
"Kenapa Eno dipanggil juragan nona?" tanya Agam.
"Hah?!" Sari terkejut mendengar pertanyaan Agam. "Dari mana mas ganteng tahu, kalau mbak Eno dijuluki juragan nona sama kita-kita?", batin Sari.
"Kok hah, ck!" sahut Agam kesal, pertanyaan apa jawabannya apa.
"Hmm, tapi mas ganteng janji dulu ya! Jangan bocor!" pinta Sari.
"Kamu bisa pegang itu! Katakanlah!" Jawa Agam.
"Kami panggil juragan nona, karena dia itu kaya seperti juragan tanah. Sudah kaya, cerewet dan seperti toko mas berjalan. Padahal masih muda, tapi seperti emak-emak istri juragan. Itulah kenapa manggil juragan nona." jelas Sari.
Agam mendengarkan sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Senyum tersungging di bibir Agam. Merasa sedikit lucu, toko mas berjalan! Eno sering memakai cincin lebih dari dua, selain itu tidak ada lagi.
Eno sangat menyukai cincin, jadi tidak heran koleksinya begitu banyak. Jari-jari di kedua tangannya sering penuh dengan cincin, sewaktu masih sekolah dia sering dipanggil Tesi.(Hayo siapa yang nggak kenal Tesi, itu tuh pelawak yang jari tangannya penuh dengan akik 🤭)
"Seingatku, Eno hanya memakai cincin aja! Kenapa dikata toko mas berjalan?" tanya Agam lagi, jiwa keponya dalam mode on.
"Lah, mana ada orang pakai cincin kanan kiri?! Toko mas berjalan itu namanya!" jawab Sari menaikkan suaranya satu oktaf, karena Agam menyangkal.
Agam tersenyum mendengar kata-kata pembelaan diri dari Sari.
"Okelah kalau begitu! Terima kasih atas informasinya, tolong sampaikan pada juragan nona kalau aku pulang ke rumah ibu!" ucap Agam sambil melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Sebelumnya Agam meminum sedikit es teh yang dibawa oleh Sari tadi.
"Baik, mas ganteng!" teriak Sari ikut meninggalkan tempat itu, menuju dapur untuk menyimpan nampan dan isinya.
"Sayang banget, dibuatin minum kok cuma disesap dikit aja! Aku minumlah, biar jodoh!" gumam Dari saat meletakkan nampan tersebut.
Saat Sari mulai mendekatkan gelas ke bibirnya, datang Leli mengagetkannya.
"Hayo loh! Minum bekas orang, nggak takut kena penyakit?" kata Leli tiba-tiba sudah di samping Sari.
__ADS_1
"Eng... nggak! Cuma ngecek aja kok, kenapa gak dihabiskan? Apa kurang manis ya es teh buatanku?" jawab Sari gelagapan, dia tidak menyangka jika perbuatannya ada yang melihat.
Akhirnya Sari menuang es teh ke dalam wastafel tanpa meminumnya sedikit pun.
***
Eno gelisah sepeninggal Agam, dia masih berusaha menghubungi Dzaky tapi hasilnya nihil. Masih sama seperti hari-hari sebelumnya, selalu operator yang menjawab. Setelah usahanya menghubungi Dzaky, tiada hasil Eno memutuskan menerima lamaran Agam. Seperti kata Agam sebelumnya, anggap saja pernikahan mereka nantinya sebagai ibadah. Sebagai ladang untuk mendapatkan pahala.
Selepas Maghrib, Eno menghubungi Agam untuk memberikan jawaban atas ajakan Agam.
"Mas, sudah pulang ke rumah ibu belum?" tanya Eno setelah ucapan salamnya dijawab Agam.
"Sudah! Tadi sebelum Maghrib sampai. Kenapa, hmm?" tanya Agam dari seberang telepon.
"Kirain belum, aku mau..." Eno tidak jadi melanjutkan kata-katanya karena merasa malu.
"Mau apa, hmm?" tanya Agam dengan nada lembut, sehingga membuat Eno merinding.
"Mau pulang bareng!" ucap Eno langsung menutup teleponnya.
"Jinak-jinak merpati! Ternyata Ary dan Eno memiliki banyak kesamaan. Jadi gampang menaklukkan hatinya!" monolog Agam.
Setelah itu Agam mengirimkan pesan untuk Eno, dengan senyum terukir.
"Kenapa dimatikan? Besok kita ketemu di rumah kamu saja ya! Jangan rindu!" send.
