MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
MDA 2. Akhirnya


__ADS_3

Saat Agam melepaskan kain terakhir yang melekat, Eno tidak sengaja menatap ke arah Agam. Eno langsung berdiri dan berlari ke arah sudut kamar.


Eno ketakutan melihat tongkat sakti yang akan digunakan untuk bercocok tanam. Tongkat sakti itu besar dan panjang, berdiri tegak menantang penuh keberanian.


Agam pun kebingungan melihat Eno yang tiba-tiba lari menjauh darinya.


"Kenapa kamu lari?" tanya Agam masih dalam posisi berjongkok di atas ranjang.


"Takut!" jawab Eno sambil menutup kedua matanya, sedangkan badannya masih naked tanpa disadarinya.


Melihat posisi duduk Eno yang berjongkok dan bersandar di dinding, membuat Agam semakin berhasrat dan tak tertahankan lagi. Tapi Agam masih mencoba menahannya.


"Takut apa, hmm?" tanya Agam mulai mendekati Eno.


"Takut itu!" jawab Eno sambil salah satu tangannya menunjuk ke arah Agam, sedangkan satunya lagi menutupi wajahnya.


"Besar sekali! Mana bisa masuk?!" lanjut Eno.


Agam terkekeh mendengar kata-kata Eno.


"Kita coba dulu, kalau belum dicoba mana tahu?! Setahuku bisa, kan milikmu lentur dan elastis," Jawa Agam sambil mendekati Eno.


Agam semakin dekat dan dapat dilihatnya dengan jelas milik Eno yang berwarna merah muda semakin terbuka seperti irisan buah. Si Iman pun semakin mengeras sempurna, bahkan sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam lubang kenikmatan.


Akhirnya Eno luluh juga, dia pun bangkit dari duduknya.


"Matikan lampunya, mas!" pinta Eno.


Agam pun mematikan lampu kamar itu, sekarang tinggal lampu temaram yang berasal dari balkon kamar. Lampu duduk di atas nakas pun mati, sehingga benar-benar mendukung suasana.


Agam berjalan mendekati Eno yang saat ini sudah berada di sisi ranjang. Agam memulai aksinya sehingga terdengar suara lenguhan Eno yang tertahan.


Tanpa Eno sadari saat ini posisi mereka sudah saling menindih. Tongkat sakti sudah siap sempurna, begitu juga lembah untuk bercocok tanam sudah basah untuk digarap.


"Kreekkk!" suara seperti sesuatu yang robek terdengar diiringi jerit kesakitan Eno.

__ADS_1


"Aaaa..." jeritan Eno dibungkam oleh Agam dengan bibir .


Agam kembali mencium dan melu mat bibir Eno untuk mengurangi rasa sakit. Agam belum menggerakkan tongkat saktinya, takut Eno semakin kesakitan. Setelah dirasa Eno sudah terbiasa dengan kehadiran tongkat saktinya, Agam mulai bergerak perlahan.


"Sshh... mas, aku mau pi-pis... aahhh!" kata Eno di sela gerakan Agam.


"Keluarkan sayang!" jawab Agam sambil terus memompa dari bawah.


Sudah dua kali Eno merasakan puncaknya, tapi Agam masih tenang.


"Masih ja... uuhhh!" kata Agam semakin mempercepat gerakannya.


Satu jam sudah berlalu, bahkan Eno sudah dua kali pelepasan. Agam masih terus bergerak dengan lincahnya. Mulutnya memainkan dua gundukan kenyal milik Eno. Tangannya menyangga tubuhnya agar tidak menimpa tubuh Eno.


Gerakan Agam kadang cepat kadang melambat. Eno sudah merasa lemas, tapi sepertinya Agam masih kuat dan terus berpacu dalam kenikmatan.


Agam mempercepat gerakan memaju mundurkan panggulnya. Semakin cepat dan semakin cepat.


Eno dan Agam akhirnya menjerit bersamaan mencapai puncak kenikmatan bersama-sama. Akhirnya Agam merasakan pelepasan juga. Bibit kecebong dilepaskan memenuhi rahim Eno.


Akhirnya Eno mengalami pelepasan entah yang ke berapa kali, sedangkan Agam baru sekali.


Tanpa melepaskan tongkatnya, Agam masih memainkan dua bukit kenyal Eno. Setelah puas bermain dengan bukit kenyal itu, Agam mendekap Eno dan merubah posisi. Agam menarik Eno dalam dekapannya tanpa melepaskan tongkatnya. Agam sengaja menahannya, agar terlepas sendiri untuk mengurangi rasa sakit pada milik Eno.


