Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 59 Cibiran


__ADS_3

Setelah sarapan Ali bersama istrinya langsung pergi ke Alfero Grup, banyak yang membicarakan mereka berdua karena libur lebih dari masa cuti dari pagi hingga sekarang.


"Enak banget baru juga jadi artis baru bisa seenaknya."


"Iya baru juga jadi artis baru sudah sombong."


"Aku heran kenapa Pak Samsul mempekerjakan mereka semua, apa lagi sampai menjadi pemain utama."


"Menjadi pemain utama, tapi tidak bertanggung jawab."


Masih banyak lagi kata-kata lainnya yang membuat Kinanti sangat kesal, ia ingin sekali merobek-robek mulut mereka yang seenaknya membicarakan ia dan suaminya.


Ali yang tau istrinya sedang marah, ia langsung mengecup kening istrinya sekilas sambil tersenyum lebar, ia sudah yakin kalau hal ini akan terjadi.


"Tahan emosimu Jamila, lebih baik Jamila beristighfar."


"Mereka itu sangat kurang ajar Mas, rasanya Jamila ingin mencincang merka hidup-hidup!"


"Astagfrullah Jamila."


Ali beristghfar sambil mengelus dadanya sendiri, istrinya itu selalu memiliki ucapan-ucapan aneh yang membuatnya selalu saja beristighfar.


"Ih Mas, Jamila bukan setan, kenapa Mas beristighfar?"


Ali langsung menuntun tangan istrinya untuk duduk di pangkuannya, lalu langsung mengecup ke dua pipi istrinya sekilas.


"Memangnya yang mengatai Jamila setan siapa? Mana ada setan secantik Jamila? Nanti para manusia akan jatuh cinta pada setan?"


"Ih Mas ada-ada saja, jangan lupa Mas ingat tempat."


Kinanti merasa malu saat suaminya menarik ia dalam pangkuannya lalu mencium pipinya, walau pun terlihat mesra, tapi ia malu, apa lagi yang duduk di ruangan itu bukan hanya para artis, Pak Samsul juga duduk tidak jauh dari sana.


"Semalam Jamila juga tidak ingat tempat, sudah menjadi kebiasan Jamila yang selalu nyosor duluan."


Kinanti langsung mengigit lengan suaminya, walau pun ucapan dari suaminya sangat pelan, tapi ia yakin kalau Reyhan mendengarnya karena Reyhan duduk tidak jauh dari sana.


"Kak Ali, romantisnya jangan di tempat umum, aku jadi ngiri."


Setelah itu Reyhan menutup mulutnya, ia lupa kalau Kakak sepupunya belum menceritakan identitasnya pada Kinanti. Ali tersenyum lebar saat melihat Reyhan menutup mulutnya.

__ADS_1


"Jamila sudah tau siapa Kakak, kamu bisa memanggilku dengan panggilan Kakak."


"Syukurlah kalau sudah tau, setidaknya Kinanti tidak akan cemburu kalau ada netizen yang mencocok-cocokan Kak Ali dan Jamilah."


Gosip itu memang masih panas di kalangan internet tentang Ali yang lebih cocok bersama Jamilah dari pada Kinanti. Ali dan Jamilah memang memiliki wajah yang sangat mirip dan tutur kata yang sama-sama lembut, itu lah membuat netizen mengatakan kalau Ali lebih cocok bersama Jamilah.


"Iya karena perkara netizen istriku jadi cemburu."


Ali berbicara sambil tertawa kecil saat mengingat kejadian di mana istrinya cemburu tidak jelas karena perkara netizen.


"Wajar'kan Rey kalau aku cemburu dengan suamiku sendiri? Apa lagi suamiku ini sempurna luar dalam. Belum lagi banyak para artis yang sudah menikah, tapi saat di cocokan oleh netizen rumah tangganya berantakan, lalu mereka memiliki hubungan yang di jodohkan oleh netizen."


"Iya jelas wajar lah Kin kalau cemburu sama suami sendiri, eh lupa nama panggilanmu itu Kak Jamila dari Kak Ali."


Walau pun usianya sama, tapi ia harus memanggil Kinanti dengan panggilan Kakak, karena menikah dengan Kakak sepupunya.


"Berasa tua banget aku di panggil Kakak, tapi memang aku tua."


Reyhan hanya menanggapinya dengan senyuman, ia tidak menyangka kalau Kakaknya betah dengan Kinanti yang selalu banyak bicara.


