
Ali dan istrinya selsai adu eting sampai teks ke 3, kini mereka berdua memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang Kinanti langsung pergi mengganti pakaian lalu langsung masuk ke dalam kamar mandi, baru juga masuk di tempat westapel, ia mendengar lawan mainnya yang sedang membicarakannya.
"Kenapa Kinanti bisa jadi pemeran utama? Apa lagi Kinanti sudah di pecat dari Wijaya Grup, atau jangan-jangan Kinanti memberikan tubuhnya pada Pak Samsul? Walau pun Pak Samsul sudah tua kalau di kasih yang bening tidak akan menolak."
"Lagian juga apa Ali itu bodoh, sudah tampan, pinter agama dan bonusnya Ali seorang pengacara, kenapa mau sama batu krikil seperti Kinanti?"
"Dari mana kamu tau Ali sebagai pengacara?"
"Kebetulan Omku mengurus perceraian dan aku juga ikut hadir di sana, ternyata yang menjadi pengacara itu Ali. Ali memang menolak untuk masuk televisi di berbagai acara, alasanya Ali tidak ingin berurusan di luar pengadilan."
"Bodoh banget dong si Ali mau menikahi Kinanti, Aska saja membatalkan pernikahan, mungkin jijik, walau pun cantik juga sudah banyak yang memakainya."
Kinanti mengepalkan ke dua tangannya saat mendengar mereka yang menghinanya, ia langsung mendang tong sampah.
Bruk...!
"Berani sekali kamu membicarakan aku di belakangku! Apa kamu iri karena bisa di nikahi oleh Ali?!"
4 wanita di sana sangat terkejut saat sudah ada Kinanti di belakangnya.
"Kinanti sejak kapan kamu ada di sini?"
Salah satu dari ke empat wanita itu bertanya pada Kinanti.
"Menurutmu sejak kapan aku di sini bodoh?! Aku tidak memiliki urusan bersama kalian! Bahkan kenal saja tidak, tapi kalian dengan seenaknya menuduhku!"
Plak...!
Satu tamparan itu mendarat mulus di pipi wanita yang tadi bertanya.
"Heh bodoh! Dasar rongsokan kurang ajar! Berani sekali kamu menampar temanku!"
Mereka bertiga langsung mendekati Kinanti, lalu yang duanya langsung memegangi tangan Kinanti.
"Lepas bodoh! Kamu mau apa?!"
Salah satu dari mereka yang bernama Tania akan menampar Kinanti, tapi nihil karena Kinanti melengkungkan tubuhnya ke belakang, lalu langsung menedang perut Tania.
Brug...!
Suara tendangan itu sangat keras hingga Tania jatuh ke lantai.
"Lancang sekali kamu ingin menamparku!"
__ADS_1
Salah satu dari mereka yang memegangi tangan Kinanti, ia langsung menjambak rambut Kinanti.
"Kamu itu harus di beri pelajaran agar tidak seenaknya! Menjadi artis baru saja sudah sombong!"
"Kinanti!"
Riana sangat terkejut saat melihat Kinanti yang di jambak. Saat mendengar suara teriakan Riana Ali juga ikut masuk ke dalam tolet wanita.
Mereka berdua buru-buru melepaskan Kinanti dan akan kabur, belum juga kabur Ali sudah bersuara.
"Ada salah satu yang kabur dari kalian akan saya pastikan kalau kalian akan mendekam di penjara! Bahkan keluarga kalian juga akan ikut menanggungnya!"
Ali berbicara tanpa melihat ke pembully istrinya, ia langsung buru-buru mengusap kepala istrinya.
"Apa sakit Jamila?"
Kinanti hanya menggelengkan kepala, ia langsung memeluk suaminya dengan sangat erat.
"Riana, bawa mereka ke ruangan Pak Samsul!"
"Iya Ali."
Ali langsung membalas pelukan dari istrinya. Ini lah yang Ali tidak suka menjadi artis, tidak semua orang suka dan tidak semua orang juga tidak suka.
Apa lagi istrinya sudah jelek di mata umum, tapi Ali berjanji ia akan mengungkap siapa dalang yang sudah mempitnah istrinya, walau pun ia belum melakukan malam pertama, tapi ia percaya kalau istrinya masih suci.
Kinanti hanya diam, ia terus saja memeluk suaminya. Ali yang baru sadar kalau ia dan istrinya masih di dalam toilet wanita, ia langsung menggendong tubuh istrinya keluar dari toilet.
