
Alex akhirnya pamit pulang setelah beberapa saat berada di rumah sakit itu. Hatinya merasa berbunga-bunga karena bisa mendekati Ary lagi. Alex ingin melakukan pendekatan dengan Ary secara pelan-pelan saja. Dia tidak ingin gegabah, takut kecewa.
Alex sampai di rumah tujuh malam, karena dia juga singgah di beberapa tempat tadi. Walaupun lelah karena lama di perjalanan, tapi lelah itu sirna. Karena pertemuannya dengan Ary yang tidak terduga tadi. Pertemuan yang membuatnya bersemangat untuk mendapatkan hati Ary kembali.
"Lex! Baru pulang? Sudah makan?" tanya mami Alex berurutan seperti gerbong kereta.
"Iya, Mi! Baru nyampai ini. Aku ke kamar dulu, Mi. Gerah!" jawab Alex sambil mengibaskan kerah kemejanya.
Alex meninggalkan maminya di ruang keluarga. Saat Alex mulai menapakkan kakinya di tangga, Kevin berteriak memanggilnya.
"Dad, tadi Kevin dapat bintang lima lho!" teriak Kevin begitu melihat ayahnya sudah sampai di rumah.
Mendengar suara anaknya, Alex menghentikan langkahnya dan berbalik badan menengok ke anaknya.
"Oh ya?! Pinter anak Daddy!" kata Alex seraya mendekati anak laki-lakinya.
"Iya, dad! Tadi Kevin gambar keluarga, ada Kevin, Daddy dan aunty Tere." jawab Kevin sambil menganggukkan kepalanya.
Alex yang mendengar kata-kata Kevin terkejut, karena selama ini dia tidak tahu jika Tere sering datang ke rumah itu.
"Kenapa nggak gambar eyang saja? Keluarga kita kan Daddy, eyang putri, eyang kakung dan Kevin. Aunty Tere itu hanya teman sekolah Daddy." Alex mencoba menjelaskan bahwa Tere bukanlah bagian dari keluarga mereka.
"Kamu kenapa sih, Lex?! Itu tandanya Kevin mau Tere menjadi mommy-nya!" kata mami Alex kesal, karena selama ini Alex selalu menghindari Tere.
"Tapi mi..." Alex belum menyelesaikan kata-katanya tapi sudah dipotong maminya.
"Sampai kapan kamu sendiri? Kevin juga butuh sosok seorang ibu. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari mommy-nya, sekarang ada Tere yang menyayanginya. Seharusnya kamu itu bersyukur!" omel mami Alex.
Alex mengambil udara sebanyak mungkin kemudian menghembuskannya dengan kasar. Alex tidak tahu kenapa ibunya sedari dulu ingin menjodohkannya dengan Tere.
"Bukan berarti harus Tere yang menjadi mommy sambungnya Kevin, mi! Alex sudah punya calon mommy untuk Kevin. Jadi mommy tidak usah repot-repot mencarikan mommy untuk Kevin." jawab Alex.
Alex tidak mau dijodohkan oleh orang tuanya, dia ingin menentukan pilihannya sendiri.
"Mami tidak yakin dengan pilihan kamu! Buktinya istrimu dulu tukang selingkuh. Cari istri itu harus dilihat bibit bebet bobotnya. Jadi tidak salah pilih." kata mami Alex.
"Alex yakin, kali ini Alex gak salah pilih! Karena Alex sudah lama mengenalnya. Kebaikannya tidak diragukan lagi. Selain itu di juga cantiknya, cantik hati dan parasnya." jawab Alex meyakinkan maminya.
"Mi, yang dulu itu karena kesalahan. Alex tidak mau melakukan kesalahan lagi. Dan sekarang Alex sudah yakin, kalau dia wanita yang baik." imbuhnya sambil berjalan mendekati Kevin.
Alex meninggalkan maminya, kemudian menggandeng anaknya untuk diajak masuk ke kamar. Alex tidak ingin Kevin melihat perdebatan antara dirinya dengan ibunya.
"Maaf mi, Alex mau mandi dulu!" kata Alex sambil berlalu.
Saat sampai di kamarnya, Alex menyalakan televisi untuk ditonton Kevin selama dia mandi. Alex tidak bisa setiap hari menemani Kevin, karena waktu Alex habis untuk mengurus bisnisnya.
***
__ADS_1
"Tadi siang aku ketemu Alex!" cerita Ary pada Eno.
Saat ini Ary yang bertandang ke rumah Eno, karena Eno sedang sibuk mengepak barang yang akan dibawa pindahan. Ary berniat untuk membantu Eno mengepak barang, sekalian dia juga ingin bercerita tentang kejadian tadi siang.
"Cieee, yang mau CLBK!" ledek Eno.
