MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Percaya Padaku


__ADS_3

Akhirnya Asih menghubungi Ary, dia memberitahu jika bunda sekarang sakit dan dirawat di rumah sakit. Malam itu juga Ary dan Alex kembali pulang, untuk melihat keadaan bunda.


"Bunda kenapa, mbak?" tanya Ary begitu sampai di rumah sakit tempat Widya dirawat.


"Bunda terkena serangan jantung. Sudah lima jam belum sadarkan diri." jawab Karina.


Ary begitu terkejut hingga tanpa sadar di berjalan mundur beberapa langkah, Ary tidak bisa percaya semua ini. Tadi saat dia dan suaminya meninggalkan rumah itu, bunda masih tampak sehat. Bahkan senyum bunda selalu mengembang selama dia menginap di rumah orang tuanya.


Alex yang berada di samping Ary langsung memegang tangannya, Alex mere mas tangan Ary untuk menyalurkan kekuatan. Ary begitu syok mendengar kabar ibunya koma karena serangan jantung.


"Sabar, Yang! Kita berdo'a saja semoga bunda cepat sembuh." bisik Alex sambil memeluk istrinya.


***


Sementara itu kakak Ary yang paling besar baru saja tiba di bandara. Dia membawa serta istri dan anak-anaknya kali ini, tidak seperti saat Ary menikah. Handika pulang sendiri saat acara pernikahan Ary.


Handika terlebih dahulu membawa anak istrinya ke rumah orang tuanya. Setelah itu dia akan ke rumah sakit. Saat sampai di rumah itu, tampak Asih juga baru sampai. Asih disuruh pulang oleh tuannya, karena di rumah sakit sudah ramai anak dan menantunya.


Surat undangan yang diberikan oleh Jessie tadi sore masih tergeletak di meja tamu yang ada di teras. Karena warnanya yang mencolok, membuat Handika tertarik untuk melihatnya.


Handika mengambil surat undangan tersebut kemudian membacanya. Disana tertulis nama Alex sebagai pengantin pria dan Tere sebagai pengantin wanita. Disana juga tertulis kapan pernikahan akan dilaksanakan.


Betapa terkejutnya Handika ketika mengetahuinya.


"Asih!" teriak Handika mengenggelegar memenuhi ruangan dalam rumah itu.


Asih yang mendengar teriakan tuannya langsung berlari mendekat.


"Iya, mas! Ada yang bisa Asih bantu? tanya Asih ketakutan, karena dia tidak pernah marah sebelumnya.


Baru sekali ini Handika murka, Handika mewarisi sifat ayahnya yang penyabar dan lemah lembut. Tapi malam ini, sepertinya kesan sabar dan lemah lembut itu lenyap terbawa angin.

__ADS_1


"Apa ini yang membuat bunda pingsan?" tanya Handika menunjukkan sebuah surat undangan berwarna gold. Handika mencengkeram kertas itu sangat kuat hingga buku jarinya memutih.


"I-iya mas, tadi ibuk pingsan setelah membaca itu." jawab Asih sambil meremas tangannya karena ketakutan melihat Handika.


Handika langsung pergi ke rumah sakit menaiki motor, karena hanya ada motor di rumah itu. Mobil Kemal sudah dibawa ke rumah sakit tadi. Handika pergi ke rumah sakit tempat ibunya dirawat dengan kecepatan tinggi, sehingga hanya sepuluh menit sudah sampai. Tidak lupa dia juga membawa surat undangan pernikahan Alex dan Tere.


Begitu sampai di rumah sakit, Handika langsung menuju ruang ICU dimana ibunya dirawat. Dari kejauhan tampak olehnya adik-adiknya duduk di lorong. Alex sedang menenangkan Ary dengan mengusap punggung Ary.


Handika langsung menghampiri Alex dan menariknya berdiri.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Handika melayangkan pukulan pada perut Alex sebanyak tiga kali. Saat hendak memukul lagi badannya sudah didekap Adit, adik iparnya. Tenaga Adit yang lebih besar dari Handika mampu menghentikan Handika dalam waktu singkat.


"Sabar, mas! Kita selesaikan dengan kepala dingin." kata Adit.


Air mata Ary kembali bercucuran melihat suaminya dipukuli kakaknya sendiri.


"Mas Han, kenapa? Tiba-tiba memukuli suamiku!" tanya Ary pada Handika.


Kemal yang sudah mulai terlelap, karena malam sudah larut dan kelelahan terbangun oleh suara anak-anaknya yang ribut.


