Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 43 Making Love


__ADS_3

Malam harinya Kinanti sudah memakai lingerie yang ia beli tadi pagi untuk memperlihatkan tubuh seksinya pada suaminya yang masih sibuk bekerja.


"Mas."


Kinanti memanggil suaminya sambil berjalan ke arah suaminya. Ali yang di panggil oleh istrinya, ia langsung melihat ke arah istrinya.


"Astagfrullah! Innalilahi!!"


Ali langsung mendukan kepalanya sambil menutup mulutnya sendiri karena ia tidak sengaja mengucapkan Innalilahi di saat terkejut, seingat ia istrinya tidak memiliki lingerie, tapi malam-malam istrinya sudah memakai lingerie.


"Mas Jamila masih hidup, kenapa mengucap Innalilahi? Jahat banget!"


Niat menggoda suaminya, bukannya suaminya tergoda, tapi suaminya mengucap Astagfrullah dan Innalilahi, sungguh di luar dugaan Kinanti.


Ali langsung melihat ke arah istrinya, ia meraih tangan istrinya untuk menyuruh duduk di pangkuannya. Ali langsung melepaskan pecinya, lalu langsung mencium kening istrinya cukup lama.


"Memangnya Jamila sudah siap?"


"Iya Mas, buktinya Jamila sudah memakai lingerie, memangnya punya Mas tidak bangun apa?"


Kinanti bertanya sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya dan itu mempu membuat suaminya menghela napas berat. Ali hanya gelengan kepala saat istrinya membahas hal kotor.


"Milik Mas sudah berdiri loh Mas."


Kinanti berbicara tepat di telinga suaminya, ia tidak peduli kalau suaminya beranggapan ia seperti wanita murahan, lagi pula ia hanya menggoda suaminya sendiri.


Ali langsung membuang wajahnya ke sebrang arah saat mendengar ucapan tidak tau malu dari mulut istrinya.


"Apa begini kali iya kalau istri sudah mau, sangat menyeramkan." batin Ali


Suara seksi milik istrinya terdengar seram di telinga Ali, entah kenapa saat istrinya menggodanya ia merasa seram walau pun miliknya bangun.


"Mas kenapa? Memannya Mas sampai jam berapa bekerja? Kapan menggarap istri Mas yang seksi ini?"


"Sebentar Mas matikan laptop dulu."


Ali langsung berkringat dingin lebih dulu dari pada istrinya, bahkan istrinya terlihat santai. Ali langsung mematikan laptopnya dan menutup laptopnya, ia langsung melihat manik mata istrinya


"Lakukan karena kewajibanmu, jangan biarkan gairahmu menguasai lebih dulu."


Setelah mengatakan itu Ali langsung mencium kening istrinya cukup lama untuk menyalurkan rasa cintanya terhadap istrinya.

__ADS_1


"Bagai mana tidak bergairah, kalau milik Mas Ali besar dan berotot, pasti rasanya nikmat." batin Kinanti


Otak Kinanti selalu saja berpikir mesum semenjak kejadian kemarin malam. Ali langsung menggendong istrinya ke arah ranjang, ia langsung mendudukan istrinya, lalu langsung mematikan lampu terangnya dan di ganti dengan lampu tidur.


"Yakin Jamila sudah siap?"


"Mas jangan kelamaan nanti Jamila keburu takut duluan, langsung saja sambar jangan pakai aba-aba."


Ali hanya menganggukan kepalanya, ia langsung membimbing istrinya membaca do'a hingga selsai.


Setelah membaca do'a Ali langsung mencium kening, ke dua mata lalu baru ke bibir istrinya. Ciuman yang awalnya biasa saja menjadi ciuman semakin menuntut, dan tangan Ali sudah meraba-raba ke mana pun yang ia mau, hingga ciuman ia langsung turun ke leher istrinya dan memberikan beberapa tanda kepemilikan pada leher istrinya.


Kinanti merasakan nikmat yang luar biasa saat mendapatkan permainan dari suaminya, lenguhan kecil juga mulai keluar dari bibirnya saat mulut suaminya beralih ke dada.


Hingga tidak terasa mereka berdua sudah sama-sama polos hanya selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.


"Hhhmmm Mas, permainan Mas nikmat sekali."


Suami yang Kinanti anggap anak kecil itu ternyata bisa membuat ia melenguh nikmat hingga miliknya sudah basah.


Ali hanya menanggapinya dengan senyuman tanpa mau menjawab ucapan dari istrinya, setelah di rasa pemanasannya sudah cukup, ia langsung berbisik ke telinga istrinya.


