
Agam yang mendengar pertanyaan dari istrinya, langsung menoleh kemudian menghirup udara sebanyak-banyaknya dan melepaskannya perlahan.
"Ibu belum menjawab solusi yang aku kasih. Sabar ya!" ucap Agam sambil mengusap kepala Eno, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke dapur.
Eno mengikuti Agam dari belakang, masih penasaran dengan jawaban Agam tadi.
"Solusi? Solusi apaan?" batin Eno bertanya-tanya.
"Mas, mas Agam tadi bilang solusi. Solusi apa sih?" tanya Eno yang sudah tidak bisa menutupi rasa ingin tahunya.
Agam yang mendengar pertanyaan istrinya langsung mengalihkan pandangannya ke arah istrinya itu.
"Aku janji pada ibu kalau seminggu sekali kita akan jenguk ibu di sini. Kamu keberatan nggak?" jawab Agam sambil mendekati istrinya.
"Kenapa harus keberatan? Menyenangkan hati orang tua 'kan termasuk ibadah, jadi tidak usah ragu untuk melakukannya!" ucap Eno dengan senyum tulusnya.
Agam seperti mendapatkan hadiah undian memperistri Eno yang berhati malaikat. Memiliki wajah cantik dan akhlak yang cantik juga, seperti itulah Eno di mata Agam. Padahal sebenarnya Eno belajar dari Ary, banyak nasehat Ary yang Eno terapkan dalam rumah tangganya. Walaupun Ary masih sendiri, tapi setiap dia mendapatkan ilmu dia akan membaginya pada sang sahabat rasa saudaranya.
"Terima kasih, hatimu begitu mulia. Mau menerima aku dan segala kekurangan yang ada padaku. Terima kasih untuk semuanya!" kata Agam menggenggam erat kedua tangan Eno.
Eno hanya menganggukkan kepalanya tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun. Padahal selama ini, Eno hanya menyampaikan apa yang pernah Ary ucapkan padanya.
Akhirnya mereka berdua mulai mengerjakan pekerjaan rumah yang sejak tadi ditinggalkan.
Siang harinya bu Warni keluar dari kamarnya. Beliau sudah mendapatkan jawaban atas masukan dari Agam tadi siang. Mau tidak mau dia harus merelakan anak cucunya meninggalkan rumah.
"Ehemmm." bu Warni mengeluarkan suara yang menandakan keberadaannya.
Eno dan Agam asik bercanda di ruang keluarga bersama Fani, sehingga tidak menyadari kehadiran bu Warni. Eno dan Agam sengaja tidak ingin mengganggu bu Warni, mereka ingin memberikan waktu pada bu Warni untuk berpikir. Berpikir apakah bu Warni bisa melepaskan Agam membawa anak istrinya atau malah akan menahan keduanya di rumah itu.
"Ibu?!" ucap Agam terkejut karena baru menyadari kehadiran ibunya.
"Nenek sudah keluar kamar, sekarang waktunya maksi! Makan siang yuk!" ajak Eno memecahkan kecanggungan di antara mereka.
Eno menggendong Fani menuju meja makan, kemudian mendudukkannya di salah satu kursi yang ada. Setelah itu, Eno mulai menyajikan makanan yang baru saja selesai dimasaknya.
__ADS_1
Siang ini Eno memasak tumis kangkung dan ayam goreng kremes. Eno memilih memasak yang simple karena dia masih dalam tahap belajar memasak. Ayam kremes buatannya juga hasil membeli bumbu jadi, sehingga memudahkan dirinya untuk memasak.
Eno belum merasa yakin untuk memasak berbagai macam menu. Jadi dia masak sebisanya saja, kalaupun nanti ibu mertuanya tidak menyukainya, dia ikhlas untuk dijulidi.
"Hmm... enak banget sepertinya menu hari ini. Baunya sudah menggugah selera!" kata Agam begitu duduk di sebelah anaknya.
"Yeeay, ayam doleng! Pani tuka!" Fani tidak kalah semangatnya saat melihat ayam goreng di atas meja makan.
Bu Warni yang terakhir sampai di meja makan ikut melihat menu di atas meja.
"Makan enak lagi kita hari ini! Lama-lama anak cucuku gendut setiap hari makan enak. Kamu memang istri dan ibu yang pengertian!" puji bu Warni pada menantu barunya.
Eno yang melihat antusias suami dan anak sambungnya serta pujian dari ibu mertuanya, menjadi salah tingkah karena bahagia.