Ali menggendong istrinya masuk ke ruangan miliknya, tempat ia mengecek pengembangan Alfero Grup, lalu langsung menurunkannya di sofa sambil masih terus memeluknya.
"Mana yang sakit, bilang sama Mas?"
Kinanti melepaskan pelukan dari suaminya, ia bisa melihat wajah kuatir dari suaminya.
"Jamila tidak apa-apa Mas."
"Jamila tunggu di sini, nanti Mas suruh Riana ke sini, Mas harus membereskan mereka dulu."
Kinanti hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Ali langsung mencium kening istrinya sekilas lalu langsung keluar dari ruangan miliknya. Ali langsung masuk ke ruangan Pak Samsul.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam!"
__ADS_1
Mereka semua menjawab salam serempak.
"Riana, tolong temani istri saya di ruangan yang ada pita kecil di pintunya."
"Baik Ali."
Riana langsung keluar dari ruangan Pak Samsuli. Sekarang tinggal ada Pak Samsul, Ali dan ke empat wanita tadi. Ali menghela napas berat sambil melihat ke arah mereka sekilas.
"Apa alasan kalian menyakiti istri saya?! Bukan'kah istri saya tidak memiliki masalah dengan kalian karena istri saya artis pendatang baru?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Ali, mereka semua hanya menunduk takut pada Ali. Ali menghela napas kasar sambil beristighfar karena tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaannya. Ali langsung duduk di sofa.
"Kalian duduk dulu!'
Mereka semua hanya menganggukkan kepalanya, lalu mereka langsung duduk di sofe bersebrangan dengan Ali.
"Sekali lagi saya tanya apa yang membuat kalian semua ingin menyakiti istri saya?!"
"Saya tidak suka dengan Kinanti yang selalu bersikap sombong."
Tania menjawab pertanyaan dari Ali sambil menunduk karena tidak ada satu pun dari ke tiga temannya yang menjawab.
"Sombong dalam hal apa? Bukan'kah kalian belum mengenal dekat dengan istri saya? Berani sekali kalian mengatakan istri saya sombong! Lalu apa kelakuan kalian tadi benar? Bukan'kah kalian yang terlihat sombong dan main keroyokan untuk menyakiti istri saya?!"
"Awalnya kita tidak berniat untuk menyakitinya, tapi Kinanti duluan yang menampar salah satu dari kita."
"Istri saya tidak akan menampar kalian jika kalian tidak membuat masalah lebih dulu, saya mau kalian minta maaf pada istri saya kalau kalian tidak ingin di lanjutkan ke jalur hukum, tapi untuk pekerjaan, saya tidak bisa mempekerjakan wanita kasar seperti kalian!"
"Apa hakmu memberhentikan kita bekerja? Pak Samsul saja hanya diam, tapi kamu artis pendatang baru so berkuasa di sini!"
"Alfero Grup tidak suka ada wanita kasar seperti kalian, saya memang artis pendatang baru, tapi bukan berarti saya tidak bisa memecat kalian!"
"Sombong sekali kamu! Tampang saja tampan, tapi nyatanya kamu lelaki yang menyebalkan!"
Lagi-lagi hanya Tania yang berbicara dengan Ali.
"Pak Samsul, siapkan uang pesangon untuk mereka berempat!"
"Baik Mas."
Pak Samsul memang dari dulu selalu memanggil Mas pada Ali, ia tidak mungkin memanggil Ali dengan panggilan Pak, karena Ali masih terlalu muda.
Mereka berempat saling pandang saat mendengar Pak Samsul memanggil Mas pada Ali. Pak Samsul langsung menyiapkan uang pesangon untuk mereka.
__ADS_1
"Kenapa Pak Samsul menuruti ucapan Ali dan seolah-olah Ali adalah pemilik Alfero Grup. Bahkan Reyhan dan Jamila saja tidak sombong, walau pun keponakan dari Alfero Grup, tapi kamu begitu sombong! Aku pikir kamu itu lelaki lemah lembut, tapi ternyata sama saja sombong seperti Kinanti!"
"Saya tidak peduli dengan ucapanmu, dan kamu tidak perlu tau siapa saya, tapi yang jelas siapa pun yang membuat masalah dengan istri saya akan saya pastikan hidupnya susah!"