
Tidak ada jawaban dari ke dua orang tua Anisa karena mereka memang sangat ragu mengambil keputusan yang mendadak.
Morgan dan istrinya tidak menolak atau menerima lamaran dari Aska, apa lagi mereka juga memiliki masalah baru karena cucu menantunya tadi pingsan, tentu saja membuat mereka berdua semakin resah.
Menurut Morgan dan istrinya masalah datang satu-persatu, dulu juga begitu saat perceraian putrinya dan sekarang masalah datang lagi satu-persatu.
Sekarang Ali dan Kakaknya sedang menunggu istrinya yang sedang di priksa oleh dokter, sedangkan Kakek dan Neneknya menunggu Bundanya.
Ali mondar-mandir tidak jelas di ruang rawat istrinya, memang sudah beberapa hari ini ia merasa istrinya seperti sangat kelelahan, jelas-jelas hanya menunggu Bundanya saja tanpa melakukan pekerjaan lainnya lagi.
"Sebrnarnya kamu kenapa Jamila, jangan membuat Mas bertambah kuatir saja, sudah cukup Mas kuatir dengan keadaan Bunda. Ya Allah, hamba minta semoga istri hamba baik-baik saja." batin Ali
Aska menepuk punggung adiknya yang sedang cemas mondar-mandir.
"Kapan istrimu datang bulan?"
"Seingat Ali Jamila belum pernah datang bulan setelah kita melakukan jima."
"Itu artinya istrimu baik-baik saja Ali, Kakak yakin kalau istrimu pasti hamil."
"Hah, Kakak yakin kalau Jamila hamil?"
"100% yakin Ali, biasanya wanita yang sedang hamil muda mudah kelelahan walau pun tidak melakukan aktifitas apa pun, soalnya dulu saat Kakak kuliah istri teman Kakak mudah lelah saat hamil muda, jadi kamu tidak perlu kuatir."
"Iya semoga saja Jamila hamil Kak, Ali juga ingin segera memiliki momongan, apa lagi sekarang kita sudah memutuskan untuk membina rumah tangga dengan baik, dan tidak mengikuti dunia peran lagi."
Ali akhirnya bisa bernapas lega saat mendengar ucapan dari Kakaknya kalau istrinya hamil
"Amin."
"Kakak pasti lelah iya selama ini menunggu Bunda?"
"Kakak sama sekali tidak capek, Kakak sama seperti hatimu, hanya sedih saat melihat Bunda yang masih belum mendapatkan perubahan, dan kadang-kadang Kakak menyesal, andaikan saja waktu bisa di putar kembali, Kakak tidak akan bersikap egois, Kakak akan berpura-pura baik-baik saja saat Bunda menolak Kakak, tapi sampai sekarang walau pun Bunda sudah menolak Kakak, Kaka akan tetap berusaha yang terbaik untuk Bunda, Kakak berharap Bunda akan menerima Kakak di kemudian hari."
"Kakak sungguh-sungguh mencintai Bunda?"
Ali bertanya dengan kening berkerut, bukan karena tekad Kakaknya yang masih terus ingin menikahi Bundanya, tapi ia tidak menyangka kalau Kakaknya sudah mengungkapan semua isi hati Kakaknya pada Bundanya.
"Kakak sungguh-sungguh mencintai Bunda, Kaka tau kalau kita berubah lebih baik lagi karena sesaorang itu bukan hal yang bagus, kita harus bisa berubah lebih baik lagi karena Allah, tapi Kakak anggap Bunda adalah sebagai pelantara untuk Kakak berubah lebih baik lagi dari sebelumnya, Kakak belajar untuk dewasa dan belajar agama karena Bunda, tapi Kakak selalu percaya kalau Bunda hanya pelantara. Kakak hanya berharap kalau suatu saat Kakak tidak bisa memiliki Bunda, Kakak bisa memiliki iman yang kuat agar tidak patah hati, karena hanya mendekatkan diri pada Allah perasaan Kakak akan jauh lebih tenang walau pun memiliki banyak masalah."
"Semoga saja Kak."
__ADS_1
Ali tersenyum lebar, ia tidak menyangka kalau Kakaknya mau berubah hanya untuk mendapatkan cinta dari Bundanya.
"Kalau Kakak sama Bunda, Ali akan panggil Kakak apa? Mantan Kakak?"
"Mana ada seorang Kakak menjadi mantan, kamu itu Ali, ada-ada saja."
