Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 74 Aska pulang


__ADS_3

Aska pulang tetap dengan perasaan yang tidak nyaman, ia masih saja memikirkan Anisa hingga ia sampai ke rumah yang langsung di sambut dengan pelukan hangat oleh Mamanya.


"Akhirnya kamu pulang juga nak."


Lusi berbicara sambil memeluk erat putranya, ia sangat merindukan putranya karena sudah satu minggu ini putranya tidak pernah mengangkat telponnya atau membalas pesannya, tapi pelukan itu sama sekali tidak di balas oleh putranya.


Putranya hanya diam dengan tangan yang lurus dan tidak satu kata pun yang keluar dari mulut putranya hingga membuat Lusi menghela napas berat, ia tidak menyangka kalau putranya akan sedingin seperti sekarang, yang dulunya selalu peduli dan hangat, tapi sekarang begitu dingin.


"Kamu kenapa nak?"


Lusi bertanya sambil melepaskan pelukannya, dan tatapannya begitu sendu saat putranya menatap ia tanpa ekspresi, ia tidak menyangka kalau putranya akan seperti sekarang.


Aska masih diam membisu saat Mamanya bertanya untuk yang ke dua kalinya, ia hanya menatap mata Mamanya, ia tau kalau Mamanya tidak baik-baik saja, tapi ia sangat kecewa saat tau pakta yang sebenarnya, kalau saja yang memfitnah Anisa bukan Mama kandungnya sendiri mungkin ia sudah memberikan pelajaran untuk wanita yang di depannya.


Selama ini Aska membenci Anisa tanpa alasan karena Mamanya, bukan hanya itu selama ini ia juga membenci adiknya yang tidak bersalah, semua itu karena Mamanya yang sangat egois.


"Kamu masih marah sama Mama, nak?"


Lusi bisa melihat raut wajah kecewa dari putranya, ia tidak menyangka kalau putranya masih marah.


"Mama minta maaf untuk masalah ini nak, Mama tidak memiliki pilihan lain."


"Pilihan dengan menghancurkan semua impian Bunda? Apa Mama masih pantas Aska maafkan setelah Mama melakukan kejahatan yang sangat besar pada Bunda?!"

__ADS_1


Jantung Lusi mendadak berhenti saat mendengar putranya memanggil Anisa dengan panggilan Bunda, ia tidak menyangka kalau Anisa mudah mengisi hati putranya sebagai seorang Bunda, ini lah yang ia takutkan jika kebenaran itu terungkap, ia akan di sisihkan oleh putranya sendiri.


"Sejak kapan kamu memanggil Anisa dengan panggilan Bunda? Apa pantas wanita itu di panggil Bunda olehmu? Setelah Anisa yang merusak rumah tangga orang tuamu?!


"Cukup Ma!!! Berhenti Mama bilang Bunda yang merusak rumah tangga Mama! Bunda wanita baik-baik, jadi berhenti Mama bilang Bunda wanita jahat, Aska bisa menilai dengan mata Aska sendiri kalau Bunda wanita baik-baik!"


"Kamu membentak Mama cuma karena Anisa?! Kamu tau Papa kamu meminta cerai tiga hari yang lalu, itu pasti karena Anisa! Anisa yang merusak rumah tangga Mama!"


Mata Lusi memerah, ia tidak menyangka kalau sekarang putranya membela orang luar dari pada Mama kandungnya sendiri.


"Bagus kalau Papa meminta cerai, itu karma yang harus Mama terima! Mama harusnya sadar ini semua karena permainan gila Mama hingga membuat Papa pergi dari rumah, jadi Mama jangan pernah menyalahkan Bunda karena masalah Mama, seharusnya Mama merenungi kesalahan Mama bukan menyalahkan Bunda!"


Aska menghela napas kasar saat tau Papanya meminta bercerai, kalau sampai bercerai saingan ia semakin banyak untuk mendapatkan Anisa, masalah Yana saja ia belum tau jawabannya dan sekarang menambah saingan baru lagi.


"Sudah Aska bilang itu karma Mama! Selama ini Mama menyakiti Bunda, bahkan perpisahan Mama dan Papa tidak sebanding dengan rasa sakit yang Bunda rasakan selama ini! Mama wanita yang paling jahat!"


"Kamu bilang Mama jahat?! Jahatan mana Anisa dan Mama? Anisa melantarkan putranya sendiri, sedangkan Mama tidak pernah melantarkan putra Mama sendiri!"


