
Mendengar Ary menceritakan tentang almarhum suaminya, membuat hati Alex seperti teriris sembilu. Alex tidak menyangka, Ary begitu mencintai suaminya. Sehingga semua kenangan bersama suaminya tetap tersimpan rapi di hati dan pikiran Ary.
"Oh. Sepertinya kamu sangat mencintai suamimu. Sehingga dia sudah tiada pun kamu masih menyimpan kenangan bersamanya." kata Alex, ada rasa cemburu di hatinya.
"Iya, begitulah. Wanita mana yang tidak jatuh cinta bila dibuat nyaman dan dijadikan ratu?!" jawab Ary sambil tersenyum getir, mengingat betapa besar usaha Rendy untuk mendapatkan hatinya.
"Kenyamanan dan kejujuran adalah kunci sebuah hubungan." lanjut Ary kemudian dengan tegas.
Alex merasa tersindir, karena dia belum bisa jujur pada Ary. Alex yang menghilang selama bertahun-tahun tanpa kabar, tiba-tiba pulang membawa seorang anak dan istri. Walaupun akhirnya, rumah tangganya kandas di tengah jalan.
"Walau sakit mendengar kejujuran itu akan lebih baik, dari pada kebohongan yang manis tapi hanya untuk menutupi kebusukan." Ary terus mengeluarkan isi hatinya yang selama ini ditahannya.
Alex hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar perkataan Ary. Alex bingung, harus memulai dari mana dia akan menceritakan semuanya pada Ary. Dengan segenap keberaniannya, akhirnya Alex siap menceritakan semuanya. Dimulai dari keberangkatan hingga pernikahan yang kandas.
"Aku begitu sampai di bandara, dijemput oleh kakakku. Bernadeta!" Alex mulai bercerita sambil melajukan mobilnya ke arah Jogja kota.
"Nggak jadi sarapannya?" potong Ary.
"Iya, jadilah! Aku lanjut ceritanya sambil sarapan ya." jawab Alex menepikan mobilnya di depan rumah makan gudeg Bu Harti. Karena kebetulan mereka melintas di depannya.
"Kamu mau makan apa?" tawar Alex pada Ary, begitu mereka duduk di meja yang kosong.
"Aku masih kenyang! Kamu makan, aku temani." jawab Ary dengan tenang.
Setelah memesan makanan dan minuman, Alex melanjutkan ceritanya sambil menunggu pesanan datang.
"Sampai mana tadi?" tanya Alex.
"Di bandara, dijemput kak Deta!" jawab Ary.
"Saat dalam perjalanan menuju apartemen, HP-ku terjatuh tanpa aku sadari. Jadi aku kehilangan no kontak, karena aku tidak hanya membeli HP baru. Tapi aku juga mengganti kartunya." Alex melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Itulah kenapa aku tidak bisa menghubungi kamu, ataupun kamu menghubungi aku. Anton bisa menghubungi aku, karena dia tahu no HP kak Deta." Alex berhenti sejenak, berharap Ary mau mengerti.
"Lalu?" tanya Ary singkat.
"Aku menjalani kuliah seperti orang pada umumnya. Saat aku menjadi sarjana, aku melanjutkan ke magister sambil membuka usaha kecil-kecilan. Aku membuka sebuah kafe khas masakan Indonesia. Karena terlalu sibuk dengan kuliah dan bisnis, aku jadi melupakan orang-orang yang dekat denganku di Indonesia." Alex menjeda ceritanya karena pesanannya datang dan dihidangkan.
Setelah pelayan meninggalkan meja mereka, Alex mengambil minumnya. Alex minum untuk membasahi tenggorokannya yang kering, karena dia merasa tidak sanggup melanjutkan ceritanya. Dengan terpaksa Alex melanjutkan ceritanya, sambil makan sarapan. Walaupun se*lera makannya sudah menguap, tapi cacing-cacing di perutnya demo minta makan.
"Kemudian, saat kelulusan magisterku. Aku diajak teman-teman party di salah satu klub yang terkenal. Aku terlalu banyak minum alkohol, sehingga mabuk berat. Saat keadaan seperti itu, aku tidak bisa mengontrol diriku. Sehingga aku meniduri teman wanitaku." Ingin rasanya Alex berhenti bercerita.
