
Kinanti masih menatap suaminya dalam diam, lidahnya terasa kelu, bukan'kah suaminya mengatakan hanya mencintainya, tapi sekarang suaminya berbicara sangat jujur kalau suaminya mencintai wanita lain.
"Sebenarnya setelah wisuda Mas ingin melamar Gadis kecil di masa lalu Mas, tapi saat Mas sampai Semarang Gadis kecil itu ternyata sudah pindah."
Ali berbicara sambil tersenyum lebar, ia berharap kalau istrinya ingat kalau ia adalah Ali kecil yang sudah di anggap adik oleh istrinya dulu.
Kinanti masih diam, tapi hatinya semakin sakit, ia merasa dadanya seperti di tindih oleh beban berat, dan jantungnya mendadak seperti berhenti berdetak membuat ia susah bernapas, ia jadi berpikir apa suaminya melakukan hubungan suami istri atas dasar cinta atau atas dasar nafsu, atau bisa jadi hanya melakukan perannya sebagai suaminya saja.
"Sakit sekali dada hamba ya Allah." batin Kinanti
Ali mengerutkan keningnya saat melihat istrinya akan menangis, ia tau bukan tangisan bahagia yang akan keluar dari mata istrinya, melainkan tangisan sedih.
"Apa Jamila melupakan Mas?"
"Maksud Mas apa?"
Kinanti bertanya dengan raut wajah bingung.
"Mas adalah lelaki kecil yang Jamila tolong dulu."
Tangan kiri Ali langsung menarik laci samping ranjang, ia mengambil kotak kecil dari laci, lalu langsung membukanya.
"Jamila ingat kalung ini? Kalung ini di berikan oleh Jamila saat pertemuan terakhir kita."
"Iya Jamila ingat."
__ADS_1
Tentu saja Kinanti ingat kalung itu, kalung itu di berikan oleh Neneknya turun temurun, bahkan saat mengatakan kalung itu hilang ia mendapatkan hukuman dari ke dua orang tuanya.
Kinanti juga masih ingat saat kecilnya bersama suaminya yang mengatakan akan menikahinya, tapi ia selalu menganggap kalau ucapan suaminya saat kecil hanya sebuah lelucon, karena saat itu usia suaminya masih 7 tahun, sedangkan ia sudah 12 tahun.
"Bagai mana Mas tau kalung itu milik Jamila?"
"Mas melihat foto Jamila di dinding saat Jamila dan Kinar mengobrol di kamar Kinar, apa lagi kalung itu adalah turun temurun termasuk Mas menyamakan wajah Jamila saat kecil dengan foto-foto masa kecil kita dulu, itu kenapa Mas bisa tau kalau kalung ini milik Jamila. Mas tidak pernah menyangka kalau ucapan Mas yang akan menikahi Jamila itu terkabul."
"Jadi Mas masih ingat saat Jamila sering sekali mencium kening Mas?"
"Tentu saja Mas ingat segalanya Jamila."
"Jamila selalu sedih saat melihat Mas tanpa kasih sayang dari orang tua Mas, sedangkan Jamila memiliki orang tua lengkap dan adik, jadi jelas kalau dulu Jamila selalu sedih. Jamila tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Mas di tinggalkan ke dua orang tua yang sama-sama egois."
Air mata Kinanti tiba-tiba saja mengalir deras saat mengingat masa lalu suaminya dulu, suaminya kabur dari pesantren untuk mencari Bundanya dan mengatakan rindu pada Bundanya. Ali langsung menghapus air mata istrinya dengan ke dua ibu jarinya.
Ali langsung mengecup ke dua mata istrinya sambil tersenyum lebar, bohong kalau ia tidak merasa sedih, sampai saat ini ia masih sedih, ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ke dua orang tua pada umumnya, ia harus bergantung pada dirinya sendiri, tentu saja hatinya masih sakit, dan luka hatinya masih selalu membekas.
Ali selalu berharap kalau Bundanya menyayanginya walau pun Ayahnya tidak menginginkannya, tapi ternyata Bundanya juga pergi meninggalkannya, harapan hanya lah harapan kosong yang tidak pernah menjadi kenyataan.
Ali selalu belajar giat agar saat Bundanya datang Bundanya bisa bangga memiliki putra cerdas sepertinya, tapi ternyata Bundanya tidak pernah kembali dan lagi-lagi harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan.
