Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 93 Donor Darah


__ADS_3

Setelah kejadian kecelakaan tadi Aska membawa Anisa ke rumah sakit terdekat, ia juga sudah menelpon Ali untuk segera datang ke rumah sakit karena Anisa kecelakaan.


Sedangkan sekarang Aska sedang mondar-mandir tidak jelas sambil menunggu hasil pemriksaan dari dokter.


"Kenapa Bunda harus melakukan ini untuk Aska? Kenapa Bunda bisa nyelip secepat kilat dari Aska?" batin Aska


Sebenarnya Aska sendiri sangat bingung karena Anisa bisa menyelip mobilnya. Tidak lama dokter keluar dari ruang rawat Anisa.


"Apa anda keluarganya?"


"Iya saya putranya dok, apa yang terjadi pada Bunda?"


Baru juga Aska bertanya seperti itu Ali dan istrinya sudah datang.


"Apa yang terjadi pada Bunda Kak?!"


Ali bertanya sambil berjalan dengan tergesah-gesah, kalau saja ia tidak ingat membawa istrinya, mungkin dari tadi ia sudah lari saat masuk ke dalam rumah sakit.


"Kakak belum tau, ini Kakak baru mau mendengarkan penjelasan dari dokter."


Aska menjawab pertanyaan dari adiknya sambil melihat ke arah adiknya. Ali dan istrinya sampai di samping Kakaknya.


"Apa yang terjadi pada Bunda dok?"


"Bu Anisa sangat kritis, dan dia kehabisan banyak darah, kebetulan setok darah di rumah sakit sedang kosong, jadi saya sarankan untuk anggota keluarganya yang mendonorkan darah."


"Memang golongan darah Bunda apa dok?"


"Golongan darah bu Anisa AB+."


"Golongan darah saya O+ dok, kalau begitu saya telpon Kakek saya dulu."


"Iya silahkan Pak."


Ali dengan tangan gemetar ia buru-buru mengambil ponselnya untuk menelpon Kakeknya, tapi belum sempat Ali menghubungi Kakeknya, Kakaknya sudah mencekal tangannya.


"Kebetulan golongan darah Kakak juga AB+, jadi biar Kakak saja yang akan mendonorkan darahnya."


"Kakak yakin golongan darah Kakak AB+?"


Ali tau Lusi memiliki golongan darah yang sama dengan ia saat kecelakaan dulu, ia pernah mendonorkan darahnya secara diam-diam untuk Lusi karena saat itu Ayahnya juga terluka, ia Lusi dan Ayahnya memiliki golongan darah yang sama, tapi ia bingung kenapa Kakaknya memiliki golongan darah yang sama seperti Bundanya.


"Iya jelaslah Kakak yakin, orang Kakak tau, dok biar saya yang mendonorkan darahnya untuk Bunda."


"Baik Pak, mari ikut saya."

__ADS_1


"Iya, dek Kakak masuk dulu."


"Iya Kak."


Setelah Aska masuk ke dalam ruangan Anisa, Ali langsung mengirim pesan pada Kakeknya untuk datang ke rumah sakit, tapi ia yakin kalau berita Bundanya kecelakaan sudah tersebar di media karena tadi juga ia sudah melihat di internet kalau Kanaya Putri kecelakaan.


Bahkan yang mengunggah juga sangat jelas dengan video yang di ambil dari Cctv jalan, yang melihatkan Bundanya sedang mengejar mobil Kakanya, dan bahkan Bundanya dengan sengaja menabrakan diri hanya untuk melindungi Kakaknya.


Ali tidak tau mereka berdua memiliki masalah apa hingga mereka berdua menjadi kejar-kejaran, ia tau kalau Bundanya ingin melindungi Kakaknya, hingga Bundanya membahayakan nyawanya sendiri, sedangkan Kakaknya hanya keningnya yang luka hingga mengeluarkan darah, mungkin kepala Kakaknya terbentur ke setir mobil.


"Mas ayo duduk dulu."


Kinanti menuntun suaminya untuk duduk, lalu ia menarik suaminya dalam pelukannya, ia bisa merasakan tubuh suaminya gemetar.


"Tenangkan diri Mas, jangan lupa beristighfar, kata Mas juga Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hambanya."


Kinanti mencoba mengingatkan suaminya dengan ucapan yang sering suaminya ucapkan, sambil sesekali air matanya juga keluar, ia merasa sangat sedih saat mendengar ibu mertuanya kecelakaan, dan kesedihannya bertambah saat melihat tubuh suaminya gemetar sambil sesekali meneteskan air mata.