Sesekali Agam mencium kening dan pelipis Eno.


"Terima kasih, sayang!" ucap Agam sambil terus menciumi wajah Eno.


Eno sudah tertidur karena kelelahan, saat Agam masih menciumnya. Tenaga Agam sangat kuat karena sudah biasa olahraga dan latihan fisik. Sehingga malam ini, Eno habis digarap Agam.


Keesokan paginya, setelah Agam pulang dari masjid pun kegiatan panas mereka kembali terulang. Apalagi hari ini hari Minggu sehingga Agam mengurung Eno dalam kamarnya.


Hari sudah menjelang siang, tapi Eno dan Agam masih asik bergelung di dalam kamar. Fani sudah rewel mencari ibu sambungnya. Walaupun hanya ibu sambung, bagi Fani Eno adalah ibu kandungnya. Apalagi saat itu usia Fani belum genap dua tahun saat bersama Eno. Dengan kasih sayang Eno, Fani bak anak kandung Eno.


"Mama! Pani mau mama!" teriak Fani di sela isak tangisnya.

__ADS_1


Fani terus menangis mencari mamanya, Eno. Anak kecil itu tidak tahu apa yang orang tuanya lakukan, sehingga terus merengek mencari mamanya. Tak sekalipun dia memanggil ayahnya, yang ada dalam benak Fani hanya mama.


"Mama kurang enak badan, jadi istirahat. Fani nggak boleh ganggu mamanya!" kata Leli menenangkan anak kecil itu.


"Iya, mama lagi bobok. Fani main di sini aja, ada mbak Leli, mbak Reni, mbak Sari. Mbak Wulan juga ada! Minta gendong mbak Wulan aja, empuk!" kata Arum sang pengasuh baru Fani, sambil menunjuk gadis yang memiliki badan paling besar diantara mereka.


"Nggak mau! Fani hanya mau mama!" jawab Fani semakin mengeraskan suara tangisnya.


"Aduuhhhh! Si bos ngebet banget buat adonannya! Lama banget lagi, sampai nggak inget anak!" gerutu Reni kesal karena telinganya sakit mendengar tangisan Fani.


"Hehehe... Mbak Reni pengen ya?" ledek Leli sambil tertawa kecil.


"Bukan pengen, tapi pengang telingaku! Nggak boleh pengen, belum ada pasangan!" jawab Reni makin kesal diledek Leli.


"Mbak Reni kan yang paling tua di sini, sudah waktunya lho mbak! Aku tunggu undangannya!" ucap Wulan menimpali.


"Aku juga mau diundang di nikahan mbak Reni," sahut Sari.


"Iya mbak, ditunggu undangannya!" timpal Arum.


Merasa dicuekin mbak-mbak yang menjaganya, Fani menguatkan suara tangisannya.


"Huwaaaa!" teriak Fani sambil memainkan kakinya di lantai berkeramik coklat itu.


Mereka berlima sontak terkejut dan langsung mendekati Fani. Ada yang mengusap punggung Fani, ada yang menghapus air mata di pipi Fani. Ada juga yang mengeluarkan berbagai gerakan lucu agar majikan cilik itu terdiam.


Di toko, para karyawannya sibuk menenangkan juragan cilik. Sedangkan di kamar, juragan nona dan mas juragan sedang asik bercocok tanam. Peluh mereka sudah membanjiri tubuh, tapi aktivitas bercocok tanam itu belum usai juga.


Agam seperti orang yang balas dendam, setelah sekian lama berpuasa akhirnya bisa menikmati lagi surga dunia. Eno sampai kewalahan dibuatnya. Eno sudah berulangkali memohon untuk berhenti, tapi Agam tidak bisa berhenti. Bagi Agam, Eno adalah candu yang sudah mendarah daging dalam tubuhnya. Tidak ada rasa puas sedikit pun dalam mereguk nikmatnya surga dunia, seolah esok tiada hari lagi.


"Su... dahhh... capek! Ahhhkkk..." teriak Eno dengan tubuh basah keringat dan lemas.


"Ughhhhh...." lenguhan panjang terdengar dari mulut Agam setelah kembali melepaskan kecebongnya.


Agam melepaskan penyatuan mereka kemudian mengambil tisu basah untuk membersihkan sisa percintaannya dengan Eno. Setelah bersih Agam menyusul Eno yang kembali terlelap.

__ADS_1


Hadeehh siang ini super panas yak 😂😂😂


Jangan lupa like, komen dan vote 🙏🙏🙏


__ADS_2