MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
MDA 2. Accident


__ADS_3

"Eno sudah besar ma! Masak dijodohin sih!" teriak Eno frustasi.


Saat ini Eno pulang ke rumah orang tuanya, karena tadi dia ditelepon sang mama harus pulang.


"Ini demi kebaikan kamu! Umur sudah kepala tiga, belum menikah mau menunggu apa?" kata mama Eno, Marini.


"Eno sudah punya calon ma!" Eno mencoba membela diri.


"Kalau sudah punya kenapa tidak dikenalkan pada kami?" tanya Marini.


"Kami baru saja jadian beberapa bulan, kami masih ingin mengenal lebih dalam lagi kepribadian masing-masing." Eno memberikan alasan.


"Nggak! Itu nggak bener, mana ada orang serius ngajak pacaran? Kalau memang dia serius sama kamu, dia pasti langsung melamar kamu." bantah Marini.


Eno merasa terpojok dengan perkataan ibunya. Jika dipikir-pikir benar apa yang dikatakan ibunya. Kenapa mesti berlama-lama pacaran jika dia serius, toh umur mereka sudah tidak muda lagi.


"Ma, kasih Eno waktu ya. Buat bawa dia ke rumah ini." kata Eno membujuk ibunya.


"Mama kasih waktu kamu satu minggu buat seret dia kesini. Jadi Minggu depan kamu dan dia sudah menginjakkan kaki di rumah ini. Jika tidak, kamu harus menerima pilihan kami." kata Marini akhirnya.


"Iya, ma! Eno janji akan bawa Dzaky ke sini." Eno berjanji pada ibunya dengan kedua jari membentuk huruf V.


Eno dan Dzaky sudah tiga bulan pacaran. Saat ini Dzaky masih kuliah mengambil spesialis. Dzaky adalah teman kuliah Ary, dia juga teman Ary mendirikan sebuah klinik bersama Mira. (baca selengkapnya di Sepenggal kisah Ary).


Dzaky ingin menikah setelah pendidikannya selesai, karena dia ingin fokus kuliah dan bekerja tanpa gangguan. Baginya pendidikan itu hal serius yang harus dihadapi, tanpa boleh ada yang mengganggunya.


Eno mencoba memahami Dzaky, mereka seumuran dan sifat mereka berdua memiliki kesamaan. Tidak suka dikekang, apa saja yang penting happy. Masih suka main-main sampai lupa waktu.


Eno dan Dzaky kenal saat Ary mengajaknya ke klinik. Sebenarnya mereka berdua sudah lama diperkenalkan, hanya saja saat itu mereka belum ada rasa karena hanya sebatas kenalan. Selain itu juga, mereka tidak pernah bertemu lagi hingga bertahun lamanya.


Eno dan Dzaky bertemu lagi, karena Eno tidak sengaja menabrak mobil Dzaky dari belakang. Eno yang terburu-buru untuk pulang ke rumah orang tuanya tidak sengaja menabrak mobil Dzaky. Mobil Dzaky dibawa ke bengkel dan ditanggung oleh Eno.


Saat menunggu perbaikan selesai, mereka bertukar cerita. Ternyata mereka sudah pernah bertemu.


*Flash back on*


"Keknya kita pernah ketemu, tapi dimana?" ucap Eno, sambil berpikir dimana mereka pernah bertemu.


"Jangan banyak alasan kamu! Mau lari dari tanggung jawab, iya!" hardik Dzaky ketus.

__ADS_1


"Eh, yang mau lari dari tanggung jawab sapa?" tantang Eno.


"Situ sok kenal, biar bisa lepas tanggung jawab kan?" jawab Dzaky ikutan nge gas.


Mereka ribut sehingga mengganggu kenyamanan orang-orang di bengkel.


"Mbak sama mas, kalau mau berantem jangan di sini ya. Di luar saja! Sekalian dirundingkan siapa yang akan bayar dua reparasi mobil ini." kata pemilik bengkel mobil.


Akhirnya Eno keluar, di depan bengkel ada sebuah warung kecil yang menjual minuman. Eno mendatangi warung itu, kemudian memesan minum. Sambil menunggu pesanan, Eno menelepon Ary.


Sudah berulangkali melakukan panggilan, tapi Ary belum juga memberi respon. Saat ingin menyimpan kembali HP-nya, Eno mendengar suara seseorang menyebut nama Ary dan rumah sakitnya. Setelah dilihat ternyata orang yang tadi ditabrak mobilnya. Eno langsung teringat jika, laki-laki yang tidak mau mengalah itu adalah teman Ary.


