
Selesai mandi Agam keluar dari kamarnya mencari keberadaan anak dan istrinya. Ternyata istrinya masih betah duduk di bawah pohon mangga. Eno masih memegang piring berisi nasi goreng masakan Agam tadi sebelum mandi.
Agam mendekati Eno yang tampak hanya mengaduk-aduk nasi tanpa memakannya.
"Kenapa tidak dimakan, hmm?" tanya Agam sambil mendudukkan dirinya di samping Eno.
"Nasi gorengnya nggak ada cumi-cuminya mana bisa disebut nasi goreng seafood! Aku mau makan nasi goreng seafood bukan nasi goreng kek gini!" kata Eno sambil memajukan bibirnya sehingga mengerucut, tampak lucu di mata Agam.
"Nggak ada cumi-cumi di dalam kulkas. Walaupun nggak pakai cumi-cumi rasanya tetap enak seperti biasanya. Kamu makan ya, kasihan anakku yang di dalam perut kelaparan!" bujuk Agam sambil mengambil alih piring dari tangan Eno.
Agam mulai menyendok nasi dan mengarahkannya ke mulut Eno.
"Ayo buka mulutnya, aku suapin!" ucap Agam memaksa Eno untuk memakan nasi goreng permintaan Eno.
Eno masih marah karena campuran nasi gorengnya hanya udang, teri dan telur. Eno sangat ingin nasi goreng dengan tinta cumi-cumi sebagai bumbunya. Agam sering memasakkan nasi goreng itu sehingga Eno ketagihan dengan nasi goreng seafood buatan Agam.
"Mana ada nasi goreng seafood isinya ikan teri!?" kata Eno kesal dengan mata berkaca-kaca.
"Ada! Nasi goreng seafood made in chef Agam." jawab Agam sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Aku maunya nasi gorengnya pakai cumi-cumi, bukan teri! TITIK!" ucap Eno lagi, kali ini dengan penekanan.
"Iya, besok aku masakin buat kamu. Sekarang kamu makan dulu nasi goreng yang ini. 'Kan sayang kalau tidak dimakan. Atau nasi gorengnya aku kasih saja ke Wulan atau Arum, kalau kamu tidak mau memakannya?!" kata Agam dengan sedikit ancaman.
"Enak aja! Nggak boleh! Hanya aku sama anak-anak yang boleh menikmati hasil masakan kamu!" teriak Eno dengan suara keras, Eno benar-benar marah karena tidak sesuai keinginannya.
Agam hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat ulah istrinya.
"Kalau tidak boleh dimakan orang lain, makanya kamu makan ini dan habiskan!" titah Agam.
"Iya deh iyaa! Aku makan tapi suapin!" akhirnya Eno mau memakannya.
"Ini ngapain? Dari tadi juga mau disuapin, kamu malah buat drama sendiri!" jawab Agam sambil menggigit bibirnya agar tidak marah-marah pada istri kesayangannya itu.
Sesaat kemudian Fani datang bersama pengasuhnya, Arum.
__ADS_1
"Mamaa!" teriak Fani sambil berlari mendekati kedua orang tuanya.
Arum langsung meninggalkan mereka, masuk ke dalam rumah.
Eno merentangkan kedua tangannya untuk menerima pelukan dari Fani, putri sambungnya. Fani pun langsung masuk ke dalam pelukan Eno.
"Mama makan apah?" tanya Fani ketika sudah dalam pelukan Eno.
"Nasi goreng. Mau?" jawab Eno sambil mencium pipi Fani yang gembul.
"Mau!" jawab Fani sambil mengangguk.
Agam pun bergantian menyuapkan nasi goreng itu, dari Eno berpindah ke Fani. Agam sangat menyayangi anak dan istrinya.
Tanpa Agam dan Eno sadari, keempat karyawan penjaga tokonya sedang menatap ke arah mereka. Para karyawan yang melihat perhatian Agam pada juragan nona menjadi kepengin cepat menikah, agar bisa merasakan perhatian juga. Mereka berempat saling berpelukan di dalam toko sambil melihat keluarga kecil itu.
