
"Ary, kamu belum jawab pertanyaan aku tadi?" kata Alex saat mereka sudah sampai di halaman rumah Ary.
"Pertanyaan yang mana?" Ary balik bertanya pura-pura tidak tahu.
"Apa kamu lupa, hm? Seingatku kamu bukanlah seorang pelupa, bahkan di saat semua orang sudah melupakan suatu kejadian yang dianggap sepele, kamu dengan mudah mengingatnya." kata Alex, mereka masih berada di dalam mobil Alex.
"Ngng... yang mana ya?!" Ary pura-pura mulai mengingat-ingat apa yang tadi ditanyakan oleh Alex.
Sebenarnya Ary tahu pertanyaan Alex, tapi dia masih bimbang antara lanjut berkarir atau menjadi ibu rumah tangga di rumah saja. Ary masih ingin mengabdikan dirinya untuk masyarakat. Ary bekerja bukan untuk menumpuk harta. Rasanya masih sulit untuk melepaskan tanggung jawabnya di saat rumah sakit itu masih membutuhkan dirinya
"Apa tidak sebaiknya kamu mutasi ke sini saja? Atau kamu tidak usah mengambil jabatan saja? Agar kesibukan kamu di luar rumah berkurang, sehingga bisa fokus mengurus kami." Alex meminta secara halus pada Ary untuk berhenti berkarir.
Alex trauma dengan pernikahannya yang pertama, membebaskan istrinya berkarir hingga istrinya selingkuh. Untuk pernikahan ke-duanya, Alex berharap mendapatkan istri yang rela melepaskan karirnya demi rumah tangga.
"Akan aku pikirkan nanti, saat ini masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Mungkin setelah beberapa kegiatan dan kerjasama dengan beberapa lembaga terkait berjalan lancar, aku bisa mengundurkan diri dari jabatanku." jawab Ary sambil tersenyum.
"Mungkin dia belum bisa mempercayaiku sepenuhnya, sehingga memintaku untuk berhenti bekerja secara halus." batin Ary.
"Oh, ya! Nanti kamu bicarakan saja sama ayah soal yang kemarin. Karena kita akan jarang bertemu, kamu sibuk dengan bisnis kamu aku sibuk dengan rumah sakit beserta isinya." kata Ary kemudian setelah hening beberapa saat.
"Gampang itu! Nanti aku setiap hari akan kesini bertemu ayah, jadi tidak usah memikirkan itu." jawab Alex menenangkan Ary.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu. Kevin juga sudah tertidur karena kecapekan. Terima kasih sudah mau menemani liburan kami." kata Alex lagi, setelah menjeda kata-katanya yang tadi.
"Iya, hati-hati. Aku juga mau istirahat sebentar, kemudian berangkat ke Jogja." jawab Ary sambil membuka pintu mobil.
"Jogja?" kata Alex sambil menyipitkan matanya.
"Kulonprogo kan termasuk propinsi Jogja, kita saat ini di Jawa Tengah!" kata Ary gelagapan menjawab pertanyaan Alex.
__ADS_1
"Kamu ini!" kata Alex sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
Setelah Ary turun, Alex melajukan mobilnya meninggalkan rumah Ary. Ary pun langsung memasuki rumahnya begitu Alex mengantarkan dirinya.
"Untung dia tidak curiga, hampir saja!" gumam Ary sambil mengusap-usap dadanya.
"Mbak Cilik sudah sampai rumah? Mau makan siang nanti apa sekarang, mbak?" tanya mbak Asih yang tiba-tiba berada di samping Ary.
Ary yang mendengar suara mbak Asih tiba-tiba langsung terjengit kaget.
"Aaa... mbak Asih bikin kaget aja!" kata Ary kembali mengusap dadanya dengan sebelah tangannya.
"Maaf, mbak! Asih kira mbak Cilik sudah tahu kalau Asih di dekat mbak." kata Asih.
"Jangan panggil mbak cilik lagi, sudah dibilang berulangkali juga! Ary sudah besar, bukan anak kecil lagi!" kata Ary kesal karena dipanggil mbak cilik di saat suasana hatinya kurang bagus.
Alex yang memintanya untuk berhenti bekerja, ditambah kaget mendengar suara mbak Asih yang tiba-tiba, membuat suasana hati Ary memburuk seketika.
