
Berita penangkapan Lisa langsung beredar luas di media, ada banyak juga yang terkejut karena Lisa melakukan kejahatan yang menurut mereka sangat besar.
Banyak netizen yang berkomentar buruk pada Lisa, saat tau kalau Lisa yang mempitnah Kinanti, bahkan Aska dan Anisa juga sudah melihat berita itu.
Namun sebelum pulang Aska mengajak Anisa makan terlebih dahulu dengan alasan kalau Aska lapar lagi, dan Anisa tetap menyetujuinya.
Mereka juga makan di ruangan Anisa bersama Aulia juga karena Anisa tidak ingin makan berdua.
"Aska tidak menyangka kalau Lisa sejahat itu pada Kinanti, tidak heran saat itu Lisa yang memberikan foto Kinanti tidur dengan lelaki."
"Bunda juga tidak habis pikir ada wanita selicik Lisa, tapi yang jelas Bunda senang karena foto tidur Kinanti itu hanya di pitnah."
"Iya Bunda."
Anisa melihat sekilas ke wajah Aska, tidak ada rasa menyesal di wajah Aska.
"Apa nak Aska menyesal telah melepaskan nak Kinanti?"
"Sama sekali tidak Bunda, Kinanti sekarang di nikahi lelaki yang tepat, jadi mana mungkin Aska menyesal."
Bukan karena Kinanti di nikahi oleh Ali kalau Aska memang benar-benar tidak menyesal, tapi karena cintanya bukan lagi untuk Kinanti, melainkan untuk Anisa membuat ia sudah mengikhlaskan.
Sekarang Aska hanya fokus untuk menperjuangkan cintanya pada Anisa, ia ingin bersama Anisa, wanita yang menggerakan hatinya dalam pandangan pertama.
"Alhadulilah kalau nak Aska berpikir seperti itu, Bunda yang mendengarnya sangat senang."
Mereka sekarang sudah selsai makan.
"Terima kasih Bunda makannanya, jadi tidak enak karena Aska merepotkan Bunda terus."
"Sama-sama nak, Bunda sama sekali tidak merasa di repotkan.
Anisa memang merasa tidak pernah di repotkan oleh Aska, ia sangat senang karena Aska yang sudah benar-benar mengikhlaskan Kinanti.
"Bunda hari ini pulang kerja jam berapa?"
__ADS_1
"Mungkin setengah delapan Bunda baru pulang, kenapa kamu mudah lapar? Tadi jam dua belas kita makan, sekarang jam setengah lima sudah lapar lagi."
"Iya akhir-akhir ini memang mudah lapar Bunda, bahkan saat ikut Bunda untuk perjalanan bisnis juga Aska mudah lapar, tapi saat itu Aska hanya diam karena Aska malu mau bilang lapar sama Bunda, apa lagi Aska baru mengenal Bunda."
Sebenarnya Aska belum lapar, ia hanya ingin bertemu dengan wanita pujaan hatinya sebelum pulang, sedangkan ia tidak memiliki alasan lain selain mengatakan lapar dan mengajak makan bersama, yang terpenting ia bisa bertemu dengan wanita pujaan hatinya.
"Ngapain harus malu nak, sudah Bunda bilang kalau nak Aska sudah Bunda anggap sebagai putra Bunda sendiri."
Walau pun di mimpinya adalah Aska, tapi Anisa sama sekali tidak memiliki motif lain selain menganggap Aska sebagai putranya, bahkan ia sampai berdo'a pada Ya Rabbnya agar tidak di persatukan dengan Aska karena menurut ia Aska hanya pantas menjadi putranya.
Walau pun perbedaan usianya hanya 15 tahun dan Aska hanya pantas sebagai adik, tapi menurut Anisa Aska itu seorang lelaki tentu saja pola pikirnya masih anak-anakan
"Iya Bunda."
"Nanti kalau di kantor lapar kamu bilang saja sama Bunda."
"Iya Bunda, kalau begitu Aska pamit dulu Bunda."
Sebenarnya Aska masih belum ingin pamitan, ia masih betah di ruangan Anisa, tapi ia sudah tidak memiliki alasan lain untuk diam di ruangan Anisa, setidaknya ia sudah mengobati rasa rindunya dengan makan bersama.
"Iya sudah nak hati-hati."
