
Ali berbicara panjang lebar pada Kiai Ilham tentang istrinya, sedangkan umi Kumairoh dan Ning Sarah hanya diam saja tanpa berbicara sepatah kata pun dan hanya mendengarkan cerita Ali saja. Saat Ali akan berpamitan tiba-tiba saja Ning Alisah keluar lagi dari kamarnya.
"Akang, apa Alisah boleh bicara sebentar?"
"Tentu boleh Ning, asalkan di temani oleh Ning Sarah. Umi, Abi saya keluar dulu."
"Iya nak Ali."
Kiai Ilham dan istrinya menjawab serempak. Ali langsung berjalan lebih dulu sambil menundukkan pandanganya, di ikuti oleh Ning Alisah dan Ning Sarah.
Ning Sarah adalah adik dari Kiai Ilham yang usianya lebih tua 3 tahun dari Ali, sedangkan Ning Alisah baru berusia 20 tahun.
"Silahkan apa yang ingin Ning Alisah bicarakan?"
Ali berbicara lebih dulu saat sampai di samping kolam ikan dengan pandangan mata yang menatap kolam ikan. Ikan-ikan yang di rawat oleh Ali saat masih di pesantren.
"Kenapa Akang menolak Alisah lagi kang? Apa Alisah tidak pantas untuk Akang? Jelas-jelas Alisah tidak meminta untuk menjadi istri satu-satunya dari Akang, Alisah rela di poligami oleh Akang, tapi sepertinya Alisah memiliki kekurangan di mata Akang."
Ali menghela napas berat dengan mata yang masih fokus menatap ikan-ikan, ia merasa tidak enak hati dengan pertanyaan seperti itu.
"Ning Alisah tidak memiliki kekurangan di mata saya. Ning Alisah sangat sempurna di mata saya, tapi jodoh itu hanya rahasia Allah Ning. Ning Alisah juga tau kalau dalam perinsip saya tidak ada kata poligami, itu sering saya ucapkan saat usia saya masih anak-anak pada Ning Alisah, jadi saya tidak bisa berpoligami, saya takut tidak bisa adil pada istri-istri saya dan saya juga takut putra-putri saya kurang kasih sayang karena saya memiliki dua istri."
"Lalu apa Akang sudah memendam perasaan terhadap Kinanti? Itu kenapa saat Kak Aska membatalkan pernikahan Akang dengan lantang siap menggantikan Kak Aska untuk menikahi Kinanti?"
"Tidak Ning, bahkan saya tidak mengenal Kinanti walau pun Kinanti seorang model papan atas, tapi ternyata Kinanti adalah Gadis kecil di masa lalu saya."
Ali memang tidak mengenal istrinya walau pun istrinya seorang model, bahkan menduduki peringkat nomer satu di dunia modeling.
"Jadi Akang tidak mencintai Kinanti, tapi Akang menikahinya, sedangkan dengan Alisah, Akang selalu menolak kehadiran Alisah, kenapa harus seperti itu Kang. Apa Alisah tidak pantas di cintai Akang?"
Air mata Ning Alisah langsung mengalir deras, hatinya sangat sakit saat lelaki yang di cintainya tidak mau belajar untuk mencintainya, sedangkan dengan Kinanti yang hanya kenal saat kecil, Ali mau menikahi dan mau belajar mencintai Kinanti.
"Atau ada kekurangan Alisah yang membuat Akang tidak bisa mencintai Alisah?"
__ADS_1
Ali menghela napas kasar saat mendengar Ning Alisah bertanya lagi tentang kekurangan, apa lagi menurut ia Ning Alisah sangat sempurna. Bahkan Ning Alisah tau banyak tentang agama, seharusnya Ning Alisah berpikir lebih dewasa kalau ia bukan jodohnya, bukan menyudutkan ia hingga ia merasa bersalah dan merasa menjadi lelaki paling jahat.
Sudah cukup Ali merasa bersalah menyakitinya di masa lalu karena menolak lamarannya, belum lagi rasa bersalah pada Kinar adik iparnya, tapi ia sangat bersyukur karena Kinar berpikir dewasa, dan sekarang ia semakin merasa bersalah lagi dengan sikap Ning Alisah yang seperti merendahkan dirinya sendiri di depannya.
