MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Meminta Restu Mami


__ADS_3

"Al, aku ingin bertemu ibumu. Aku ingin meminta restu beliau, agar pernikahan kita nanti bahagia." kata Ary seusai makan siang yang terlambat.


"Sebaiknya jangan dulu, mami masih marah. Sudah dua Minggu sejak kejadian itu, mami masih belum mau berbicara denganku, bahkan aku ingin menemuinya pun tidak diijinkan." Alex menjeda kata-katanya sejenak.


Tangan Alex terulur untuk menggenggam kedua tangan Ary, seolah-olah ingin menyampaikan pesan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Aku tidak ingin mami semakin membenci kamu, karena jika kamu terus memaksa bertemu mami, mami pasti semakin marah. Biarkan mami tenang dulu. Aku akan membujuknya agar reda kemarahannya." imbuh Alex.


"Baiklah kalau begitu, tapi aku ingin sekali datang dan meminta restu secara langsung pada beliau." kata Ary, akhirnya dia mau tidak mau mengikuti saran Alex.


"Kamu nanti juga bisa datang dan meminta restu mami, tapi jangan sekarang. Biar aku saja yang meyakinkan mami tentang pernikahan kita." jawab Alex sambil tersenyum.


"Tapi kami janji ya, jangan memaksa mami. Mintalah restu mami dengan lemah lembut, karena bagaimanapun seorang anak harus mengecilkan suaranya dihadapan orang tuanya. Dan ingatlah satu, sampai kapanpun anak laki-laki itu adalah milik ibunya. Jangan pernah memilihku, jika ibumu memberi pilihan, memilih dirinya atau diriku!" pesan Ary pada Alex dengan tatapan memohon.


"Baiklah, aku akan selalu mengingat itu. Kamu tenang saja, hmm!" jawab Alex.


Alex memanggil waitress untuk meminta bill pembayaran. Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka berdua meninggalkan restoran itu.


***


Alex tiba di rumahnya saat waktu mendekati Maghrib. Alex langsung menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya, dia merasa gerah dan lengket setelah seharian mencari keperluan untuk pernikahan nanti.


Sejam kemudian Alex keluar dari kamarnya hendak makan malam. Sebelumnya dia masuk ke kamar anaknya. Di kamar anaknya ternyata kosong, tidak didapatinya Kevin sang anak di dalam kamar. Alex lanjut berjalan menuju kamar Anton, karena Kevin sering disana. Sesampainya di sana, ternyata kamar itupun juga kosong. Akhirnya Alex langsung turun menuju ruang dapur.


Di dapur, semua sudah duduk mengitari meja. Hanya Alex dan ibunya saja yang belum duduk di sana.


"Kemana mami?" tanya Alex merasa kehilangan ibunya.


"Mami mogok makan!" jawab Kusuma datar, seperti ada yang ditutupi.


"Kamu bujuk mami sana, biar dia mau makan. Aku sudah mencobanya membujuknya untuk makan." titah Anton sambil mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mencobanya. Semoga mami mau makan, walaupun sedikit." jawab Alex sambil berlalu meninggalkan ruangan itu.


Alex berjalan menuju kamar kedua orang tuanya, dia mengetuk pintu pelan untuk meminta ijin masuk.


"Mi, boleh Alex masuk?" tanya Alex meminta ijin untuk masuk ke kamar itu.


Jessie hanya mendengus saja melihatnya kedatangan Alex.


"Mi, mami kenapa tidak mau makan?" tanya Alex melangkah mendekati ibunya.


"Nanti mami sakit lho, kalau tidak makan." imbuhnya begitu berada di dekat ranjang ibunya.


Jessie sedang tidur membelakangi pintu, sengaja tidak mau melihat Alex. Jessie diam seribu bahasa, dia tidak mau berbicara dengan Alex. Jessie benar-benar marah pada Alex, karena Alex telah membuatnya kehilangan muka di hadapan banyak orang.


"Mami, Alex minta maaf. Alex sudah menyakiti perasaan mami. Alex tahu kesalahan Alex sulit untuk dimaafkan. Tapi mami harus punya tenaga untuk memarahi Alex, mami harus makan. Kalau mami tidak makan, mami tidak akan punya tenaga untuk memarahi Alex." Alex berusaha membujuk ibunya.


