya. Hahaha...!"
"Saya bahkan bersyukur gagal menikah dengan Aska dan di gantikan oleh Mas Ali yang memiliki segalanya."
__ADS_1
"Ciuh! Jadi istri pengacara saja bangga, bahkan Ali belum terkenal di televisi!"
Kinanti menghela napas kasar, suaminya memang belum masuk televisi, tapi Angga Septian yang terkenal pengusaha muda itu menyerahkan khasus perceraiannya pada suaminya, membuat ia bingung sendiri dan yakin ada yang janggal.
"Kenapa diam, malu iya?"
Raya bertanya sambil tersenyum mengejek.
"Saya sama sekali tidak malu, saya sangat bahagia bisa di nikahi Mas Ali."
"Suatu saat juga kamu akan di buang oleh Ali seperti Aska membuang kamu!!!"
Lisa berbicara sambil berteriak, ia kesal saat melihat wajah Kinanti yang terlihat bahagia saat di nikahi oleh Ali.
"Mas Ali bukan Aska, dan itu tidak akan terjadi dalam hidupku lagi."
"Memangnya kamu mengasih apa sama Ali hingga kamu yakin Ali tidak akan meninggalkanmu? Ali itu masih muda, tidak pantas bersanding dengan kamu yang sudah tua! Kalau cuma mengandalkan cantik saja kamu nanti keriput lalu di buang sama Ali!"
Kinanti langsung meketakan semua papar bagnya lalu ia langsung menarik rambut Lisa agar mendongkak ke atas.
"Apa kamu bilang saya tua?! Setidaknya saya bukan kamu yang mau menjual tubuhmu hanya sebuah papuleritas!"
Plak...!
Sebuah tamparan keras mengenai pipi Kinanti.
"Berani sekali kamu menjambak rambut sahabatku! Dasar wanita gila!"
Kinanti melepaskan jambakannya karena merasa perih di pipinya. Riana yang melihat Kinanti di tampar, ia langsung meletakan paper bagnya, lalu langsung menampar Raya.
Plak...!
Plak...!
2 tamparan itu mendarat mulus di ke 2 pipi Raya.
"Dasar wanita gila! Berani sekali kamu menampar Kinanti! Apa kamu sudah bosan hidup?!"
"Berani sekali kamu menampar ke dua pipiku!"
Raya yang tidak terima, ia langsung menjambak rambut Riana, begitu pun dengan Riana yang juga membalas jambakan dari Riana.
"Dasar wanita gila kamu!"
__ADS_1
"Kamu yang kamu!!!"
Riana berteriak marah.