Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 37 Ali Kecewa


__ADS_3

Sudah 1 minggu di mana Ali mengakui identitasnya pada istrinya dan hari ini ia dan istrinya akan pergi ke rumah Kakeknya.


Pagi-pagi Ali sudah menggeleng-geleng kepala saat melihat istrinya terus mengganti gamis dan hijab, apa lagi setelah itu pakaiannya di lempar ke atas ranjang membuat ia menghela napas berkali-kali.


"Jamila, kita mau pergi ke keluarga Mas bukan mau pentas di atas panggung."


"Bahkan ini lebih menakutkan dari pada pentas di atas panggung Mas."


Kinanti menjawab ucapan dari saminya dengan ke dua tangannya masih sibuk mencari gamis-gamis yang telah di belinya 1 minggu yang lalu setelah suaminya mengatakan akan mengenalkan ia pada Kakek dan Neneknya.


Bahkan selama 1 minggu Kinanti selalu melihat tatorial memakai hijab agar ia tidak selalu di bantu oleh suaminya, memang saat di bantu memakai hijab oleh suaminya menurut ia terkesan romantis, tapi ia tidak mau membebani suaminya.


Suaminya sudah banyak pekerjaan, dari Apartement Alfero dan Alfero Grup yang selalu di lihat pengembangannya dan yang lain-lain. Belum lagi harus mempelajari berkas-berkas yang ada di Alfero Isabel Grup, jelas suaminya itu pasti kerepotan walau pun wajahnya selalu terlihat santai.


"Kamu itu sudah cantik Jamila, dan wanita sholehah hanya akan menujukan kecantikannya pada lelaki yang sudah sah menjadi makhromnya."


"Mas menyebalkan ternyata, di saat Jamila lagi sibuk, Mas enak-enakan menasehati Jamila!"


Ali langsung berdiri dari duduknya, ia langsung memeluk istrinya dari belakang, lalu langsung mengecup pipi kanan dan pipi kiri istrinya.


"Mas jangan aneh-aneh."


Kinanti merasa sangat geli saat ciuman suaminya beralih ke lehernya hingga aroma mint dari napas suaminya menerpa indra penciumannya.


"Habis Mas lelah dari tadi melihat Jamila."


"Kenapa berhenti? Aku tidak menolak kalau Mas Ali terus menciumiku, apa lagi pagi-pagi begini gairahku sangat besar." batin Kinanti


Sebenarnya Kinanti tidak mengerti kenapa setiap di cium oleh suaminya gairahnya meningkat.


Apa lagi Kinanti bukan wanita mesum, saat bersama Aska ia tidak memiliki gairah walau pun hanya berciuman, tapi dengan suaminya ia tidak pernah bosan saat suaminya menciumnya.


Bahkan Kinanti sering berharap kalau waktu bisa berhenti saat suaminya mencumbunya.


"Mau mengambil gamis yang mana lagi Jamila? Kasihan bibi nanti harus membereskan baju Jamila yang seperti kapal pecah."

__ADS_1


"Tapi Jamila bingung Mas."


"Ini juga sudah cantik Jamila."


"Mas, tolong lepas pelukannya nanti jiwa wanitaku meronta-ronta."


Bukanya menjawab Kinanti bahkan berbicara hal lain karena napas suaminya membuat otaknya selalu berpikir mesum.


"Memangnya kenapa kalau jiwa Jamila meronta-ronta?"


Ali benar-benar tidak paham dengan ucapan dari istrinya.


"Mas itu anak kecil, mana paham."


"Mulai deh pagi-pagi sudah bikin mas kesel, selalu saja bilang anak kecil, anak kecil, dan anak kecil. Walau pun Mas anak kecil, Mas mampu membuat Jamila mengandung benih Mas."


Setelah mengatakan itu Ali langsung keluar dari kamarnya, ia bingung dengan istrinya yang selalu saja menganggap ia anak kecil.


Ali langsung mengambil air botol di kulkas, lalu ia langsung meminumnya hingga tidak tersisa, ia menghela napas berat berkali-kali.


"Apa berbeda usia itu harus menjadi penghalang untuk pernikahan kita Kinanti? Saya bukan anak kecil, saya sudah mengurus segalanya sendiri, saya juga selalu bersikap dewasa, tapi rasanya tetap sia-sia, Kinanti tetap tidak pernah menganggap saya suami seutuhnya. Astagfrullah Ali, kenapa kamu memiliki sifat seudzon?"


