
"Kevin!" teriak Jessie emosi. Jessie tidak menyangka jika Kevin akan melawannya.
Selama ini Kevin selalu menurut, apa pun yang dikatakan Jessie diiyakan oleh Kevin. Sejak Kevin diurusnya, baru kali ini Kevin membantahnya.
"Sudahlah, mi! Dia kan masih kecil, jadi wajar saja kalau dia seperti itu." kata Tere menenangkan Jessie.
Tere memeluk tangan Jessie sebelah, kemudian mengajaknya duduk dan mengusap punggungnya. Tere tidak ingin tekanan darah Jessie naik lagi, Jessie memiliki riwayat penyakit jantung dan darah tinggi.
"Mami curiga, ini pasti Alex yang nyuri dia panggil kamu aunty. Sudah tunangan juga masih tidak mau mengakui." omel Jessie kesal.
"Mami, jangan salahkan mas Alex. Mungkin saja Kevin belum siap menerima Tere jadi ibunya. Tere nggak apa-apa kok, mi!" kata Tere menenangkan Jessie.
"Mami yakin sekali, ini biang keroknya si Alex! Mami tahu, sejak dulu Kevin ingin punya ibu. Cuma kamu yang selama ini sudah mengurusnya, walaupun tidak tiap hari. Cuma kamu yang dekat dengan Kevin. Selain kami keluarganya." kemarahan Jessie sudah tidak terbendung lagi.
"Kalau Kevin belum bisa menerima Tere, apa tidak sebaiknya pernikahan kami dibatalkan saja, mi?" kata Tere pelan, karena takut membuat Jessie semakin marah.
"Ngomong apa kamu? Tidak! Pernikahan kalian akan mami percepat saja, biar Kevin bisa cepat diatasi!" jawab Jessie.
Saat Jessie teriak akan mempercepat pernikahan Alex dengan Tere, Alex baru saja datang dari samping rumah. Jessie dan Tere tidak melihat kedatangan Alex. Betapa kagetnya Alex saat mendengar kata-kata ibunya. Secepat kilat Alex meninggalkan tempat itu sebelum Tere dan Jessie menyadari keberadaannya.
"Mami sudah curiga, berarti aku harus bertindak lebih cepat lagi."
"Aku harus segera menemui Ary! Iya, sebaiknya sekarang aku menemui Ary" gumam Alex kembali menuju mobilnya.
Alex tadi memang sengaja pulang cepat ingin berbicara pada ibunya, jika dia memutuskan pertunangan dengan Tere. Ternyata dia malah mendapat kejutan, jika ibunya ingin mempercepat pernikahannya dengan Tere.
Alex menyalakan mesin mobilnya, kemudian melaju meninggalkan rumah besar itu. Alex ingin segera menemui Ary, untuk membicarakan rencana selanjutnya. Dia juga akan mempercepat pernikahannya dengan Ary. Dia tidak ingin terlambat menikahi Ary.
***
Kevin yang kesal pada eyang utinya, langsung merebahkan badannya ke ranjang. Baginya Tere baik, hanya saja kurang sabar menghadapi tingkahnya. Berbeda dengan Ary, walaupun baru dua kali bertemu, Kevin merasakan kasih sayang Ary tulus.
Ary tidak mempermasalahkan tingkah Kevin yang hiperaktif, yang selalu banyak pertanyaan sehingga lawan bicaranya kewalahan. Ary dengan sabar, menjawab dan menjelaskan setiap pertanyaan yang Kevin lontarkan. Tidak heran jika anak kecil mudah dekat dengan Ary.
Kevin seperti menemukan sosok ibu dalam diri Ary. Walaupun Ary belum pernah memiliki anak, tapi sikap keibuannya begitu terlihat jika bersama anak kecil.
__ADS_1
"Eyang uti sudah tidak sayang lagi sama Kevin. Eyang jahat!!" teriak Kevin sambil terus memukul bantal yang ada di dekatnya.
Kevin tertidur setelah kecapekan mengamuk di kamarnya. Kamar Kevin yang begitu luas dan nyaman, membuat si empunya lebih sering mengurung diri dalam kamar.
"Kevin!" teriak Jessie di depan pintu kamar Kevin.
Jessie merasa bersalah karena tadi telah membentak Kevin. Perasaan Kevin sangat sensitif, mungkin karena dia masih kecil selain itu dia juga sudah terbiasa dimanja. Sehingga dia merasa sakit hati jika ada yang membentaknya.
Kevin masuk ke dalam kamarnya kemudian menguncinya dari dalam, anak itu pun tidak kehilangan akalnya. Dia tidak mencabut kuncinya agar tidak ada yang bisa masuk ke dalam kamarnya.
