MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Perawan Ting Ting VS Janda Ting Ting (1)


__ADS_3

Paula diantarkan ke hotel milik orang tua Alex oleh satpam rumah Alex. Mall milik orang tua Alex terdapat hotel juga, walaupun tidak sebesar hotel bintang lima. Pelayanan di hotel itu sama dengan hotel berbintang lima, hanya saja jumlah kamarnya yang terbatas.


Paula menangis terus sepanjang perjalanan dari rumah orang tua Alex menuju hotel. Paula masih syok dengan keputusan Alex. Alex yang dulu begitu lembut memperlakukannya, sekarang berubah 180 derajat. Sedih dan kecewa bercampur menjadi satu, sehingga Paula hanya bisa menangis meratapi nasibnya.


***


Sejenak kita tinggalkan masalah Paula dan Alex, kita lihat di belahan dunia lain yang tidak jauh dari mereka. Yaitu tempat dimana Ary ditugaskan untuk mengawasi pembangunan rumah sakit baru, dan juga menjadi kepala rumah sakit tersebut.


Eno melajukan motornya menuju rumah sakit tempat Ary bertugas. Eno sepanjang jalan bernyanyi dengan suara lirih sambil menggunakan headset di telinganya.


Eno menemani Ary sudah lebih dari sebulan sejak kembali beraktivitas seperti semula. Saat Rendy meninggal Ary sempat terpuruk dalam kesedihan. Dua Minggu setelah kepergian Rendy, Ary kembali lagi ke Kulonprogo untuk melanjutkan tugasnya.


Sejak saat itu Eno tidak pernah membiarkan Ary sendiri. Pernah sekali Eno meninggalkan Ary sendiri di Kulonprogo, Ary kembali terguncang dan melamun saja sehingga mengganggu kinerja Ary. Padahal baru dua hari Eno meninggalkan Ary sendiri, Ary sudah kembali larut dalam kesedihannya.


Saat akan keluar dari perkampungan, Eno harus melewati jembatan kecil yang sedang dibangun oleh beberapa anggota TNI. Di desa tersebut baru saja kedatangan ABRI, dalam rangka AMD (ABRI Masuk Desa) untuk desa tertinggal.


Di jembatan tersebut ramai karena ada kecelakaan kerja, ada salah satu dari TNI tersebut yang terpleset dan masuk ke sungai.


Para warga dan beberapa anggota TNI yang berada di sekitar tempat kejadian langsung berkerumun. (Beginilah warga +62, setiap ada kecelakaan langsung jadi tontonan gratis.)


Saya masih ting ting


dijamin masih ting ting


sama sekali belum berpengalaman...


Eno langsung berhenti berdendang, saat melihat banyak orang yang berkerumun di jembatan, sehingga menyebabkan kemacetan.


"Begini nih kalau jadi warga +62, dikit-dikit jadi tontonan tanpa merhatiin daerah sekitarnya! Hadeehh!" gerutu Eno sambil memencet klakson motornya.


Tiiinnnn.... tiiinnnn...


Eno terus saja memencet tombol klakson motornya, maksud hati hendak membubarkan kerumunan. Tapi malah kena omelan warga yang sedang berkerumun.


"Dasar bocah gendeng, mencet klakson ora duga kira!" teriak salah seorang warga disitu.

__ADS_1


"Maaf, pak! Saya mau lewat, kalau jalan dihalangi begini, gimana saya mau lewat. Ini jalan umum untuk umum bukan milik anda, jadi saya minta anda untuk minggir." kata Eno panjang dengan gaya khasnya, tangan dibuat selentik mungkin sebelum dikibaskan.


"Mbake ini kan temennya bu dokter, pasti mau ke rumah sakit kan?" tanya salah satu bapak-bapak.


"Iya, saya mau ke rumah sakit. Mau jemput dokter Ary yang imut-imut dan manis itu." jawab Eno masih tetap duduk di atas motornya.


"Ini mbak, numpang! Teman kami ada yang terjatuh, biar diperiksa sama bu dokter dulu." jawab salah seorang TNI bercelana doreng memakai kaos warna hijau army.


"Oh, boleh-boleh!" jawab Eno antusias saat tidak sengaja melihat orang yang mengalami kecelakaan tadi.