"Apa saya sanggup mempertahankan rumah tangga saya yang terus saja tidak ada kemajuan? Aku sudah sangat mencintainya, sudah mengungkapkan perasaan saya saat itu, tapi tetap saja tidak bisa menggerakan hati kecil Kinanti. Lagi-lagi Kinanti selalu menganggap saya anak kecil dan anak kecil." batin Ali


Sedangkan Kinanti masih sibuk mencari gamis sambil mencibir.


"Kenapa harus marah di bilang anak kecil, bukan'kah memang anak kecil? Buktinya saat aku sudah melenguh saja Mas Ali tidak paham, lalu langsung minta maaf, bukannya di teruskan, tapi di bilang anak kecil marah, memang pakta kalau Mas Ali itu anak kecil."


Kinanti di kamar terus mengomel karena pagi-pagi suaminya sudah marah. Kinanti terus saja mengomel sambil terus memilih gamis hingga isi lemari itu habis.


Namun suaminya masih saja belum kembali ke kamar, biasanya suaminya hanya menasehatinya, tapi kali ini sepertinya suaminya benar-benar marah.


Kinanti langsung keluar dari kamar, ia mencari keberadaan suaminya, ia melihat suaminya yang sedang bersandar di meja makan dengan mata yang menatap kosong ke luar jendela dan tangan kanannya meremas botol air meneral kosong.


Kinanti menelan ludahnya dengan sangat kasar, sepertinya kali ini suaminya memang benar-benar marah, terlihat jelas tangan suaminya yang sedang meremas botol.

__ADS_1


"Apa Mas Ali marah karena aku bilang Mas Ali anak kecil?" batin Kinanti


"Mas."


Kinanti memanggil suaminya dengan sangat pelan sambil berjalan ke arah suaminya.


"Hhhmmm."


Ali menjawab panggilan istrinya dengan masih menatap lurus, hingga tiba-tiba saja ponselnya bergetar.


Dret... Dret...


Ali langsung merogoh ponselnya, ia menghela napas kasar saat nama yang tertera di sana adalah Ayahnya. Ali langsung merijek panggilan telpon dari Ayahnya, ia sedang tidak ingin berdebat.


Dret... Dret...


Ponsel Ali bergetar untuk yang ke dua kalinya setelah tadi di rijek, membuat ia memutuskan untuk mengangkat sambungan telponnya, lalu langsung melodspeker, ponselnya ia letakan di atas meja.


"Assalamualaikum Ali."


Ali mengerutkan keningnya beberapa saat, saat mendengar Ayahnya mengucap salam lebih dulu, biasanya ia yang selalu mengucap salam lebih dulu pada Ayahnya.


"Wa'alaikumsalam."


"Kamu sedang bekerja tidak nak? Ayah ingin berbicara sama kamu."


Ali yang mendengar suara lembut dari Ayahnya membuat ia mengerutkan keningnya lagi, sudah 1 minggu ini Ayahnya terus saja menelponnya.


"Ada apa? Apa anda tidak bisa menemukan lelaki bernama Morgan dan ingin bertanya langsung pada saya? Kalau memang ingin bertanya tentang itu simpan saja pertanyaan anda, karena saya tidak akan pernah menjawab pertanyaan dari anda!"


Ali sudah tau kalau Ayahnya 1 minggu ini gencar mencari nama Morgan dan sudah datang di semua tempat ia bersekolah agar tau siapa Morgan, bukan hanya itu Ayahnya juga sampai datang ke pesantren hanya sekedar bertanya tentangnya karena ia tau dari asisten pribadinya semalam.


"Kamu masih marah sama Ayah nak? Ayah minta maaf. Kamu mau'kan menambah nama Ayah di namamu lagi, lalu kita tinggal di rumah sama-sama."


"Apa anda salah minum obat? Selama 1 minggu ini anda selalu saja mengucapkan kata maaf dan meminta saya untuk tinggal sama-sama. Apa anda tidak berpikir kalau saya hanya orang asing untuk anda? Sudah lah, anda jangan menepon saya lagi, walau pun anda mencium kaki saya juga, saya tidak akan pernah memaafkan anda dan tidak akan pernah menganggap anda sebagai Ayah!"

__ADS_1


Bukan Ali tidak mau belajar memaafkan, ia tau kalau Allah saja maha pemaaf, tapi rasa kecewanya lebih besar hingga mengalahkan rasa kemanusiaannya.


"Sekali lagi Ayah minta maaf."


__ADS_2