MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
MDA 2. Keinginan Bu Warni


__ADS_3

"Pokoknya ibu ingin anak dan istrimu tinggal di sini bersamaku! TITIK!!!" jawab bu Warni berteriak sambil meninggalkan ruangan itu.


Bu Warni masih ingin bersama anak dan cucunya, dia tidak ingin kesepian di hari tuanya. Salahkah dia jika menginginkan ada yang menemaninya di hari tua? Salahkah dia ingin memiliki teman cerita di masa tuanya?


Bu Warni hanya manusia biasa seperti ibu-ibu pada umumnya, tidak ingin kesepian di sisa umurnya. Tapi sepertinya keinginan Bu Warni belum bisa terwujud. Dia harus kembali melepaskan anak dan menantunya meninggalkannya seorang diri. Bahkan cucu yang selama ini menjadi temannya akan dibawa serta oleh anaknya.


Bu Warni menangis sesenggukan di kamarnya. Dia belum puas memandangi wajah menantunya yang cantik. Dia masih ingin mengenal lebih dekat dengan menantunya itu. Walaupun anak orang kaya, semua serba dilayani, tiba-tiba menikah dengan anaknya yang memiliki penghasilan pas-pasan. Harus mengurus rumah, anak, suami dan mertua seorang diri. Ada rasa kagum melihat Eno bersikap layaknya menantu idaman.


Bu Warni bangun dari tempat duduknya, dia mengambil fotonya bersama Agam dan Eno serta si cantik Fani. Foto yang diambil saat acara lamaran dilaksanakan. Bu Warni ingin mereka berkumpul di rumah ini. Rumah yang dibangun oleh Agam untuk anak istrinya. Rumah yang baru beberapa bulan ini selesai dibangun. Agam menyiapkan rumah ini sudah sejak lama, tapi baru ditempati beberapa bulan terakhir.


Sementara itu, Eno sedang membujuk suaminya untuk meminta maaf pada ibunya.


"Mas, jangan seperti itu sama ibu! Aku nggak apa-apa disini sampai masa cuti kamu habis. Sekarang mas Agam temui ibu, minta maaf padanya!" ucap Eno dengan lembut sambil meremas pundak Agam.


Akhirnya Agam pun mengikuti saran Eno. Walaupun Eno belum bisa mencintainya, tapi Eno sangat menghormati dirinya dan ibunya. Bahkan Eno juga sangat menyayangi Fani, anaknya dengan pernikahan pertamanya.


Agam berjalan mendekati kamar ibunya. Setelah sampai di depan pintu kamar ibunya, Agam ragu untuk mengetuk pintu. Agam menoleh ke arah Eno, kebetulan Eno juga sedang mengawasinya dari kursi meja makan. Eno menganggukkan kepalanya, Agam pun langsung memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar ibunya.


Tok... tok... tok...


Agam mengetuk pintu kamar ibunya. Agam menarik handle pintu, ternyata tidak terkunci. Agam langsung mendorong pintu dan memasuki kamar itu.

__ADS_1


"Bu, Agam minta maaf jika ada kata-kata Agam yang menyakiti perasaan ibu! Ibu tahu sendiri, kalau menantu ibu punya usaha. Tidak mungkin dia meninggalkan usahanya begitu saja. Di mana tanggung jawabnya sebagai seorang atasan? Selain itu, dia juga harus berkenalan dengan ibu-ibu Persit lainnya. Dia juga harus mengikuti kegiatan ibu-ibu Persit, dia sudah menjadi ibu Persit begitu menikah dengan seorang prajurit." Agam mulai menjelaskan alasannya memboyong Eno dan Fani.


"Fani aku ajak juga agar dia bisa lebih dekat dengan Eno, ibu sambungnya. Bahkan kalau bisa, Fani menganggap Eno sebagai ibu kandungnya sendiri." lanjut Agam karena bu Warni masih diam saja, duduk di kursi goyang di sudut kamar.


Walaupun ibunya hanya diam saja, Agam yakin ibunya pasti mendengarkan setiap perkataannya.