Akhirnya anggota TNI yang mengalami kecelakaan tadi naik ke motor yang dikendarai Eno. Dengan berjalan perlahan dan hati-hati, Eno mengendarai motornya. Beberapa menit kemudian mereka sampai ke rumah sakit dimana Ary dinas. Ya satu-satunya rumah sakit yang ada di daerah itu dan belum selesai pembangunannya.


Eno berhenti di depan pintu UGD untuk menurunkan anggota TNI tadi. Setelah itu dia baru memarkirkan motornya di tempat parkir di dekat ruang.


"Kok mas belum masuk?" kata Eno sambil terengah-engah karena berlari dari tempat parkir.


Anggota TNI itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya saja.


"Sakit ya mas, kok dari tadi diem aja?" tanya Eno.


"Gimana gak sakit, sudah jatuh masih kejatuhan seember semen yang sudah dicampur pasir sama air? Hufttt!" jawab laki-laki itu kesal.


"Ehh, kita belum kenalan ya? Eno!" kata Eno sambil mengangsurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Agam!" jawab laki-laki itu singkat.


Agam dan Eno masih berdiri di depan UGD, karena menunggu Ary. Eno malas mengurus administrasi, lebih baik menunggu Ary saja pikirnya. Dari kejauhan tampak Ary berjalan mendekati Eno, tadi saat di parkiran, Eno menghubungi Ary terlebih dahulu.


"No!" teriak Ary sambil melambaikan tangannya.


"Busyet dah, bu Dokter teriak di ruang UGD! J


Hebat! Hebat!" kata Eno menanggapi teriakan Ary sambil menggelengkan kepalanya.


"Itu temen kamu yang dokter itu?" tanya Agam.

__ADS_1


"Iya, cantik kan?" jawab Eno


Agam hanya mengangguk saja mendengar jawaban Eno. Agam terpana melihat kecantikan Ary, wajah Ary yang imut-imut dan badan yang mungil membuat Ary masih tampak seperti anak baru lulus SMA.


"Sorry lama, tadi masih ada pasien. Maklumlah, disini masih banyak kekurangan tenaga medis." kata Ary saat mereka sudah berdekatan.


"Nggak apa-apa, santai aja!" jawab Agam spontan.


"Hilang ya sakitnya lihat dokter Ary?" ledek Eno.


"Mana ada kek gitu, No!" sahut Ary.


Agam hanya mendengarkan Ary dan Eno berdebat.


"Sudah ayo masuk, aku periksa dulu! Takutnya ada luka yang serius." ajak Ary.


Agam dan Eno mengikuti Ary dari belakang. Setelah sampai di deretan brankar pasien, Agam diminta untuk berbaring dan mulai diperiksa. Saat melakukan pemeriksaan, ada seorang perawat mendekati Ary.


"Wah, pasien istimewa ya dok? Sampai dokter turun tangan langsung." tanya perawat itu.


"Bukan pasiennya yang istimewa, tapi yang membawa pasiennya yang kelewat istimewa." jawab Ary sambil membalut luka di pundak Agam.


Pundak Agam terluka karena tertimpa ember yang berisi adonan semen yang siap dipakai untuk mengecor jembatan.


Perawat itu langsung menoleh ke arah Eno dan menganggukkan kepalanya, kemudian meninggalkan mereka. Perawat itu sudah sangat mengenal Eno, karena Eno setiap hari datang ke rumah sakit itu.


Banyak orang yang bekerja di rumah sakit itu mengenal Eno. Eno yang cerewet dan selalu protes jika tidak cocok dengan yang dilihatnya. Bahkan dia bertindak sesukanya sendiri di rumah sakit itu, seolah-olah dia lah pemiliknya.


"Sudah selesai!" kata Ary.


"Sebaiknya kamu urus dulu administrasinya di sebelah sana, jangan liatin bapak ini terus." kata Ary pada Eno.


"Eh, jangan dipanggil bapak dong. Nggak pantes dia dipanggil bapak, panggil mas aja." kata Eno.


"Iya, mas. Sudah puas!" tanya Ary.

__ADS_1


"Ok, gue kesana dulu ya, Ar! Mas disini dulu ma soulmate aku, jangan rindu ma aku ya!" kata Eno sambil meninggalkan Ary dan Agam.


"Iya... iyaa!" jawab Ary sambil menggelengkan kepalanya. Ada saja tingkah Eno yang membuat Ary menggelengkan kepala.


__ADS_2