"Ini cuma masakan biasa aja, semua orang juga bisa kok!" jawab Eno merendah.
"Lagian ayamnya pakai bumbu jadi, bukan bumbu asli buatan Eno,'' imbuhnya.
Bu Warni tersenyum mendengar kata-kata menantunya yang merendah itu.
"Hmm...en - nak!" kata bu Warni sambil mengunyah daging ayam di mulutnya.
Bu Warni pun mengarahkan sisa ayam yang digigitnya ke depan mulut Agam. Agam pun menyambutnya dengan mengigit kecil ayam goreng di tangan ibunya.
"Iyaa... beneran enak!" ucap Agam sesaat setelah menelan daging ayam goreng di mulutnya.
"Mau! Mau!" teriak Fani tidak mau ketinggalan mencicipi ayam goreng buatan ibu barunya.
Bu Warni pun mengarahkan sisa ayam goreng tadi ke mulut cucu kesayangannya.
"Gimana, enak?" tanya bu Warni pada Fani.
Fani hanya mengacungkan jempolnya sambil mengunyah daging ayam goreng yang tadi digigitnya.
Eno yang melihat bu Warni menyuapi anak cucunya pun ingin menggigit ayam goreng yang mertuanya pegang, tapi tidak berani mengutarakannya. Agam yang kebetulan memperhatikan istrinya sejak tadi pun melihat jika istrinya ingin disuapi juga.
__ADS_1
Agam mengambil sepotong ayam goreng di atas meja kemudian menggigitnya sedikit, setelahnya dia mengarahkan sisa ayam goreng tadi ke depan mulut Eno.
"Coba kamu rasain sendiri, biar puas dengan hasil masakan sendiri!!" ucap Agam sedikit memaksa.
Eno yang awalnya ragu, akhirnya menggigit kecil potongan ayam goreng yang dipegang Agam. Dengan malu-malu Eno mulai mengunyah daging ayam goreng perlahan, merasainya.
"Enak?!" tanya Agam dengan senyum manisnya.
Eno menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan ibu mertua dan suaminya.
Setelah drama merendahkan diri, akhirnya mereka menikmati makan siang bersama dalam keheningan. Mereka makan langsung dari tangan, tidak memakai sendok jadi tidak terdengar suara piring beradu dengan sendok.
"Ibu mengijinkan kalian pulang ke Kulonprogo. Tapi..." kata bu Warni begitu mereka selesai makan siang.
"Tapi apa Bu?" tanya Agam penasaran.
"Tapi kalian perginya besok pagi saja, jangan malam ini. Ibu masih ingin bersama kalian," jawab bu Warni.
Sebenarnya bu Warni masih berat untuk melepaskan anak dan cucunya meninggalkan rumah ini. Tapi beliau juga tidak ingin egois, membiarkan anak dan istrinya terpisah.
"Terima kasih, bu! Terima kasih!" ucap Agam sambil menciumi pipi ibunya, bergantian dari kiri ke kanan dan sebaliknya hingga Bu Warni merasa risih.
"Kamu ini, seperti anak kecil yang mendapatkan mainan saja! Ingat kamu sudah memiliki anak, jadi kamu harus tahu di mana posisi kamu." ucap bu Warni kesal, bedaknya menjadi luntur karena dicium anak semata wayangnya.
"Ishhh... 'kan! Bedakku jadi hilang! Kamu sih cium ibu nggak kira-kira!'' kata bu Warni seperti anak kecil.
"Hahaha..." Eno tergelak mendengar ibu mertuanya mengatakan bedaknya hilang karena ulah suaminya.
Fani dan Agam pun ikut tertawa setelah Eno mengatakan alasannya tertawa.
Malam harinya, Eno dan Agam mulai membereskan pakaian yang akan mereka bawa ke Kulonprogo. Mulai dari pakaian mereka berdua kemudian pakaian milik Fani. Setelah dirasa semuanya sudah beres, akhirnya mereka tertidur.
Keesokan harinya, Agam memboyong keluarganya ke Kulonprogo. Eno yang meminta Agam untuk tinggal di rumahnya yang letaknya bersebelahan dengan tokonya. Agam menyetujuinya dan meminta ijin merubah tatanan dalam kamar yang akan mereka tempati nantinya.
Maaf othor beritahukan, untuk ke depannya othor slow up karena kesibukan RL. Selain itu juga karena minimnya minat pembaca kisah Eno dan Agam yang datar. Sekali lagi, maaf 🙏🙏🙏
__ADS_1