Aska juga tersenyum lebar, ia juga tidak tau kalau ia benar bisa menikahi Anisa, ia tidak tau Ali akan memanggil ia dengan panggilan apa.
"Yang jelas sepertinya Ali akan memiliki dua Ayah!"
Aska langsung menyentil kening adiknya, ia tau kalau adiknya sedang mencoba menghiburnya, tapi walau pun sebuah hiburan membuat hati ia sangat tersentuh, dan membuat ia lebih besar berharap kalau ia akan bisa mendapatkan Anisa.
Walau pun Aska sendiri tidak tau harapan itu bisa di gapai atau hanya sebuah harapan kosong saja.
"Semoga saja Kakak benar-benar bisa mendapatkan hati Bunda."
"Yang jelas Kakak harus ingat, Bunda pernah tersakiti dan bisa jadi Bunda menutup hatinya untuk lelaki mana pun, jadi Kakak harus bisa buktikan pada Bunda kalau Kakak pantas bersama Bunda."
Aska hanya menganggukan kepalanya, ia baru sadar kalau Anisa mungkin saja menolaknya karena takut hatinya terluka untuk yang ke dua lalinya lagi, apa lagi luka yang Papanya goreskan itu sangat dalam, hingga membuat Anisa kecelakaan dan amesia, belum lagi hingga wajah Anisa di oprasi.
"Semangat Kak."
"Itu pasti Kak."
Setelah melewati satu minggu lebih bersama Kakaknya di rumah sakit, Ali rasa Kakaknya memang sangat pantas mendapatkan Bundanya, ia bisa melihat Kakaknya yang sangat setia menemani Bundanya yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan rawat Kinanti.
"Pak Ali."
"Iya dok."
Ali dan Aska langsung mendekati dokter yang memanggilnya. Dokter wanita itu langsung mengulurkan tangan pada Ali sebagai ucapan selamat, tapi Aska langsung menjabat tangan dokter wanita sambil tersenyum lebar.
"Selamat Pak Ali, istri Bapak sedang hamil, dan hasil usia kandungannya baru saja mengijak dua minggu."
"Ini serius dok?"
Ali bertanya dengan raut wajah tidak percaya saat mendengar kalau istrinya sedang hamil.
"Iya pak benar."
Aska langsung melepaskan jabatan tangannya sambil tersenyum lebar. Sedangkan dokternya sangat malu karena yang menjabat tangannya bukan Ali, ia tau baru tau kalau Ali menghindari kontak pisik dan bertanya juga sambil menunduk.
__ADS_1
Akhirnya dokter itu tidak merasa heran kenapa film yang di perankan oleh Ali tidak menyentuh wanita lain selain istrinya.
"Ya Allah saleh banget suami Kinanti." batin dokter wanita
"Apa saya boleh masuk dok?"
"Tentu silahkan Pak, tapi pastikan Bu Kinanti untuk lebih banyak istirahat, usia kandunganya masih terlalu muda, jangan banyak bergerak."
"Iya dok terima kasih."
"Sama-sama Pak, kalau begitu saya permisi."
"Iya dok."
Setelah dokter wanita itu pergi Ali dan Aska buru-buru masuk ke dalam, ia tersenyum lebar saat melihat istrinya sudah sadar.
Ali langsung memeluk istrinya dengan sangat erat sambil mengecup kening istrinya berkali-kali. Sedangkan Kinanti yang di peluk suaminya secara tiba-tiba, ia mengerutkan keningnya karena bingung.
Tadi saat Kinanti sadar dokter yang memriksanya memang lebih dulu melangkahkan kaki keluar hingga membuat ia tidak tau apa-apa kenapa suaminya terlihat sangat bahagia.
"Mas itu seperti habis mendapatkan berlian saja, Jamila heran sama Mas?"
"Bahkan ini sangat berharga dari berlian Jamila."
Aska yang melihat adegan itu ia tersenyum lebar, di sisi lain hatinya sangat sedih karena Anisa, tapi di sisi lain lagi hatinya sangat bahagia saat tau kalau Kinanti hamil.
"Coba bilang Mas memang mendapatkan apa?"
Kinanti bertanya sambil melepaskan pelukannya.
"Sebentar lagi Mas akan mendapatkan gelar Ayah."
"Maksud Mas?"
Kinanti bertanya dengan raut wajah bingung saat melihat wajah girang dari suaminya.
"Jamila sedang hamil."
"Serius Jamila hamil Mas?!"
"Iya Jamila."
__ADS_1