"Siapa yang CLBK? Orang kami hanya kebetulan bertemu di rumah makan saja kok, tanpa rencana buat ketemuan." jawab Ary.
"Terus?" tanya Eno sambil menata buku ke dalam kardus.
"Kami makan siang bersama, tapi lain meja. Kemudian dia mengantarkan aku ke rumah sakit." lanjut Ary.
"Nggak ada yang diomongin kah? Padahal kalian itu sudah tua, seharusnya tidak seperti ABG labil. Tidak usah menunggu waktu lama, langsung saja ke pelaminan!" kata Eno sambil mengikat kardus tadi.
"Apaan sih ABG labil?! Kami kan hanya berteman biasa saja kok! Otakmu sudah lari kemana-mana." jawab Ary.
"Teman katamu? Sudah jelas Alex masih menaruh harapan sama mu. Emangnya Alex nggak ngomong apa, kalau dia masih mencintai kamu?" Eno penasaran sehingga menghentikan aktivitasnya.
"Ngomong apaan, orang dia cuma cerita mau buka mall di Purworejo. Nggak ada yang lainnya." jawab Ary mencebikkan bibirnya.
"Alex dari dulu selalu lambat! Kamu yang seharusnya maju duluan, kalau kek gitu." saran Eno.
"Emang aku apaan, maju duluan. Aku masih ingin sendiri, No! Belum ada niat untuk menjalin hubungan dengan seseorang." kata Ary melo, dia selalu mengingat Rendy.
"Kamu itu harus bisa mengenali suara hatimu, kepada siapa itu berlabuh. Jangan sampai kamu terlambat menyadari, nanti menyesal tiada guna!" nasehat Eno sambilIya duduk mendekati Ary.
"Jangan sampai kejadian itu terulang lagi. Kamu terlambat menyadari bahwa kamu juga mencintai Rendy. Aku tidak ingin kamu kecewa lagi. Segera tanyakan pada hatimu, siapakah pemilik yang sebenarnya. Brandon atau Alex! Karena aku lihat selama ini, kamu begitu nyaman di sisi Brandon. Walau tidak menutup kemungkinan kamu mencintai Alex. Sebagian besar nyaman itu lebih dipilih dari pada cinta." kata-kata Eno begitu mengena di hati Ary.
"Sekarang masih belum ada niatan untuk membangun sebuah rumah tangga. Entah besok atau nanti!" jawab Ary menanggapi saran dari Eno.
"Kamu lihat video ini, dengarkan dan resapi. Kemudian renungkan!'' kata Eno kesal.
Eno memutar sebuah video musik, lagu Judika yang berjudul 'Jikalau Kau Cinta'. Ary mulai mendengarkan lagu itu tanpa mau melihat videonya.
Jika kau cinta
Benar-benar cinta
Jangan katakan
Kamu tidak cinta
Jikalau kau sayang
Benar-benar sayang
Tidak hanya kata atau rasa
__ADS_1
Kau harus tunjukkan
Jangan sampai
Hingga waktu perpisahan tiba
Dan semua
Yang tersisa hanyalah air mata
Hanya air mata
Mungkin saja
Cinta kan menghilang selamanya
Dan semua
Yang tersisa hanyalah air mata
Hanya air mata cinta
Kemanapun kau acuh
Cinta tak pernah rapuh
Berpaling pun tak mampu
Hilangkan cinta
Percayalah
Ary seperti merasa tersindir dengan lagu itu, karena dulu saat bersama Rendy, Ary tidak mau mengakui perasaannya. Bahkan Ary menyangkal perasaan tersebut, hingga saat Rendy meninggal Ary baru menyadari betapa besar rasa cintanya pada Rendy.
Karena terlambat menyadari perasaannya itu, Ary menjadi semakin menutup diri. Dia terus menyendiri dan mengenang kebersamaannya dengan Rendy. Walaupun tidak lama bersama Rendy, rasa nyaman yang Rendy berikan mampu menggeser posisi Alex di hatinya.
Sekarang saat Alex datang kembali, ternyata posisi Rendy masih raja di hati Ary. Walaupun dia juga merasakan masih memiliki rasa pada Alex, tapi tetap mempengaruhi perasaannya.
Mungkin rasa kecewanya terhadap Alex belum bisa hilang. Sehingga Ary cenderung ketus pada Alex. Ary masih menunggu Alex untuk jujur kepadanya. Jujur menceritakan semuanya sejak keberangkatannya ke Singapura hingga sekarang.
Para readers tersayang, othor mau minta tolong dong 👉👈
Berhubung novel ini saya ikutkan lomba, saya mau minta dukungan dari readers semuanya 🙏🙏🙏
Baik berupa like, komen, favorit, vote dan gift.
Terima kasih 😘😘😘
__ADS_1