
Ary masuk ke kamarnya setelah kepulangan Eno. Rumah itu terasa sepi kembali. Tadi sewaktu Eno datang rumahnya menjadi ramai karena Eno membawa kedua anak Agam, Fani dan Richard.
Malam semakin larut, tapi Ary belum juga bisa terlelap. Dia masih gelisah memikirkan kata-kata Eno dan Agam tadi. Bagaimana Ary akan membuka hatinya untuk laki-laki lain, sedangkan dia baru menyadari kalau dia sudah terlalu cinta dengan Rendy. Begitulah cinta, dia akan bisa dengan mudah dikenali jika sudah tidak bersamanya.
Rasa kehilangan dan penyesalan yang bercampur menjadi satu, membuat Ary susah untuk membuka hatinya untuk laki-laki lain. Baginya, Rendy sudah cukup membuatnya belajar arti cinta yang tulus. Cinta yang tak mengharapkan imbalan untuk dicintai. Cukup dengan mencintai, tanpa mengharapkan cintanya berbalas.
***
Keesokan harinya, Ary menghadiri acara tahunan di kantor Bupati. Acara hanya berlangsung beberapa jam saja. Acara dimulai dari pukul sembilan tiga puluh dan berakhir pada pukul dua belas siang.
Ary dan temannya memutuskan singgah ke rumah makan, karena sudah waktunya untuk makan siang. Siang itu panas sangat terik, tidak seperti biasanya.
"Panas banget ya siang ini?" kata teman sejawat Ary.
"Iya nih, sepertinya mau hujan nanti malam." jawab Ary.
"Kita makan di rumah makan depan itu saja ya, itu yang paling dekat saat ini." ajak teman Ary sambil menunjuk sebuah bangunan yang cukup luas halamannya.
"Iya, sepertinya tempatnya enak. Adem! Banyak pohon rindangnya." jawab Ary mengiyakan ajakan temannya itu.
Akhirnya Ary membelokkan mobilnya memasuki bangunan rumah makan.
Saat akan memasuki rumah makan itu, Ary tidak sengaja disenggol seseorang. Tapi Ary belum sempat terjatuh, karena orang itu langsung memegang tangannya.
"Aduuh!" jerit Ary karena kaget ada yang menabraknya.
"Maaf, mbak! Nggak sengaja." kata laki-laki itu, orang yang tidak sengaja menabrak Ary.
"Jalan kok gak lihat depan!" rutuk Ary dengan kesal.
Orang yang menabrak Ary tersebut sedang terburu-buru menemui seseorang di dalam.
"Maaf, beneran minta maaf. Saya sedang terburu-buru." kata orang itu.
"Lain kali, hati-hati kalau berjalan." jawab Ary datar.
"Dok, gimana?" tanya teman Ary.
__ADS_1
"Ada yang luka nggak?" imbuhnya.
"Nggak ada kok, yuk kita masuk aja. Sudah haus banget nih!" ajak Ary.
"Hari sudah panas, jangan hati ikutan panas, dok!" kata Deby, teman Ary sambil nyengir.
"Hati boleh panas, tapi kepala harus dingin!" jawab Ary sambil melangkahkan kakinya menuju meja makan yang kosong.
"Harus itu! Makanya kita cepetan minum, biar dingin." kata Deby tertawa, kemudian tangannya melambai memanggil pelayan.
"Apanya yang mau diminum? Air kobokan?!" tanya Ary.
"Pesan apa, mbak?" tanya sang pelayan sambil menyerahkan buku menu pada Ary dan Deby.
"Jus jeruk mix wortel tanpa es, kamu apa Deb?" tanya Ary.
"Jus alpukat, pakai es yang banyak ya!" jawab Deby.
"Makannya apa? Sekalian dong!" kata Ary sambil membuka-buka buku menu, masih memilih menu sesuai seleranya saat ini.
"Apa ya, ada menu rekomendasi?" tanya Deby pada pelayan rumah makan tersebut.
"Iya, itu aja Deb! Aku mau pakai sambal terasi yang pedes level lima ya. Kalau kamu Deb?" tanya Ary sambil menutup buku menu.
"Samain aja! Tumis kangkung sama ayam kampung bakar." jawab Deby.