"Ada apa ini, kenapa malam-malam begini ribut? Apa kalian tidak punya tata krama dan malu?" tanya Kemal dengan suara pelan tapi tegas, sehingga anak-anaknya tidak ada yang berani mengangkat kepalanya.


"Bunda terkena serangan jantung karena ini kan?" tanya Handika sambil menunjukkan surat undangan yang dibawanya dari rumah.


Ary mendekati Handika kemudian mengambil surat undangan tersebut. Ary membacanya dengan teliti, air mata Ary sepertinya memiliki stok yang melimpah. Karena sejak mendengar kabar ibunya masuk rumah sakit hingga sekarang belum juga berhenti menangis.

__ADS_1


Ary terduduk lemas setelah membaca surat undangan berwarna gold itu.


"Apa ini benar?" tanya Ary sambil menyerahkan surat undangan pernikahan tersebut pada suaminya, Alex.


Alex mengambil surat undangan tersebut kemudian membacanya sekilas.


"Ini tidak benar! Aku dan Tere sudah berpisah sebelum aku menikahi kamu. Karena aku selama ini belum pulang ke rumah, jadi aku tidak tahu apalagi rencana mami." jawab Alex.


Alex merasa syok membaca surat undangan tersebut, apalagi Ary dan keluarganya. Kasihan Widya yang memiliki riwayat lemah jantung harus mendengar kabar burung seperti ini. Tidak heran jika kakak iparnya begitu marah padanya.


"Percaya padaku! Apapun yang terjadi tetap di sampingku. Aku mohon!" kata Alex bersujud memegang kedua tangan Ary yang berada dipangkuan.


Ary tetap diam tak bergeming, air matanya terus turun membasahi pipinya. Alex menghapus air mata itu berulang kali. Tetapi semakin dihapus, air mata itu semakin deras mengalir.


Kemal dan Handika merasa hancur karena wanita yang amat mereka sayangi selalu dirundung kesedihan. Kalau saja dia tidak mengenal Alex, mungkin tidak akan seperti ini. Tapi semua ini sudah menjadi garis hidup Ary.


"Kami akan percaya jika kamu bisa membuktikan jika surat undangan ini palsu. Dan kamu tidak akan pernah menikah lagi." kata Handika mewakili Ary.


Ary masih diam mengunci mulutnya. Hatinya hancur karena ulah ibu mertuanya. Jika tidak merestui, cukup dirinya saja yang disakiti. Tidak perlu melibatkan kedua orang tuanya. Kenapa harus menyebarkan undangan palsu seperti ini, seharusnya dia mendatangi Ary. Menyuruh Ary meninggalkan Alex. Ary pasti akan mengabulkannya, dengan tangan terbuka penuh keikhlasan. Karena sejatinya, anak laki-laki itu milik ibunya. Jadi dia tidak akan tega membiarkan seorang ibu kehilangan anaknya.


"Besok aku akan pulang ke rumah untuk menanyakan maksud mami mengirimkan surat undangan ini. Aku berjanji akan menyelesaikan semua ini secepatnya." Alex berjanji di depan keluarga Ary.


Alex begitu mencintai Ary, dia tidak ingin kehilangan Ary lagi. Apapun akan dilakukannya untuk mempertahankan Ary di sisinya. Tanpa Alex ketahui, jika kepulangannya nanti akan memisahkan Alex dengan Ary.


"Sebaiknya kalian istirahat, sudah hampir pagi!" kata Kemal pada anak-anaknya.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, mereka masih terjaga menunggu Widya terbangun dari komanya.


Satu persatu mereka akhirnya tertidur, kini hanya tinggal Alex yang terjaga. Dia merasa sangat bersalah karena ulah ibunya. Yang telah membuat ibu mertuanya terbaring koma dan istrinya meluruhkan air matanya berulang kali. Alex masih mengingat kata-kata ibu mertuanya, lebih baik mati daripada melihat Ary dalam kesedihan. Alex berjanji akan segera menyelesaikan masalah ini secepatnya, sehingga Ary bisa tertawa lagi.


Maaf ya sudah beberapa hari tidak bisa up.

__ADS_1


Thorman lagi sibuk RL, jadi melupakan kesehatan. Kepala kambuh lagi disertai dengan sakit perut.


Karena sudah mendingan aku kasih satu bab dulu ya. Semoga nanti ada waktu luang untuk up bab berikutnya.


__ADS_2