
"Mana suamimu? Bunda dari tadi nggak lihat dia." tanya bunda Widya lirih.
Widya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, di kelas VIP. Widya heran, dia sudah pindah ruangan berjam-jam. Tapi menantu barunya belum terlihat. Sehingga dia pun menanyakan laki-laki yang berjanji membuat anak bungsunya bahagia. Dia ingin melihat anaknya bahagia di sisa umurnya.
"Dia mengurus usahanya yang di luar negeri. Usaha yang dirintisnya dari nol, bukan pemberian orang tuanya." jelas Ary pada ibunya.
"Bunda ingin ngomong sama dia, bisa kamu hubungi dia?" tanya bunda Widya.
Ary hanya terdiam, pesan-pesannya yang dikirim belum dibuka oleh suaminya. Bahkan panggilannya hanya operator yang menjawab, jika nomor tersebut diluar jangkauan. Tapi demi ibunya, Ary akan mencoba lagi.
Ary berulangkali mencoba menghubungi suaminya, tapi selalu sama. Operator yang selalu menjawab. Ary menjadi curiga, kemana sebenarnya suaminya pergi.
"Sebenarnya kamu pergi kemana, Al?" batin Ary.
"Kenapa? Tidak diangkat?" tanya bunda Widya.
"Di luar jangkauan, Bun! Mungkin kartunya tidak bisa digunakan di negara lain." jawab Ary, masih berpikir positif.
"Kok bunda nggak tenang sebelum suamimu pulang." kata ibu lirih, sepertinya ibu masih kepikiran dengan kartu undangan yang pernah dibacanya.
"Bunda jangan memikirkan Alex terus. Bunda harus banyak istirahat, sekarang bunda tidur ya. Ary disini jagain bunda." kata Ary sambil membantu bunda Widya rebahan.
Ary menyelimuti kaki bunda hingga batas dadanya. Ary membantu bunda mendapatkan posisi rebah yang nyaman hingga bisa tertidur pulas. Ary terus mendampingi bundanya.
Setelah bunda Widya tertidur, Ary menghubungi Eno.
"Assalamu'alaikum!" sapa Ary begitu nada panggilan tersambung.
"Wa'alaikumusalam, ada apa? Kenapa suaramu lemah?" cerca Eno begitu mendengar suara Ary.
"Bunda sakit, sudah tiga hari di rumah sakit." jawab Ary lesu.
"Innalillahi, sakit apa bunda?" Eno terkejut mendengar kabar bunda Widya sakit.
Selama ini Eno tidak pernah melihat bunda Widya sakit. Bunda selalu tampak cantik dan sehat, ternyata mengidap suatu penyakit.
"Lemah jantung, No! Bunda sempat koma kemarin." Ary menceritakan keadaan bunda dengan lesu.
Ary sengaja mengabari Eno, karena bagi Eno adalah ibu kedua. Bunda Widya sangat dekat dengannya, sehingga Eno pun syok mendengar kabar sakitnya.
__ADS_1
"Sekarang gimana, sudah baik?" tanya Eno cemas.
"Alhamdulillah, sudah!" jawab Ary.
"Alhamdulillah!" sahut Eno.
Keduanya terdiam sesaat, Ary hendak menanyakan Alex pun merasa segan. Tapi dia harus bertanya.
"Ng... No! Kamu punya alamat email Alex?" tanya Ary akhirnya dengan ragu-ragu.
"Kamu istrinya masak nggak tahu email Alex!" jawab Eno heran.
"..." Ary terdiam karena malu, dia tidak sedekat Alex dengan Eno.
Alex dan Eno lebih dekat, karena Eno mak comblangnya Alex. Setiap bertemu selalu membicarakan Ary. Sehingga Alex memberikan semua no yang bisa dihubungi pada Eno, untuk memberi kabar tentang Ary.
"Ya udah, aku kirim via wa aja. Alex kenapa?" kata Eno.
"Dia pergi ke Singapura lagi, dan tidak bisa dihubungi lagi seperti dulu. Kenapa setiap dia kesana selalu melupakan aku?" tangis Ary akhirnya pecah juga.
"Nanti aku coba hubungi dia, semoga bisa." jawab Eno berusaha tenang, agar Ary juga tenang.
"Awas kamu ya, Lex! Kalau macam-macam, aku yang terdepan membawa Ary pergi dari kamu." ancam Eno dalam hati, Eno merasa kecewa pada sahabatnya itu.