"Iya Bunda, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Aska langsung keluar dari ruangan Anisa, saat ia melewati karyawan, mereka mulai berbisik-bisik tentangnya yang masih di dengar di telinganya.
Ada juga yang penasaran ada hubungan apa Aska dan pemilik perusahaan, yang mereka tau kalau pemilik Kenaya Grup adalah seorang wanita janda, tapi mereka hingga sekarang belum tau identitas asli pemilik Kanaya Grup, yang tau hanya Aulia, asiaten pribadi Anisa sendiri.
"Apa Aska itu kekasih dari bu Kanaya iya? Masa iya dia datang hanya untuk belajar saja?"
"Bisa saja Aska itu keluarga dari bu Kanaya."
"Sama sekali aku tidak percaya kalau Aska keluarga dari bu Kanaya, terlihat jelas tatapan dari Aska, seperti tatapan suka, saat bu Kanaya menjelaskan tentang Aska."
__ADS_1
Aska sama sekali tidak menggubris bisik-bisik dari karyawan, bahkan ia terkesan tidak peduli, bagi ia kata-kata karyawan itu hanya di anggap angin lalu.
Aska langsung melajukan mobilnya sambil bernyanyi-nyanyi tidak jelas, menandakan kalau ia memang sedang sangat senang, bahkan saat lampu merah pun ia tetap menyanyi-nyanyi tidak jelas, ia tidak peduli pada banyak orang yang melihat ke arah mobilnya dengan tatapan aneh.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama Aska sampai ke pekarangan rumah, ia langsung turun dari mobil dengan kening berkerut saat melihat mobil Papanya yang terparkir di samping mobilnya.
Aska langsung masuk ke dalam ruamah, ia sangat terkejut saat melihat Mamanya sudah menangis di sofa, sedangkan Papanya hanya duduk sambil tumpang kaki.
"Mama kenapa?"
Aska bertanya sambil menegang bahu Mamanya dan duduk di saming Mamanya.
Lusi langsung memegang tangan putranya yang sedang memegang pundaknya.
"Apa kamu kerja di perusahaan lain karena Papa tidak memberikan pekerjaan? Mama tau kalau kamu bekerja di sana, Mama tidak sengaja melihat mobilmu di sana saat Mama nongkrong di Cafe bersama teman arisan Mama."
"Sudah saya bilang Lusi saya tidak tau kalau Aska ingin bekerja!! Kamu itu masalah begitu saja sudah menangis, masalah perpisahaan kita saja belum selsai karena kamu masih saja tidak ingin berpisah!!"
Kenan sangat marah karena dari tadi Lusi terus saja menangis dan menyalahkan ia yang tidak tau apa-apa tentang masalah putranya.
Aska langsung menghela napas berat, jadi perkara Mamanya menangis karena ia bekerja di kantor lain.
"Ma, jangan sedikit-dikit nangis sedikit-dikit nangis, apa tidak bisa bersikap dewasa sekali saja? Aska ingin bekerja bukan karena Papa tidak memberikan pekerjaan, bukan juga karena Aska tidak ingin bekerja di perusahaan Papa, tapi Aska mencintai Kanaya, Aska sedang memperjuangkan cinta Aska."
"Apa...?!!!!!"
Lusi berteriak dengan perasaan syok, ia tau kalau Kanaya adalah pemilik Kanaya Grup, belum lagi ia sudah mendengar rumor kalau Kanaya adalah seorang janda, mana pantas dengan putranya yang masih menyadang status perjaka.
"Jangan gila, walau pun Kanaya itu pemilik perusahaan tempat kamu bekerja, Mama tidak akan setuju, mau di taro di mana muka Mama kalau kamu menikahi janda?!"
Aska tersenyum samar, itu artinya Mamanya tidak tau kalau Kanaya Putri itu adalah Anisa Putri mantan madu Mamanya sendiri.
"Dari pada Mama mengurisi Aska untuk melarang Aska bersama Kanaya, lebih baik Mama jagain Papa, agar Papa tidak mendekati Bunda, karena Papa itu sekarang sangat mencintai Bunda."
Sebenarnya Aska tidak peduli dengan rumah tangga orang tuanya, tapi ia mengatakan itu agar Papanya tidak mendekati Anisa, apa lagi Papanya adalah mantan Anisa, bisa-bisa ia kalah saing dengan Papanya sendiri.
__ADS_1