Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 102 Aska ingin menikahi Anisa


__ADS_3

Malam harinya seperti biasa mereka berkumpul di ruang rawat Anisa, ruangan VIP yang menyediakan dua ranjang, satu ranjang untuk Anisa dan satu ranjang kosong, termasuk ada tiga sofa panjang di ruangan itu.


Tiba-tiba saja Kinanti pingsan saat duduk di samping suaminya.


"Astagfrullah Jamila!"


Ali berteriak dengan perasaan terkejut saat melihat istrinya pingsan.


"Jamila, bangun."


Ali mencoba membangunkan istrinya sambil menepuk pelan pipi istrinya, tapi istrinya sama sekali tidak merespon, ia masih memejamkan mata.


"Bawa ke dokter untuk di periksa Ali."


"Iya Kak."


Ali langsung membawa istrinya ke luar untuk di periksa oleh dokter, sedangkan di ruang rawat Anisa hanya ada Isabel, Morgan dan Aska.


"Kasihan Nak Kinanti, pasti Nak Kinanti kecapean."


"Iya itu bu."


Aska membenarkan ucapan dari Isabel, ia sendiri juga memang sangat capek karena terus saja duduk di kursi kecil samping Anisa, lagi pula kalau ia duduk di sofa panjang dan mencoba untuk tidur, ia sama sekali tidak bisa tidur.


Setiap kali Aska memejamkan mata, ingatannya selalu mengingat teragedi kecelakaan Anisa, hingga ia memutuskan untuk tidak tidur karena tidur juga percuma, ia merasa sangat terganggu.


"Nak Aska, kamu juga sudah satu minggu tidak tidur, nanti kamu sakit nak, lebih baik kamu istirahat. Lagi pula di sini bukan hanya ada ibu, tapi juga di sini ada Bapak."


"Aska tidak bisa tidur Bu, setiap kali Aska berusa tidur, Aska selalu melihat tragedi kecelakaan Anisa dalam ingatan Aska."

__ADS_1


Isabel dan suaminya menghela napas berat saat mendengar jawaban dari Aska, mereka yakin kalau Aska sangat menderita selama seminggu ini.


"Nak Aska, dari pada kamu menunggu putri ibu sadar, lebih baik kamu cari wanita lain nak, ibu takut kalau Anisa lama sadarnya, tolong hapus perasaan kamu pada Anisa, tolong jangan membuang-buang waktu untuk menunggu Anisa."


Isabel takut kalau putrinya kom'a seperti dulu lagi berbulan-bulan karena teragedi kecelakaaan, ia tidak ingin membuat Aska membuang-buang waktunya, ia ingin melihat Aska bahagia.


"Aska tidak bisa bu, walau pun Anisa lama sadarnya, Aska akan menunggu Anisa hingga sadar, tolong jangan suruh Aska untuk menghapus rasa cinta Aska pada Anisa. Aska hanya akan mencintai Anisa."


Aska berbicara dengan tatapan memohon pada Isabel, ia tidak peduli kapan Anisa sadar, yang jelas ia akan menunggu Anisa dan mengatakan kalau sampai kapan pun ia akan tetap mencintai Anisa.


"Apa karena Anisa telah menolongmu nak Aska hingga kamu tidak ingin menghapus rasa cintamu pada putri ibu? Kalau kamu berpikir seperti itu, kamu sangat salah nak Aska, anggap saja kalau kamu di tolong oleh Allah dan Anisa hanya sebuah pelantara. Jujur saja ibu tidak mau kalau sampai kamu menyiksa dirimu karena hal itu."


"Tidak bu, Aska sungguh-sungguh mencintai Anisa, Aska dari awal cinta dengan Anisa, Aska pernah kecewa saat Anisa mengatakan kalau Aska tidak bisa menikahinya karena Anisa pernah di nikahi Papa, tapi sekarang pakta itu terungkap kalau Aska bukan anak kandung Papa, itu artinya Aska bisa menikahi Anisa. Aska hanya ingin mengatakan kalau sampai kapan pun Aska akan mencintai Anisa bu, jadi tolong ibu dan Bapak, jangan suruh Aska untuk membuang rasa cinta Aska."


Aska langsung berjalan ke arah Isabel, ia langsung berlutut di depan Isabel sambil meneteskan air mata.


"Ayo bangun nak, kamu jangan berlutut seperti itu."