Kinanti hanya menganggukan kepalanya, ia langsung melebarkan ke dua pahanya sebelum di komando oleh suaminya.


"Tahan iya Jamila, mungkin akan sakit."


"Iya Mas."


Ali langsung mengecup kening, ke dua mata lalu bibir istrinya, setelah itu baru mengarahkan miliknya pada milik istrinya.


Kinanti sudah siap dengan ke dua tangannya mencengkram kuat sprei dan matanya sudah terpejam, saat benda asing mencoba memasuki miliknya, ia langsung menggigit bibir bawahnya rasanya sangat sakit walau pun baru masuk kepalanya saja.


Ali yang melihat istrinya menggigit bibir bawahnya, ia langsung mencium bibir istrinya lalu lidahnya langsung bermain di rongga mulut istrinya dengan miliknya yang terus mencoba masuk lebih dalam lagi.


Namun tidak semudah itu milik Ali segera masuk, ia merasa ada dinding penghalang hingga ia berhasil masuk sepertiganya. Kinanti langsung mengeluarkan air matanya, rasanya begitu perih dan tubuhnya sudah bergetar.


Saat Ali melihat air mata istrinya, ia langsung menghentikan ciumannya, ia juga langsung mencabut miliknya, lalu langsung mencium kening istrinya cukup lama untuk menghilangkan nafsunya yang sudah menggebu-gebu.


"Mas sudahi saja iya Jamila? Mas tidak tega melihat Jamila merasakan sakit hingga menangis."


Ali bertanya sambil mengusap air mata istrinya, ia memang sangat tidak tega saat melihat istrinya menangis.

__ADS_1


"Teruskan Mas, Jamila ingin menjadi istri Mas seutuhnya."


Rasanya memang sangat sakit, tapi bukan berarti Kinanti mau menyudahi malam pertama yang sudah is idam-idamkan itu.


"Mas tidak tega melihat Jamila menangis, Mas seperti lelaki jahat telah membuat istrinya sendiri menangis."


"Namanya juga pertama Mas, tapi kalau kita menundanya lagi kapan Jamila akan mempunyai momongan? Usia Jamila ini sudah sangat pantas untuk memiliki momongan."


Ali menghela napas berat, ia juga menginginkan di teruskan, tapi ia sangat ragu saat melihat istrinya menangis.


"Mas dorong yang kencang, agar rasa sakit Jamila tidak berkepanjangan."


"Jamila yakin?"


"Iya yakin Mas."


Andai saja miliknya tidak merasa perih dan tubuhnya tidak gemetar Kinanti ingin sekali menindih tubuh suaminya, suaminya itu memang selalu berpikir dewasa, tapi kalau sudah menyangkut berbau dewasa suaminya selalu saja berpikir lemot.


"Dasar suami kecil, kenapa dia jadi ragu, lagian juga kenapa miliknya besar sekali, tapi itu memang impianku juga bisa di nikahi oleh lelaki yang memiliki burung besar, kata Sasa juga rasanya sangat nikmat dan puas kalau suaminya memiliki burungnya yang besar." batin Kinanti


Kinanti hanya bisa mengumpat di dalam hatinya saat melihat suaminya hanya diam dan memiliki rasa ragu. Kinanti langsung menggenggam tangan suaminya.


"Mas, jangan bengong."


"Oh iya Jamila, kita lanjutkan."


Pada akhirnya Ali mau melanjutkan kegiatannya walau pun ia tidak tega pada istrinya. Ali langsung mencium bibir istrinya lagi untuk memberi pemanasan yang sempat terhenti bermenit-menit, setelah di rasa cukup ia langsung menatap manik mata istrinya.


Ali langsung meraih ke dua tangan istrinya untuk memeluknya, agar istrinya tidak berpegangan pada sprei.


"Kalau merasa sakit Jamila cakar saja punggung Mas atau lengan Mas."


Kinanti hanya menganggukan kepalanya, ia sudah siap dengan wajah tegang, wajah menggodanya tadi hilang seketika saat merasakan miliknya sangat sakit.


Ali mencoba memasukan miliknya lagi, walau pun sulit ia terus berusaha hingga sekitar 15 menit miliknya berhasil masuk seluruhnya pada milik istrinya.


Kinanti merasa miliknya terasa penuh oleh milik suaminya, ia masih mencengkram kuat punggung suaminya dengan air mata yang mengalir deras.


Ali mendiamkan miliknya beberapa menit sambil mencium kening istrinya untuk menenangkan sang istri hingga ia memaju mudurkan perlahan.


"Akhirnya aku bisa menjadi istri Mas Ali seutuhnya." batin Kinanti

__ADS_1


__ADS_2