"Cukup Mama! Apa Mama tau karena Mama Bunda harus mengalami kecelakaan, karena Mama Bunda kom'a selama beberapa bulan, karena Mama Bunda hilang ingatan, karena Mama Bunda harus oprasi, karena Mama Ali tidak mendapatkan kasih sayang dari Papa, karena Mama Ali tidak mendapat kasih sayang dari Bundanya, karena Mama Ali tidak mendapatkan kasih sayang dari Aska, semuanya karena Mama!!"


Setelah mengatakan itu Aska langsung pergi ke kamarnya, rasa kecewanya semakin besar setelah bertemu dengan orang tuanya lagi, ia pikir ia bisa menahan emosinya, ternyata tidak bisa saat bertemu dengan Mamanya.


Bukan karena Anisa menjadi wanita yang ia cintai, tapi dari awal memang sudah kecewa saat sudah tau segalanya. Setelah di kamar Aska duduk di atas ranjang sambil memutar otak, ia harus mencari pekerjaan tanpa menggunakan uang dari orang tuanya, ia tidak mau memakai uang dari orang tuanya karena itu bukan uang miliknya, itu uang milik Anisa.

__ADS_1


Aska akan buktikan kalau ia bisa berdiri tanpa bantuan dari siapa pun seperti adiknya yang selalu berdiri sendiri tanpa bantuan siapa pun.


Tiba-tiba saja Aska mendengar suara tangisan Mamanya yang begitu menghayat membuat ia menghela napas kasar.


"Kenapa Mama harus menangis, seolah-olah hanya Mama yang paling terluka dari masalah ini, bukan'kah yang paling terluka dari masalah ini Bunda dan Ali, mereka berdua hanya lah korban, seharusnya Mama tidak pantas menangis, apa lagi tanpa menyadari kesalahannya sendiri. Kenapa aku harus terlahir dari wanita jahat seperti Mama, rasanya sangat malu jika mengingat masa laluku yang menghina Bunda habis-habisan sebagai pelakor." batin Aska


Aska memang sangat kasian pada Mamanya yang sedang menangis, tapi rasa kecewanya lebih besar membuat ia hanya duduk diam di atas ranjang.


Aska langsung membuka ponselnya, ia langsung membuka instagram Anisa yang bernama Kanaya Putri, membuat ia tersenyum saat melihat foto-foto Anisa di sana.


Walau pun di dalam foto instagram Anisa semuanya memakai cadar, tapi mampu membuat Aska tersenyum bahagia.


"Aku tidak menyangka akan mencintai wanita yang lebih tua 15 tahun dariku, iya walau pun wajah Bunda dan kulit tangan Bunda masih terlihat seperti wanita muda, tapi tetap saja umur Bunda memang sudah 44 tahun."


Aska melihat video Anisa yang sedang mengiklankan parfum membuat ia tersenyum lebar, ia tidak menyangka kalau Anisa ternyata selama ini tidak menghilang, melainkan mengganti identitas sebagai Kanaya Putri.


"Bunda, walau pun Bunda tidak membalas perbuatan Mama, tapi sekarang Mama sudah mendapat karmanya, Papa sekarang ingin berpisah sama Mama, walau pun Aska putra kandung Mama, tapi Aska tidak akan membela orang yang salah, Mama selama ini sudah menyakiti Bunda dan Ali, bahkan menurut Aska rasa sakit Mama tidak sebanding seperti rasa sakit yang kalian alami. Semoga mulai sekarang dan seterusnya Bunda selalu bahagia."


Aska tidak mempedulikan Mamanya yang sedang menangis, ia sibuk berbicara sendiri sambil melihat foto-foto dan video Anisa yang membuat hatinya lebih tenang.


Aska langsung meletakan ponselnya, lalu ia langsung membaringkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamarnya dan ingatannya mengingat Anisa saat ia ikut perjalanan bisnis.


Bahkan Aska juga ikut menemui kelien Anisa membuat ia tersenyum lebar saat mengingat suara Anisa lembut, tapi terdengar tegas, ia pikir Anisa itu bukan wanita tegas, tapi ternyata saat berkaitan dengan bisnis Anisa menjadi wanita yang sangat tegas.

__ADS_1


"Aku bisa gila terus mengingat Bunda." batin Aska


__ADS_2