Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 14 2 Asisten rumah tangga


__ADS_3

Entah kenapa Kinanti merasa menjadi wanita bodoh setiap di depan suaminya ia akan mengiyakan ucapan suaminya dengan sangat mudah.


Watak keras kepala Kinanti berangsur hilang setiap kali suaminya yang berbicara padanya, dan ia merasa belum pernah menjadi wanita bodoh di depan lelaki, hanya suaminya satu-satunya orang yang bisa membuat ia patuh.


Surti tersenyum lebar saat melihat Ali secara langsung yang bersikap dewasa walau pun usianya masih terbilang sangat muda.


"Ayo maafkan Lisa."


Kinanti menganggukan kepalanya sambil melepaskan pelukannya pada suaminya, ia langsung melihat ke arah Lisa.


"Iya sudah saya maafkan kamu!"


Memaafkan secara tidak ikhlas itu keluar juga dari mulut Kinanti.


"Terima Kasih Kin."


"Ayo kamu juga minta maaf."


Ali berbicara sambil mengelus kepala istrinya.


"Aku tidak mau minta maaf! Aku tidak salah!"


Ali langsung memutar pelan tubuh istrinya untuk menatap ke arahnya, ia mengelus kepala istrinya sambil tersenyum.


"Lalu yang menampar dan menjambak rambut Lisa siapa?"


"Aku."


"Nah itu salahnya, kamu harus minta maaf pada Lisa, saya tidak suka kalau kamu memiliki dendam."


Ali berbicara pada istrinya dengan suara lembut, lalu langsung mengecup kening istrinya cukup lama, ia tidak peduli walau pun di sana banyak orang yang jelas ia hanya tau kalau Kinanti adalah istrinya.


"Memangnya tidak boleh nawar? Dari tadi aku terus yang di suruh kamu, aku juga ingin memiliki pendirian sendiri."


Pertanyaan lemah lembut dari Kinanti mampu membuat semua orang tercengang di sana, apa lagi wajah memelas Kinanti yang di tunjukan pada suaminya, mereka semua tidak melihat Kinanti si bar-bar saat berhadapan dengan suaminya.


"Kalau menawar untuk kejahatan saya tidak akan mengijinkan Kinanti, tapi kalau kamu menginginkan yang lain isya Allah akan saya kabulkan kalau saya bisa."


"Baik kalau begitu, aku ingin kamu menghapus postingan tentang aku melakukan kekerasan yang di unggah mereka."


"Itu hal yang sangat mudah Kinanti, bahkan kalau mereka berani memosting kekerasan tentang kamu akan aku pastikan kalau akun mereka di belokir dari akses internet, ayo minta maaf pada Lisa."


"Iya saya minta maaf sama kamu Lisa."


Pada akhirnya permintaan maaf tidak ikhlas itu keluar juga dari mulut Kinanti dengan bibir cemberut.


"Iya tidak apa-apa Kin, aku juga maafin kamu."


"Kalau begini'kan enak, Lisa saya harap kamu tidak akan mengulangi hal yang sama, jika di ulangi lagi bukan hanya karir kamu yang akan hancur, tapi Arseta Grup juga ikut menanggungnya.

__ADS_1


Arseta Grup adalah perusahaan orang tua Lisa yang masih di bawah naungan Alfero Isabel Grup yang akan di pegang Ali saat usia Ali 25 tahun.


"Iya saya minta maaf Ali."


"Iya sudah permasalahannya sudah selsai, bu apa saya boleh meminjam syal ibu?"


"Boleh nak, jangan di kembalikan lagi."


Surti langsung menyerahkan syal itu pada Ali. Ali langsung mengambil syal yang di serahkan Surti.


"Terima kasih bu."


"Sama-sama nak."


Ali langsung menutupi kepala istrinya pakai syal dengan di buat seperti hijab.


"Di luar banyak wartawan, jadi kamu harus menggunakan ini."


Kinanti hanya mengangguk sambil tersenyum lebar, suami yang ia anggap anak kecil itu pikirannya sangat dewasa.


"Riana, terima kasih karena sudah menjaga istri saya, kalau kamu masih membutuhkan pekerjaan, nanti istri saya suruh kirim alamat apartement, kamu tinggal datang saja ke sana."


"Iya Ali, terima kasih."