"Bukan karena Agam yang tidak menyayangi ibu, tapi terlebih karena untuk menjaga perasaan Eno. Eno aku nikahi bukan untuk menjadi babu, yang harus membereskan semua pekerjaan di rumah ini. Dia tidak pernah melakukan itu semua sebelumnya. Lalu bagaimana Agam menjelaskan pada keluarganya? Agam belum bisa membahagiakannya, oleh karena itu sebisa mungkin Agam tidak membuatnya menangis. Entah menangis karena tertekan batin atau menangis karena kecapekan."


Agam berjalan mendekati ibunya di sudut kamar itu. Kemudian Agam bersimpuh di depan ibunya, mencium punggung tangan ibunya.


"Agam minta maaf jika sudah mengecewakan ibu. Agam tidak mungkin memilih ibu atau istri, kalian berdua sangat penting bagiku," ucap Agam sambil merebahkan kepalanya di pangkuan sang ibu.


Tangan bu Warni bergerak perlahan mengusap kepala Agam. Air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya lolos juga.


"Kalau kalian pergi dari sini, pasti rumah ini sepi sekali. Ibu pasti sangat kesepian, tidak ada teman ibu di rumah ini," lanjut bu Warni.


"Agam akan cari asisten rumah tangga untuk menemani ibu di sini, bagaimana?" tanya Agam menyampaikan pikirannya.


"Tidak gampang mencari orang untuk tinggal bersama. Tukang jahit ibu saja milih pulang dari pada nginep sama ibu!" jawab bu Warni kesal.


"Mungkin gaji nggak cocok, Bu! Bisa saja 'kan? Nanti Agam yang gaji orang itu, siapa pun orangnya yang penting ibu cocok. Agam akan tanggung biayanya," kata Agam membujuk ibunya.

__ADS_1


Terdengar bu Warni menghela nafasnya kasar.


"Ibu menggaji mereka sesuai kemampuan ibu, selain itu sesuai dengan kerjaan yang mereka hasilkan. Ibu hanya ingin menyamakan dengan yang lainnya, biar tidak ada saling menyalahkan." jawab bu Warni.


Agam menganggukkan kepalanya mendengar kata-kata bu Warni. Dia mulai mengerti keadaan di daerah itu. Ternyata tidak gampang mencari tenaga kerja, padahal banyak pengangguran. Mereka memilih kerja di tempat yang bersih dan kerja ringan walaupun gaji murah, dibandingkan bekerja dengan tenaga tapi gaji lebih besar.


Seperti itulah jaman sekarang, anak muda lebih memilih penampilan klimis tapi kantong kosong. Sedangkan pekerjaan kasar dengan gaji besar dihindari dengan alasan merusak penampilan.


Agam berpikir sejenak, mencari solusi atas keinginan ibunya. Akhirnya Agam menemukan juga, tapi Agam tidak tahu apakah ibunya setuju atau tidak.


"Kalau begitu, nanti Agam usahakan pulang ke sini seminggu sekali. Biar ibu tidak terlalu kesepian, bagaimana?" tanya Agam hati-hati.


Dia masih berusaha membujuk ibunya, untuk mengijinkan dia membawa keluarga kecilnya ke tempat tinggalnya yang sekarang.


Bu Warni mulai memikirkan kata-kata Agam yang berjanji akan menjenguknya seminggu sekali. Agak lama bu Warni memikirkan kata-kata Agam. Sepertinya beliau masih berat untuk melepaskan anak cucunya meninggalkan rumah ini.


"Ibu pikirkan dulu, Agam mau membantu Eno mencuci pakaian. Kasihan dia kalau mengerjakan semuanya sendiri. Dia bukan babu di rumah ini, tapi seorang menantu. Jadi kita perlakukan dia selayaknya menantu baru pada umumnya," ucap Agam sambil meninggalkan ibunya sendiri di dalam kamar itu.


Sementara itu Eno gelisah menunggu suaminya keluar dari kamar ibu mertuanya. Untungnya si Fani tidak rewel, balita itu asik bermain sendiri dengan mainannya.


"Bagaimana mas, ibu sudah nggak marah lagi 'kan?" tanya Eno panik.

__ADS_1


Eno panik karena ibu mertuanya marah. Dia tidak mau dicap sebagai menantu kurang ajar yang merebut anak dari ibunya. Eno sama sekali tidak menginginkan Agam melawan ibunya. Baginya Agam tetaplah anak bu Warni, milik ibunya walaupun sudah menikahinya.


__ADS_2