Isabel langsung membantu membangunkan Aska sambil menangis, ia menghela napas berat saat melihat keseriusan Aska.


"Bu, kalau Anisa tidak sadar juga, Aska mohon biarkan Aska menikahinya, biarkan Aska yang akan merawatnya."


Sebenarnya ucapan itu ingin dari kemarin Aska ucapkan, ia tidak bisa hanya melihat Anisa yang terbaring di ranjang rumah sakit.


Aska ingin menyentuh tangan Anisa, ia juga ingin mengatakan pada Anisa kalau sampai kapan pun ia akan menggenggam erat tangan Anisa sampai sama-sama menutup mata.


Bukan hanya Isabel yang terkejut dengan permintaan dari Aska, tapi suaminya juga sangat terkejut saat mendengar permintaan dari Aska.


"Bu, Aska tau kalau Aska sangat lancang karena melamar putri ibu di rumah sakit, tapi ini jujur dari hati Aska yang paling dalam, Aska ingin menikahi putri Ibu dan Bapak."

__ADS_1


"Nak Aska, kamu yakin masih berniat menikahi putri bapak dengan keadaan kom'a?"


Morgan bertanya dengan raut bingung, ia merasa seperti sedang berperan di sinetron saat wanita yang di cintainya kom'a lalu kekasihnya bertekad ingin menikahinya, ia pikir kejadian itu hanya ada di sinetron, tapi ternyata di dunia nyata juga ada, buktinya sekarang putrinya yang sedang kom'a, tapi di lamar oleh Aska.


Namun Morgan masih belum yakin menikahkan putrinya tanpa persetujuan dari putrinya, dulu saat putrinya di nikahi oleh Kenan, ia sama sekali tidak menjabat tangan calon menantunya untuk menikahkan putrinya karena ia kurang setuju, dan sekarang ia sangat setuju kalau putrinya bersama Aska, tapi keadaan putrinya kom'a.


Morgan takut kalau di nikahkan nanti putrinya tidak ingin menikah dengan Aska, tapi di sisi lain juga ia takut kalau putrinya tidak sadar dari kom'anya lalu Aska pergi mencari wanita lain dan membuat putrinya patah hati karena mencintai Aska.


Morgan merasa kau ia mengambil keputusan salah satu dari keputusan tadi, ia takut kalau keputusan itu ternyata salah.


"Aska yakin Pak, Aska mencintai putri bapak."


"Bapak sangat ragu karena keputusan itu sangat besar, kalian memang bisa menikah secara agama terlebih dahulu, tapi Bapak takut mengambil langkah yang salah karena putri bapak sedang kom'a."


Aska menganggukan kepalanya, ia tau kalau Morgan takut Anisa tidak mencintainya, tapi ia juga yakin kalau Anisa sadar ia akan kehilangan Anisa kalau tidak di nikahi sekarang.


Apa lagi Aska sangat ingat kalau Anisa mengatakan tidak ingin menikah dengannya, dan keputusan itu pasti sudah benar-benar dari hati Anisa.


"Kalau memang kamu serius dengan putri bapak, Bapak harus merundingkan dulu dengan keluarga lainnya, gima baiknya. Bapak juga sebenarnya tidak mau kalau kamu selalu berduaan di ruangan ini bersama Anisa dengan keadaan kamu yang bukan makhrom Anisa, karena bapak yang sebagai orang tua tentu akan ikut menanggung dosanya."


Memang saat seluruh keluarganya memiliki kesibukan atau Isabel dan Kinanti pergi sholat di luar, maka Aska yang akan mejaga Anisa.


Apa lagi dokter menyarankan agar Anisa tidak boleh di tinggal dengan kondisi Anisa yang sering kritis mendadak, jadi dokter bilang salah satu keluarganya untuk menunggu Anisa.


Tentu saja Morgan yang sebagai seorang Ayah, ia tidak mau kalau putrinya selalu berduaan, terlebih saat kecelakaan Aska sudah berani memeluk putrinya, ia takut kalau Aska juga diam-diam menggenggam tangan putrinya saat tidak ada orang.


"Walau pun kita berdua, tapi Aska tidak pernah memegang tangan Anisa sesuai seperti ucapan bapak, kalau Aska tidak boleh menyentuh Anisa."


"Iya bagus kalau begitu nak."

__ADS_1


__ADS_2