Andai saja Ali tidak mengingat permasalahan kenapa Bundanya memutuskan pergi, mungkin ia juga sudah membenci Bundanya seperti ia membenci Ayahnya.
"Jamila tau kalau sampai sekarang hati Mas masih merasakan sakit, apa lagi menurut Jamila luka Mas sangat besar, dan mungkin luka hati Mas tidak akan pernah kering."
__ADS_1
Ali tersenyum saat mendengar ucapan dari istrinya yang bisa membaca pikirannya.
"Iya Mas memang masih belum bisa mengikhlaskan semua yang sudah terjadi, itu kenapa Mas ingin belajar menjadi suami dan Ayah yang baik, agar kelak putra putri Mas tidak ada yang menjadi korban oleh keegoisan kita. Cukup Mas yang pernah menjadi korban oleh keegoisan orang tua Mas. Mas tidak mau mereka memiliki nasib yang sama seperti Mas, karena rasanya sangat menyakitkan."
Ali ingin masa lalunya menjadi pelajaran untuknya, agar ia tidak bersikap egois dan bisa selalu mempertahankan rumah tangganya.
"Iya Mas, Jamila juga berharap kalau kita tidak memiliki masalah besar, tapi Jamila tau kalau rumah tangga kita akan selalu di uji, agar rumah tangga kita seperti tembok yang selalu kokoh."
"Iya Jamila."
Ali tersenyum lebar, ia berharap sikap kanak-kanakan istrinya bisa menghilang setelah ini, bukan ia benci dengan sikap kanak-kanakan istrinya, tapi ia pusing dengan sikap kanak-kanakan istrinya.
"Mas berharap Jamila bisa belajar bersikap dewasa, dan buang sikap kanak-kanakan Jamila, jangan terus membuat Mas pusing karena sikap kanak-kanakanmu."
"Iya Mas Jamila akan berusaha belajar untuk membuang sikap kanak-kanakan Jamila dan berusa belajar menjadi istri yang baik untuk Mas, termasuk akan berusaha belajar untuk menjadi Bunda yang baik untuk anak-anak kita kelak."
Kinanti mengatakannya dengan sungguh-sungguh kalau ia akan belajar menjadi istri yang baik dan Bunda yang baik, ia akan berusaha tidak bersikap egois lagi walau pun sikap kanak-kanakan ia muncul setiap kali rasa cemburu itu datang, tapi ia akan berusaha mempercayai suaminya sepenuhnya, karena suaminya adalah Ali kecilnya yang mengatakan akan menikahinya, dari situ ia harus percaya kalau kata-kata suaminya memang bisa di pegang.
"Tadi Mas bilang Mas ke Semarang?"
"Iya Jamila, 1 tahun yang lalu Mas ke semarang setelah wisuda, niat Mas akan melamar Jamila, dan kalau pun Jamila sudah memiliki pilihan hatinya, Mas akan menganggap Jamila sebagai Kaka Mas seperti dulu lagi, tapi Mas tidak menemukan Jamila dan orang yang Mas tanya mengatakan kalau Jamila memang sudah kembali ke Jakarta lagi. Namun satu hal yang Mas tidak menyangka saat Mas yakin kalau Jamila adalah jodoh Mas hingga Mas melangkah maju dua langkah, nyatanya wanita yang menangis di depan Mas saat hari pernikahan adalah wanita yang akan Mas nikahi."
Ali memang tidak menyangka kalau Allah tetap mentakdirkan ia dengan Kinanti, wanita yang ingin ia nikahi saat kecil.
Kinanti tidak menyangka kalau suaminya ternyata mencarinya, bahkan ia sudah melupakan Ali kecilnya, walau pun awal-awal menikah ia mengingat Ali kecilnya, tapi ia tidak pernah berharap kalau lelaki yang selalu berdiri sebagai malaikat penyelamatnya itu Ali kecilnya. Ali langsung memakaikan kalung milik istrinya lagi pada leher istrinya.
__ADS_1
"Mas kembalikan kalung ini pada pemiliknya, tapi di tukar dengan cinta Jamila untuk Mas."
Kinanti hanya tersenyum lebar, ia langsung memeluk suaminya dengan erat sambil meneteskan air mata bahagia.