
Seumur hidup Kinanti ia belum pernah memiliki kata menyesal, tapi malam ini ia merasa sangat menyesal telah berciuman dengan lelaki yang bukan suaminya.
Sedangkan suaminya sangat menjaga dirinya sendiri, bukan hanya ciuman, tapi suaminya menjaga sentuhan dari wanita yang bukan makhromnya.
Bahkan Kinanti tidak mendengar ungkapan cinta dari suaminya karena rasa menyesal yang sangat dalam.
Ali menghela napas berat saat tidak mendengar jawaban dari ungkapan cintanya, ia tidak menyangka kalau perkara ciuman itu akan membuat istrinya menangis.
"Tolong jangan diam saja Jamila, Mas mengungkapkan cinta bukan semata-mata karena nafsu, tapi Mas memang sudah mencintai kamu."
Kinanti yang baru sadar dengan ucapan suaminya, ia langsung mendongkakan kepalanya untuk menatap mata suaminya.
"Yakin Mas tidak menyesal mencintai Jamila? Ciuman ini bukan yang pertama untuk Jamila. Jamila memang sudah sering melakukannya bersama Aska. Jamila jujur karena Jamila tidak mau Mas mendengar tentang ini dari orang lain. Maafkan Jamila Mas, Jamila tidak bisa mejaga diri seperti Mas. Jamila merasa tidak pantas untuk bersama Mas yang begitu menjaga diri Mas."
"Mas tetap akan menerima kamu Jamila, itu hanya sebatas ciuman, bahkan kalau pun Mas menikahi wanita malam, Mas tidak akan ada kata menyesal karena mungkin Allah memberikan jodoh Mas dengannya. Bagi Mas hal itu tidak penting, yang terpenting kita harus belajar membina rumah tangga dengan baik."
Ali langsung mengecup kening istrinya sambil tersenyum lebar, ia memang tidak pernah menyesal, ia selalu percaya kalau Kinanti adalah jodohnya.
Walau pun usia pernikahanya sudah 11 hari, tapi belum ada kemajuan, namun Ali akan selalu bersabar sampai istrinya mengatakan kalau istrinya sudah siap melakukan kewajibannya.
Ali langsung menutup laptopnya, lalu langsung menggendong istrinya ke arah ranjang, ia langsung menurunkan istrinya di atas ranjang.
Kinanti membaringkan tubuhnya sambil tersenyum lebar, ia sangat bahagia saat mendengar jawaban dari suaminya. Ali juga ikut membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil memeluk istrinya.
Begitu pun dengan Kinanti yang membalas pelukan dari suaminya, walau pun sebenarnya ia kecewa karena suaminya menghentikan kegiatannya.
Apa lagi Kinanti sudah terangsang dengan permainan suaminya, tapi suaminya mengakhiri kegiatanya dan ia sama sekali tidak berani untuk meminta.
Kinanti sangat gengsi karena lantaran sering mengatai suaminya anak kecil, tapi anak kecil seperti suaminya mampu membuat ia lebih bergairah dari pada berciuman bersama Aska.
"Jamila, kamu yakin masih mau menjadi artis?"
"Kenapa Mas baru juga sehari sudah mau berhenti? Bukan'kah wajar kalau Jamila mendapatkan cibiran dari mereka? Apa lagi memang benar kalau Jamila artis pendatang baru, tapi Jamila sudah menjadi pemeran utama, jelas membuat banya orang yang akan mencibir."
"Mas takut kamu kenapa-napa."
__ADS_1
Ali bukan sekedar bicara, ia memang takut istrinya kenapa-kenapa karena ada banyak yang tidak suka pada istrinya, ada juga yang iri pada istrinya, tentu membuat ia harus waspada.
"Jamila tau Mas, tapi ini mimpi Jamila, dan terima kasih karena selalu ada di samping Jamila saat Jamila kesulitan. Jamila juga minta maaf karena Jamila Mas harus berhenti menjadi pengacara."
"Tidak masalah Jamila, selama kamu bahagia Mas sangat bahagia."
Ali langsung mengecup kening istrinya sekilas.
"Seandainya Mas memiliki kebohongan, apa Jamila akan memaafkan Mas?"
Pertanyaan suaminya mampu membuat Kinanti berpikir buruk tentang suamunya, ia yakin kalau ini ada kaitanya dengan Ning Alisah membuat ia menghela napas berat dan hanya diam.
Kinanti selalu merasa kalau memiliki Ali sebagai suaninya sangat beruntung, tapi pertanyaan suaminya mampu membuat ia memiliki rasa takut, ia takut kalau suatu saat suaminya menerima Ning Alisah.