Ali hanya menganggukan kepalanya saat mendengar nasehat dari istrinya, ada rasa haru saat istrinya berusa bersikap dewasa, ia belum pernah istrinya bersikap dewasa seperti sekarang.


"Ya Allah, sembuhkan Bunda, hamba mohon agar Bunda bisa melewati masa kritisnya, karena hanya kepadamu hamba meminta pertolonganmu, amin ya rabbalalamin ." batin Ali


Ali hanya berpikir tentang Bundanya hingga ia tidak memikirkan kenapa golongan darah Kakaknya memiliki golongan darah seperti Bundanya, sedangkan ia yang putra kandung dari Bundanya memiliki golongan O+ seperti Ayahnya dan Lusi.


"Nak."


Kenan memanggil putranya yang dalam pelukan menantunya. Ali langsung melepaskan pelukan dari istrinya, ia langsung melihat ke sumber suara.


"Ayah."


Kenan tersenyum samar saat putra ke duanya mau memanggil ia dengan panggilan Ayah, ia sudah lama mengharapkan putra ke duanya memanggilnya


Ali langsung menyalami tangan Ayahnya, ia sedang tidak ingin berdebat, hatinya sangat hancur saat tau Bundanya kritis, jadi ia memutuskan untuk berdamai terlebih dahulu.


Kenan yang mendapat respon baik dari putra ke duanya, ia langsung memeluk putra ke duanya.


"Bagai mana ke adaan Kakakmu dan Bu Kanaya?"


"Kakak hanya luka kepala, mungkin karena terbentur stir, dan sekarang Kakak sedang mendonorkan darahnya untuk Bunda."


Ali juga membalas pelukan dari Ayahnya, pelukan yang sudah lama tidak pernah Ali rasakan lagi semenjak ke dua orang tuanya memutuskan untuk berpisah.


"Bunda kamu kenapa?"


Kenan bertanya dengan raut wajah terkejut saat mendengar jawaban dari putra ke duanya.

__ADS_1


"Bunda kehabisan banyak darah, dan sangat kritis, Ali minta do'anya dari Ayah agar Bunda baik-baik saja."


"Iya nak, pasti Ayah do'a'kan agar Bundamu segera melewati masa kritisnya."


Walau pun begitu Kenan masih bingung kenapa mantan istrinya bisa kehabisan darah dan kritis, dan parahnya putra pertamanya memiliki darah yang sama dengan mantan istrinya.


Seharusnya putra pertamanya memiliki darah O+ bukan AB+ karena Kenan sudah tau kalau Anisa memiliki golongan darah AB+.


"Sebenarnya Bundamu kenapa bisa seperti itu nak?"


Kenan bertanya sambil melepaskan pelukannya dan menghapus air mata putranya, ini baru pertama kalinya ia melihat putra ke duanya menangis setelah ia memutuskan berpisah dengan Anisa.


"Bunda kecelakaan."


"Jangan bilang kalau yang menyelip mobil Aska agar Aska tidak tertabrak itu Anisa?"


"Iya Ayah."


"Jadi Kanaya itu Anisa?!"


"Iya Ayah."


"Aska sudah tau hal itu?"


"Sudah tau Ayah."


Kenan menghela napas berat, ia masih bingung kenapa Aska memiliki darah yang sama dengan Anisa dan sekarang ia mengetahui kenyataan besar tentang putra pertamanya yang ternyata mencintai Anisa mantan istrinya sendiri.


Kenan tidak pernah berpikir sedikit pun, ia merasa seperti mimpi saat mengetahui kalau putranya mencinta Anisa, bahkan ia sendiri masih mencintai Anisa.


"Ayah, bagai mana Kak Aska memilki golingan darah AB+? Bukan'kah harusnya O+?"


Akhirnya pertanyaan itu terucap juga dari mulut Ali, ia takut kalau ternyata Aska juga putra ari Bundanya bukan putra dari Lusi.


"Aska sama dengan Lusi nak."


Kenan mencoba berbohong walau pun tau kalau istrinya memiliki golongan darah O+.


"Tante memiliki golongan darah O+ Ayah, apa Ayah tidak tau atau Ayah mencoba membohongi Ali?"


"Bagai mana kamu tau kalau Lusi memiliki golongan darah O+?"


Kenan bertanya dengan raut terkejut.


"Ali pernah menolong Tante 9 tahun yang lalu saat Ayah mengalami kecelakaan mobil, saat itu Ayah dan Kakak terluka, sedangkan Tante Lusi lukanya parah, dia banyak kehabisan darah, darah di rumah sakit sedang kosong, jadi Ali mendonorkan darah secara diam-diam untuk Tante."

__ADS_1


__ADS_2