"Jangan berpikir seperti itu Ning Alisah, mungkin jodoh Ning Alisah bukan saya, sekeras apa pun manusia berusaha, jika di Lauhul Mahfudz bukan nama saya yang di tulis untuk Ning Alisah, saya bisa apa?"
Ning Sarah menghela napas kasar saat melihat keponakannya yang terus saja merendahkan diri sendiri di depan Ali.
"Tolong jangan mempermalukan harga dirimu Alisah, kamu memiliki iman, seharusnya kamu berpikir dewasa seperti Ali. Jangan berpikir sempit seperti itu, apa lagi yang Ali katakan itu benar."
"Jadi yang salah Alisah karena Alisah mencintai Akang? Bukan'kah cinta itu fitrah, tapi kenapa di sini Alisah yang salah?"
Air mata Alisah semakin deras saat cintanya itu di salahkan oleh Ning Sarah. Sebelum Ning Sarah menjawab pertanyaan Ning Alisah, Ali lebih dulu berbicara.
"Memang benar kalau cinta adalah fitrah dan Ning Alisah sama sekali tidak salah, tapi tolong jangan merendahkan harga diri Ning Alisah di depan saya. Tolong mengerti perasaan saya Ning, dari awal saya menolak Ning Alisah agar Ning Alisah menghapus perasaan Ning pada saya."
"Bagai mana Alisah melupakan Akang kalau nama Akang yang Alisah sebut di sholat sepertiga malam Alisah? Alisah selalu berharap kalau cinta Alisah ini di balas oleh Akang dengan berjalannya waktu, tapi pada akhirnya Alisah masih tetap tidak bisa mendapatkan Akang."
Ali mengusap wajahnya dengan kasar, matanya masih terus menatap ikan-ikan, ia tau kalau Ning Alisah dari tadi menangis.
"Maafkan saya Ning, karena saya harus melukai hati Ning Alisah untuk yang ke dua kalinya, andaikan waktu bisa di putar, saya tidak ingin mondok di sini dari pada harus menyakiti perasaan wanita. Sekali lagi saya minta maaf Ning."
"Akang tidak salah, Akang tidak perlu minta maaf, tapi di sini Alisah yang salah. Alisah yang selalu berharap kalau suatu saat Akang bisa menerima Alisah, tapi ternyata itu hanya lah angan-angan Alisah. Nyatanya keinginan Alisah hanya sebuah mimpi yang tidak pernah bisa Alisah gapai."
" Saya minta hapus rasa cinta Ning Alisah pada saya perlahan dengan menyebut nama Allah, saya percaya kalau Ning Alisah bisa menghapus rasa cinta Ning Alisah, karena Allah maha membolak-balikan hati, dan semoga Ning Alisah mendapat lelaki yang tepat. Maaf atas luka hati yang saya buat di sengaja atau pun tidak di sengaja."
Belum sempat Ning Alisah menjawab ucapan dari Ali, tiba-tiba saja ponsel Ali bergetar.
Dret... Dret...
Ali langsung merogoh ponselnya di saku celana, ia langsung mengangkat telpon dari istrinya.
"Ali, kamu masih di mana?"
__ADS_1
Ali langsung menghela napas berat saat istrinya bertanya tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Ucap salam dulu."
"Oh lupa. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, saya masih di pesantren, sebentar lagi saya pulang."
"Iya sudah jangan lama-lama, aku boleh pesan tidak Ali?"
"Pesan apa? Kamu mau di beliin apa sama saya Kinanti?"
"Pesan jangan suka tebar pesona pada wanita, jangan senyum pada wanita. Senyuman kamu itu seperti madu, bahkan lebih manis dari madu."
Ali menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar jawaban dari istrinya.
"Memangnya kalau lebih manis dari madu itu apa?"
"Mana aku tau, itu'kan kata pepatah yang mengtakan."
"Iya sudah 40 menit lagi saya sampai apartement."
"Iya sudah hati-hati Assalamualkum."
"Iya, wa'alaikusalam."
Ali langsung memutuskan sambungan telpon dari istrinya.
"Iya sudah Ning, saya harus segera berpamitan pada umi dan abi karena istri saya sudah menelpon."
"Iya Akang."
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam."
Ning Sarah dan Ning Alisah menjawab salam serampak.