"Kakak, hari ini pergi ke kantor Kakek?"


"Iya Kakak mau ke kantor Kakek hari ini, sekalian mau menginap di rumah mertua, soalnya tadi pagi Bunda juga pergi ke luar kota."


Ali sebenarnya merasa aneh kenapa Kakaknya seperti memiliki sesuatu tersembunyi, tapi ia tau kalau Kakaknya itu bukan benci pada Bundanya, tatapan yang ia lihat dari Kakaknya tatapan kagum dan suka, bagai mana pun juga ia seorang lelaki jelas ia paham hal seperti itu semenjak sudah menikah.


Namun Ali tidak ingin mempermasalahkan itu, ia yakin kalau Bundanya jauh lebih berpengalaman dengan hal itu, ia yakin Bundanya bisa menyikapi dengan baik.


"Kakak sudah bertemu dengan Bunda Anisa?"


Reyhan memang memanggil Anisa dengan panggilan Bunda, karena Anisa tidak mau di panggil Tante, katanya kalau Tante berasa seperti bukan keluarga kata Anisa.


"Sudah, saat ulang tahun Kakak kemarin, kamu sama Jamilah sudah tau iya kalau Kanaya Putri itu Bunda Kakak?"


"Iya Maaf Kak, Bunda selalu bilang kalau Bunda belum siap untuk bertemu Kakak, walau pun Kakek dan Nenek berkali-kali membujuk Bunda, tapi Bunda selalu takut bertemu Kakak, Bunda takut kalau Kakak membenci Bunda dan tidak ingin bertemu Bunda lagi, jadi selama ini Bunda hanya melihat Kakak dari kejauhan."


Reyhan menghela napas berat saat mengingat setiap kali ia memergoki Anisa sedang menatap putranya dari kejauhan saja, ia tau kalau Anisa sangat menyayangi putranya, tapi Anisa selalu takut dengan penolakan.


Namun sekarang Reyhan bisa bernapas lega karena mereka berdua sudah di pertemukan dan Kakak sepupunya juga tidak marah, ia tau kalau Kakak sepupunya memang selalu berpikir dewasa, walau pun dulu ia di tinggal pergi, tapi Kakak sepupunya masih tetap menerima Anisa.

__ADS_1


"Tidak perlu minta maaf, Kakak sudah tidak apa-apa."


Tidak lama Riana membawa makanan karena tadi pagi Kinanti memang hanya sarapan sedikit, ia malu saat ibu mertuanya terus saja menggodanya dengan membahas hal mesum.


"Ini makanan kalian."


Riana meletakan makanan yang di bawanya di meja.


"Riana, tolong temani istri saya makan, saya harus ke Pak Samsul, ada pekerjaan yang harus saya urus."


"Baik."


"Rey, Kakak tinggal dulu."


"Iya Kak, aku juga mau pergi makan."


Setelah mengatakan itu Reyhan langsung pergi dari sana. Ali langsung mengecup kening istrinya yang masih dalam pangkuannya.


"Mas mau ke ruangan Mas dulu bersama Pak Samsul, Jamila makan dengan Riana tidak apa-apa'kan?"


"Iya tidak apa-apa Mas."


Kinanti langsung turun dari pangkuan suaminya, ia langsung duduk di samping Riana sambil menatap ke pergian suaminya ke arah Pak Samsul.


"Ayo makan Kin."


"Iya."


Kinanti dan Riana langsung makan. Riana penasaran ada pekerjaan apa Ali menemui Pak Samsul, ap lagi terlihat jelas kalau Pak Samsul seperti sangat menghormati Ali.


"Kin, sebenarnya Ali ada keperluan apa dengan Pak Samsul?"


"Mana aku tau, mungkin Mas Ali mau minta maaf karena cuti lebih dari waktu yang di berikan Pak Samsul."


"Tapi aku merasa kalau Pak Samsul sangat menghormati Ali."


Kinanti tersenyum lebar di sela-sela kunyahannya, ia menengok ke kanan dan ke kiri yang memang sudah sepi.


"Ketahuan banget iya kalau Pak Samsul sangat menghormati Mas Ali?"

__ADS_1


"Ya iya Kin, ketahuan banget dari jalannya yang membungkuk di belakang Ali."


"Sepertinya aku tidak perlu menyembunyikan identitas Mas Ali padamu, Mas Ali pemilik Alfero Grup."


__ADS_2