
Do'a sholat tahajud Ali kali ini sangat berbeda, yang biasanya selalu berdo'a ingin di pertemukan dengan Bundanya lagi, dan do'a agar Bundanya selalu di berikan badan sehat termasuk pikiran yang sehat, tapi kali ini ia mengucap syukur pada ya Rabbnya karena bisa di pertemukan kembali dengan Bundanya dengan keadaan sehat wal apiat.
Ali merasa kalau yang maha kuasa memag baik, setelah ia mendapatkan banyak ujian di masa kecilnya, tapi kini ia merasakan kebahagiaan yang sebenarnya, tanpa kepalsuan seperti masa kecilnya.
Sekarang Ali memiliki istri yang sangat baik menurutnya dan Bundanya juga sudah kembali, ia berharap kalau kebahagiaannya akan bertahan lama, walau pun ia tau kalau orang hidup itu akan selalu mendapatkan banyak ujian.
Seperti biasanya setelah sholat tahajud Ali langsung mengaji sambil menunggu adzan subuh. Setelah adzan subuh bergumandang Ali langsung berjalan ke arah ranjang untuk membangunkan istrinya.
Istrinya memang tidak pernah mau bangun sendiri setiap kali adzan subuh bergumandang Ali selalu saja membangunkan istrinya.
"Jamila bangun."
Ali membangunkan istrinya sambil menepuk pelan pipinya, ia tersenyum saat melihat wajah polos istrinya, tapi kalau istrinya dalam keadaan sadar, ia tidak melihat wajah polos istrinya karena selalu saja mengatakan hal mesum. Ali langsung membangunkan istrinya untuk ke dua kalinya saat tidak ada jawaban dari istrinya.
"Jamila bangun."
Ali menghela napas berat saat melihat istrinya belum bangun juga, biasanya istrinya itu tidak susah di bangunkan seperti sekarang, ia langsung melepaskan pecinya, lalu langsung mencium kening istrinya cukup lama, setelah itu ia langsung mencium bibir istrinya sambil menggigit pelan bibir istrinya.
"Hhhmmm."
Lenguhan manja keluar dari mulut Kinanti saat mendapat ciuman di pagi hari sambil masih memejamkan mata, sebenarnya ia sudah bangun dari adzan subuh bergumandang, tapi ia sangat malas untuk bangun.
Kinanti merasa tidak memiliki tenaga karena permainan semalam, apa lagi ia dan suaminya bermain hampir 4 jam.
Namun Kinanti tidak menyangka kalau suaminya membangunkan ia dengan cara yang berbeda, biasanya suaminya hanya menepuk pelan pipinya untuk membangunkannya, tapi kali ini suaminya membangunkan ia dengan mencium bibirnya.
"Bangun Jamila, sekarang sudah subuh."
Kinanti langsung membuka matanya sambil tersenyum lebar ke arah suaminya.
"Morning kiss iya Mas?"
"Giliran di cium saja melenguh, cepat bangun Jamila terus mandi."
__ADS_1
"Tidak mau Mas, Jamila malas sholat subuh, boleh iya hari ini Jamila tidak sholat subuh?"
"Mana boleh Jamila, yang mendapatkan dosa itu bukan hanya Jamila, tapi yang lebih besar mendapat dosa itu Mas, karena Mas kepala keluarga di sini."
"Kali ini saja Mas, tidak akan tiap hari."
"Iya sudah sekarang Jamila tidur lagi, tapi nanti malam tidak Mas kasih jatah!"
Sebenarnya ucapan itu sama sekali tidak terlintas di otak Ali, apa lagi mengancam untuk tidak melakukan hubungan suami istri, tapi entah kenapa tiba-tiba saja mulutnya mengatakan itu.
Awalnya Kinanti tersenyum saat mendengar suaminya yang memperbolehkan ia tidur lagi, tapi senyumannya pudar karena ucapan terakhir suaminya yang terkesan mengancam.
Kinanti langsung duduk saat mendengar ancaman dari suaminya dengan raut wajah kecewa, sepertinya suaminya itu sudah hapal sekali kalau ia selalu berpikir mesum.
"Ih Mas! Mana ada suami yang mengancam istrinya tidak akan kasih jatah! Di mana-mana juga yang harusnya mengacam begitu istri bukan suami!"
Kinanti merasa aneh, seharusnya yang mengancam seperti itu seorang istri, tapi sekarang yang mengancam hal itu seorang suami.