"Kevin, buka pintunya sayang! Eyang mau minta maaf sama Kevin." bujuk Jessie sambil terus mengetuk pintu kamar Kevin.
"Mbok, cepetan ambil kunci serepnya!" Jessie berteriak pada asisten rumah tangga yang sudah lama mengabdi padanya.
Tak berselang lama, asisten rumah tangga itu datang membawa seikat kunci padanya. Jessie berusaha memutar kunci, tapi selalu tidak bisa. Karena kuncinya masih tergantung di dalam, jadi pintu tidak bisa dibuka.
"Suruh Tarjo masuk dari jendela, terus buka pintunya!" teriak Jessie pada asisten rumah tangganya.
"Baik, Nyah!" jawab asistennya itu langsung berlari mencari tukang kebun di rumah itu.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar Kevin sudah dibuka oleh Tarjo. Dengan menggunakan tangga, Tarjo masuk ke dalam kamar Kevin melalui jendela.
"Maafkan eyang, sayang! Eyang hanya ingin kamu mendapatkan ibu yang baik, yang menyayangi kamu dengan tulus." kata Jessie sambil mengusap kepala Kevin.
Jessica meninggalkan kamar Kevin, sebelumnya dia mencium kening Kevin terlebih dahulu.
***
Sebelum bertemu dengan Ary, Alex mencoba menghubungi Ary terlebih dahulu. Memastikan Ary berada di mana, sehingga dapat dengan mudah ditemui.
"Kamu dimana saat ini?" pesan dari Alex.
"Seperti biasa, aku di rumah sakit. Ada apa?" balas Ary.
"Aku ke situ ya, ada yang mau aku omongin sama kamu. Ini penting!" Alex.
__ADS_1
"Silahkan! Hati-hati di jalan!" pesan Ary.
"Ternyata kamu tidak pernah berubah, selalu berkata apa adanya. Tidak banyak kata, hanya bicara seperlunya saja." batin Alex ketika membaca balasan pesan dari Ary.
Salah satu alasan Alex menyukai Ary juga karena Ary yang selalu apa adanya dan tidak banyak bicara.
Setelah dua setengah jam perjalanan, akhirnya Alex sampai di rumah sakit tempat Ary bertugas. Alex bergegas masuk ke dalam rumah sakit setelah memarkirkan mobilnya. Rumah sakit tampak lebih sepi dari biasanya. Alex langsung menuju ke ruang kerja Ary, karena dia pernah datang.
Tok...tok...tok
Alex mengetuk pintu ruangan itu sebelum masuk. Setelahnya Alex membuka pintu tersebut.
"Sudah sampai? Duduk dulu!" kata Ary sambil tersenyum dengan tangan membereskan beberapa berkas di mejanya.
"Iya! Kamu sudah mau pulang?" tanya Alex sambil duduk di sofa.
"Selesai!" teriak Ary begitu selesai membereskan berkas-berkas dan beberapa peralatan lainnya di meja kerja, tanpa mendengar pertanyaan Alex.
"Eh, apa? Maaf tadi aku lagi bereskan berkas sesuai dengan bidangnya." kata Ary begitu menyadari ada pertanyaan dari Alex.
"Mau pulang sekarang atau nanti?" tanya Alex.
"Sekarang aja ya, kita ngobrol di rumah aja!" jawab Ary sambil menyambar tasnya.
"Ok! Mari kita pulang!" kata Alex sambil tersenyum ke arah Ary dengan tangan terulur, untuk menggandeng tangan Ary.
"Sebenarnya ada apa? Kan bisa diobrolkan lewat telepon." kata Ary sambil berjalan meninggalkan ruangannya.
"Nggak bisa lewat telepon, lebih enak bicara langsung!" jawab Alex menjajari langkah Ary.
"Ada apa sih? Ngomong aja langsung kenapa, jangan bikin orang mati penasaran!" kata Ary kesal karena Alex belum juga memberitahukan alasan kedatangannya.
"Sebaiknya pernikahan kita dimajukan saja ya? Biar bisa lebih bebas!" kata Alex begitu mereka duduk di dalam mobil.
Maaf ya readers ku tersayang baru bisa up, othor jatuh dari motor. Tangan othor terkilir, jadi nulis 1000 kata saja butuh waktu 3 hari.
__ADS_1
Terima kasih yang masih setia dengan duren ansa. Terima kasih banyak atas dukungannya, baik yang berupa like, komen, gift dan vote.
Lop lop sekebun mawar melati buat kalian semua 😘😘😘😘