
Morgan dan istrinya hanya bisa menghela napas berat saat mendengar permintaan maaf dari Aska yang menurut mereka Aska sangat berbeda dari Kenan.
"Apa kalian berdua memiliki hubungan selain bawahan dan atasan?"
Morgan bertanya dengan mata yang menatap mata Aska, ia juga melihat kalau Aska mencinta putrinya.
"Untuk saat ini belum Pak."
"Jadi nanti kalian akan memiliki hubungan begitu?! Aska, apa kamu gila?! Anisa itu mantan istri Ayahmu dan kamu mencintainya dan bodohnya kenapa Anisa juga mencintai kamu, apa iman Anisa harus runtuh lagi, terlebih kalian berdua kalau menikah itu haram!"
Morgan tidak habis pikir dengan pikiran Aska dan putrinya, sudah tau salah masih mau di langgar, bahkan putrinya hingga rela terluka, apa lagi kalau bukan karena cinta hingga berkorban sebesar itu.
Dulu juga putrinya menyerahkan hartanya untuk Kenan karena sangat mencintai Kenan dan membuat Morgan tidak habis pikir kenapa putrinya selalu bodoh karena perkara soal percintaan, hingga imannya yang selalu di pegang teguh runtuh begitu saja.
Aska menghela napas pelan, ia tau kalau Morgan salah mengartikan ucapannya, apa lagi sampai mengatakan kalau Anisa mencintainya, jangankan mencintainya bahkan Anisa sudah mengatakan kalau tidak ingin bersamanya.
"Aska bukan anak kandung saya Pak Morgan, Ayahnya sudah meninggal dunia semenjak Aska dalam kandungan."
Kenan terpaksa berbohong kalau Ayah putranya sudah meninggal, kalau ia mengakui Ayah kandungnya, putranya tidak akan bisa mengejar cinta dari Anisa.
"Jadi Kak Aska bukan anak kandung Ayah dan Mama?"
Ali bertanya dengan raut wajah terkejut, bukan karena ia tau kalau lelaki yang ia anggap Kakak itu bukan putra kandung dari Ayahnya, ia hanya terkejut kenapa Ayahnya begitu menyayangi Kakanya yang bukan anak kandungnya sendiri dari pada ia yang anak kandungnya.
"Aska memang anak kandung Mama nak, tapi kita berdua saat menikah Mama sudah hamil, Ayah kamu menikahi Mama atas permintaan sahabatnya suami Mama sebelumnya."
Lusi juga ikut berbohong, ia tidak mau kalau putranya gagal untuk memperjuangkan Anisa, apa lagi yang di ucapkan suaminya memang benar kalau Anisa bisa merubah putranya untuk lebih baik lagi.
Lusi juga ingin putranya memiliki kepribadian yang lebih baik. Morgan dan istrinya bernapas lega saat mendengar jawaban dari Lusi, setidaknya putrinya itu memang tidak salah langkah.
__ADS_1
Morgan dan istrinya tidak pilih-pilih putrinya mau menikah dengan orang miskin atau kaya, tapi yang jelas mereka berdua hanya berharap kalau putrinya di nikahi lelaki yang tepat.
Lelaki yang mau menjaga putrinya dengan baik dan memperlakukan putrinya layaknya seorang istri bukan seorang pesuruh.
Akhirnya rasa penasaran Ali terjawab juga kalau Kakaknya memang benar bukan anak kandung dari Ayahnya, dan ia juga sangat lega karena ternyata Kakanya bukan anak kandung dari Bundanya.
Apa lagi Ali sangat terkejut karena tadi pagi Kakaknya dan Bundanya memiliki golongan darah yang sama, sedangkan golongan darah orang tuanya sangat berbeda.
"Syukurlah kalau Kak Aska bukan putra kandung Ayah." batin Ali
"Apa saya bisa masuk ke dalam ruang rawat Anisa Pak, Bu?"
Aska bertanya sambil menekan kata Anisa, ia tidak mau memanggil Bunda di depan ke dua orang tua Anisa, ia takut kalau orang tua Anisa nanti tidak setuju karena ia memanggil Bunda pada Anisa.
"Tentu boleh, tapi jangan sentuh putri saya, kamu bukan makromnya, apa lagi sampai peluk-peluk, dan kamu juga di temani oleh Ali, saya tidak mau sampai kamu macam-macam pada putri saya."
