Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 79 Mall


__ADS_3

Setelah obrolan dengan Bundanya sekarang Ali sedang menyetir mobil untuk beli gamis ke mall, di dalam mobil hingga sekitar 15 menit tidak ada yang berbicara, ke duanya hanya diam membisu.


Sedangkan Kinanti diam saja karena kurang suka dengan ucapan yang di ucapkan oleh suaminya, yang mengatakan kalau ibu mertuanya bersama Aska suaminya akan kecewa, menurutnya jodoh itu tidak ada yang tau, tapi ia tidak menyangka kalau suaminya ta'at agama itu melarang perkara pernikahan, yang mungkin saja Aska memang jodoh dari ibu mertuanya.


"Mas."


"Iya Jamila."


Ali menjawab ucapan dari istrinya masih fokus ke kemudi, sedangkan pikirannya menjadi kacau setelah berbicara dengan Bundanya.


"Mas, tidak boleh berbicara masalah kecewa kalau Bunda benar sampai bersama Aska, kasihan Bunda, kalau Bunda jodohnya Aska bagai mana?"


Kinanti tetap memanggil Aska dengan panggilan Aska, walau pun suaminya sudah mengatakan untuk memanggil Aska dengan panggilan Kak Aska, tapi menurutnya sangat aneh.


Ali yang mendengar ucapan dari istrinya ia mendengus pelan sambil beristighfar di dalam hatinya.


"Jujur saja Mas tidak suka kalau Bunda menikah dengan Kak Aska, apa lagi Kak Aska itu anak tirinya, masa iya jadi suaminya."


"Iya, tapi jodoh itu tidak ada yang tau Mas, jadi Mas jangan bilang seperti itu pada Bunda, kasihan Bunda."


Ali menghela napas berat sambil beristighfar, apa ia berlebihan mengatakan hal itu pada Bundanya, sampai-sampai istrinya itu membela Bundanya.


Tidak terasa mobil itu sampai di mall, mereka berdua langsung turun dari mobil lalu langsung masuk ke dalam mall.


"Kak Kinanti boleh foto tidak?"


Salah satu dari ke lima Gadis muda itu bertanya pada Kinanti.


"Boleh."


"Kak boleh fotoin tidak?"


Gadis muda itu bertanya pada Ali sambil tersenyum lebar.


"Tentu saja boleh."


Ali langsung mengambil ponsel yang di berikan Gadis mudah yang bernama Cinta, ia juga dengan sengaja menyentuh tangan Ali, sontak Ali melepaskan genggaman ponsel Cinta, kalau tangan kirinya tidak sigap menangkap ponsel itu, mungkin ponsel itu sudah jatuh ke lanta.


Ali menggelengkan kepalanya sambil beristighfar, ini lah yang ia tidak suka jika ia terkenal sebagai artis, ia akan di sentuh oleh wanita lain.


Kinanti yang melihat situasi seperti itu ia ingin sekali memarahi Gadis muda yang dengan sengaja menyentuh tangan suaminya, apa lagi ia tau kalau suaminya mulai terlihat tidak nyaman saat di sentuh oleh wanita lain.

__ADS_1


"Ayo silahkan foto."


Ali berbicara sambil mengatur napasnya, lalu ia langsung mengambil berapa foto mereka yang berganti-ganti gaya, setelah itu langsung mengembalikan ponselnya.


"Ini ponselnya."


"Kak, boleh foto bersama Kaka juga tidak?"


"Maaf dek, saya sedang buru-buru mau beli gamis untuk istri saya, soalnya saya masih memiliki pekerjaan."


Ali menolak secara halus sambil menundukan kepalanya.


"Ayo Jamila."


"Iya Mas, bye!"


Kinanti berbicara sambil melambaikan tangan ke pada ke lima Gadis itu, lalu langsung merangkul tangan suaminya dan pergi dari hadapan mereka.


Ke lima Gadis muda itu hanya menatap ke pergian Ali dan istrinya sambil tersenyum lebar.


"Gila, Ali itu tampan banget iya di aslinya, aku dengar dari Kakak aku Ali itu pernah menjadi pengacara termuda, dan semua kahasus yang di pegang Ali selalu menang, bahkan banyak pembisnis dan para model juga yang menginginkan Ali sebagai pengacara."


"Tapi kenapa dia tidak terkenal sebelumnya?"


"Lalu kenapa sekarang menjadi artis apa Ali di pecat?"