Asih yang tahu seperti apa jika Ary sudah marah, hanya bisa meminta maaf dan diam. Ary memang jarang marah, tapi sekalinya marah akan sulit untuk reda. Hanya Ary sendiri yang bisa menghilangkan kemarahannya, jika tingkat kemarahan Ary masih level rendah,dia akan ribut tidak bisa diam. Tapi begitu benar-benar marah, dia akan mendiamkan sumber yang membuatnya marah. Dan parahnya itu bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan dan dianggapnya tidak pernah mengenal.
Ary memasuki kamarnya dengan langkah lebar, dia harus segera istirahat karena dia harus segera pergi lagi. Begitu masuk ke kamarnya, Ary menghubungi mang Udin, sopirnya. Dia minta dijemput di Jogja. Rasanya dia tidak sanggup mengendarai mobilnya sendiri.
Satu jam kemudian Ary sudah bersiap untuk berangkat ke Jogja. Saat Ary keluar dari kamarnya, tampak kedua orang tuanya sedang menikmati makan siang.
"Sudah mau berangkat sekarang?" tanya ayah begitu mendengar suara langkah kaki mendekati.
"Iya, yah! Nanti Ary istirahat di Jogja aja. Kalau kelamaan istirahat disini takutnya, Ary malah males pulang ke Kulonprogo." jawab Ary sambil mengecek isi tasnya.
"Sudah tidak ada yang ketinggalan lagi kan? Pastikan semua sudah terbawa!" kata bunda mengingatkan Ary.
__ADS_1
"Iya, Bun! Semua sudah masuk ke dalam tas kok! Bunda tenang aja!" jawab Ary sambil mendekati ayah dan mencium punggung tangannya, setelah itu bergantian dengan tangan bunda.
Bunda memeluk Ary sambil mengusap punggungnya. Bunda seperti tidak rela berpisah dengan Ary. Ary merasa, sejak Alex melamarnya ada yang berbeda dengan bundanya. Tapi pikiran itu ditepisnya jauh-jauh
Ary meninggalkan rumah menuju ke Jogja. Dia langsung menuju ke kantor pusat Rend's Comp, untuk menemui Brandon dan Rommy. Mereka tadi pagi sudah ada janji, untuk bertemu jam dia siang. Ary melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya, karena Ary takut terlambat. Padahal kalau dia terlambat pun tidak menjadi masalah bagi kedua orang kepercayaannya itu.
"Sorry, aku terlambat sepuluh menit! Cuaca panas jadi malas-malasan mau pergi!" kata Ary sambil nyengir begitu memasuki ruangan dimana Brandon dan Rommy menunggu Ary.
"Nggak apa-apa! Santai saja, ini kan hari libur. Masih banyak waktu kok, tidak usah terburu-buru!" jawab Brandon menenangkan Ary.
Ary langsung mendaratkan bok***nya begitu mendengar jawaban dari Brandon.
"Terima kasih ya, kalian memang pengertian banget!" kata Ary memuji Brandon dan Rommy.
"Bagaimana, bisa kita mulai sekarang rapatnya?" tanya Rommy pada Ary dan Brandon.
"Yang mau bekerja sama dengan perusahaan kita ada berapa?" tanya Ary sambil membuka map yang baru saja diberikan oleh Brandon.
"Ada sekitar lima atau enam an lah!" jawab Brandon.
"Kalau mall Laris bagaimana?" Ary menanyakan nama mall milik Alex.
"Sudah dibuatkan berkasnya, lagian perusahaan mana sih yang mampu menolak rekomendasi dari kamu. Semua lembaga, instansi dan perusahaan yang kamu beri rekomendasi, pasti langsung menghubungiku." jelas Brandon.
"Ternyata seorang dokter bisa juga marketing ya!" kata Rommy meledek Ary.
"Kalian yang mengajari aku, aku hanya mengaplikasikan ilmu yang aku dapat dari kalian. Itu saja!" jawab Ary merendah.
"Rom, lho tau padi? Semakin berisi semakin merunduk. Seperti itulah bos kita, dia selalu merendah terus. Seolah-olah kita ini adalah orang yang paling segalanya." kata Brandon menanggung kata-kata Ary yang selalu merendah.
__ADS_1
"Karena itulah, aku menjadi semakin segan padanya!" sahut Rommy.