"Kamu tidur saja duluan, biar ayah yang jaga bunda. Wajah kamu pucat sekali, kurang istirahat." kata Kemal begitu masuk ke dalam ruangan itu.
"Ary nggak apa-apa, yah! Ary masih kuat kok." jawab Ary tidak mau beranjak dari duduknya.
"Lihatlah ke cermin di kamar mandi, wajahmu pucat sekali. Kita gantian ya nak, jaga bunda. Biar kita tetap sehat selama bunda membutuhkan kita." nasehat Kemal, agar Ary mau tidur. Karena sejak Widya dibawa ke rumah sakit, Ary hanya tidur beberapa jam saja.
Ary pun mendengar kata-kata ayah Kemal, dia mencuci mukanya dan gosok gigi. Setengah selesai, wajahnya tampak lebih segar. Ary menuju sofa yang ada di ruangan itu. Ary merebahkan tubuhnya, tak lama kemudian dia pun pergi ke alam mimpi. Badannya benar-benar butuh istirahat, sehingga tidak butuh waktu lama untuk terlelap.
***
Eno mencoba menghubungi Alex, semua no yang disimpan atas nama Alex dihubungi satu persatu. Bahkan no telepon kantor pusat Alex di Singapura pun tidak luput darinya.
Tut...
Tut...
__ADS_1
Tut...
"Kebiasaan kalau sudah asik kerja lupa semuanya! Nggak kapok apa gara-gara gila kerja rumah tangga jadi berantakan!?" Eno ngedumel sendiri.
Eno merasa kesal karena Alex tidak berubah sama sekali. Sifat Alex yang workaholic itulah menjadi kelemahan yang paling fatal. Karena dengan mudah dimanfaatkan lawan yang ingin melihat kehancurannya.
Paula dulu selingkuh juga karena Alex yang melupakan Paula dan anaknya, karena sibuk mengurus bisnis yang diambang kehancuran. Seandainya dulu dia meluangkan sedikit waktu untuk keluarga kecilnya, mungkin rumah tangganya akan baik-baik saja. Tapi semua sudah menjadi garis hidupnya, sehingga ada saja masalah yang harus dihadapi.
Setelah semua nomor telepon yang disimpannya, tinggal satu nomor yang belum dihubungi. Eno mencoba menghubungi dan dalam panggilan kedua langsung diangkat.
"Hallo!" terdengar suara seorang laki-laki.
"Hallo, hmm... excusme may i speak to mr. Alex?" kata Eno sedikit ragu.
Eno terus berdo'a semoga tangan kanan Alex bisa membantunya. Karena hanya orang ini harapan terakhirnya.
"Oh, tunggu sebentar!" jawab Benyamin dengan aksen Inggrisnya.
Benyamin tahu jika yang meneleponnya adalah sahabat dekat bosnya. Karena dulu, Eno sering menghubungi Alex melalui dia. Bahkan Benyamin sempat tertarik dengan Eno.
Benyamin menyerahkan HP-nya pada bosnya dan mengatakan bahwa sahabat si bos ingin berbicara.
"Iya?!" kata Alex sambil menempelkan HP di telinga sebelah kiri.
"Heh! Lo memang bang sat! Berani Lo buat Ary nangis! Bosan hidup Lo!" maki Eno begitu mendengar suara Alex.
Alex terjengit kaget mendengar cercaan Eno yang panjang dan kasar. Dia langsung teringat jika sudah beberapa hari terakhir tidak menghubungi Ary. Saking kagetnya, Alex sampai terdiam.
"Lo emang gak punya otak! Mau dapetin dia, Lo ngemis-ngemis minta tolong. Sudah dapet Lo tinggalin dia! Emang dasar breng.sek Lo!" Eno yang belum puas memaki Alex, kembali memaki.
Alex langsung menghubungi Ary, tanpa mendengar kata-kata Eno lagi. Dia merasa sangat bersalah, karena melupakan istri barunya.
Eno yang dicuekin pun akhirnya teriak-teriak memanggil Alex.
"Halo! Halo! Alex! Awas ya Lo! Gue cincang Lo nanti kalau pulang ke Indonesia!" teriak Eno sebelum memutuskan panggilannya.
Maaf 🤧🤧🤧 baru bisa up...
Semoga readers masih setia menunggu Alex dan Ary bahagia.
__ADS_1
Tinggalkan like dan komen 🙏
Terima gajeeeeeee 😘😘😘😘