"Kapan ya aku bisa merasakan kek mbak Eno?" ucap Leli lirih dijawab dengan anggukan oleh ketiga temannya.
"Aku juga pengen seperti juragan nona!" sahut Wulan.
"Mbak Reni nggak pengen apa kek mbak Eno gitu?" tanya Sari penasaran.
Reni selalu menghindar jika diajak membahas pernikahan.
***
Dua bulan kemudian...
Kehamilan Eno sudah memasuki usia sembilan bulan. Hari kelahiran pun tinggal menghitung hari saja. Eno pun semakin susah tidur. Sudah berbagai posisi tidur dia gunakan, tapi tetap susah. Eno akan tertidur jika sudah dijinakkan oleh Iman. Setelah selesai bermain dengan Iman pasti Eno akan tertidur karena kelelahan beradu keringat. ( Hayoo siapa si Iman😂)
Malam ini Eno tertidur pulas setelah Agam mengikuti kemauan si Iman berpetualang ke goa basah dan berlendir tapi sangat nikmat.
Agam memeluk Eno sambil mengusap punggung istrinya itu.
Beberapa jam setelah terlelap Eno merasakan perutnya mulas serta pinggangnya panas. Eno menikmati rasa itu dengan meringis.
__ADS_1
"Sshhh" Eno meringis kesakitan tapi tidak berani membangunkan suaminya.
Eno mencoba bangun dari posisinya, hendak memakai pakaiannya. Tadi setelah lelah bermain dengan Iman, Eno langsung tertidur tanpa memakai pakaiannya terlebih dahulu. Begitu juga dengan Agam, saat ini masih naked tanpa selembar benangpun. Hanya selimut yang menutupi tubuh mereka.
Rasa mulas yang dirasakan Eno mulai hilang. Eno langsung bergegas memakai bajunya dan membersihkan dirinya di kamar mandi. Saat di kamar mandi rasa mulas itu datang lagi. Eno pun berjongkok dia atas kloset, dia berpikir mungkin rasa mulas itu karena ingin buang air besar.
Agam yang masih tertidur pulas tidak tahu jika istrinya sedang menahan rasa nikmat akibat ulah anaknya.
"Ssshhh..." kembali meringis kesakitan setelah kembali ke ranjangnya.
Eno tidak bisa kembali tidur karena rasa mulas itu kini semakin sering menyerangnya. Akhirnya Eno memberanikan dirinya untuk membangunkan Agam.
"Mas! Mas!" ucap Eno sambil menggoyangkan badan Agam.
Agam yang merasa tubuhnya bergerak akhirnya terbangun dari tidurnya.
"Hmm, apa apa?" tanya Agam ketika melihat tangan Eno berada di atas lengannya.
"Perutku mulas sekali!" jawab Eno sambil meringis bahkan meremat lengan Agam.
Agam langsung terduduk begitu mendengar keluhan Eno dan remasan di lengannya.
"Sudah berapa lama?" tanya Agam begitu kesadarannya sudah seratus persen.
"Sudah satu jam yang lalu, tapi belum juga hilang. Mungkin dia ingin melihat dunia!" jawab Eno sambil mengelus perutnya yang buncit.
Agam langsung berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi, tidak mempedulikan keadaannya yang saat ini naked tanpa sehelai benangpun. Agam membersihkan dirinya dengan cepat. Setelahnya dia mengambil tas berisi semua keperluan bayi saat lahir.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Agam sambil merangkul pinggang Eno.
Agam dan Eno berangkat ke rumah sakit sesaat sebelum adzan Subuh berkumandang. Dia membangunkan Arum untuk menjaga rumah dan anaknya. Sedangkan urusan toko sudah dihandle semua oleh Reni.
"Ssshhhh... mas! Sakit banget!'' rengek Eno manja sambil kembali meremat lengan Agam.
"Sabar! Sebentar lagi sampai!" jawab Agam tetap fokus pada jalanan di depannya.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian, Agam dan Eno sudah sampai di rumah sakit. Agam langsung memanggil semua petugas yang sedang berjaga.
Agam tidak tega melihat istrinya kesakitan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengurangi rasa sakit itu.