Saat menunggu pesanan datang, Ary memainkan HP-nya. Ada notif pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Karena merasa tidak mengenal nomor tersebut, Ary hanya cuek. Tidak ada niat untuk baca apalagi membalasnya.
Sementara itu di meja tidak jauh dari Ary dan temannya, tampak laki-laki yang tadi menabrak Ary sedang berbincang dengan temannya.
"Sorry, aku terlambat. Tadi ada sedikit insiden di depan." kata laki-laki yang menabrak Ary tadi.
"It's ok! Aku juga baru sampai." jawab Alex.
Saat ini Alex ingin menjumpai kontraktor yang akan mengerjakan pembangunan mallnya. Alex berencana membangun mall di Purworejo. Alex meminta bertemu di Kulonprogo, karena sekalian jalan. Alex yang hendak pulang dari Purworejo ke rumahnya, mendapat telepon dari Kenan, ingin mengajak bertemu. Kebetulan Kenan dari arah Jogja menuju Purworejo.
Alex dan Kenan memutuskan untuk bertemu di Kulonprogo saja, karena mereka pasti melewati jalan yang sama, walaupun dengan arah yang berbeda.
__ADS_1
Saat Alex hendak memesan makanan, matanya tidak sengaja melihat Ary duduk tidak jauh dari tempatnya. Dia pun mencoba mengirim pesan pada Ary.
"Hai cewek!" pesan pun terkirim, tapi Ary tidak membaca pesannya apalagi membalasnya.
Ary masih asik main hp sambil menunggu pesanan datang, tapi Ary tidak merespon pesan yang masuk. Akhirnya Alex melakukan panggilan, mana tau Ary mau menjawab panggilannya.
Setelah berulang kali nada tersambung, Ary tetap tidak mau menjawab panggilan itu. Alex pun tampak kesal. Akhirnya Alex memutuskan untuk mendekati Ary, sambil menunggu pesanannya dihidangkan. Sebelum mendekati meja Ary, Alex permisi pada temannya itu.
"Sombongnya! Mentang-mentang sudah jadi kepala rumah sakit." sindir Alex di belakang kursi yang Ary duduki.
Ary merasa mengenal suara itu, langsung menoleh ke belakang.
"Hai, siapa yang sombong?!" jawab Ary kesal karena telah dibuat kaget Alex.
"Siapa ya 🤔, yang ngerasa aja deh!" kata Alex sambil memegang dagunya.
"Diih, siapa juga yang sombong! Aku beneran gak lihat kamu tadi. Jadi gak ada maksud mau menyombongkan diri." jawab Ary kembali duduk menghadap ke meja.
"Kalau pesan gak dibaca, padahal lagi pegang hp, itu namanya apa?" tanya Alex sambil meninggalkan Ary, karena pesanannya sudah dihidangkan di mejanya.
"Ups!" kata Ary sambil menutup mulutnya.
Ary mulai membuka HP-nya, dan melihat profil Alex disana.
"Pantes ngatain aku sombong, kirain tadi orang iseng. Gak taunya memang orang lagi iseng!" gumam Ary sambil membalas pesan dari Alex.
"Hai juga cowok! Apa kabar?'' balas Ary.
Alex mendengar ada suara notifikasi di HP-nya, dia menghentikan makannya sebentar untuk mengecek HP-nya. Senyum Alex mengembang ketika membaca pesan dari Ary barusan.
"Kabar baik! Sehabis makan, kita ngobrol bentar ya🙏🙏🙏" ketik Alex.
Alex ingin melakukan pendekatan lagi pada Ary. Alex berharap hubungannya dengan Ary bisa dirajut kembali. Setelah dia tahu Ary sudah menjanda, Alex merasa mendapat angin segar. Masih ada kesempatan untuk bersama, begitu pikir Alex.
"Bisa, tapi aku tidak bisa lama. Bagaimana?" jawab Ary sambil menikmati makan siangnya.
"Dok, makan dulu. Main HP-nya nanti saja, setelah selesai makan. Takutnya salah yang masuk ke mulut." kata Deby mengingatkan sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya! Terima kasih sudah diingatkan, memang sih nggak bagus kalau makan sambil main hp. Tapi gimana ya, penasaran sama isinya." jawab Ary nyengir, karena malu ditegur temannya.