Ary yang mendengar ceritanya, hanya diam membisu tanpa memberikan tanggapan sama sekali. Ary memasang wajah datar di hadapannya saat ini.
"Akhirnya kalian menikah!" kata Ary tiba-tiba saya Alex menghentikan ceritanya.
"Terus penyebab perceraian kalian apa? Bukannya dalam agama kalian, perceraian itu sangat dilarang. Menikah sekali atau tidak sama sekali. Itu sih yang aku dengar!" lanjut Ary sambil mengedikkan kedua bahunya.
"Sudah tidak sejalan lagi!" Jawab Alex singkat sebelum minum, sebagai penutup sarapannya.
Setiap ada masalah berpisah, maka tidak mungkin tidak nantinya akan terjadi lagi hal yang seperti itu. Begitulah pemikiran Ary.
"Tidak seperti yang kamu bayangkan, Ary! Dia berselingkuh dengan bos-nya, itu alasan utamanya." Akhirnya Alex menceritakan aib rumah tangganya yang hancur.
Ary menganggukkan kepalanya tanda mengerti, mengerti bagaimana rasanya diduakan.
"Kita lanjutkan cerita di mobil aja, sambil menghemat waktu." kata Alex setelah membayar makanan tadi.
"Ok!" jawab Ary sambil berdiri dan berjalan menuju parkiran.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju Kulonprogo.
"Kamu sudah menghubungi Brandon?" tanya Ary memecah keheningan di dalam mobil itu.
__ADS_1
"Belum. Karena aku belum begitu mengenalnya, jadi sedikit ragu. Maaf!" jawab Alex menoleh ke arah Ary, kemudian kembali menatap jalanan.
"Aku berani merekomendasikan perusahaan itu, karena perusahaan itu sudah memegang semua badan pemerintahan dan beberapa perusahaan di daerah Jogja dan sekitarnya. Kalau perusahaan itu tidak bagus, aku tidak berani memberikan rekomendasi." Ary mengemukakan alasannya merekomendasikan Rend's Comp.
"Kalau begitu, nanti sesampainya di Purworejo aku akan hubungi dia." jawab Alex, sebenarnya Alex enggan bekerjasama dengan rivalnya dalam mendapatkan Ary.
Alex selalu menganggap laki-laki yang dekat dengan Ary sebagai rival. Karena rasa cemburunya dan keegoisannya, mengalahkan logikanya.
"Beneran kamu sama dia hanya rekan bisnis?" tanya Alex tidak percaya dengan kata-kata Ary tempo hari.
"Iya, kinerja perusahaannya bagus. Dan semua yang aku beri rekomendasi merasa puas, bisa bekerjasama dengan Brandon." jawab Ary berusaha meyakinkan Alex.
"Kalian kenal dimana, kok bisa akrab banget?" tanya Alex mengorek informasi.
"Dia sahabat suamiku. Aku kenal dengannya bersamaan dengan aku mengenal Rendy. Dia yang setia mendampingi Rendy saat sakit dan senang." jelas Ary, sesekali mengedarkan pandangannya ke jalanan.
"Oh, pantes kalian sangat akrab!" kata Alex terselip rasa cemburu.
Mereka terdiam karena merasa tidak ada lagi bahan obrolan. Pikiran Alex menerawang ke masa SMA, dimana dia harus menahan rasa cemburunya pada Bayu. Saat itu Alex belum tahu, jika kedekatan Ary denda Bayu karena ikatan saudara.
Alex tidak ingin kehilangan Ary lagi, karena tidak bisa mengontrol rasa cemburunya.
"Seandainya ada seorang laki-laki yang melamar kamu, bagaimana?" tanya Alex tiba-tiba memecah kesunyian.
"Hah?!" Ary kaget tiba-tiba Alex berkata, Ary sedang memikirkan bagaimana caranya agar Alex tidak tahu. Jika dia pemilik Rend's Comp.
"Jika ada yang tiba-tiba melamar kamu, bagaimana tanggapan kamu?" Alex mengulang pertanyaannya.
"Kalau dia mau bersabar denganku, tak masalah." jawab Ary memberi lampu hijau pada Alex.
Ary sudah mengetahui jalan pikiran Alex. Lama mengenal Alex, sedikit banyak dia mengetahui bagaimana jalan pikiran Alex yang kurang mampu mengekspresikan perasaan. Karena Alex cenderung pasif selama ini.
__ADS_1