Jessie tetap bergeming, tidak mau bergerak sedikitpun, padahal dia belum tidur. Jessie sengaja pura-pura tidur agar Alex segera pergi dari kamarnya. Tapi ternyata Alex tidak juga mau meninggalkan kamar itu.


Alex bersimpuh di dekat kaki Jessie, kemudian mulai memijit kaki ibunya. Hal yang belum pernah dilakukannya seumur hidupnya. Baru kali ini dia memegang kaki ibunya yang dingin.


"Alex mohon, mi! Alex harus melakukan apa agar mami mau merestui kami?" tanya Alex akhirnya setelah beberapa saat Jessie hanya diam saja tanpa mau menjawabnya.


Jessie tetap diam sampai akhirnya Alex menyerah membujuk Jessie. Alex meninggalkan kamar itu dengan langkah gontai. Rasa laparnya menguap entah kemana setelah melihat ibunya.


Dia merasa bimbang harus bagaimana membujuk ibunya. Padahal sebentar lagi pernikahannya akan dilaksanakan, tapi Jessie belum juga mau memberikan restunya.


Alex menuju meja makan, hendak memberitahukan pada pelayan di rumahnya, agar membawakan makan malam untuk ibunya.


"Jah, kamu antar makan malam untuk mami ya! Mami belum mau keluar kamar." titah Alex pada asisten rumah tangganya.


"Baik, den!" jawab Ijah, asisten rumah tangganya yang berumur dua puluh an.

__ADS_1


"Mami tidak mau makan lagi?" tanya Anton, Alex hanya menganggukkan kepalanya.


"Kevin sudah selesai makan, Kevin mau ke kamar eyang!" kata Kevin begitu Alex duduk.


"Kamu bujuk eyang uti ya, biar mau makan!" kata Alex begitu Kevin beranjak dari duduknya.


"Beres, dad! Kevin kan sayang eyang, jadi Kevin mau bujuk eyang biar mau makan." jawab Kevin mengacungkan jempolnya.


"Itu baru anak daddy!" kata Alex juga mengacungkan jempolnya ke arah Kevin.


"Mami kamu keras kepala sekali!" kata Kusuma menghela nafasnya dengan berat, seperti ada beban yang begitu berat.


"Bukan keras kepala, Pi! Mungkin mami masih kecewa pada Alex. Mami butuh waktu untuk menghilangkan rasa kecewanya." kata Anton menimpali perkataan Kusuma.


"Iya, Pi! Mami terlalu kecewa padaku, sehingga mami sulit untuk memaafkan." kata Alex sendu, dia merasa bersalah tapi dia juga merasa harus memperjuangkan cintanya.


Bagi Alex, cinta tanpa perjuangan tidak memiliki pondasi yang kuat untuk membina rumah tangga. Dengan memperjuangkan cintanya, Alex berharap bisa mempertahankannya, dengan terus mengingat betapa berat perjalanan mendapatkan pasangan hidupnya. Sehingga dia tidak akan mudah melepaskan cintanya.


"Kalian lanjutkan makannya, papi mau melihat mami kalian." kata Kusuma sambil berdiri meninggalkan ruangan itu.


Kini tinggallah Alex dan Anton berdua. Anton pun sudah akan mengakhiri makannya. Alex menjadi kehilangan se. lera makannya. Dia pun hanya mengambil sebutir apel sebagai pengganti makan malamnya.


"Kenyang makan itu aja?" tanya Anton ketika Alex hanya memakan apel.


"Hilang se. lera makanku! Mami belum juga mau memberikan restunya." jawab Alex lesu.


"Makan yang banyak, berjuang untuk mendapatkan restu mami juga butuh tenaga!" kelakar Anton untuk mencairkan suasana.


"Ada-ada saja!" jawab Alex kemudian menggigit apelnya.


"Eh, jangan salah ya! Membujuk mami itu butuh tenaga dan kesabaran. Jadi makan yang banyak, apalagi nggak lama lama mau nikah. Jangan sampai acara pernikahan batal karena mempelai laki-laki, tiba-tiba terkapar di rumah sakit. Dan lebih memalukan lagi sakit karena kurang makan. Seorang turunan Wijaya sakit karena gizi buruk, disebabkan tidak pernah makan." jawab Anton, masih meledek Alex.

__ADS_1


"Siyalan!" kata Alex melempar sisa apel ke arah Anton.


Jangan lupa like, komen dan vote/gift. Terima kasih 😘😘😘


__ADS_2