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam!"


Meraka sampai di motor, Ali langsung melajukan motornya sambil sesekali beristighfar karena ia sangat marah saat tau istrinya di hina habis-habisan, tapi di depan istrinya ia harus bersikap tegas dan dewasa.


Walau pun Ali marah, tapi bukan berarti membela istrinya dengan kemarahan juga, ia seorang suami tentu harus bisa membimbing istrinya ke jalan yang lebih baik lagi.


Setelah sekitar 30 menit mereka sampai di depan apartement yang sudah di tunggu oleh ke dua wanita. Mereka berdua adalah orang yang akan bekerja di apartement Ali.


Tadi saat akan perjalanan ke arah pesantren Ali tidak sengaja berpapasaman dengan bi Yanti yang sedang mencari pekerjaan, jadi ia menyuruh bi Yanti untuk bekerja di apartementnya.


"Assalamualaikum."


Ali mengucap salam pada ke dua wanita yang sudah menunggu di depan apartement.


"Wa'alaikumsalam."


Mereka berdua menjawab serempak.


"Sudah lama bi?"


"Belum den, baru sekitar 5 menitan."


Ali langsung membuka kode apartement, lalu langsung menyuruh mereka untuk masuk.

__ADS_1


"Ayo masuk bi, Yuli."


"Iya den."


Mereka langsung masuk ke dalam apartement. Sedangkan Kinanti masuk sambil terus melihat ke arah Gadis yang mungkin sekitar 18 tahunan menurutnya.


"Duduk dulu bi, Yuli."


"Iya den."


Ali langsung melihat ke arah istrinya yang masih berdiri sambil melihat ke arah Yuli membuat ia tersenyum lebar sambil menarik pelan pergelangan tangan istrinya.


"Duduk, kamu jangan melihat Yuli seperti itu, entar Yuli takut sama kamu."


Kinanti langsung duduk di samping suaminya tanpa berbicara.


"Kin, mereka berdua akan bekerja di sini, ini namanya bi Yanti, dan dia namanya Yuli, putri bi Yanti, usianya masih 18 tahun. Bi Yanti ini dulu pernah bekerja di rumah saya."


Ali beebicara sambil menujuk satu-persatu memakai jari jempolnya.


"Iya terus?"


"Terus apanya?"


"Kamu juga akan mempekerjakan dia?"


Kinanti bertanya sambil menujuk ke arah Yuli dengan telunjuknya yang langsung di raih oleh suaminya.


"Jangan menujuk seperti itu Kin, namanya tidak sopan."


Kinanti yang merasa suaminya menyudutkan ia, ia langsung berdiri dan langsung menatap tajam pada suaminya.


"Iya seharusnya kamu menikah saja dengan Ning Alisah yang memiliki sopan santun dan pintar agama! Tidak sepertiku yang tidak tau tentang agama!"


Kinanti berbicara sambil membuang syal yang di gunakan hijab oleh suaminya tadi pada wajah suaminya, lalu langsung lari ke arah kamarnya. Ali menghela napas berat saat melihat istrinya yang bersikap kanak-kanakan.


"Maafkan istri saya bi, Yuli, mungkin istri saya masih dalam suasana yang buruk, hari ini istri saya baru saja di pecat dari pekerjaannya, jadi tolong di maklumi."


"Tidak apa-apa den, bibi tau tentang itu, jelas bibi bisa memakluminya.


Ali memutuskan melanjuktan ucapannya, ia tidak mungkin mengejar istrinya karena belum menjelaskan pekerjan mereka.


"Begini bi, kalau pekerjaan sama seperti bibi bekerja dulu, dan kalau masak samain saja depan sama belakang. Pagi hari saya harus sarapan roti tawar dengan telor rebus setengah matang, sedangkan istri saya, nanti saya tanya dia mau makan apa, saya sama sekali tidak tau seleranya. Sekarang lebih baik bibi istirahat, kamarnya ada di sebelah sana, itu sudah kumplit ada dua ranjang dan kamar mandinya juga ada di dalam."


Ali berbicara sambil menujuk ke arah kamar itu.


"Kalau bibi mau makan siang, bibi cari saja di kulkas, saya akan menyusul istri saya dulu."


"Iya den terima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama bi."


__ADS_2