"Ali mrngundurkan diri bukan di pecat, lalu menjadi artis, dan lebih parahnya film itu langsung banyak yang suka walau pun banyak netizen mereka berdua tidak cocok karena Kak Kinanti yang lebih tua 5 tahun dari Ali."


"Mimpi apa iya Kak Kinanti bisa dinikahi Ali, masih muda, dan tampan, walau pun waktu pernikahan itu identitas Ali adalah putra dari Kesuma Grup adik dari Aska, namun Ali memang tidak tinggal dengan mereka, tapi Ali tetap menjadi lelaki hebat, jadi penasaran seperti apa ibu kandung Ali, yakin ibu kandung Ali wanita hebat, karena Ali juga tumbuh menjadi lelaki hebat."


"Tadi Cinta beruntung banget bisa memegang tangan Ali dengan sengaja."


"Kalau tidak sengaja kapan lagi bisa menegang tangan Ali yang selalu menjaga kontak pisik? Lagi pula Ali itu mantan seorang dewan santri, jadi mana bisa Ali menerima sentuhan dari wanita yang bukan istrinya."


"Iya sampai-sampai Kak Kinanti saja sekarang memakai hijab, itu semua karena Ali, huh aku jadi iri, aku ingin memiliki suami seperti Ali."


"Halah, mimpi kamu itu ketinggian!"


Itu lah percakapan dari ke lima Gadis muda setelah bertemu Ali dan istrinya, bahkan masih banyak percakapan lainnya tentang Ali.


Ali dan istrinya sekarang sedang memilih-milih gamis, semua itu tidak luput dari mata para pengunjung mall, banyak juga yang mengambil foto kemesraan ke.l duanya karena Kinanti memilih gamis masih sambil memegang lengan suaminya.

__ADS_1


Namun ada juga yang mencibir karena melihat Kinanti yang sangat mesra pada suaminya, mereka banyak yang tidak suka pada Kinanti karena menurut mereka Kinanti terlalu manja pada suaminya.


Apa lagi mereka juga beranggapan Kinanti dan Ali itu tidak cocok karena Kinanti lebih tua dari Ali, tapi ada juga yang mengatakan mereka berdua sangat serasi.


Ali yang selalu terlihat dewasa dan Kinanti yang selalu terlihat manja membuat mereka beranggapan kalau Ali dan Kinanti memang sangat cocok.


"Jamila, coba lihat ini, ini lebih elegan dan cocok di tubuhmu."


Ali berbicara sambil mengambil gamis yang berwarna aramy, ia memang lebih menyukai istrinya memakai pakaian yang berwarna aramy agar tidak terlihat mencolok.


Kinanti membulatkan matanya saat suaminya memilihkan gamis yang terlihat longgar, menurutnya bukan terlihat elegan, tapi yang ada seperti wanita paruh baya.


Kinanti langsung mengambil gamis yang di pilihakan oleh suaminya, ia mencocokan di tubuhnya sambil cemberut.


"Mas, apa ini tidak salah untuk di pakai Jamila seperti ini? Apa Mas ingin membuat Jamila malu di kalangan pesantren dengan memakai gamis besar seperti ini?"


"Ini itu cocok dengan hijab instan Jamila yang berwarna aramy, yang lebar itu Jamila, nanti Mas beli sabuk bajunya agar terlihat elegan, lagi pula memakai hijab panjang, jadi lekuk tubuh Jamila juga tidak akan terlihat."


Kinanti tersenyum lebar saat mendengar penjelasan dari suaminya.


"Lalu Mas nanti pakai baju apa?"


"Tentu baju koko dong Jamila, Mas sebagai pembuka acara di sana, nanti Mas beli yang warna aramy agar senada sama gamis Jamila."


"Iya sudah iya deh Mas."


"Iya sudah, Jamila masih mau beli gamis lain tidak?"


"Jamila mau beli tas dan sepatu hak tinggi."


"Iya sudah ayo."


Ali langsung memberikan gamis dan kartu ATM itu ke kasir yang langsung di ambil oleh kasir.


"Sebentar Kak."


Kasir yang mengetahu nama asli Ali, ia tersenyum lebar, ia merasa tidak heran kenapa Ali langsung menjadi artis terkenal, karena Ali juga sama memiliki marga Alfero, itu artinya masih dari keluarga Alfero.


"Ini sudah selsai Kak."


"Iya terima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama."


__ADS_2