Eno kembali menghubungi Ary, untuk membuktikan dugaannya.


"Apa sih, No? Nggak ada kerjaan ya kamu, setiap hari ganggu aku pas lagi banyak pasien!?" kata Ary begitu tersambung.


Eno langsung menjauhkan HP dari telinganya, karena suara Ary yang menggelegar membuat telinganya berdengung.


"Astaghfirullah!" jerit Eno tak kalah kuatnya.


"Lagian kesel, jam kerja juga tetap ganggu! Nggak lihat jam apa!" gerutu Ary.


"Kenapa? Ganteng kan! Tapi selengekan anaknya." jawab Ary.


"Pantes! Dia bilang gue sok kenal lagi ma dia. Kurang asem bener tu anak!" adu Eno.


"Kalian ketemu lagi?" tanya Ary.


"Iya, gue nabrak dia barusan. Katanya gue mau lepas tanggung jawab, padahal gue masih di bengkel. Motor gue penyok juga!" keluh Eno.


"Eno bawa motor perjalanan jauh???! Baru tahu aku." ledek Ary.


"Gue mau cepet! Kalau bawa mobil gak bisa gesit, bawa motor enak buat nyari jalan." kata Eno beralasan.


"Tapi kamu nggak apa-apa kan? Kamu nggak lupa bawa duit kan?" tanya Ary cemas.


Ary sudah hafal betul dengan sahabatnya itu, jika sedang terburu-buru pasti ada saja orang ketinggalan.


"Enggak! Gue bawa tas kok." jawab Eno.

__ADS_1


Eno pulang karena akan dikenalkan dengan teman tantenya, adik mama Eno.


"Ya, udah! Kamu hati-hati di jalan, bilang sama Dzaky jangan suka marah-marah nanti cepet tua." kata Ary sambil tersenyum mengejek.


"Haishhh, kenapa mesti bilang itu sih!" gerutu Eno.


"Nggak apa-apa! Anaknya enak kok diajak ngedan. Udah ahh, assalamu'alaikum!" kata Ary sebelum menutup sambungan telepon.


"Wa'alaik...tut...tut...tut..." sambungan terputus ketika Eno menjawab salam Ary.


"Wooooh asem tenan!" umpat Eno kesal.


Dzaky yang menguping percakapan Eno dan Ary, jadi teringat jika dia pernah beberapa kali bertemu dengan gadis yang baru saja menabrak mobilnya.


"Ternyata dia teman Ary, pantes dia ngaku kenal." gumam Dzaky pelan tidak terdengar Eno.


Setelah minumannya habis, Eno membayarnya kemudian kembali ke bengkel tadi. Dia harus segera sampai di rumah jika tidak ingin diamuk oleh mamanya.


"Habis berapa pak, semuanya?' tanya Eno pada pemilik bengkel.


"Mobil aja apa sekalian motornya mbak?" tanya pemilik bengkel.


"Keduanya lah, pak! Nanti kalau nggak sekalian takut nggak ada yang bisa bayarin." kata Eno bertujuan menyindir Dzaky.


"Satu juta saja, mbak! Penyoknya nggak terlalu dalem kok. Sudah diketok dan dicat juga. Untuk motor ganti sayap depan aja." jawab pemilik bengkel sambil menjelaskan apa saja yang harus dibayar.


"Owalaaahhh. Cuma sejuta, kirain puluhan juta!" ucap Eno dengan suara sedikit keras bermaksud menyindir Dzaky.


Dzaky yang merasa disindir hanya bisa mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Memang secara ekonomi, Dzaky masih dibawah Eno dan Ary. Dia menjadi dokter umum karena beasiswa, oleh karena itu dia mengambil spesialis setelah beberapa tahun bekerja. Dzaky yang hanya orang biasa saja merasa minder dekat dengan Eno. Apalagi dulu sewaktu kenalan, mobil yang dipakai Eno termasuk kalangan atas.


Akhirnya Eno meninggalkan bengkel itu setelah membayar tagihan bengkel. Bagi Eno uang sejuta sudah biasa, anggap saja habis shopping. Eno yang seorang pengusaha sudah terbiasa mengeluarkan uang sejuta bahkan lebih dalam sehari.


*Flash back off*


Maaf ya kesayangan semuanya, saya baru bisa up. Liburan khusus untuk keluarga, jadi hp untuk semester letak. Aku nulis pakai hp ya guys, jadi mohon maklum 🙏🙏🙏


Jangan lupa like dan komen, kalau ada vote/giftnya 🙏.


Terima gajeeeeeee 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2