"Kenapa hanya diam Jamila?"
Ali bertanya sambil mengelus kepala istrinya.
"Apa ini ada kaitannya dengan masalah percintaan Mas bersama wanita lain?"
"Astagfrullah, kenapa Jamila selalu memiliki pikiran seudzon?"
Dret... Dret...
Ali langsung duduk, ia langsung mengambil ponselnya yang ada di meja, lalu langsung mengangkat telpon dari bawahannya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Mas, foto itu memang di sengaja untuk merusak karir istri Mas, dan menggagalkan pernikahannya bersama Mas Aska, untuk saat ini yang menujukan bukti kuat terangka adalah yang memiliki nama lengkap Lisa Arseta, walau pun mereka berdua bersahabat, tapi Lisa sangat berbeda memperlakukan istri Mas lewat cctv yang saya lihat."
"Baik, jangan menuduh dulu, bapak juga tolong pantau gerak-gerik Lisa akhir-akhir ini dan rekam jika sesuatu itu penting, saya mau nama baik istri saya kembali seperti semula."
"Baik Mas, akan bapak urus. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam."
Setelah sambungan telponnya terputus Ali langsung meletakan ponselnya di meja lagi lalu langsung membaringkan tubuhnya lagi sambil memeluk istrinya.
"Jamila, ingat iya di masa depan Jamila jangan percaya dengan siapa pun, biasanya orang terdekat kita yang akan berhianat. Jamila juga jangan terlalu percaya sama Mas, percaya boleh, tapi yang paling harus Jamila percayai adalah Allah dan Jamila sendiri."
"Jamila mengerti Mas, tapi Jamila selalu percaya kalau Mas tidak akan menyakiti Jamila."
Sebenarnya ucapan Kinanti hanya sebuah ucapan, ia memang tidak benar-benar percaya pada suaminya, apa lagi banyak yang menyukai suaminya, sekebal apa pun iman suaminya, ia takut kalau suatu saat suaminya akan khilaf.
Kinanti memang belum mengenal betul sifat suaminya, apa lagi di kalangan pesantrenan banyak ustadz atau kiai yang berpoligami, jelas ia tidak begitu percaya pada suaminya, walau pun suaminya memiliki iman.
Mungkin untuk sekarang suaminya masin polos dengan hal percintaan karena usia suaminya baru saja 22 tahun, tapi suatu saat belum tentu suaminya akan tetap menjadi lelaki polos. Kinanti langsung mencium bibir suaminya sekilas.
"Selamat tidur Mas."
Sebenarnya Kinanti ingin mencium suaminya yang lebih, bukan kecupan singkat. Apa lagi saat merasakan lembutnya bibir suaminya membuat Kinanti ingin melakukannya lagi dan lagi.
Ali tersenyum lebar, ia langsung mencium bibir istrinya dan sesekali menghisap bibir istrinya membuat istrinya membuka mulutnya.
Saat istrinya membuka mulutnya Ali langsung menjelajahi rongga mulut istrinya, tapi ia juga mencoba mengontrol birahinya agar tidak melakukan yang lebih.
Ali berharap kalau sering melakukan berciuman, istrinya lambat laun membuka hati untuknya.
Kinanti juga membalas ciuman dari suaminya, sesekali ia tersenyum saat suaminya tidak bisa mengimbangi ciumannya yang terkesan kalau suaminya memang masih terlalu polos.
Mereka berciuman sampai 5 menit hingga mereka menghentikan ciumannya karena kehabisan napas. Ali mengusap bibir istrinya dengan ibu jarinya sambil tersenyum lebar, ia sangat bahagia saat istrinya mau kembalas ciumannya.
Kinanti juga mengusap bibir suaminya dengan ibu jarinya sambil tersenyum bahagia, matanya berbinar layaknya menemukan emas batangan.
"Boleh kalau Jamila meminta ini setiap hari? Jujur saja bibir Mas sangat lembut dan manis membuat Jamila candu, Jamila ingin selalu melakukannya setiap hari."
Kinanti bertanya sambil mengusap-usap bibir suaminya.
"Dari ujung rambut hingga ujung kaki Mas milik Jamila, begitu pun dengan Jamila, dari ujung rambut sampai ujung kaki Jamila milik Mas, jadi Jamila jangan meminta pada Mas, lakukan yang Jamila inginkan."
__ADS_1
"Terima kasih Mas."
"Jangan berterima kasih karena Mas milik Jamila."