Agam menunggu balasan dari Eno, tapi hingga waktu mulai merangkak menjadi malam Eno tidak kunjung membalasnya.
"Hanya dibaca, ck!" batin Agam.
Keesokan harinya, Eno bangun pagi sekali. Eno semalaman tidak bisa tidur memikirkan acara lamaran nanti. Selain itu juga karena dia menghubungi Agam, meminta pulang bareng. Ditambah dengan pesan Agam yang membuatnya menjadi salah tingkah. Padahal hanya kata jangan rindu, tapi efeknya sangat luar biasa . Jantung Eno berdetak lebih cepat dari pada biasanya, Eno merasa seperti terkena serangan jantung karena kata-kata jangan rindu.
__ADS_1
Eno pulang mengendarai Toyota Fortuner miliknya yang jarang dipakai. Eno membeli mobil ini setelah merasakan naik mobil Ary, mobil pemberian Rendy, Pajero sport Dakar. (Author kurang paham soal mobil, jadi author ambil dari penglihatan kasat mata saja😅. Author males googling🙈)
Eno sengaja berangkat pagi untuk menghindari kemacetan selama dalam perjalanan. Selain itu, Eno juga ingin tidur di kamar yang sudah ditempati masa kecilnya.
Kedatangan Eno disambut suka cita oleh keluarganya. Keluarga Eno tidak menyangka, Eno akan pulang. Padahal selama ini Eno tidak mau dijodohkan, tapi dengan Agam dia mau menerima perjodohan ini.
Sebenarnya dalam hati kecil Eno, masih belum bisa menerima Agam. Dalam hati Eno masih ditempati Dzaky. Tapi melihat tingkah Dzaky yang tiba-tiba menghilang ketika diminta untuk melamar, hati Eno mulai goyah. Apalagi mendengar nasehat Ary, jika jodoh mau dihalangi atau dijauhkan seperti apapun pasti akan tetap bersatu.
Saat ini Eno hanya pasrah, mungkin jodohnya seorang tentara seperti ayahnya. Karena menikah itu ibadah, Eno akan menjalaninya dengan ikhlas.
"Ma, Eno ke kamar dulu!" pamit Eno begitu berada di ruang keluarga.
"Iya, sana! Jangan lupa perawatan kulit dan wajah, agar nanti saat acara lamaran terlihat memukau hadirin!" jawab Marini.
"Apaan sih, ma! Hadirin kek apa aja! Tamu undangan bukan hadirin, mama!" jawab Eno sambil menggelengkan kepalanya dan berlari menuju kamarnya.
Eno ingin segera tidur, matanya sudah ingin istirahat. Sesampainya di kamar, Eno melemparkan tasnya ke atas ranjang diikuti tubuhnya. Tak lama kemudian Eno sudah terlelap dibuai alam mimpi.
Acara lamaran dilaksanakan siang hari sekitar jam setengah dua. Jadi Eno masih ada waktu tidur beberapa jam. Sehingga Eno terbangun sudah segar.
Acara lamaran berjalan sesuai rencana. Acara yang dihadiri oleh kedua belah pihak keluarga itu tidak mengalami hambatan sedikit pun. Eno juga pasrah atas apa yang diputuskan oleh keluarganya. Agam pun sama, dia menyerahkan semuanya pada keluarga.
Setelah beberapa saat mereka rembugan, akhirnya diputuskan mereka akan menikah dua bulan lagi. Mengingat betapa banyaknya persyaratan yang harus dilengkapi jika seorang prajurit menikah. Bahkan ada serangkaian tes yang harus dilakukan oleh calon mempelai.
Eno memaksakan senyumnya sepanjang acara lamaran tersebut. Walaupun dalam hati kecilnya berat menerima perjodohan ini, Eno tetap menjalaninya. Mungkin ini jawaban dari do'anya selama ini, di dekatkan dengan jodohnya.
Benar apa yang dikatakan ibunya, lelaki yang baik akan memberikan mahar pada wanitanya. Mahar akan menang dibanding dengan mawar.
Sore hari, acara lamaran itu baru selesai. Eno digoda terus oleh keluarga besarnya.
"Cieeee... yang sebentar lagi mau nikah! Gimana rasanya?" goda sepupu Eno dari pihak ibunya.
__ADS_1
"Pasti seneni dong! Apalagi suaminya gagah dan ganteng." sahut sepupu yang lainnya.
Eno hanya tersipu malu digoda oleh saudara-saudaranya. Wajah Eno sudah seperti tomat masak.