Ali beebicara sambil tersenyum pada istrinya yang sedang menatap kecewa padanya.
"Mana ada hukuman seperti itu Mas, apa tidak ada hukuman yang lain?"
Kinanti bertanya dengan raut wajah kecewa, apa lagi saat melihat senyuman dari suaminya yang sangat menggemaskan, mana bisa ia untuk menahan hasratnya agar tidak berhubungan badan dengan suaminya.
"Tidak ada hukum lain, hanya itu hukuman untuk Jamila kalau Jamila tidak mau sholat subuh!"
"Ya Allah punya suami kecil jahat banget."
"Mas tidak jahat Jamila, itu hukuman yang sangat ringan, atau mau Mas menyuruh Jamila untuk menghapal 30 juz dalam waktu 5 bulan?"
"Eh buset Mas, bisa-bisa Jamila mati berdiri kalau di suruh menghapal 30 juz, itu semua yang ada di Al-Qur'an loh Mas, tega banget, memangnya Mas bisa?"
"Mas hanya butuh waktu 1 bulan untuk menghapal 30 juz, waktu 5 bulan itu menurut Mas terlalu lama."
__ADS_1
"Otak Mas itu pintar, Jamila mana bisa begitu Mas, Jamila bukan google yang selalu bisa."
Kinanti berbicara sambil mengusap wajahnya dengan kasar, ia tidak menyngka kalau pagi-pagi sudah di hadapkan dengan hal yang sangat sulit.
Apa lagi di suruh menghapal 30 juz, surat yasin saja Kinanti tidak hapal, ia memang bisa membaca Al-Qur'an, tapi ia tidak pernah menghapal Al-Qur'an."
"Jadi Jamila mau pilih yang mana, mau menghapal 30 juz dalam waktu 5 bulan, atau tidak melakukan Jima dalam waktu sehari?"
"Tapi kalau ciuman boleh tidak Mas kalau tidak melakukan making love?"
Ke dua pasangan yang sangat berbeda bahasa, Ali yang selalu mengatakan kata Jima, sedangkan istrinya selalu mengatakan making love.
"Tidak boleh, itu hukuman untuk Jamila, memangnya Jamila mau kalau Mas masuk neraka karena Jamila tidak mau sholat?"
"Ih Mas, mana ada hanya sehari saja masuk neraka?"
"Tetep saja Jamila, Mas itu suami kamu, yang lebih besar menanggung dosanya itu Mas, memangnya Jamila mau kalau Mas di bakar? Jadi sekarang Jamila mau sholat subuh atau Jamila mau memilih salah satu hukuman yang di suruh Mas?"
"Iya sudah Jamila tidak memilih ke duanya, hukuman dari Mas ke duanya sangat berat untuk Jamila."
Dengan berat hati Kinanti turun dari ranjang untuk mandi, ia tidak mau mendapatkan salah satu hukuman yang di ajukan suaminya.
Kinanti mungkin saja bisa untuk menahan hasratnya agar tidak berhubungan badan, tapi kalau ia tidak boleh ciuman juga ia tidak akan bisa menahan itu karena menurutnya bibir suaminya itu candu.
Ali tersenyum lebar saat melihat istrinya berjalan ke arah kamar mandi, apa lagi saat mengingat ancaman bodohnya tadi, sedangkan yang ke dua sangat masuk akal menghukum istrinya untuk menghapal Al-Qur'an, tapi yang pertama itu adalah ancaman bodoh yang tiba-tiba terlontar dari mulutnya.
"Mas juga tidak akan bisa menahan itu Jamila, tapi Mas tidak menyangka kalau ancaman bodoh Mas mampu membuat kamu kecewa."
Ali berbicara sangat lirih sambil tersenyum lebar, ia merasa kalau istrinya itu memang sangat lucu dan unik.
Kinanti yang sudah di dalam kamar mandi ia langsung mandi besar sambil mengomel sendiri.
"Andai saja aku tidak cinta pada Mas Ali sudah aku tendang tuh burung, masa menghukum tidak boleh melakukan making love, mana ada hukuman seperti itu, memang susah kalau memiliki suami yang punya iman, apa-apa mikirin neraka dan surga, tapi kalau aku tidak di nikahi oleh Mas Ali, mungkin hidupku selamanya tidak akan mengingat Allah, Mas Ali memang suami yang saleh."
__ADS_1