Morgan hanya menganggukan kepalanya. Aska langsung masuk bersama adiknya, ia langsung duduk di samping Anisa yang terbaring lemas dengan selang-selang di hidung dan tangannya.
Aska langsung meneteskan air mata saat melihat Anisa seperti itu, hatinya sangat sakit.
"Bunda, cepat sembuh, Aska minta maaf karena telah egois sama Bunda, Aska sangat cintai Bunda, Bunda bisa dengar'kan ucapan dari Aska? Bunda harus segera sembuh, Aska sangat sedih kalau melihat Bunda seperti ini."
Ali menghela napas berat saat ungkapan cinta itu keluar dari mulut Kakaknya dan ia tidak habis pikir kenapa Kakaknya bisa mencintai Bundanya.
Apa lagi perbedaan usia mereka yang sangat jauh, tapi Ali juga tidak bisa melarang mereka untuk bersama jika Bundanya menginginkan untuk bersama, karena tidak ada alasan lain untuk ia melarang mereka bersama, hanya saja ia menjadi bingung sendiri, kenapa rasa benci Kakaknya terhadap Bundanya di masa lalu menjadi rasa cinta.
"Hamba tau kalau engkau yang maha mombolak-balikan hati Ya Allah, tapi apa ini sudah takdir mereka berdua untuk saling mencintai, hamba tau apa pun yang terjadi atas kehendakmu, tapi hamba hanya ingin Bunda memiliki suami yang baik dan membuat iman Bunda semakin kuat, kalau memang Kak Aska lelaki terbaik untuk Bunda hamba, hamba ikhlas menerimanya, tapi kalau Kak Aska hanya mencintai dan bukan lelaki yang baik untuk Bunda, jangan biarkan mereka saling mencintai. Amin ya rabbalalamin." batin Ali
Aska ingin sekali memegang tangan Anisa, tapi ia ingat ucapan Morgan untuk tidak menyentuh Anisa, ia hanya bisa memandang Anisa dengan air mata yang mengalir deras.
__ADS_1
Aska tau kalau ia sekarang seperti seorang wanita karena cengeng, tapi rasa cintanya membuat ia menjadi lelaki lemah.
"Bunda, Aska mohon Bunda jangan lama-lama tidurnya, Aska rindu Bunda."
Aska sama sekali tidak peduli walau pun ada adiknya di ruangan Anisa, ia tetap mencurahkan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya.
"Cepat sadar Bunda."
"Kak, waktu kita di sini sudah habis, ayo kita keluar, sebentar lagi Bunda akan di priksa oleh dokter."
Aska yang mendengar ucapan dari adiknya, ia hanya menganggukan kepalanya lalu langsung berdiri perlahan, walau pun ia berat untuk keluar dari ruangan Anisa, tapi ia tetap harus keluar dari ruangan Anisa.
Begitu pun dengan Ali, ia juga berat untuk meninggalkan Bundanya, tapi dokter menyarankan agar anggota keluarganya untuk tidak menunggu di dalam kamar untuk malam ini.
Sedangkan besok pagi Anisa akan.di pindahkan ke ruangan VAP, jadi besok mereka bisa leluasan menunggu di ruangan itu karena sekarang seluruh ruangan VAP sedang penuh.
Apa lagi Aska memang sengaja membawa ke rumah sakit terdekat dari tempat kejadian kecelakaan tadi pagi. Rumah sakit itu sangat kecil, bahkan hanya memiliki 10 ruangan VAP saja.
Ali dan Kakaknya langsung keluar dari ruangan bundanya, dan mereka berdua langsung duduk lagi di ruangan tunggu.
"Sudah seberapa dekat hubungan kalian berdua dan kenapa kamu berani memeluk putriku di dalam video itu?!"
Morgan masih penasaran dengan hubungan Aska dan putrinya yang sangat dekat, ia belum pernah melihat putrinya sedekat itu dengan lelaki.
Apa lagi Morgan juga tau kalau Aska dan putrinya makan di ruangan putrinya dari Aulia. Bukan Morgan ingin memata-matai putrinya, tapi semenjak putrinya gagal dalam membina rumah tangga, semenjak itu pula ia meletakan Aulia bukan hanya sebagai asisten pribadi dari putrinya.
Aulia juga selalu melapor pada Morgan apa yang di lakukan oleh Anisa karena Morgan ingin tau tantang putrinya.
"Kami hanya dekat Pak."
__ADS_1